I Think, I Love You

I Think, I Love You
Just a friend



"Nikahi dia"


Jere membulatkan matanya, tak lama kemudian dia tertawa kecil karena merasa lucu dengan ucapan yang baru saja dia dengar, sementara Irene berkerut heran saat tanggapan Jere diluar dugaannya.


"Papa tidak sedang bercanda!" ucap Jimmy kemudian, membuat tawa Jere terhenti seketika. Mata hitamnya memandang lekat pada Eve dan Jimmy secara bergantian dengan ekspresi kebingungan namun saat yang bersamaan mencari keseriusan disana.


"Kenapa?" tanya Eve menangkap keraguan anaknya "Mama yakin Shania mau menikah denganmu!" lanjut Eve kemudian.


"Ah, tidak. Aku bukan pacarnya!"


"Pacar atau bukan yang penting kalian sama-sama mau!" Jimmy meneguk kopinya, lalu pandangannya beralih pada Eve "Kami menyukai Shania" lanjutnya.


"Justru itu pa, kami sama-sama tidak mau!" tegas Jere.


"Jangan berbohong, papa tau kau menyukai Shania sejak dulu"


"Ah tidak, dia bukan tipeku!" Jere meneguk air putih yang tersedia disana, ia haus, tiba-tiba haus rasanya.


Jimmy dan Eve hanya tertawa mendengar jawaban Jere, semua orang tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi ntah apa alasannya Jere menyangkal itu semua.


"Kamu terlihat tegang Jer?" Tanya Jimmy kemudian setelah melihat raut wajah Jere memerah dan tampak gugup.


"Kau babak belur begini, Shania kan alasannya?" tanya Eve lagi seakan tak memberi ruang Jere bernafas untuk menyiapkan jawaban yang sekiranya tak salah jika di ucapkan. Jere merasa kedua orangtuanya sengaja mengajukan pertanyaan menjebak supaya Jere mengakui sesuatu yang mereka harapkan.


Jere menghela nafas seketika, ia tak heran lagi jika Eve tahu semua ini, pasti lah wanita berparas cantik seakan tak menua itu menanyakan semua hal yang terjadi pada managernya, jika tidak, tak mungkin Eve setenang ini ketika melihat Jere berjalan terseok-seok dengan muka yang diplester dan memar.


"Ma, aku hanya tak terima Shania di nilai seperti itu oleh orang-orang" Ucapnya "Sebagai temannya, tak mungkin aku diam mendengar semua itu" lanjutnya kemudian.


"Iya, papa mengerti. Lupakan soal tadi" Giliran Jimmy yang menjawab, menyudahi percakapan yang sepertinya membuat Jere tak nyaman "Kau sudah makan?" Tanyanya kemudian mengganti topik pembicaraan.


"Sudah, aku ke kamar ya pa, ma!" Jere bangkit dan meninggalkan mereka menuju kamarnya. Eve dan Jimmy hanya tersenyum menyadari anak mereka sudah tumbuh dewasa. Sementara Irene hanya diam menyimak semua percakapan yang berlangsung dihadapannya.


...***...


Shania meringkuk di sofa dengan wajah sembraut tak beraturan. Patah hati lebih tepatnya menyiksa batin hingga merembet ke fisiknya, dunia terasa kelam, semua tampak abu-abu tak ada yang menarik. Bahkan tayangan kartun kesukaannya tak berhasil membuatnya tertawa, Ia hanya membiarkan TV menyala mengisi ruangan yang hanya ada dirinya. Hingga suara mahkluk penghuni perutnya menganggu lamunannya, baru lah ia tergerak untuk menyentuh makanan yang tadi di bawa Jere.


Sementara di belahan bumi lain, tampak seorang pria sedang duduk disebuah sofa ruang fitting baju pengantin dengan bahagianya, Ia duduk dengan setia seraya memperhatikan seorang wanita yang beberapa kali bolak balik saat mencoba gaun yang dipesannya.


"Hm, kurasa kurang cocok dibagian lehernya" ucapnya ketika sang wanita mencoba dress model duyung dengan bagian leher terbuka lebar. Wanita itu adalah Stella dan lelaki itu adalah Tom, Setelah pun berlalu dan mengganti dengan dress yang lain.


"Bagaimana dengan ini?"


"Hmm, terlalu terbuka" tolak Tom


Begitulah seterusnya, setiap gaun yang dikenakan Stella ada saja yang kurang dimata Tom.


"Bagaimana ini, jika seperti ini aku yang lelah!" Stella protes, kakinya sudah pegal dan sudah lelah bongkar pasang gaun yang tak mudah seperti memakai pakaian pada umumnya.


"Sebaiknya kita ukur ulang dan tentukan model yang ingin kita mau" Tom menjeda ucapannya saat mendapati ponselnya berdering. Ia mengocek saku jasnya dan mengambil benda pipih itu. Sebuah panggilan tak terjawab dan beberapa pesan terpampang dilayar ponselnya.


"Harusnya tak usah kau beritahu Shania mengenai rencanamu"


"Kau tak perlu menemuinya kemari. Aku akan menemaninya datang ke acaramu"


Tom menutup ponselnya saat Stella memanggil namanya beberapa kali, "Dari siapa?" tanya wanita itu penasaran.


"Jeremy"


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa, dia mengatakan akan datang di acara kita" jelasnya menyimpan ponselnya kembali "Bagaimana rencana kita tadi?" tanyanya kembali ke topik utama


"Hm, Aku setuju dengan usulanmu. Kemarin kita hanya memesan melalui gambar jadinya tidak sesuai ekspetasi"


Tom tersenyum, ia menarik tangan Stella dan mempersilahkan wanita itu duduk lalu memasang sepatu tinggi Stella yang sengaja dilepas agar Stella lebih leluasa mencoba gaun-gaun itu. Wanita itu tersenyum bahagia, mendapat banyak cinta dari seorang berhati lembut dan penyayang seperti Tom sungguh anugerah terindah dihidupnya, apalagi lelaki ini begitu yakin memberi kepastian ikatan huhungan yang sesungguhnya dengan Stella. Ia sangat mengagumi prianya. Meskipun dihati kecilnya ia masih menyimpan rasa bersalah pada Shania.


"Sudah!" Tom berdiri dan mengambil tas Stella "Ayo kita pulang, kau sudah sangat lelahkan?" Dan wanita itu hanya mengangguk seraya menggaet bahu Tom dan bergelayut disana hingga mereka tiba di mobil.


Di kamar Jere termenung menimang-nimang ponselnya, membaca ulang pesan yang baru saja di kirim Shania.


"Jangan datang ke apartemenku beberapa hari ini, aku bisa mengurus diriku sendiri"


Tapi bukan itu yang membuatnya gelisah melainkan sebuah pemberitahuan dari media bahwa Yura tengah mengandung anak seorang pemilik perusahaan yang berinisial J, berita itu merebak bahkan muncul beberapa kali di notifikasi ponselnya. Meskipun Jere yakin ia tak terlibat sama sekali, tapi inisial J itu cukup menganggu pikirannya.


"Bagaimana bisa media bisa mencium berita sampah ini?" kesalnya menggerutu sendiri "Apa ini permainan Yura lagi?" Jere menebak karena teringat kejadian lalu yang menyeret namanya juga.


Tak mau ambil pusing, Jere kembali membaca ulang pesan Shania dan kali ini tidak hanya membaca tapi membalasnya.


"Oke, besok aku akan datang kesana! Aku yang tak bisa mengurus diriku!"


Pesan terkirim.


Tak berapa lama kemudian ponselnya berdenting lagi. Cepat-cepat ia meraihnya dan membuka balasan Shania


"Kenapa bisa aku mengenal makhluk menyebalkan sepertimu?"


Jere hanya tersenyum membaca pesan itu.


...***...


Hallo semua, Aku up nya lama tapi cerita ini akan terus berlanjut kok. Terimakasih buat yang udah support tulisanku yang tak seberapa ini. semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu menyertai hari kalian.