
Shania menikmati bagaimana cara pria yang brstatus sebagai kekasihnya ini memanjakan dan memainkan bib1rnya, menyesap hingga keduanya bisa merasakan tekstur bibir masing-masing. Tanpa sadar Shania mengalungkan tangannya di leher Tom, sebaliknya Tom menautkan tangannya pada pinggang Shania. Lama berlangsung... Hingga Shania menepuk pelan dada Tom karena hampir kehabisan nafas, ini lah ciuman pertama Shania dan Tom, indah... dan Dia takkan pernah melupakan ini.
Baik Shania dan Tom tak ada yang berniat mengubah posisi, mereka terlalu nyaman dengan posisi intim seperti ini. bagi Shania ingin sekali ia menghentikan waktu, ia ingin seperti ini seterusnya menerima banyak cinta dan ungkapan sayang melalui sentuhan yang ia terima.
"Aku mencintaimu, aku mau kita lebih dari ini" Shania menatap dalam manik mata Tom, pandangannya mengandung ungkapan cinta yang mendalam, tak ada keraguan disana. dan Tom jelas tahu apa yang dimaksud Shania.
Entah Setan apa yang merasuki Shania, ia memulai lebih dulu mengabaikan wajah Tom yang masih menatapnya tak percaya akan apa yang dia dengar, Shania mencium bibir yang menurutnya sangat menggoda, tergesa-gesa dan terkesan berantakan.
Hingga akhirnya Tom mengambil kendali, mencium bibir menawan itu dengan tempo lembut, namun semakin lama semakin panas. Shania menikmati, ia bahkan meremas rambut belakang Tom, menahan rasa geli dan nikmat atas perlakuan Tom terhadap bibirnya.
Hingga Tom mengangkat tubuh cantik berisi itu menuju kamarnya tanpa melepas ciuman, tergeletak di ranjang dengan posisi Tom berada diatas Shania.
Tom melepaskan tautan bibirnya, menatap wajah cantik Shania dengan pandangan sarat akan nafsu. Shania tersenyum, ia bisa menepis keraguannya selama ini, Tom tidak berubah, Tom mencintainya...
"Mmmphh_--------" Shania melenguh kala Tom menyesap kuat lehernya, meninggalkan tato-tato berbentuk tak menentu berwarna merah keunguan disana, salah satu tangannya bergerak nakal, bergerak lambat ke atas menyusuri baju kaos ovesize yang dikenakan Shania, hingga jari-jarinya menyentuh gundukan kenyal yang menegang disana, mencubit hingga berganti memilin pelan.
"Tom--ahhhh..."
Tom semakin gelap mata mendengar Shania menyebut namanya, bagaikan syair melodi yang sangat indah di kupingnya. Ia melepas baju kaosnya tergesa dan melempar ntah kemana, lalu menarik kaos longgar Shania hingga menyisakan dua gunung yang masih dibalut kacamata hitam, begitu lah sebutannya lalu membuka kancing pengaitnya dan...
Hasrat alaminya sebagai pria tak bisa di tahan saat ini, maka tanpa berpikir ia, meraup dua gundukan itu dan memainkan dengan lidahnya, Membuat Shania mengerang bahkan meremas sprai kasur di sekitarnya.
rasanya nikmat..
Ia ingin lebih.. lebih dari ini.
tangannya mulai mendominasi menarik celana pendek yang masih di kenakan Tom, tangan Tom pun berangsur menarik resleting celana jeans pendek yang dikenakan Shania.
Hingga..
Pandangan Tom seketika berubah, tubuhnya terdiam kaku, matanya membulat menatap Shania dengan pandangan sulit di artikan.
"Apa yang ku lakukan?" Batin Tom merutuki dirinya, spontan ia bangkit dan menjaga jarak dari Shania, mengambil selimut kemudian menempelkan pada tubuh bagian atas wanita itu.
Ia memunguti kaosnya yang tergeletak di lantai dan segera memakainya kembali.
"Maaf Shan, aku tak bermaksud melakukannya" Ucap Tom dengan raut muka kacau, sedih, menyesal, marah, kesal ntah lah sulit terbaca. ia berlalu meninggalkan Shania ntah kemana. Shania hanya menatap sendu, memandangi punggung Tom menjauh darinya, binaran matanya berubah redup sarat akan rasa kecewa.
1 jam berlalu...
Saat ini Shania sudah memakai kembali bajunya, ia menunggu Tom kembali untuk berpamitan bahwa ia akan pulang.
Merasa Tom tak akan datang, Shania memilih untuk pergi begitu saja, namun saat ia beranjak Tom datang memasuki apartemen. rasa canggung meliputi keduanya, Tom menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk mengatasi rasa gugupnya.
"Ehmmm...tadi.." Ucapnya ragu, Shania hanya diam mendengarkan.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi" Ia menyesal, sungguh dia tak berniat melakukan apa-apa, ia terpancing, tanpa mempedulikan akal sehatnya.
"Ku harap kau tak kecewa padaku karena perbuatan ku tadi Shan" ucapnya sedikit khawatir saat melihat kilatan mata Shania.
"Shan...?" panggil Tom karena tak mendapat jawaban dari Shania, wanita itu hanya menatap Tom dalam diam
"Kau marah? maafkan aku" ucapnya lagi penuh penyesalan.
"Tidak, aku tidak marah. Maafkan aku juga" ucapnya pelan dengan pandangan tertunduk.
"Its okay, aku mengerti. jangan minta maaf, aku yang salah" ucap Tom tulus, kali ini ia tersenyum, tenang. Ia mendekat dan memeluk Shania, lembut sangat lembut.
Shania tak membalas pelukan itu, ia segera merenggangkan diri dan mundur selangkah "Aku harus pulang Tom, jaga dirimu, jaga kesehatanmu" ucapnya seraya berlalu menuju pintu keluar.
"Okay, ku antar ya" ucap Tom menawarkan, ia meraih kunci mobil yang kebetulan berada dimeja kecil dekatnya berdiri.
"Tidak usah. aku akan ke suatu tempat lebih dulu" ucap Shania menolak halus, Tom hanya mengangguk tanpa mau memperpanjang percakapan lagi.
"Baiklah, hati-hati ya. Besok kita akan ke pantai, aku akan menjemputmu" ucap Tom mengingatkan rencana mereka tadi yang kan berlibur bersama.
"Iya, bye..." jawab Shania singkat.
Saat ini, Shania sudah berada di apartemennya berjalan dengan gontai tanpa semangat kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya,
"Argggghhh...aku bodoh" ucapnya frustasi merutuki diri
"Kenapa aku memulai lebih dulu, kenapa aku begitu maunya menyerahkan diri pada Tom, shittt sialan" umpatnya mengacak rambut.
"Ahhh... Tom bisa berpikiran buruk tentangku, menganggapku jal*ng dan wanita murahan, aishhh bodoh bodoh bodoh..." Shania berteriak-teriak merutuki dirinya sendiri.
Ia membentur-benturkan kepalanya pada kasur, memukul dan menutup wajahnya dengan bantal. "Ishhh... Shania, kamu ga tahu malu" ucapnya kesal, ia terus saja menggerakkan bibirnya berucap tidak jelas, bahkan meja, karpet pintu menjadi bahan omelannya.
Ia kemudian mengambil ponselnya, mencari hiburan disana untuk mengalihkan pikirannya. ia mengusap layar kunci dan menampilkan foto lelaki tampan menggunakan hoodie, tersenyum..., Melihatnya Shania ikut tersenyum.
"Tom mencintaiku tulus, buktinya dia tak mau melakukannya denganku" gumamnya, "Argghhh harusnya aku bangga memiliki dia, yang baik dan tak banyak menuntut"
Shania menghela nafas, ia menenangkan pikirannya yang tak menentu. semua ini berawal karena ia ragu akan sikap Tom yang selalu mengabaikannya, ia merasa dirinya tak menarik lagi bagi Tom, hingga insting gilanya menyarankan berbuat tak waras seperti tadi.
"Thing...."
sebuah pesan masuk ke ponselnya, Tom. ya pria itu mengirim pesan. senyum tertarik dikedua bibir Shania, membuatnya terlihat manis, sangat manis dengan kedua lesung pipi bertengger dipipinya.
"Shan, sungguh aku minta maaf. bisa ga jadwal ke pantai kita ganti hari? besok aku ada kegiatan lain yang mendesak"
Senyum Shania seketika buyar, ia menghela nafas kecewa, melemparkan ponsel tanpa membalas pesan itu.
Aishhhhh...
...***...