I Think, I Love You

I Think, I Love You
Maaf



Shania berangkat ke kantor lebih siang dari biasanya. Alasannya? tentu saja Jere.


Anak itu dengan tegas melarang Shania bekerja. Padahal Shania rasa dirinya sudah baik-baik saja. Shania mengiyakan saja, setelah Jere pergi baru lah ia bersiap dan berangkat.


"Wah, Dunia sedang tidak baik seorang Shania terlambat" Ucap Vivian menyapa Shania ketika ia tiba, Seno dan Rara juga turut berdecak heran mempertanyakan sebab keterlambatan Shania.


"Apa yang terjadi? tak biasanya kau terlambat" Tanya Seno dibelakangnya


"Aku kemarin kehujanan, sebelum tidur semalam aku minum obat dan bangun kesiangan" Shania berucap santai seraya mengambil berkas-berkasnya dilaci meja.


"Pantes kami hubungi tak ada respon" Vivian menyodorkan sebuah roti keju pada Shania "Kau pasti belum sarapan" ucapnya. Shania mengambil roti itu, dan segera melahapnya. Sebenarnya Jere sudah menyiapkan sarapan untuknya tapi karena sudah sangat terlambat Shania memilih melewatkannya.


Mereka kemudian melanjutkan kerja sesuai tugas masing-masing. Hingga siang menjelang.


Shania keluar menuju kantin untuk memesan makanan, namun di ujung koridor ruangan ia melihat Jere datang bersama seorang gadis, cantik sekali, Mereka berjalan beriringan. Bukan hanya Jere tapi ada tante Eve dan Om Jimmy. Shania segera melajukan langkahnya dan berbelok memilih rute lain menuju kantin.


Ia memesan lemon tea hangat dan sepiring nasi goreng kemudian bergabung bersama teman-temannya yang lain. Sejurus kemudian, terdengar pengumuman untuk berkumpul karena ada pembaruan struktural kantor.


Sesuai pengumuman, Shania turut serta berada di ruangan workshop yang luasnya bisa menampung 1000 orang. Tentu saja ia duduk dikursi bagian belakang, Ia tak mau menjadi sorotan karena mengenali pemilik perusaahn ini, Apalagi dengan Jere.


Acara dimulai. Ada beberapa sambutan dari pihak yang bersangkutan namun acara sebenarnya adalah memperkenalkan kepala perusahaan baru, menggantikan pak Dave atasan Shania.


"Irene Adiguna"


Suara tepuk tangan begitu riuh, Irene maju ke podium memperkenalkan diri dan menyampaikan visi mis kerjanya. Sementara Shania sedang memutar otak mengingat nama yang tak asing baginya. Irene?


Mungkin karena sudah lama waktu berlalu, Shania tetap tak bisa mengingat siapa Irene. Ia kemudian berjalan gontai menuju ruang kerjanya, Tadi ketika melihat Irene tidak tahu kenapa pikirannya tertuju pada Stella. Dan jika teringat Stella ujung-ujungnya adalah Tom, Ah harusnya Shania tidak memikirkan hal tak berguna seperti itu.


"Kau datang juga"? Jere menghadang jalan Shania tidak tahu darimana datangnya, Namun, Shania tak mempedulikannya. Ia melewati Jere dengan tatapan kosong


"Shan, Kau masih sakitkah?" Jere mengecek jidat Shania, lagi-lagi Shania menepisnya.


"Aku baik-baik saja, kau lihat?"


"Bagus. Berarti nanti malam temani aku makan. Ada acara pertemuan yang mengharuskan aku datang"


"Kenapa harus aku?"


"Siapa lagi?"


"Dasar Jomblo"


"Kau Jomblo"


Tanpa sadar Jere dan Shania tertawa menertawakan diri mereka masing-masing, pria muda itu dan Shania berjalan beriringan seraya berbincang hingga tiba di depan ruangannya.


"Apa kau ingat Irene?" Jere bertanya menyandarkan diri ke tembok. Mengamati wajah Shania yang berusaha mengingat.


"Dia teman kita waktu sekolah dasar. Kau lupa?" Tanya Jere lagi.


Sedikit banyak Shania ingat, Seorang anak yang dulu selalu memamerkan foto Ayah Jere.


"Jadi, dia saudaramu?"


"Aku bukan pengingat yang baik"


"Pikun"


"Dia tumbuh dengan baik" Ucap Shania memuji Irene. Lulusan luar negeri, badan ideal bak model, mulus, cantik pintar lagi dan sekarang gadis itu akan menjadi atasannya. Shania merasa sedikit minder.


"Kau juga tumbuh dengan baik. Lihat lah kau tak menangis lagi karena ditinggal Tom" Jere berucap los begitu saja, Ingin rasanya Shania mencocol mulut lambe itu dengan cabe setan.


"Tak lucu masalah privasi kau jadikan bercandaan" Shania cemberut, Ia tersinggung. Kakinya melangkah masuk namun tangannya di cekal Jere, menariknya kuat hingga terhuyung pada Jere.


"Maaf" Lirihnya pelan


"Ha?"


"Kau minta maaf?"


Jere menggaruk tengkuknya, terus terang ia salah sudah menyindir dan membahas masalah pribadi Shania, "Iya. Tak bermaksud menyakitimu"


"Pergilah!"


"Aku akan menunggumu hingga jam kantormu selesai. Ku tunggu kau dikantin kantor"


Shania menghela nafas. Lalu masuk tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Jere, anak itu kadang bersikap manis, kadang menyebalkan hih.


Lama Shania berkutat dengan pekerjaannya, ponselnya terus berdering menandakan pesan masuk.


"Shannn--"


"Ku tunggu--"


"Maaf ya--"


"Aku takkan membahasnya lagi"


Shania hanya melewatkan pesan-pesan itu, menurutnya pesan bagaikan pesan operator yang tak perlu ditanggapi. Lagi pula,itu anak kesambet apa? kenapa berubah bersikap manis?


Minta maaf? Ah ini seperti bukan Jere. Kenapa Jere murah banget minta maaf? Shania mengernyit heran menyadari sikap aneh Jere.


Pesan dari Tom masuk ke ponselnya. Lelaki itu akan pulang ke Indonesia. Dan meminta bertemu, Seperti yang Shania rasakan, Tom masih lelaki baik. Ia ingin bertemu Shania dan memastikan wanita yang ia anggap adik itu baik-baik saja tanpanya. Tadinya Tom menghubungi Jere, tapi Jere seolah tak bersahabat padanya.


"Shan, aku tunggu" pesan dari Jere terus saja berdatangan, spam pesan. spam chat. Benar-benar Jere kurang kerjaan kali ini.


"Shannn...!!"


"Shanniaaaaaa...!"


"Shannia"


...----...