
Keesokan hari,
Shania terbangun, suara gemericik air dari kamar mandi menganggu tidur nyenyaknya. ia menoleh ke sisi kanan kasur dimana Jeremy berbaring, tidak ada. berarti dia yang sedang mandi.
"Hmmm, jam berapa ini?" gumamnya seraya berusaha bangkit dan menyingkap selimut, kaki putihnya menyentuh ubin tanpa alas kaki membuatnya sedikit bergidik kedinginan.
Ia menuju sofa dimana tasnya berada, mengambil ponsel yang tersimpan disana sejak semalam. dan ya saat wanita cantik berambut sebahu itu menyalakan ponsel sebuah panggilan langsung masuk.
Sejenak kedua sudut bibirnya tertarik, ia tersenyum mendapati telepon dari Tom pagi ini.
"Hallo Tom"
"Shan, apa kau jadi ke rumah ku?" tanya pria diseberang telepon langsung ke poin.
"Hm, jadi. tapi setelah makan siang. kira-kira aku bawain apa ya untuk mama papa?" tanya Shania mengetuk-ngetuk dagunya memikirkan hadiah apa yang cocok untuk diberikan pada calon mertuanya.
"Tidak usah repot Shan, kau datang saja mereka sudah senang. sampaikan salam ku ya, aku tak bisa kesana bersamamu, pekerjaanku banyak sekali. lain kali akan ku tebus kesalahan ku ini" Ujar pria tersebut dengan suara lembut miliknya, suara yang mampu membuat siapa saja merasa tenang mendengarnya.
Thomas Rahardja adalah pria lembut, baik hati dan penyayang. namun, ia selalu sibuk dengan pekerjaanya. Shania menerima itu semua tanpa menuntut apapun, sebagai seorang yang sama-sama bekerja di perusahaan besar, Shania juga tahu bagaimana sibuknya tuntutan kerja yang di emban Tom. itu lah sebabnya ia tidak terlalu mempermasalahkan jika Tom tiba-tiba membatalkan janji temu atau tiba-tiba pergi seperti sekarang.
Rencana awal mereka akan bersama berkunjung ke rumah orangtua Tom di Surabaya, batal begitu saja.
saat ini hanya ada Jeremy, dan Jeremy lah yang akan menemani Shania ke sana nantinya.
"Iya Tom, jaga kesehatanmu ya" ucap Shania penuh perhatian, lalu sambungan telepon terputus.
Shania menghempaskan dirinya ke sofa, mata bulatnya tertuju pada Jeremy yang baru saja keluar kamar mandi dan melewatinya begitu saja.
"Kau mau kemana?" tanya Shania mengerut heran, Jeremy masih mengenakan handuk di kepalanya dan pakaian nya sudah berganti dengan celana pendek dan baju kaos yang semalam di belinya juga.
"Aku mau ambil delivery an makanan. Aku takkan memberimu jika kau belum mandi" jawabnya tanpa menoleh, membuka pintu lalu pergi tanpa ada tanggapan lagi dari Shania.
Shania mendengus diliriknya jam yang masih menunjukkan jam 9 pagi, mereka akan pergi lewat tengah hari lalu mengapa harus terburu-buru bangun, ada baiknya ia tidur lagi, masuk selimut dan menurunkan suhu AC agar lebih nyaman, dan... ia terlelap kembali.
Jeremy kembali membawa sebuah plastik, ia menggelengkan kepala melihat Shania sudah tidur lagi .
"Shan, Aku bercanda. Bangun dan makan Ayo!!" ajaknya menggoyangkan bahu Shania, wanita itu hanya berdehem dan mengatakan ia masih mengantuk.
Tak mau ambil pusing Jeremy memilih menikmati pizza spesial yang dipesannya seraya menonton pertunjukan tinju yang sedang disiarkan langsung,
1 jam..
2 jam..
Kini acara TV berganti dengan berita seputar bisnis, dimana disana tersorot seorang wanita yang dikenalnya, Yura wanita keturunan korea yang merupakan anak dari kolega ayahnya, James Davies.
Ia segera mematikan TV merasa malas akan dunia perbisnisan yang menurutnya terlalu kejam, karena jabatan dan kuasa orang-orang rela mencelakai satu sama lain seperti yang terjadi padanya ketika berusia 7 tahun lalu,
Jeremy menoleh pada ranjang besar bersprei putih itu, Shania sudah duduk dengan kondisi muka setengah sadar, matanya menyipit memperhatikan Jeremy yang menatapnya datar.
"Kenapa?"
"Kau akan ke rumah mertuamu, tapi jam segini kau belum juga bersiap. kelihatan sekali kau menantu yang buruk" ucapnya tersenyum tipis mengejek Shania.
"Setidaknya aku mencintai dan dicintai anaknya, sedangkan kau? hahaha kau saja tak suka dengan pacarmu" jawab Shania tak kalah garang menjawab cibiran Jeremy. pria itu mengangkat alis pasrah, apa yang dikatakan Shania betul adanya, Dia dan Yura hanya sebatas status, tidak ada perasaan apa-apa pada wanita itu terlepas dari perjanjian mereka sepakat berpacaran untuk menjauhkan Yura dari mantan pacarnya, dan Jeremy bisa hidup tenang karena tidak banyak wanita lagi yang mengejar dan menganggu hidupnya...
"Semoga kau cepat putus sama pacarmu itu" Ucap Jeremy asal tanpa beban,
"Tidak akan, ku ramal kau yang akan putus dengan kekasih palsumu itu" Jawab Shania seraya berjalan menuju kamar mandi.
Ponsel Jeremy berdering, telepon dari sang mama.
"Jer, kau dimana sayang?" tanya Evelyn,
"Sejak kapan kau disana? kenapa tidak bilang? apa ada pemotretan disana?" tanya Evelyn beruntun,
"Tidak ma, aku menemani Shania berziarah ke makam orangtuanya"
"Hmm, pantas aja. ternyata bersama Shania. kapan kalian pulang?"
"Hari ini ma, nanti mau ke rumah Tom dulu" jawab Jeremy sedikit malas menyebutkan nama Tom.
"Hati-hati ya, salam sama Shania. mama telpon karena Yura tadi datang kemari, katanya kau tidak ada di apartemen"
"Ada apa dia mencariku?"
"Dia ingin mengajak makan malam keluarga, 3 hari lagi. dia meminta mama untuk sampaikan pesan ini kepadamu"
"Cihh, wanita itu, menelpon ku saja tidak ada. bisa-bisanya aku hanya diperlukan untuk makan malam saja" gerutu Jeremy tersenyum sumbang.
"Bukan kah impas, kau terbebas dari kejaran wanita-wanita yang menggilaimu, cepatlah kembali. dan selesaikan urusanmu segera" Ucap Evelyn tegas, sambungan telepon pun terputus.
"Jer, nanti kita gantian nyetir ya.." Ucap Shania yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan rambut hitamnya dengan hair dryer
"Bagaimana pun juga aku harus tahu diri menerima kebaikanmu" sambungnya lagi.
"Okay, sekarang denganku memang tak ada yang gratis" Jawab Jeremy datar tak beralih dari ponselnya, ia sedang mengirim pesan pada Yura agar menyudahi sandiwara mereka ini yang sudah dijalani selama setahun belakangan ini.
"Licik, padahal kau yang menawarkan diri mengantarku" cibir Shania,
"Shania sayang, dari dulu juga aku dengan suka rela menolongmu, kehujanan kepanasan. kau saja yang selalu berucap tak enak sampai aku bosan mendengarnya, jadi aku ganti sistem, tidak ada yang gratis mulai sekarang" ucapnya mendekati Shania yang sibuk merias wajah manisnya, bibir tipis, lesung pipi menawan, bibir pink merona dan alis tebal alami sangat menarik, bahkan tanpa riasan pun dia sudah cantik.
"Aku Cantik kan?" tanya Shania dengan kepedeannya menatap pantulan cermin di hadapannya.
"Tidak, kalau kau cantik pasti aku sudah menjadikan mu pacarku sejak dulu" jawab Jeremy tanpa memperhatikan wajah Shania, tangannya terulur menjangkau pelembab wajah milik Shania.
"Bagi ya, aku tidak bawa skin care apapun kemari" ucapnya terkekeh pelan.
"Aku penasaran kau ini ingin wanita seperti apa, bahkan Yura wanita cantik kelas kakap pun tak bisa membuatmu takhluk"
"Aku terlalu sibuk mencintai diriku, mencintai ketampananku ini" jawabnya tak kalah PD.
"Mungkin kah kau gay?" tanya Shania melotot menyadari sesuatu
"Husss, Ngaco" sergah Jeremy membantah kata-kata absurd Shania.
"Ayo ih, udah setengah 12 dan kau belum makan dari pagi" ajak Jeremy seraya memperhatikan jam tangannya.
"Nanti kita mampir di resto terenak disini, sekalian aku mau bawain buat mama papanya Tom" jawab Shania tersenyum bahagia, ia mengambil tas kecilnya memasukkan ponsel dan dompet.
Raut wajah Jeremy sedikit berubah, ia menghela nafas pelan
"Okay"
"Kita berangkat"
"kita langsung check out"
"Jangan ada yang tertinggal"
...***...
...Terimakasih yang sudah hadir, jaga kesehatan😇...