I Think, I Love You

I Think, I Love You
Usia 24



Hmmm iya, Sebenarnya Shania menerima permintaan Evelyn untuk mengawasi Jeremy. Awalnya Shania menolak tapi Evelyn trus memaksanya agar menerima setiap pecahan rupiah yang di transfer kepadanya sebagai imbalan ia telah memberi tahu apapun kegiatan Jeremy pada Eve. Hitung2 nambah duit saku kan? Buat bayar tagihan apartemen. Haha.


Shania agak geli menjalankan misi ini, bisa dibayangkan jika Jere tau? Lelaki itu pasti akan mengejek shania bahkan mungkin mengerjainya seenak jidat. Tapi selagi jere tidak tahu semua aman, tugasnya juga gampang.


Hmm disini lah Shania mengenal Jeremy lebih jauh, ternyata dia manja. makanan gini aja harus diantar. selama ini sikapnya selalu dingin dan kalo bicara tak ingin di bantah, ternyata Jeremy tak lebih dari seorang bocah yang takut pada ayahnya. Shania ingin tertawa menggelegar.


Gimana mau punya pacar apalagi istri kalo hidupnya begini, haha mabuk aja dilarang padahal sudah usia 24. dasar bocah.


Hahaha


Shania tertawa tanpa sadar.


“Apa yg kau tertawakan?”


“Eung.. ti..tidak” Shania menjawab gagap. Ia beranjak duduk di sofa seberang dan meraih remote televisi. menghindar tepatnya.


Jeremy menyernyit heran pada Shania, lalu pandangannya beralih pada televisi. Hah. Wanita menyedihkan itu tertawa menonton kartun? Seleranya bocah pikir Jere seraya terus menyuap makanannya.


Ia meletakkan ponselnya setelah membaca pemberitahuan dari sang manager. Hari ini ada pemotretan, tapi kepala Jere masih berat ia memilih untuk membatalkan saja. Kembali lagi, matanya tertuju pada Shania.


"Aku tahu kau yang menelpon Dave semalam" Ucapnya memandang Shania intens, meskipun yang dipandang tak menoleh sedikitpun padanya.


"Harusnya kau berterimakasih padaku" Jawab Shania tak beralih dari adegan kejar-kejaran Tom dan Jerry.


"Tidak. Terimakasihku terlalu mahal untukmu" Jawabnya masih menyuap sarapannya, jarak pantry dapur yang bersebelahan dengan ruang tengah membuat Jere bisa menonton TV sekaligus makan.


"Diam lah, habiskan sarapanmu. Aku harus segera kembali ke kantor"


"Takkan ku biarkan kau pergi"


Shania menggeram. Ia memutar kepalanya dan menoleh hendak protes. tapi tertahan karena Jeremy menunjukkan pesan dari Dave, atasan Shania.


Jelas sudah, Jere meminta Shania untuk terus di apartemennya. tapi untuk apa? sementara Shania terdiam, Ia punya banyak bahan untuk di laporkan pada Eve, tapi tetap saja pekerjaan seperti menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang desainer terampil.


Tidak, Shania menepis pikirannya. Ia masih membawa pensil dan buku sketsa, ia bisa mengerjakan tugas dimana saja. Ah Shania sangat mencintai pekerjaannya.


"Kenapa aku harus disini? kau tidak sakit. masih waras juga"


"Hari ini kau temani aku ke apartemen Yura"


"Buat apa?"


"Berjaga-jaga jika saja nanti aku menangis setelah putus dengannya" huss, Shania mendengus kesal. Jere bicara tak pernah benar, Shania tahu Jere sedang menyindir dirinya.


"Nih kunci mobil"


Shania menerima kunci mobil dengan raut wajah heran.


"Maksudmu, aku yang menyetir?"


"Lalu apa gunanya kau disini?" Astaga, Benar-benar Shania ingin menjitak kepala Jere.


"Apa kau baru saja menurunkan pangkat kerjaku?" tanya Shania berjalan mengekori Jere menyusuri koridor apartemen. meminta jawaban atas ketidaksenangannya hari ini.


"Tidak, justru menambah pekerjaanmu"


Shania diam. Lelaki aneh? Kemarin saja dia begitu perhatian dan penyayang, sikapnya sangat dewasa, memberikan sandaran pada Shania saat terpuruk, sekarang menyebalkan. Ahh Shania mengatur nafas, mencoba bersikap santai karena ini juga bagian tugas dari tante Evelyn.


"Kemarin aku bertemu mantanmu, dia titip salam padamu" Ucap Jere beralih topik setelah memasuki mobil, begitu pun Shania ia menghidupkan mesin mobil dan keluar dari area apartemen Jere.


"Hmmmm" Deheman sebagai jawaban Shania, matanya meredup seketika. tidak tahu mengapa, jika membahas Tom ia selalu lemah.


Jere menyadari ucapannya mengganggu ketenangan Shania, ia menambah kalimatnya dan mengatakan "Ku katakan saja jangan ganggu calon istriku lagi, lantas dia mengucapkan selamat padaku, terus semoga cepat dapat momongan ya. kapan hari H nya, kok Shania tak memberitahuku" Celoteh Jere menirukan suara lembut Tom, tentu saja itu hanya bualan semata. Issh Shania geli mendengarnya, lelucon basi. tidak lucu.


"Katakan padaku jika dia mengganggu mu lagi" Jere mengubah pita suaranya menjadi suara seseorang pria yang seakan paling mengerti Shania seperti tempo hari, dewasa dan penuh makna.


"Terima kasih" Jawab Shania pada akhirnya, Terima kasih sudah menyampaikan salam Tom padanya.


"Aku tak menerima ucapan terima kasih, aku hanya menerima traktiran makan" Pria manis di samping Shania ini menjawab asal seperti kebiasaannya.


Sebenarnya apa mau Jer? dia punya berlimpah uang untuk membeli makanan kelas sultan dengan harga selangit, mewah, higienis, bermerk lagi. mengapa dia selalu meminta Shania mentraktirnya? dia tidak sedang memeraskan?


"Baiklah. ku traktir di pecel lele"


"Hah?"


"Kenapa? mau protes? silahkan. Aku takkan mengubah keputusanku, hahaha rasain" Shania tertawa puas mengingat Jere sangat tidak biasa makan di tempat tersebut, bisa dibayangkan nanti Jere akan ribet sendiri ketika makan disana.


"Okay. Ku anggap ini tantangan" Jawabnya sedikit sombong, Shania manggut-manggut tidak yakin, jujur ia ingin tertawa menyaksikan wajah ketar ketir Jere.


"Hmm. Kau ingat apa yang kau katakan ketika sakit waktu di kantor?"


Shania menggeleng, benar dia tak tahu apa-apa.


"Jere, Ayo lah pliss" Jere menirukan tingkah dan suara Shania dengan nada sensual, setengah mengada-ngada.


Shania menggeleng, ia tak percaya.


"Obat yang kau minum adalah obat perangsang"


Shania terbelalak, dan Jeremy terhuyung ke depan karena Shania menghentikan mobil secara mendadak, ada yang dia sadari? Apa?


"Siapa yang mengganti bajuku?" tanyanya dengan wajah panik


"Tenang lah. mama yang ganti" Jere membenarkan duduknya, memandang Shania sedikit kesal.


"Tapi kau merobek bajumu di hadapanku" Sambung Jere dengan polosnya. Mesum, Jere bahkan bisa mengingat dengan jelas apa yang ia lihat.


"Kalau saja tante Eve belum menjelaskan padaku. Aku pasti sudah menuntutmu karena sudah memberikan obat sembarangan" Cecar Shania menggeram pada Jere, Sementara Jere memandangnya heran.


"Kau sudah tahu rupanya" Jere tertawa pelan.


"Lalu mengapa kau terkejut tadi?"


"Sengaja. supaya jidatmu yang mulus itu terbentur dashboard" Shania ketus, Ia terlihat sangat imut, tentu saja hanya Jere yang menyadari ini.


"Kau akan dalam masalah jika itu terjadi"


"Aku tak peduli"


Mereka terus saja adu mulut di dalam mobil. Menyuarakan pendapat masing-masing, sama-sama tak mau kalah.


Hingga..


Mereka tiba di loby apartemen Yura, baru saja Jere membuka seatbelt. Tangannya di tahan Shania.


"Kenapa?"


Shania tak menjawab ia memandang lekat sepasang manusia berjalan dari dalam menuju lobi, Yura. Itu Yura bersama seorang pria. Jere mengikuti arah pandang Shania, memperhatikan dua orang itu dengan tatapan malas.


"Apa kau masih ingin menemuinya?" tanya Shania memastikan.


"Kita pulang saja"


"Kenapa? apa kau cemburu?"


"Aku tak pernah cemburu, kecuali dia itu kau"


...****...