
Setelah membersihkan diri, Jere bermaksud untuk tidur, tapi ntah apa yang menganggu pikirannya ia tak bisa memejamkan matanya. Hal lain yang ia lakukan adalah membantu bi Asih menyiapkan makan malam, meskipun wanita berusia tak muda itu sudah melarang Jere, pria muda ini tetap melakukannya.
"Bi, Kemarin mama menanyakanku?" tanya Jere saat memanaskan ayam di microwave disudut dapur.
"Iya, karena Irene memberitahu kau tak di apartemen" Jawab Bi Asih, mereka sangat dekat bahkan sudah Jere anggap keluarga sendiri, "Tapi mama mu tak menanggapi banyak, tampaknya dia tahu kau kemana" lanjut bi Asih.
Jere mengangguk tanda setuju, benar. Eve mamanya selalu tahu jika ia bersama Shania, ntah Eve punya alat pelacak atau cctv tersembunyi yang selalu mengikuti anaknya, ntah lah, Jere tidak mau memikirkannya. Yang jelas, Jere merasa bahagia punya seorang mama begitu pengertian seperti Eve.
"Apa ada hubungannya dengan perkelahian tadi?" tanya Bi Asih ingin tahu, kebanyakan jika lelaki seumuran Jere berkelahi karena urusan wanita kan? percintaan? itulah yang bi Asih pikirkan. Ini pertama kalinya Jere terlihat berkelahi, padahal sebelumnya anak itu selalu bersikap baik dan teratur.
"Ah, ini temanku iseng saat pemotretan" Jawab Jere berkilah. "Aku akan pergi, katakan pada mama aku ke rumah temanku jika mama menanyakanku lagi" Ucap Jere setelah mencicipi sepotong ayam yang baru selesai dimasak bi Asih.
"Teman? teman yang mana?" tanya bi Asih, Jere tak menjawab lagi. Sejurus kemudian deru mobilnya terdengar kencang meninggalkan mansion itu. Bi Asih hanya geleng-geleng kepala melihat Jere yang sudah bertumbuh semakin dewasa.
Tujuan Jere kali ini adalah kembali ke rumah Shania, sekedar melihat wanita itu dan mengantarkan makanan untuk malam ini. Jeremy sebenarnya tahu Shania sudah mendapat kabar jika mantannya itu akan menikah, tapi Jere tak mau ikut campur lebih jauh. Sudah cukup Shania mengatakan dirinya berlebihan karena memperhatikan Shania di atas batas wajar, bahkan mungkin wanita itu masih marah karena keputusan sepihaknya memberhentikan kerja.
"Shannn-- Kau sudah bangun----?"
Jeremy tiba seperti kebiasaannya membuka pintu tanpa mengetuk atau menekan bel lebih dulu.Tiga pasang mata tertuju padanya, Irene dan Seno menatap heran dan bingung.
"Eh, kalian disini?" Jere bertanya bingung.
"Kau kenapa?" tanya Irene melihat penampilan Jere dengan bibir dan jidat diplester, serta berjalan sedikit pincang.
"Ah ini, tadi aku take iklan action. Jadi terjadi kecelakaan kecil!" jawabnya "Kenapa kalian kemari? sejak kapan kalian akrab?" tanya Jeremy duduk disamping Shania, sementara Shania hanya diam tak ingin mengatakan apapun.
"Aku hanya ingin menjenguk Shania. Bukan kah kau bilang dia sakit?" tanya Irene menatap Jere dengan Tatapan penuh selidik.
"Ah iya, Shania sedang tidak baik sekarang, iya kan Shan?" tanya Jere meminta jawaban iya dari Shania "Kalian bisa pulang sekarang aku akan mengantar Shania ke dokter!" ucapnya seraya berdiri mempersilahkan Irene dan Seno pulang, lebih tepatnya mengusir kedua makhluk itu secara sopan.
Meskipun diliputi rasa penasaran dan kebingungan yang tinggi, Irene dan Seno berangsur pamit dan keluar dari unit apartemen Shania di tambah lagi Shania hanya diam saja atas perkataan Jere seakan setuju Jere mengusir mereka.
"Aku tak menyangka mereka sedekat itu" ucap Seno ketika mereka menuju lift, "Ku rasa mereka punya hubungan spesial!" Ucap Seno yakin.
Irene mengangguk, Irene dan Jere juga tampak begitu kaku, mereka sedang menutupi sesuatu.
Jere menutup pintu Shania lalu duduk di depan wanita itu dan menyodorkan plastik yang tadi ia bawa, "Untukmu, ayam goreng anti galau" tutur Jere tersenyum.
"Kau kemari mengantarkan ini?"
"Tidak, aku tahu mereka kemari dan kau tidak nyaman" bohongnya.
"Pulanglah!" Ucap Shania datar.
"Hah? aku bahkan baru datang" protes Jeremy.
"Aku ingin sendiri. Kau tahu kan gimana rasanya tak ingin di ganggu? apa harus ku suruh security supaya menyeretmu keluar?" Shania marah, dia benar-benar malas berhadapan dengan siapapun sekarang.
"Shan, bukan gitu!"
"Pulang lah Jer, Aku benar-benar ingin sendiri" Shania menurunkan suaranya, terkesan seperti memohon agar Jere benar-benar pergi meninggalkannya sendiri.
"Baiklah! Hubungi aku jika kau kesepian" Ucap Jere setelah menarik nafas dalam, sebenarnya ia ingin mengajak Shania keluar malam ini, menonton atau makan di tempat indah yang mungkin bisa membuat Shania sejenak melupakan beban pikirannya. Tapi sepertinya Shania lebih memilih menikmati kesedihannya seorang diri.
...***...
Irene tiba di rumah, ia bergabung bersama Jimmy dan Eve setelah selesai menikmati makan malam, hanya mereka bertiga, tak ada Jere disana.
"Jere kemana ma?" tanya Irene pada Eve di sela-sela obrolan ringan mereka. Sedari tadi ia penasaran apakah Eve tahu jika Jere berada di rumah Shania yang ia terka kekasih dari saudara angkatnya itu.
"Ah, Tadi dia menghubungi mama. Katanya dia ada urusan. Mungkin sebentar lagi kembali!" Jawab Eve.
Irene mengangguk, ia menggigit bawahnya karena merasa sedikit gugup akan hal yang akan ia tanyakan.
"Ma?..." panggil Irene takut-takut.
"Hm? Kenapa Ren?"
"Apa mama mengenal Shania?"
"Iya, kami mengenalnya cukup baik" giliran Jimmy yang menjawab karena Merasa topik pembicaraan kali ini lebih menarik dari sekedar cerita sosialita atau barang branded yang tadi mereka bicarakan.
"Dia di berhentikan oleh Jeremy di kantor" Jawab Shania "Dan tadi saat aku berkunjung ke rumah Shania untuk melihat keadaannya, Jeremy juga kesana" Jelas Irene.
"Shania di berhentikan oleh Jere?" tanya Jimmy berkerut. "Apa alasan anak itu?"
"Katanya Shania sakit parah! hanya itu yang Jere kataka---" belum sempat Shania menyelesaikan ucapannya, Jere tiba dengan suara menggelegar memenuhi ruangan.
"Haiiii... Semuaaaa!!!" Jere masuk dengan langkah pincang menyapa dan mengejutkan semua orang.
"Ah, kebetulan kau datang. Kemari lah! ada yang harus kita bicarakan!" Ajak Jimmy menarik salah satu kursi untuk Jere.
"Ada apa pa?"
"Kau memberhentikan Shania?" tanya Jimmy langsung ke inti, setelah Jere duduk di kursinya.
Jere sedikit terkejut, tapi saat ia melihat Irene ia bisa mengerti. Pasti lah Irene sudah menceritakan keputusan anehnya kepada kedua orangtuanya ini.
"Iya pa" Jawab Jere tenang "Aku melakukannya karena Shania terlalu keras pada dirinya, ia sering memaksakan diri untuk bekerja. Sementara ia butuh hal lain agar tetap bahagia menjalani hidup ini, dia mengalami tekanan batin yang sangat hebat, bahkan jika aku berada di posisinya belum tentu aku bisa" Jelas Jere, sementara yang lain di ruangan itu mendengarkan dengan saksama ucapan Jere.
"Mungkin terkesan aneh aku meminta Irene memberhentikan Shania, tapi aku akan bertanggung jawab jika ini menyalahi aturan perusahaan. Shania tak tahu apa-apa, dia tak ada hubungan dengan ini semua, Aku sendiri yang berinisiatif melakukan ini karena dia terkadang menolak pertolonganku!"
"Pa, Aku hanya ingin Shania kembali bahagia seperti dulu. Papa lihatkan dulu dia sering sekali berkunjung kemari? tapi sekarang semuanya hilang, pulang bekerja ia seperti tubuh tanpa jiwa, menghabiskan waktu dengan lamunannya. Aku hanya ikut merasa sedih jika dia terus begitu. Jadi, aku berpikir memberinya kebebasan tanpa terikat pekerjaan dulu" pungkas Jere menjelaskan segala sesuatunya.
"Lagi pula, setelah keadaan membaik dia bisa bekerja kembali. Aku tak memberhentikannya permanen, hanya cuti!" Sambung Jere membela keputusannya lagi.
Jimmy menghela nafas dalam mendengar penjelasan anaknya, begitupun dengan Eve lalu menepuk pundak Jere yang mungkin masih nyeri di bagian sana karena perkelahian tadi.
"Jer, setelah mendengar kepedulian dan maksud baikmu pada Shania ada satu cara yang paling ampuh agar kau bisa melindungi dan menjaga Shania selalu dan seterusnya" Jimmy menjeda ucapannya, lalu melirik kepada Eve seraya melempar senyum dan tampaknya Eve sudah paham kemana arah ucapan suaminya.
Jere memandang lekat pada sang papa, menunggu jawaban yang akan terucap dari bibir Jimmy dengan penasaran.
"Nikahi Shania!" ucap Jimmy.
...-----...