I Think, I Love You

I Think, I Love You
Irene



"Apa yang membawamu kemari anak muda?" Yura menyambut kedatangan Jere dengan anggun, bertanya seolah-olah ia sudah senior dalam hal apapun, dress tembus pandang di sekitaran kaki dan lengannya menyapu lantai. Wanita itu terlihat baik-baik saja meskipun berita diluar sana tampak membunuh Jere.


"Mengapa kau bisa sesantai ini?" tanya Jere berkerut heran, netra matanya menangkap sesosok pria yang berjalan mendekat di belakang Yura.


"Masuklah, kita bicarakan di dalam" ajak Yura membuka pintu rumahnya lebih lebar.


"Pertama-tama, apa kau tau tentang berita diluaran sana?" tanya Jere to the point, ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya.


"Tenang lah. Berita itu tidak lama akan mereda dengan sendirinya" Katanya berjalan menggiring Jere masuk. Sementara Yura berada dalam rangkulan pria yang menciuminya tak memperdulikan kehadiran Jere.


"Lalu apa yang mereka katakan benar?" Jere mencuri pandang pada kelakukan pria itu, jujur ia risih


"Aku tak membawa apapun Jer, itu hanya sepenggal berita sampah yang mencoba mencari keuntungan"


"Sampah?"


"Namaku juga ada disana"


"Memang kenyataan waktu itu kau kekasihku, ya walaupun hanya pura-pura"


"Kau tak memikirkan aku?" protesnya.


"Duduklah Jer. tim ku akan membersihkan nama baikmu. Beberapa hari lagi akan muncul berita bahwa kau tak terlibat"


Jere tersenyum tak percaya, Ia diam sejenak menatap gerak gerik Yura.


"Kau tampak tenang. Apa rencana mu?" tanya Jere penuh curiga, menelisik lebih jauh pandangan mata wanita di hadapannya.


"Aku hanya sedang memancing lawan bisnisku, media yang mengeluarkan berita itu dibawah kendaliku. percayalah, kau akan baik- baik saja"


"Gila"


Jere semakin tidak mengerti apa yang terjadi, bagaimana mungkin Yura mengendalikan media dan merilis berita yang menjelekkan namanya sendiri dimuka publik? gila


"Aku tak paham apa maksudmu. Setidaknya, jangan bawa-bawa namaku jika hanya untuk keuntunganmu" Cecar Jere merasa kesal.


"Setelah ini, aku jamin kau akan menjadi model papan atas" Yura hanya tersenyum yakin, ia bisa menebak kekhawatiran Jere. "Anak itu masih polos" pikirnya.


"Aku tak terima jika begini caranya"


"Hmm, kami jamin semua akan baik-baik saja. Yura juga sudah bicara dengan Ayahmu" Lelaki disamping Yura ikut bicara.


"Papa?"


Jere berkerut papa tahu rencana Yura? kenapa tidak memberitahuku?


...***...


Shania menerima pesan dari Tom, sama seperti isi kartu ucapan yang diterima bahwa lelaki itu sudah berada di Singapura untuk jangka waktu yang lama, bahkan mungkin akan menetap disana.


Tom minta maaf karena tak sempat pamit secara langsung, Ia juga menyadari Shania masih kecewa padanya hal itu membuatnya ragu untuk bertemu Shania lebih dulu.


Wanita muda itu menghela nafas, jujur walaupun ia masih kecewa ia sangat ingin bertemu Tom. Tapi jika sudah berada di negeri yang jauh itu, tak mungkin lagi.


Dia sudah memaafkan Tom, memilih menerima semua kenyataan dimana ia bukanlah wanita yang berdiam di hati Tom yang cukup lama berstatus kekasihnya. Tak ada yang dapat diubah dari masa lalu, tapi ia bisa mengubah masa depan, merelakan Tom dengan kebahagiaannya.


Kerja kerja kerja


Hanya itu yang Shania lakukan saat mengalihkan pikirannya tentang Tom.


"Shan, setelah ini kau kemana?" Seno mendekat meletakkan beberapa map berisi contoh gambar sketsa yang akan dirampungkan nantinya di depan Shania.


"Pulang"


"Apa kau ada acara?" tanyanya lagi tetap berdiri diposisi yang sama, menunggu jawaban Shania.


"Tidak, kenapa?"


"Aku ingin mengajakmu untuk menemani aku ke acara pertemuan anak panti, jika kau mau kita bisa pergi bersama" Ajaknya sedikit ragu dan takut-takut.


Shania diam, ia tampak berpikir.


"Aku sudah mengajak Vivian, Rara dan teman yang lain, tapi mereka tak bisa"


Shania mengangguk, Why not? panti adalah tempat teman-teman senasibnya tinggal, tak punya orangtua sama seperti dirinya. Akan menyenangkan jika bisa bermain bersama mereka.


Seno tersenyum, wajahnya berseri. Teman satu divisi Shania itu menyukai pekerjaan sosial. Ia kerap terlibat dalam penanganan dan keluhan masyarakat di tempat tinggalnya, dia suka membantu orang tak mampu, memberikan sedikit rejekinya untuk berbagi bahkan tak segan-segan menawarkan waktu dan tenaganya untuk membantu sesama.


"Setelah selesai rapat, kita pergi bersama" Ucapnya kemudian, kemudian duduk di kursinya tak jauh dari Shania.


5 Menit kemudian


Rapat dimulai. Mereka mengadakan rapat tertutup dan dipimpin Oleh Dave.


...***...


"Pa, Apa yang dikatakan Yura pada papa?" Tanya Jere pada sang Ayah dalam sambungan telepon.


"Seperti yang kau dengar darinya"


"Tak bisa gitu pa, banyak sekali Brand produk yang membatalkan kerja sama denganku"


"Sebentar lagi mereka akan meminta mu kembali jadi model mereka"


Jere mematikan telepon, bukan jawaban menurutnya. Tak lama kemudian ia menerima pesan masuk dari managernya bahwa dia dikontrak kembali bahkan lebih banyak dari sebelumnya.


How?


Jere geleng-geleng, mengapa seliar ini dunia perbisnisan? Baiklah,


Tak mau ambil pusing, Jere mengemudikan mobilnya menuju rumah orangtuanya.


Lelaki manis itu mengigit kukunya seraya memikirkan hal besar yang baru terjadi padanya, tampaknya hanya dirinya yang tegang dan ketakutan selebihnya tampak tenang seperti tak terjadi apa-apa.


Memasuki area mansion keluarganya, netra matanya menangkap seseorang sedang berjalan kaki menarik koper besar setinggi pinggangnya.


Jere menyipit, mengurangi kecepatan mobilnya dan membuka jendela. Benar, itu seseorang yang dikenalnya.


Irene?


Wanita itu menoleh, lalu tersenyum hangat mendekati mobil Jere.


"Jer... kau kah itu?"


"Wah, kakimu kuat sekali berjalan lintas negara Itali-Indo" Ledeknya sambil tertawa mengejek Irene.


"Masuklah, tunggu apalagi!" ucapnya kemudian.


Irene membuka pintu belakang dan memasukkan kopernya, lalu membuka pintu sebelah kiri dan duduk disamping Jere.


"Kenapa kau berjalan kaki?"


"Ah itu, tadi aku menggunakan taksi. Tapi keluarga supir itu mengalami kecelakaan sehingga ia tak sempat mengantarku sampai ke rumah, ia minta maaf lalu menurunkan aku"


Jere tertawa "Ku kira kau kehabisan ongkos" lalu menjalankan mobil pelan "Mengapa tak mengabari aku jika kau kembali?, setidaknya aku bisa menjemputmu" lanjutnya,


"Kau sibuk"


"Aku bisa menimbang dan menjemputmu jika kau minta"


"Bagaimana kabar tante Eve dan Om Jimmy?" Tanyanya lagi tak sabar menerima jawaban.


"Baik, mereka baik"


"Aku tak memberitahu mereka soal kedatanganku, tadinya ku harap kau juga tak perlu tau, biar jadi kejutan"


"Mereka tak ada di rumah sekarang, mereka masih di kantor"


"Lalu, Jean dimana?"


"Dia sekolah, ini tahun terakhirnya sebelum masuk universitas. Jadi, dia menghabiskan waktu mengikuti les"


Irene mengangguk, pandangannya beralih keluar jendela, Ah dia bisa melihat lagi tempat yang beberapa tahun ini ditinggalkannya.


Dan disebelahnya, Jere tampak tumbuh dengan baik, dia terlihat maskulin dan tampan tanpa sadar Irene tersenyum memandang makhluk Tuhan disampingnya


...***...


...Masih ingatkan siapa Irene?...