I Think, I Love You

I Think, I Love You
Obat Sialan



Jeremy mencoba menahan tangan Shania agar tak membuka semua pakaiannya,


"Ahh panas" ringisnya seraya mengibaskan tangannya menjadi kipas alami dalam genggaman Jere.


Jeremy mengernyit menyadari sesuatu, lalu ia bangkit berdiri dan berlari ke tempat sampah dipojok ruangan, mengubrak abrik sampah-sampah didalam sana, tak perlu waktu lama ia menemukan bungkus obat yang tadi ia beri..


"Aishhh gawat" ucapnya panik lalu berlari kepada Shania, merapikan sedikit bajunya lalu menggendong Shania menuju kamar mandi.


Bersamaan dengan itu Shania terus berteriak merasa panas, bahkan kewarasannya sudah hilang, ketika Jere menggendong menjelang ke kamar mandi leher dan wajahnya sudah di hujani ciuman dan sedotan oleh Shania, membuatnya kesulitan berjalan..


"Shan.. sorry"


Jeremy menyemprotkan shower ke seluruh tubuh Shania, hanya ini cara cepat yang terpikirkan olehnya untuk meredakan efek obat yang tak sengaja diberikannya. Sementara Shania meringkuk merasa tubuhnya basah, tapi pandangannya masih terlihat buas dan menginginkan sesuatu.


"Aishhh... Shan.. Andai saja kau istriku" sesal Jeremy ikut merasa tak sanggup melihat Shania yang seakan menggodanya dibawah guyuran air dengan baju terbuka, membuat bahunya terekspos bahkan bra hitam melekat pada dadanya menampakkan belahan gunung menggemaskan itu.


Di tengah paniknya Jeremy melihat sekeliling, Ia mencari sesuatu untuk menutup tubuh Shania, tapi tak ada apa-apa disini, Mau tak mau ia harus membuka bajunya yang hanya selapis, demi apa.. demi Shania agar tak kedinginan...


"Jeremy?" Teriak seseorang tiba-tiba, bagai tersambar petir Jeremy terkejut dan tubuhnya terpental ke pintu. Bajunya baru saja terlepas, ia bertelanjang dada sekarang.


Matanya membulat sempurna melihat Dave serta Jimmy ayahnya memasuki ruangan dan menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasi, susah payah Jere menelan ludah, lalu menoleh pada Shania yang tergelatak sudah tak sadarkan diri.


Ah sial, kenapa dia harus pingsan saat genting seperti ini.


"Pa, ini tak seperti yang papa lihat" Ujar Jere membela diri berusaha menepis semua apa yang ayahnya lihat.


"Tadi dia kepanasan dan aku tidak tahu apa--"


"Diam..!!" Ucap sang papa tegas, Jere tak berani berucap lagi, Jimmy kemudian mengambil baju kaos Jere yang masih dipegangnya dan membalutkan pada Shania, lalu mengangkatnya ke sofa.


Jere mengikutinya seraya menunduk, malu. ia tak pakai baju sekarang hmmm..


Seketika menyadari kehadiran Dave, matanya berubah tajam.


"Kenapa kau menyimpan obat semacam itu?" tanya Jere tiba-tiba dengan nada marah,


"Obat apa?" tanyanya bingung,


"Obat, obat yang dilacimu" Jere takut-takut menyebutkan.


"Jadi, kau memberikan pada Shania?" tanya Dave membelalak, bahkan membuat Jimmy ikut menatap Jere tajam. Ahhh Jere bisa menebak isi pikiran kotor mereka.


"Paa, please, aku hanya ingin menolong Shan--"


"Lebih baik kau telpon dokter kemari" Jimmy memotong ucapan Jere..


Sedikit kesal dan terpaksa Jere menurut ia meraih ponsel Dave dan mendial dokter kenalan mereka agar datang ke lokasi.


Jimmy pun menelpon Eve agar segera tiba dan meminta membawa beberapa pakaian untuk Shania, Setelah telepon terputus Jimmy memandang lekat Jere,


"Kenapa papa memandangku seperti itu?" tanya Jere risih, sontak saja ia menutupi kedua nipplenya dengan cara menyilangkan tangan. Sementara Dave berusaha menahan senyum melihat anak tampan atasannya ini masih terlihat polos meski tubuhnya kekar dan berotot.


"Kau tahu kan? merusak seorang wanita seperti ini bukanlah hal yang terpuji?" tanya Jimmy pelan, tapi sangat tegas


"Apa yang kau lakukan ini sudah---"


"Pa, Aku bisa jelaskan. Shaniaa minum obat Dave" ucapnya seraya menoleh pada Dave, "Dave menyimpan obat sialan itu" tambahnya lagi merasa geram melihat Dave malah tersenyum padanya.


Jimmy mengernyit 'Obat?', okay... Jimmy paham sekarang obat apa yang dimaksud.


"Bagaimana bisa Shania disini? kau yang membawanya kan?"


"I..i... iyaa sih." jawabnya gagap,


"Lalu kau memberikan obat?"


"Pa, Shania sakit, dia panas. jadi aku mencari obat Dave, tapi ternyata obat itu, aku tidak tahu sebelumnya" Suara Jere sedikit meninggi, ia merasa semua pertanyaan ayahnya menilai negatif perbuatannya.


"Dave, apa betul kau menyimpan obat semacam itu?" tanya Jimmy pada Dave untuk memastikan.


"Cihhh... tuh pa dengarkan?" Ujar Jere cepat. merasa keterangan Dave membuatnya sedikit aman dari kecurigaan ayahnya.


"Makanya punya obat gituan disimpan yang benar, ketahuan kan gak perkasa" sindir Jere dengan mulut lambenya.


"Lalu, mengapa Shania kau bawa ke ruangan ini?" tanya Jimmy lagi pada Jere,


"Yaa, karena dia sakit"


"Ahh sudah lah pa, aku hanya ingin menolongnya, berhenti curiga padaku, papa bisa tanyakan nanti pada Shania"


CLEK


Tiga pasang mata serentak menoleh ke arah pintu,


Tenyata Eve tiba menenteng sebuah paperbag, wajahnya terlihat panik, "Apa yang terjadi pada Shania?"


"Sakit" Jere menjawab singkat, ia tak mau memberi tahu perihal obat itu, bisa diinterogasi Eve sampai akar-akar nanti.


"Kenapa basah begini?"


"Tadi ke toilet, dia terjatuh" Jawab Jere asal sebelum Jimmy menjawab, Jimmy dan Dave hanya menggelengkan kepala.


"Mengapa bajunya robek?" tanya Eve lagi ketika mendekat.


Tok tok tok...


"Pasti itu dokter" Ucap Jere cepat-cepat bangkit berdiri untuk membuka pintu, agar terhindar dari pertanyaan ibunya.


"Hmm, Baiklah semua orang. Aku harus mengganti baju Shania jadi lebih baik kalian keluar dulu" Perintah Eve pada suami dan anaknya serta Dave"


Jimmy mengangkat bahu, lalu berjalan lebih dulu keluar ruangan diikuti Dave.


"Mengapa kau belum keluar?" tanya Eve ketika menyadari Jere masih berdiri di depan pintu.


"Aku malu ma shirtless begini, mama ganti saja. aku takkan menoleh" ucapnya tak ada pilihan lain. Jere bisa membayangkan jika karyawan kantor ini melihatnya tanpa baju berdiri tak jelas di depan pintu ruangan ini, membuat malu saja, hiiii..


"Shann.. bangun sayang" Ucap Eve menggerakkan bahu Shania, hanya terdengar ringisan kecil dari bibir tipisnya.


"Tante gantiin baju kamu ya, supaya di periksa" Ucapnya lagi minta izin,


"Jer, diam disitu dan jangan menoleh" Tegas Eve pada anaknya. lalu satu persatu ia mengganti baju Shania dengan baju yang ia bawa.


5 menit berlalu akhirnya selesai, sekarang dokter akan memeriksa keadaan Shania. Jere berdiri was was di samping dokter takut saja membahas obat-obat yang tak sengaja ia beri.


"Bu, Nona ini sedang sakit, kurang vitamin dan tak cukup waktu istirahat, selebihnya dia baik-baik saja" Ucap sang dokter memberi keterangan setelah melakukan pemeriksaan


Jere bernafas lega dan mengelus dadanya, merasa aman.


"Tapi, jika ia terbangun hasrat wanitanya masih tinggi, sebaiknya segera beri apa yang dia mau, dosis obatnya tinggi. Jadi saya sarankan agar bermain di rumah lebih aman"


"WHATTT?????" Mata Eve membulat sempurna mendengar ucapan dokter, kemudian beralih pada Jere, sekarang ia tahu mengapa baju Shania robek dan anaknya tidak memakai baju.


Jimmy dan Dave membuang pandangan ke sembarang arah, wajah mereka memerah mendengar ucapan dokter. sementara Jere merasa terintimidasi dan terpojokkan, sungguh ia tak ada niat untuk mencabuli Shania seperti yang dipikirkan Eve.


"Bukankah kamu suaminya?" Tanya dokter pada Jere, membuatnya kalang kabut


"Bu..bu.. bukan"


"Dok, dia belum menikah. Apa ada cara lain?" tanya Eve mulai panik, tapi pandangannya tak terlepas dari Jere.


"Hmm.. Suntik penenang aja dok" celetuk Jere setelah memutar otak agar Shania bisa teratasi.


"Sangat beresiko, sebaiknya bawa dia pulang dan beristirahat di rumah" Ucap dokter kemudian meresepkan obat dan vitamin, setelah di rasa cukup dokter tersebut pamit.


"Jer... Ayo lah, pleasee..!!" ringis Shania menggeliat menggoda dengan mata masih terpejam.


...***...