
Jere tiba mengemudikan mobil mercedez benz luxury hitamnya menuju apartemen kediaman Shania, sebuah tempat yang menjadi tujuan keduanya setelah rumahnya. Ia kemudian memasuki kawasan apartemen dan melewati beberapa tower sebelum tiba di lokasi keberadaan sahabatnya.
Ia kemudian turun dari mobilnya dan membuka pintu bagasi untuk mengambil beberapa paperbag dengan berbagai ukuran dan berwarna sama, coklat. Di sana juga tercetak jelas tulisan berwarna putih nama swalayan tempatnya belanja.
Anak itu menghampiri seorang penjaga keamanan yang tengah bertugas dan memberikan sebuah paperbag kecil. Jere sengaja menyiapkan satu dari beberapa barang bawaannya untuk penjaga keamanan yang bertugas, apalagi Jere sudah sangat mengenal mereka lantaran teramat sering datang kesana.
Sadar atau pun tidak, perilaku seperti ini ia pelajari dari sahabatnya Shania. Sering kali ia menemani Shania pergi ke panti asuhan untuk berbagi makanan sebagai pengisi hari libur gadis itu, bahkan ketika mereka sedang di jalan Shania selalu meminta Jere mampir dan membelikan makanan untuk beberapa anak yang membutuhkan. Sejak itu pula, berbagi dengan orang lain menjadi kebiasaanya, boleh dikatakan Shania membawa dampak baik pada Jere.
Kemudian anak itu menaiki lift yang membawanya ke lantai 10 tempat unit apartemen Shania berada. Pintu terbuka setelah Jere memasukan smartcode yang sudah ia ingat diluar kepala.
Suasana tenang, Jere yakin tak ada orang selain dirinya saat ini. Ia bisa melihat betapa kacau dan berantakan ruangan ini. Di sofa sana berserakan baju, tisu dan barang-barang lain yang seakan enggan untuk ditata. Pintu kamar gadis itu terbuka lebar, bahkan diatas kasurnya bertebaran baju-baju wanita, kecil maupun besar dan alat-alat kosmetik serta perlengkapan lainnya.
Pria bergelar anak pertama di keluarga Davies ini menghela nafas berkali-kali, Ia tahu sahabatnya orang yang rapi dan teratur serasa tidak mungkin jika rumah ini yang ditinggali Shania, kali ini ia memaklumi karena kondisi hati Shania sedang buruk. Tak pikir panjang, Jere membuka jasnya meletakkannya di sofa serta merapikan beberapa paperbag yang ia bawa berisi daging dan sayuran.
Anak itu menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, lalu memulai aktivitasnya. Pertama, ia memunguti sampah makanan ringan, botol dan tisu yang berserakan, mengumpulkan benda tak terpakai itu lalu memasukkan ke tong sampah. Jere kemudian, merapikan beberapa outer, blazer, dan pakaian kotor yang tak terurus, menyatukan dengan pakaian kotor lain dan segera mencucinya di mesin cuci.
Jere membersihkan lantai ruangan dengan vacum cleaner serta mengepel setelahnya agar lantai lebih bersih higienis lagi, bahkan ia merapikan spray dan bantal-bantal Shania yang lebih tepat dikatakan kapal pecah.
Disela-sela kegiatan, atensinya tercuri pada sebuah bingkai kecil dinakas disamping posisi Shania biasa tidur, disisi kiri kasur tersebut. Anak itu ingat jelas, terakhir kali ia kemari, isi bingkai itu adalah foto Tom dan Shania, tapi sekarang sudah berganti dengan fotonya dan Shania, foto masa kecil mereka sewaktu masih sekolah bersama. Jere tersenyum penuh arti, jari jemarinya perlahan meraba foto kecil itu.
Kenangan masa kecil berputar kembali di ingatannya, gadis kecil menggemaskan yang selalu pulang bersamanya karena papanya selalu telat menjemput akibat selalu saja ada operasi dadakan, serta mama yang selalu sibuk pergi lintas negara untuk mengikuti acara fashion, dan keperluan bisnis lain. Gadis kecil yang selalu berbagi makanan padanya meskipun itu hanya satu permen, ia akan membagi permen itu dan memberikan setengahnya pada Jeremy.
"Kalau pria itu tampan akan ku jadikan suami"
"Kalau dia wanita akan ku ajak tinggal bersama"
"Bagaimana kalau om-om?"
"Jadikan bapak angkatku, lumayan kan jauh dari orangtua"
"Sugar daddy?"
Hahahahaa
Tawa dua gadis yang tampak kesenangan itu membuyarkan lamunan Jere, ia tahu Shania baru saja tiba ntah dengan siapa.
CLEK
"Jer??" Shania tiba lebih cepat dari yang Jere pikirkan, menghampiri Jere yang masih setia memegang bingkai kecil.
"Kamu ngapain, Jer?"
"Olahraga, cari keringat!" jawabnya enteng seraya menggidikkan bahu. Sementara Shania tampak panik bercampur kesal.
"Kenapa? kau menolak kebaikanku?"
"Shann----....!" Panggil Lora dengan lantang "Kau menyuruh pembantu membersihkan rumah ini ya? rapi sekali!" pujinya dari kejauhan.
"Sembarangan!!" Jere berteriak menjawab pertanyaan Lora, merasa tak terima dikatai pembantu oleh suara yang sama sekali belum di kenal Jere.
"Iya, aku menyewa pembantu untuk membersihkan semuanya!" jawab Shania setelah dipergoki oleh Lora dirinya sedang berantam bersama Jere, hanya itu jawaban yang pas menurut Shania.
"Dia?" Lora bertanya kembali dengan ekspresi tak yakin.
"Kau siapa? kau---"
Belum sempat Jere membuka mulut melanjutkan kata-katanya, Shania sudah membekap mulutnya "Jer, ini temanku Lora dia baru datang dari Surabaya. Bersikaplah sopan padanya!" Ucap Shania seraya menginjak kaki Jere, lalu setelah mendapat anggukan terpaksa barulah ia melepaskan tangan dan kakinya pada tubuh Jere.
"Laki-laki?" tanya Lora lagi dan di angguki cepat oleh Shania.
"Tampan? kenapa mau jadi pembantumu?" selidiknya lagi bertanya pada Jere.
"Apa kau pria sewaan plus-plus?" tanyanya lagi dengan pandangan lebih dalam menerawang.
"Hussshhh, jaga bicara Ra!!" Marah Shania
"Aku pacar Shania" Jere menepuk pundak Shania merasa tak mau menuruti isyarat Shania yang seolah menyuruhnya untuk bungkam. Ia merasa sedikit terhina karena Shania mengatakannya pembantu pada seseorang yang baru dikenalnya, bahkan tak jelas alasannya untuk apa.
"Pacar?"
"Tidak Ra, dia bercanda. Kami selalu bercanda"
"Iyakan aja apa susahnya" bisik Jere. Lalu dia meletakkan foto tadi dan berjalan beberapa langkah mendekati Lora lalu mengulurkan tangan.
"Namaku Jeremy, aku teman Shania"
"Lora!" Gadis itu membalas uluran tangan Jere, "Kau membersihkan semuanya?" tanya Lora lagi setelah mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang sudah tertata apik.
Jere mengangguk, "Aku senggang, jadi aku membantu Shania melakukan semuanya!" Ia kemudian menoleh pada Shania sebelum berbisik pada Lora "Maklum, dia sedang patah hati" Jere mendekatkan wajahnya pada pipi Lora.
"Jerr...!!" Teriak Shania merasa terganggu dan merasa di jelekkan.
"Kenapa kau mengatakan dia pembantu jika dia temanmu?"
"Shania selalu mengatakan yang tak baik tentang temannya, jadi berhati-hatilah berteman dengannya" bisik Jere lagi seraya tertawa nakal.
"Jer..!!"
"Aku bercanda" tawanya lagi "Kita bisa berteman" Jere menepuk pundak Lora. lalu pandangannya beralih pada Shania "Kau memajang foto kita?"
Shania mendengus, sangat menyebalkan melihat Jere merayu wanita di hadapannya, temannya pula "Itu karena aku tak punya foto lain untuk dipajang" ucapnya kesal.
...----...
...----...