
Seperti biasa siang ini, Shania makan di kantin kantornya karena memang bekalnya tadi pagi sudah habis. Makan bersama rekan kerja satu divisi cukup membuat hatinya terhibur dengan candaan dan bahan pembicaraan yang menggelitik perut.
Tapi raut wajahnya berubah datar ketika teman-temannya membahas mengenai pacar masing-masing mereka, begitu perhatian dan selalu mengajak dinner romantis mereka.
Shania menahan nafasnya, dia sibuk meyakinkan diri bahwa kekasihnya juga seperti itu, dulu Tom selalu datang ke apartemennya, membawakan makanan, menonton dan dia selalu membuatkan makanan dan bekal pada Tom.
"Shan.. Ayo, waktu istirahat sudah habis" Vivian membuyarkan lamunan panjang Shania, ia mengangguk linglung lalu kemudian mengikuti langkah Vivian meninggalkan makan siang yang masih tersisa setengah.
Shania mengambil pensil dan kertas gambarnya, membuat sketsa disana, mencoretkan ujung pensilnya mendatar dan menurun, ia sangat fokus, lebih tepatnya ia ingin menepis segala macam keraguan yang menghantui pikirannya.
Ia menghela nafas sejenak, bertanya pada dirinya sendiri "mengapa pikiranku tersita oleh Tom? sebegitu besarkah aku mencintainya?"
Shania menyandarkan dirinya ke sandaran kursi, memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Memandangi ponselnya yang menampilkan wajah tampan Tom, ia tersenyum..
"Tom mencintaiku--" Gumamnya seraya tersenyum.
"Jika tidak, tak mungkin hubungan kami bertahan selama 6 tahun hingga sekarang" ucapnya lagi.
"Shan, Kamu diminta menyerahkan tugasmu ke ruangan pak Dave" Ujar Seno mendekati Shania, dan dengan kepercayaan tinggi Shania bangkit dari kursinya, menuju ruangan bosnya itu,
"Siang pak" Ucap Shania ketika memasuki ruangan, menutup pintu kembali setelah ia masuk ke ruangan.
"Duduk Shan" Ucap lelaki yang tak kalah tampan itu, rambutnya hitam tertata klimis. rapi.
"Iya pak, saya menyerahkan tugas saya, maaf jika mungkin agak sedikit bentrok dengan konsep, tapi menurut saya ada baiknya kita lakukan penyesuaian mengenai warnanya" Ucap Shania menjelaskan tugasnya, memberi masukan serta alasan pendapatnya.
Lama mereka berbincang hingga pada akhirnya "Shan, kamu mendapat jatah libur besok"
Shania mengangguk, ia menebak ini permintaan Jeremy meskipun ia tidak yakin. kalau tidak, mengapa bisa kebetulan seperti ini?
"Baiklah, terima kasih pak. saya pamit" Ucap Shania beranjak dan meninggalkan ruangan.
Dave pun disibukkan dengan kedatangan pemilik perusahaan yang datang secara private, sehingga para karyawan tak ada yang tahu.
...***...
Shania menerima pesan dari Tom, ia akan menjemput Shania sore ini. Seketika hati Shania bersorak riang, ia sangat senang membaca pesan itu.
Dan sore pun tiba, Tom datang menghampiri Shania yang telah menunggunya di lobi. Wanita itu masuk dan duduk di samping Tom, tersenyum, sangat manis.
"Gimana hari mu?" tanya lelaki berpakaian formal itu tersenyum lalu mengemudikan mobil meninggalkan perusahaan M
"Menyenangkan. Sebaliknya, bagaimana pekerjaanmu?"
"Its okay, semua ok" ucapnya lalu mengajak Shania untuk mampir makan dulu disebuah restoran, bertepatan jalanan macet dan sudah gelap, sudah waktunya makan malam.
Sama seperti hari-hari lalu, tak ada percakapan yang berarti selama mereka makan. Setelah selesai menyantap hidangan Tom selalu di sibukkan dengan ponselnya, Shania tak mempermasalahkan itu, di jemput dan di ajak makan seperti ini hatinya sudah sangat senang, Ia merasa sangat di perhatian oleh Tom padahal pacarnya itu adalah orang yang sangat sibuk.
"Terima kasih ya Tom, sudah menjemput dan mengajakku makan" Shania berucap seraya menyesap minumannya.
Tom mendongak, meletakkan ponselnya dan menatap mata bulat indah Shania "Sudah seharusnya begini. Aku minta maaf, tak punya banyak waktu menemanimu" Ucapnya dengan raut wajah serius penuh sesal
"Aku mengerti" Sumpah Shania sangat mencintai pria di hadapannya ini, tatapannya mampu meluluh lantakkan hati Shania yang sempat ragu, Menikmati waktu berdua bersama dengan Tom seperti ini membuatnya yakin 100% bahwa Tom benar-benar peduli dan memperhatikannya, bertolak belakang dengan pikirannya yang selalu meragukan belakangan ini.
Tom mengusap puncak kepala Shania "Cute.." Ucapnya tersenyum lebar, Shania bersemu merah menerima perlakuan itu
"Sudah selesai? Kita pulang" Ucapnya kemudian, nadanya lembut, sangat indah di dengar telinga.
Jam 8 malam,
Mereka tiba di apartemen Shania, Tom mengantar Shania hingga ke depan pintu unit apartemennya, memastikan wanita itu masuk dengan selamat, lalu melambaikan tangan tanda ia akan pergi meninggalkan Shania.
Woah.. Hati Shania bersorak kembali, apalagi Tom sempat memeluknya sebelum lelaki itu pulang tadi, Tangan lembutnya merangkul Shania, membawanya dalam pelukan, mengucapkan kata-kata yang membuat Shania terbang ke awan-awan, perhatian, tulus, itu lah yang di rasakan Shania.
Ia kemudian membersihkan diri, lalu memakai body care untuk perawatan kulit tubuhnya, setelah itu ia bersiap untuk tidur.
Keesokan hari,
Shania bangun terlambat, waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi. Tampaknya ia terlalu bahagia hingga tidur terlampau nyenyak.
Untung saja ia mendapat jatah libur hari ini, libur ntah karena alasan apa, ia hanya merasa agak aneh tiba-tiba bosnya memberi libur karena alasan sudah membuat tugas untuk minggu depan. sebelumnya ia sering melakukan itu, tapi tak ada kata libur. bodo amat.. ia akan tidur lagi, perkara Jeremy mengajak ke pantai, Shania sangat malas. ia takkan pergi, biarkan saja. Mungkin Jeremy akan mengomel nantinya.
Dan benar saja, jam 12 siang.
Jeremy tiba di apartemen Shania, ia menampilkan wajah kesal karena 10 panggilan tak ada yang di jawab Shania, ternyata wanita itu hibernasi di bawah selimut tebalnya.
Ia tak mengucapkan apa-apa, mendapati Shania tidur, Jeremy berniat meninggalkannya lagi, tapi Shania buru-buru bangun dan menghentikannya.
"Jer, kau mau kemana lagi?" tanyanya tanpa rasa beban dibalik selimut.
"Pulang" Ucapnya singkat.
"Jer, Apa kau yang memerintah bosku untuk memberi libur?" tanya Shania lagi mencari tahu,
"Iya"
"Betul kecurigaanku, Untung aku sempat mencari artikel perusahaan itu, pemiliknya adalah Om Jimmy, pantes saja kau bisa seenak jidat memberi libur orang"
"Shan, apa kau lupa akan menemaniku ke pantai hari ini?" Tanya Jeremy tiba-tiba memalingkan wajah menatap Shania, suaranya datar, tak ada ekspresi diwajahnya.
Shania tak tertarik lagi, ia akan pergi bersama Tom ke pantai lain kali saja. tapi mengingat, libur ini karena Jeremy Shania sedikit banyak harus tau diri.
"Ok, aku temani" Ucapnya kemudian.
Setelah bersiap, Mereka berangkat. Pantai.. Indah sekali, apalagi matahari semakin turun ke arah barat, membuat cahayanya kian menit kian redup menyisakan biasan sinar lembut menerpa kulit, di padukan angin sepoi-sepoi dan lambaian pohon kelapa, hmm indah.. Tapi akan lebih indah, jika disini ada Tom, batin Shania.
Ternyata Jeremy ke pantai bukan untuk berlibur, ia melakukan sesi pemotretan menggunakan baju pantai yang baru saja launching oleh salah satu brand pakaian ternama, isshh Shania mendengus kesal.
Ia memandang jengkel ke arah kerumunan Crew, kreatif, make up, stylish, dan photografer yang tergabung disana, sedang memperlakukan Jeremy bagai raja yang setiap inci pakaiannya di perhatikan.
"Lalu untuk apa Jeremy mengajakku?" Protes Shania kesal,
...***...