
Disini di dalam mobilnya, Yura tengah merapikan make up nya, menyapu pelan pipi mulusnya dengan kuas lalu merapikan alis dengan pensil kebesarannya. Jeremy diam, menoleh pun tidak, ia terlalu fokus pada jalanan sore hari yang tampak mulai ramai.
Hingga satu motor tiba-tiba melintas di depan mobil mereka, Jeremy terkejut, ia menginjak rem dengan kasar untuk mengantisipasi agar tidak terjadi tabrakan, ternyata hal itu membuat coretan alis Yura tercoreng, aneh atau lucu. Jeremy tak berekspresi, ia hanya mengumpat si pemotor karena membuatnya terkejut. sementara Yura, grasak grusuk mencari tisu basah, atau apa saja yang bisa digunakan untuk memperbaiki alisnya.
Kalau ditanya kesal atau tidaknya, tentu Yura kesal. di tambah lagi sikap Jeremy mengacuhkannya seolah tak menganggapnya ada, tapi begitu lah Jeremy, akan semakin sulit nantinya jika Yura banyak protes.
Hubungan ini berlanjut atas permintaan Yura, Karena Jeremy sudah memutuskan untuk menyudahi sandiwara jauh-jauh hari, tapi Yura meminta tenggang waktu sebulan lagi menjelang pesta pernikahan temannya, dan sore ini adalah salah satu bagian dari acara temannya itu.
"Jer, bisa gak sih kamu bersikap manusiawi dikit" akhirnya Yura berucap juga mengeluarkan protesnya.
Jeremy tak bergeming, percuma ngomong sama patung, batin Yura.
Lama terdiam, hingga akhirnya Jeremy membuka mulut berharganya itu.
"Sorry..." jawab Jeremy pada akhirnya, ia lalu menoleh dan tersenyum simpul, sepertinya hanya untuk formalitas agar Yura tidak terus mengatainya.
"Jer, Maaf. mungkin aku egois memintamu membantu ku sampai hari ini" ucap Yura menyadari kesalahannya, ada perasaan tidak enak hati saat Jeremy menatapnya tadi.
"Aku perlu outer, tidak mungkin aku pakai kaos ini di acara temanmu" ucapnya tanpa menjawab ucapan Yura,
"Aku sudah siapkan blazer di belakang, sengaja aku bawa untuk berjaga-jaga" ucapnya menunjuk jok belakang, Jeremy menoleh untuk memastikan, dan benar saja disana tergantung dua blazer berwarna monokrom di lapisi plastik laundry,
Drrrrttt Drrrrttt..
Ponselnya berbunyi di saku celana, Jeremy menepi dan mengambil jalur lambat. Telepon dari sang mama.
Hmm pasti nanyain daging, batin Jeremy.
Ia mengusap ikon hijau lalu menempelkan benda pipih itu di kupingnya, "Iya Ma?"
"Jer, sudah dua jam ini. mama tunggu kenapa tidak datang-datang. Kamu jadi beli atau tidak?" Omel Eve dari seberang telepon.
"Tau gini, mending mama order aja tadi"
"Ehmmm, ma. sebentar lagi sampai dagingnya ya. tunggu aja" Jeremy mematikan telepon sepihak, lalu mendial nomor Shania,
1 kali
2 kali
Tetap tak diangkat, sepertinya Shania sedang menyetir, atau tadi ia tidak membawa hp?
3 kali
"Hallo?" Akhirnya terdengar juga jawaban,
"Shan, tolong Anterin daging yang tadi di beli ya ke rumah" Pinta Jeremy sopan, ia sadar harus dengan bahasa yang baik agar Shania mau menggenapi permintaannya.
"Jer, jarak rumahmu dari apartemenku jauh, kau tahu itu, dan sekarang sudah sore, macet. jadi aku tidak mau" Ucap Shania menolak mentah-mentah permintaan Jeremy,
"Ishh... Ya sudah" Jeremy menutup telepon pasrah. tidak, ia tidak mungkin memaksa Shania, ia sedang memikirkan cara lain.
Jeremy akhirnya membuka aplikasi pintarnya, memesan daging segar yang bisa di pesan online. selesai.
Ia kemudian menelpon sang mama dan mengatakan dagingnya sudah dipesan. Eve dari seberang telepon hanya menggeleng-geleng kepala, Jeremy memang tak pernah benar jika disuruh urusan dapur.
...***...
Ia berganti baju dan kemudian menata belanjaan di kulkasnya, setelah ini ia berencana akan mandi dan tidur terlebih dulu, malamnya ia akan menyelesaikan designnya.
Waktu berlalu begitu cepat, Shania akan tidur sore ini tapi sebelumnya ia ingin menghubungi Tom, menanyakan keadaanya dan mengingatkan untuk makan dan istirahat, semoga perhatian kecil itu akan selalu membuat Tom semangat untuk menjalani pekerjaannya di hari libur ini.
Tak di angkat...
Tak ada jawaban...
Hmmm, bibir Shania mengerucut, Sibuk sekali? Ya sudah, Shania tak berniat menganggu lagi. ia beralih pada kontak Jeremy, lelaki yang mempunyai sifat hangat dingin, kadang seperti batu, kadang juga seperti Mario Teguh, dan terkadang seperti pelawak tak jadi, berisik dengan guyonan garingnya
"Hmm, Kenapa?" terdengar suara dari seberang telepon, bisa ditebak saat ini Jeremy sedang mode batu.
"Sorry ganggu Jer, tapi daging dan mobilmu besok saja ku antar ya" Ucap Shania,
"Okay. Besok jam 6 pagi"
"Pagi sekali" Ucap Shania heran, ia hendak protes tapi di urungkan lantaran Jeremy langsung berucap "Jangan telat".
Shania menutup telepon, hmm mood nya semakin buruk mendengar jawaban acuh Jeremy, ish sebenarnya Shania berharap apa? Jeremy menghiburnya? tidak mungkin, yang ada Jeremy akan mengejek Shania jika tahu ia selalu di abaikan Tom. Jeremy bukan teman yang baik sebenarnya, dia menyebalkan.
*P*arty perayaan sebelum wedding di gelar di sebuah cafe, khusus untuk para bujang dan lajang teman-teman si calon pengantin, disini lah Jeremy. duduk diam dan termangu di meja bundar yang di penuhi minuman apa itu, anggur? hmm Jeremy belum pernah meminumnya, Sang papa melarangnya sejak dulu.
Meskipun usianya sudah menginjak 24 ia tak terlalu memahami dunia hiburan dan macam-macamnya, bukan karena dia anak rumahan, atau anak manja. Dia lelaki penurut ucapan orangtuanya, ia tidak mau terjerumus ke pergaulan tidak baik. Dan masalah wanita, ia belum pernah jatuh cinta. Hingga ia menerima tawaran Yura, supaya ia terhindar dari cap tak laku, walaupun mesra di depan teman-teman mereka. Jeremy tak ada rasa apapun pada wanita itu.
"Hai Jer..." sapa seorang wanita menepuk bahunya, rambut terurai panjang dan pakaiannya seksi sekali menampilkan belahan dada montoknya, rasanya Jeremy ingin menutup mata saja. Dia merasa malu.
"Ha..Haii.." ucapnya gugup, ia tak menatap. matanya sibuk mencari sosok Yura diantara banyak orang.
"Kenapa tidak minum?" tanya wanita itu melirik gelas Jeremy masih utuh, bahkan tak berkurang sedikit pun.
"Sariawan" ucapnya mulai tenang, dalam hati ia mengumpat Yura yang sudah meninggalkannya ntah pergi kemana.
"Apa kau belum berpengalaman?" tanyanya lagi menelisik wajah Jeremy, dan Shittt Jeremy mengumpat lagi dalam hati, apa maksudnya? apa wajahku terlalu polos bagi wanita-wanita disini? tidak, tidak.. aku harus tunjukkan siapa aku. batin Jeremy.
Jeremy mengambil gelas anggur itu, lalu mengisyaratkan wanita itu untuk mengambil minum juga, bersulang dan glek .. 1 gelas habis sekali teguk.
Wanita itu begitu terpukau, dia saja hanya minum seteguk, dan Jeremy menghabiskan semuanya? begitu Gentle pikirnya.
"Aku temannya Yura, acara sudah hampir selesai. tadi Yura pulang duluan ada urusan mendesak, jadi kau naik taksi saja, itu pesan Yura padamu" ucapnya kemudian,
Jeremy lagi-lagi menyumpahi Yura, bisa-bisanya meninggalkan dirinya tanpa pamitan, ia semakin geram menjadi pacar pura-pura Yura, tapi yang tadi ia minum, lumayan, rasanya cocok dengan lidahnya.
"Baiklah, aku pulang. terimakasih jamuannya" Ucap Jeremy pamit dengan tenang, sangat cool,
Jeremy mulai pusing, well dia tahu ini apa? pasti dia akan mabuk. Tidak, dia tidak boleh pulang ke rumah. bisa-bisa ia di jewer Eve dan Jimmy pulang dalam keadaan mabuk.
"Pak, kita ganti haluan ke Persona Tower" Ucap Jeremy pada supir taksi untuk menuju apartemennya saja.
"Ahh, apa ini? berputar?" Jeremy dengan susah payah berjalan memegangi dinding, berkali-kali ia terjatuh. Dalam setengah sadar, ia masih bisa merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah terhadap pengaruh minuman, dia sering melihat teman-teman modelnya jika berkumpul bisa menenggak 1, 2 gelas bahkan itungan botol, tapi mereka tetap enjoy dan tak sempoyongan seperti dirinya. Ahh lemah ...
Akhirnya Jeremy tiba di unit apartemennya, membuka pintu lalu masuk mematikan diri di sofa, ia tidak sanggup lagi berjalan ke kasur atau pun melepas sepatu dan blazernya.
"Jer... bangun.. mobilmu.."
...***...