
Shania mengambil minuman jeruk dingin yang sengaja ia stock di kulkasnya, hari ini kantornya libur, karena bertepatan tanggal merah hari libur nasional. kaki mulusnya di lapisi sendal bulu rumahan melangkah ke sisi jendela kaca yang menghadap jalanan raya tempat kendaraan berlalu lalang.
Ia menyesap minuman yang menurutnya sangat menyegarkan itu, memejamkan matanya berkali-kali meredam rasa kecewa yang merambat di hatinya. Sebelumnya ia membayangkan hari ini adalah hari yang indah, ia berlarian dipantai dibawah terpaan angin dan langit jingga sore, berenang, tertawa dan tentunya bisa memandangi Tom setiap saat... tapi dengan gampangnya Tom membatalkan rencana libur hari ini, menyarankan hari lain yang belum tentu Shania bisa.
Kecewa.. Shania Kecewa. tapi ia tak bisa mengungkapkannya pada Tom, ia takut Tom menilai dirinya terlalu memaksakan kehendak, Toh juga Tom udah minta maaf dan mengusulkan untuk pergi di lain hari, jadi tidak ada yang salah.
Ia menyesap minuman jeruk itu lagi, hari ini rencananya ia akan menyelesaikan design pakaian yang akan di tampilkan di acara fashion show minggu depan di sebuah festival yang cukup bergengsi, ia harus menyibukkan diri untuk menepis perasaan kecewanya,
"Aku lapar" gumamnya, ia kemudian berjalan menuju kulkas, menunduk mencari bahan makanan apa yang bisa di olah untuk mengisi perutnya siang ini. Sosis? hanya sosis.. ahh iya dia belum sempat belanja, harusnya kemarin jadwalnya belanja keperluan mingguannya.
Shania menyambar jaketnya, ia akan ke supermarket terdekat untuk belanja, mungkin disana ia bisa makan sekalian karena ia merasa sudah sangat lapar.
Sayur segar
Daging merah segar
Minuman
Snack
Bakso
Roti
Selai
Bahkan kebutuhan lain seperti sabun dan alat kebersihan rumah.
Semua keperluannya sudah bercampur satu dalam troly yang ia dorong, ia memasuki lorong kosmetik untuk membeli pelembab bibir merk yang biasa ia gunakan, Ia bukan wanita pencinta produk branded dengan harga selangit di gerai resmi mall, ia hanya membeli keperluan seadanya, jika sesuai dengan kulitnya, ia bisa membelinya dimana saja. tentunya dengan harga yang terjangkau, yang penting aman dan terpercaya.
Ia mengambil satu pelembab bibir yang tergeletak di antara kawanannya, lalu memasukkan ke dalam troly.
"Sendiri?"
Suara seorang pria mengejutkan Shania dari arah belakang, ia menoleh dan terkesiap. "Jeremy..?" ucapnya memutar bola mata memalingkan wajah kesal, Ia sangat terkejut walaupun ia tidak latah dan berteriak.
"Kau lihat aku sama siapa lagi?" jawab Shania ketus seraya mendorong troly belanjaanya, mengacuhkan kehadiran Jeremy.
Ia tidak heran jika Jeremy tiba-tiba berada disini, lelaki itu memang sering menemani mamanya belanja kesini, hingga ini bukanlah pertemuan pertama mereka di tempat ini.
"Kekasihmu maybe" Jeremy mengekori Shania, melintasi lorong-lorong supermarket yang ntah apalagi yang akan di carinya.
Shania hanya diam, Jeremy bukan lah orang yang tepat untuk mendengar cerita kekecewaannya pada Tom hari ini. Pria tinggi dibelakangnya ini hanya akan meledek dan mengejeknya jika ia bercerita betapa mengenaskan nasib Shania di acuhkan Tom. ishh menyebalkan..
"Hmmm, aku datang sendirian kemari. mama menyuruhku membeli daging segar, tak sengaja melihatmu jadi aku kesini" Jeremy menjelaskan mengapa ia bisa berada disana, Sementara Shania hanya diam, ia tidak mau tahu.
Croottttt....
Suara cacing berdemo nyaring dalam perut Shania, Tapi ia tak mengindahkan, Bodoh amat. Setelah ini ia akan makan, dan dijamin takkan ada bunyi yang menjengkelkan itu lagi.
"Ayo...!!!" Jeremy mengambil alih troly dengan menepis tangan Shania, Shania menolak tapi sekali lagi bukan Jeremy namanya jika ia tak bisa mendominasi, adu mulut dengan Jeremy percuma, apalagi adu badan yang jelas-jelas Shania hanya selehernya.
Shania hanya mengikut pasrah, ia berjalan mengikuti Jeremy. tingkah Jeremy bukanlah masalah utama, pikirannya terus melayang pada Tom. Shania penasaran urusan mendesak apa hingga kekasihnya membatalkan janji libur secara sepihak, padahal ini hari libur. sebegitu sibukkah?
"Tambahin 2 Daging segarnya mbak" Ucap Jeremy pada pelayan yang bertugas seraya melempar senyuman sangat manis tapi Shania tak tertarik, Shania mendengus, tumben sekali Jeremy bersikap ramah seperti itu, sok ganteng batin Shania mencibir,
"Gantinya, Kau harus traktir aku" bisik Jeremy tersenyum lagi, orang lain mungkin akan terpukau melihat bagaimana Jeremy bersikap pada Shania, tapi wanita itu sama sekali tidak tertarik.
Setelah semua barang di masukkan ke bagasi belakang mobil, Shania dan Jeremy melaju ke sebuah restoran untuk makan.
"Kapan kau terakhir makan?" tanya Jeremy di sela-sela mengemudikan mobil, pandangannya masih lurus ke depan tetapi pertanyaannya terkesan menyindir karena penghuni perut Shania kembali terdengar berkonser ria.
Shania tak menjawab, ia mengambil air putih yang tersimpan di penyimpan botol di samping kursi penumpang, ntah siapa yang punya, bodo amat, ia haus...
Glek Glek Glek
Ia menghabiskan air minum itu, Jeremy hanya tersenyum sumbang menggelengkan kepala melihat Shania, sekali lagi mereka sudah terbiasa seperti ini.
"Kau sepertinya puasa makan, puasa bicara juga" Ucap Jeremy lagi karena Shania hanya diam sedari tadi, kali ini ia sedang memarkirkan mobil disebuah restoran di tepi laut, Shania sendiri belum pernah kemari.
"Kau pesan saja sesukamu" ucap Shania menyodorkan kartu kreditnya mengisyaratkan ia tetap ingin di mobil, sesuai perkataan Jeremy tadi ia harus mengganti nota belanjaan dengan cara mentraktirnya.
"Turun..!" Ucap Jeremy berubah dingin, ia mengambil kartu itu dan menyimpan ke saku celananya,
Dengan sigap ia membuka seatbelt Shania, agar wanita itu segera turun mengikuti perintahnya. lagi-lagi Shania tak bisa menolak, ini lah yang ia tidak suka, Jeremy terkesan kasar dan suka memerintah, meskipun terkadang ia bisa bersikap lembut seperti Tom.
Shania tak bersuara, ia melahap makanan di hadapannya dengan cepat, tak banyak yang ia pikirkan kali ini. Mengisi perutnya adalah panggilan alam yang harus di penuhi ditambah lagi menu makanan dan rasanya mengunggah selera memanjakan lidah, ia tak bisa banyak berkata lagi.
Tadi memang ia sangat malas makan di tempat seperti ini, ia mengira Jeremy akan mengerjainya dengan cara membawanya ke tempat makan romantis, karena terus terang ia dan Tom tak pernah bersikap romantis seperti orang berpacaran pada umumnya dan Jeremy tahu itu.
"Kau udah berapa hari tidak makan?" tanya Jeremy lagi memperhatikan Shania, meskipun tak sebrutal orang kelaparan pada umumnya, tapi Jeremy bisa menangkap bahwa Shania sangat lapar.
"Apa kau sakit?" tanya Jeremy lagi mengalihkan topik, ia baru menyadari Shania menggunakan jaket dengan baju rajut turtle neck menutupi lehernya, aneh untuk cuaca siang hari panas begini, bahkan ia sendiri merasa gerah meski hanya menggunakan kaos oblong.
"Tidak, aku belum sempat melaundry baju-bajuku, jadi aku memakai ini yang bersih" jawab Shania tenang.
"Setelah ini antar aku pulang, aku capek pengen istirahat" pinta Shania kemudian, Jeremy mengangguk, ia pun akan ada kegiatan bersama Yura sore nanti.
"Ya sudah, teruskan!" Jeremy menyuruh Shania menghabiskan makanannya,
"Sayaannngggggg..."
Tiba-tiba seorang wanita tinggi semampai berpakaian modis mendekati Jeremy, merangkul bahunya dan hmmm.. mencium pipinya, ish Shania malas sekali melihatnya, sontak ia membuang pandangan ke segala arah, kemana saja asal tidak kepada Jeremy dan wanitanya itu.
Kedua temannya yang lain datang mengikutinya, penampilan mereka tak kalah modis, sangat jauh berbeda dari penampilan Shania yang terlihat berantakan.
"Jer, Sorry saat kau memberi tahu kalau kau disini bersama Shania aku sedang melintas disini, jadi ku ajak kedua temanku ini mampir untuk berkenalan denganmu sekalian" ucapnya memberi keterangan, lalu beralih pada Shania "Shania, kami gabung ya" ucapnya tersenyum lalu mereka duduk. Shania mengangguk, mood makannya hilang, malas sekali berada di sekitar mereka.
"Jer, kenalin ini Clara dan ini Agata, mereka teman yang akan membantumu mendesain baju yang akan kau kenakan di ajang nanti" Yura memperkenalkan kedua temannya pada Jeremy, Ia juga mempekenalkan Shania pada kedua temannya itu.
Jeremy mengangguk, ia tak bicara banyak. hingga setelah pembicaraan selesai, mereka pergi duluan.
"Jer, kalian udah selesaikan? ayo kita ke tempat janji sore ini" Ajak Yura menarik tangan Jeremy, ia berkedip. Jeremy mengerti ini sandiwara Yura agar kedua temannya yakin bahwa mereka memang benar-benar sepasang kekasih.
Jeremy mengikut, tapi sebelumnya ia sempat berbisik pada Yura dan meninggalkan kartu Shania beserta kunci mobil tepat di samping piring makannya, Shania paham, Jeremy menyuruh membawa mobilnya karena belanjaan ada di bagasi mobil.
Shania menghela nafas berat, ia jengkel sekali melihat pemandangan barusan, ia menyambar kunci itu dan berlalu pergi meninggalkan restoran...
...***...