
Minggu pagi sesuai rencana semula,
Shania sudah siap dengan pakaian kasual, baju kaos dan jeans biru ketat dikakinya, ia juga mengenakan jaket varcity untuk membalut tubuhnya karena udara pagi ini sedikit dingin akibat diguyur hujan semalam.
rencananya mereka akan berkunjung ke rumah Tom terlebih dahulu, sekedar menjenguk dan melihat keadaan orangtua kekasihnya karena sudah lama tidak bertemu.
10 A.M
sudah terlambat dua jam dari janji, Shania duduk di sofa dengan televisi yang masih menyala menampilkan perkiraan cuaca siang ini, pikirannya mulai melayang, Tom tak kunjung datang di hubungipun tak ada jawaban.
Kemana Tom?
Apa dia lupa?
Shania berusaha tenang dan kembali menunggu kedatangan Tom, barangkali Tom ada satu kegiatan yang memang tak bisa ditunda untuk diselesaikan lebih dulu.
01 P.M
sudah lewat tengah hari
Shania sudah semakin gelisah, Tom tidak ada kabar. setidaknya katakan jika memang tidak bisa. ia mendial nomor Tom namun tak ada jawaban, sekali lagi ia mencoba menghubunginya lagi-lagi hanya suara operator yang terdengar.
Shania menatap tas kecil yang akan ia bawa berisi perlengkapan selama perjalanan, snack, powerbank, dan perlengkapan milikinya pribadi seperti parfum dan lipstik.
"Tom, kamu dimana?" gumam Shania bermonolog sendiri.
Karena sudah sangat lama menunggu, Shania memutuskan untuk menaiki bus saja. ia berjalan cepat menuju halte, ia harus segera sampai disana agar tidak ketinggalan bus yang menuju kota tujuannya. sialnya lagi hujan turun tanpa di undang, sehingga membuat Shania harus memacu kecepatan larinya menuju halte agar tidak basah kuyup.
Shania mengabaikan rasa dingin ditubuhnya, baginya itu tidak apa-apa dibanding rasa kecewa hatinya atas sikap Tom hari ini,
Hingga ia tercekat kaget karena tangannya tertahan dan ditarik seseorang. Shania berbalik, ia mengernyit heran melihat sosok pria dihadapannya dengan baju sama basahnya seperti dirinya.
"Mau kemana?" tanya pria tersebut langsung ke inti.
"Bukan urusanmu" Jawab Shania dingin seraya melepaskan cekalan tangan pria itu
"Mau kemana?" tanya pria itu lagi, kali ia lebih menegaskan suaranya.
"Ke Surabaya" jawabnya pelan, bibirnya mulai menggigil jarak antara apartemen dan halte bus cukup jauh sehingga membuatnya benar-benar basah seperti sekarang.
"Ku antar" Ujar pria tersebut dengan nada memerintah. Shania menolak, namun pria tersebut tak banyak bicara ia membuka payung yang ia bawa dan menyuruh Shania untuk segera berganti pakaian.
Pria tersebut bernama Jeremy, dia adalah sahabat Shania yang selalu menemani dan menjaga Shania, sifatnya agak sedikit dingin, namun di lain sisi dia adalah anak yang jahil dan berhati hangat bagi yang sudah mengenalnya lebih dekat.
Tak ada percakapan yang berarti diantara mereka, baik Shania maupun Jeremy mereka sama-sama berdiam diri, hanya suara alunan musik dengan suara kecil yang mengisi keheningan mobil. Hujan yang mengguyur Jakarta sudah tak sederas sebelumnya, hanya saja meninggalkan macet karena jalanan licin dan banyaknya kendaraan melintas.
"Jer..." Shania membuka mulutnya pelan, sekalipun ia memanggil dengan suara kecil tapi Jeremy masih bisa mendengarnya.
"Hmmmm.." Jeremy berdehem sebagai jawaban, matanya masih fokus ke depan dan kedua tangan memegang kemudi.
Shania menggigit bibir bawahnya, ia masih sangat gelisah karena tak ada kabar yang berarti dari Tom, ia ingin bertanya pada Jeremy mengenai kira-kira kemana Tom hingga tidak datang, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan pulang bersama hari ini.
"Ada apa?" tanya Jeremy sambil menoleh pada Shania, berusaha membagi konsentrasi pada wanita disampingnya barangkali ingin bercerita.
Shania mengurungkan niatnya, ia bisa memastikan tanggapan Jeremy hanya akan diam jika ia membicarakan kekasihnya itu.
"Jer..."
"Ya?"
"Kenapa kau bisa menemukan aku tadi?" pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan ia alihkan pada pertanyaan ini, Rumah Jeremy cukup jauh dari apartemennya tidak mungkin hanya kebetulan lelaki itu disana.
"Aku ingin mengunjungimu" jawabnya santai, Shania mengernyit heran.
"Kenapa? biasanya kau selalu menghubungiku lebih dulu jika ingin mengajak keluar" tanya Shania dengan heran.
"Ponselku rusak, aku belum sempat menggantinya. jadi aku berpikir langsung ke tempatmu itung-itung memberi kejutan, dan menemaniku untuk membeli ponsel baru" jawabnya dengan nada santai,
Shania menghela nafas pelan, bicara dengan Jeremy memang harus kudu sabar. kadang tak semua ucapannya sesuai dengan kenyataan. karena beberapa kali Shania selalu memergoki Jeremy di sekitaran apartemennya.
03.00 dini hari.
Shania dan Jeremy tiba di Surabaya, perjalanan jauh ditambah lagi macet membuat perjalanan sangat panjang. syukurlah ketika telah memasuki tol jalanan sepi dan Jeremy bisa menancap gas dengan leluasa.
Jeremy memarkirkan mobilnya di parkiran hotel. ia meminta Shania agar beristirahat terlebih dahulu, ia pun merasa lelah, duduk sangat lama membuat pinggangnya sakit. Awalnya Shania menolak, namun bukan Jeremy namanya jika ia tidak bisa mendominan.
Satu kamar untuk dua orang?
"Ahhh Jer, kau yang benar saja" protes Shania saat memasuki kamar dengan satu tempat tidur besar itu.
"Aku tak macam-macam, istirahatlah" jawabnya dingin tanpa ingin membahas kekhawatiran Shania lebih jauh lagi.
"Aku tidur di sofa saja" ucap Shania, ketika ia mengambil bantal tangannya di cekal oleh Jeremy yang sudah terbaring dengan mata terpejam.
"Badanmu akan sakit nanti, istirahat disini saja apa susahnya" ucapnya menunjuk ruang kosong disebelahnya, Shania berdecih tapi ia mengikuti ucapan Jeremy, ia berbaring dan menyamankan tubuhnya diatas kasur.
"Pakailah selimut, kau akan beku dan mati jika tanpa selimut" ucapnya kasar seraya melempar selimut pada Shania, Shania hanya mengambil selimut itu tanpa berniat menanggapi ucapan Jeremy, sudah biasa baginya sikap dan Ucapan Jeremy seperti itu.
Shania memiringkan tubuhnya memunggungi Jeremy, pikirannya kembali melayang memikirkan kekasihnya Tom. Ia menyalakan ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan dari Tom untuk memberi tahunya mengapa ia tidak datang.
Thinggg...
Satu pesan dari Tom.
"Maaf Shan, aku tak bisa pulang ke Surabaya hari ini, ada pekerjaan penting yang tak bisa ku tunda. bagaimana jika kita ganti jadwal saja?" Shania terenyuh, tadi ia merasa kecewa tapi setelah menerima pesan ini hatinya kembali lapang, ia menerima alasan Tom yang menurutnya memang benar, mengingat pekerjaan pria berkulit putih itu adalah seorang manajer disebuah perusahaan media, tentu ia sangat sibuk dengan atasan dan bawahannya.
Tak lama kemudian jari jemarinya menari lincah diatas keypad ponselnya mengetik pesan yang berbunyi "Its okay sayang, lain kali kabari aku jika kamu memang tidak bisa. aku sudah di Surabaya. jaga kesehatanmu"
Shania meletakkan ponselnya, ia menarik selimut dan tertidur menyusul Jeremy yang lebih dulu mengeluarkan dengkuran halus ke alam mimpi.
...***...
...Hello, ini novel baru lanjutan dari My Husband, My Partner ya, mungkin ada hal-hal yang tak dijelaskan rinci disini bisa baca My Husband, My partner dulu....
...salam Janesalenš¤...