
"Thank you for today" Jere menurunkan Shania di lobi apartemen nya. Setelah melihat Yura bersama seorang pria di depan kediamannya tadi, Jeremy sigap mengambil alih kemudi dan langsung mengantar Shania pulang.
Shania yang tak tahu apa-apa hanya mencap Jere aneh. Ia menurut, bukan kah lebih baik ia pulang daripada terus bersama Jere?
Tak banyak berkata. Jere meninggalkan Shania, menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, bahkan rambut terurai Shania terlihat melayang akibat angin dari mobil Jere.
"Anak itu" Shania geleng-geleng kepala.
Sesaat melewati layanan informasi, Shania diberitahukan oleh Security ada paket untuknya, tidak tahu dari siapa namun Shania menerimanya.
Ia berusaha menebak paket dari siapa, tak biasanya. tak mungkin dari Jere? tak mungkin juga kantor. apa dari Tom?
Mengingat nama Tom, Shania antusias menerimanya, ntah lah meskipun ia benci, tapi cintanya masih teramat dalam. dia masih sering memandang foto Tom sangat lama, tersenyum seketika atau tiba-tiba menangis. dasar Shania..
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju rumahan. Shania kembali menatap paket yang ia terima. baiklah ia akan membukanya sekarang.
Dan..
Sebuah boneka kucing lucu berbulu tebal, warnanya putih seputih salju. dan apalagi? ada remote controlnya? serta secarik kartu ucapan, Shania tertegun. bukan Tom pengirimnya, Tapi Stella.
"Aku ingin minta maaf atas kekacauan yang terjadi. Aku tahu kau tulus pada Tom, aku memberimu kesempatan jika ingin kembali pada Tom, datanglah padanya malam ini, dia akan berangkat ke Singapura menyusulku. Datanglah padanya, cegah dia pergi"
Shania melemparkan kartu kecil berwarna putih itu, apa ini? penghinaan? Ia takkan merendahkan harga dirinya untuk meminta Tom tinggal, padahal laki-laki itu sudah jelas memilih Stella.
"Dia menyindirku dengan gaya" Ucap Shania tersenyum kesal, lalu melempar boneka kucing itu hingga mengenai Jere.
"Hey, Kenapa kau kemari?" tanya Shania terkejut.
"Aku yang bertanya, kenapa kau melemparku?" tanya Jere dengan nada kesal.
"Ah itu. Boneka sialan"
"Kau tahu? Yura ke dokter kandungan" Jere duduk di samping Shania, memberitahukan kabar yang baru saja dia dapat.
"Tuh kan benar apa yang ku dengar waktu itu"
"Aku sudah memutuskannya di depan pacarnya itu, dia tak keberatan. katanya bekerja denganku cukup menguntungkan"
"Gila"
"Padahal kemarin dia meminta membatalkan kontrak" Jere menghempaskan dirinya ke sofa, sepertinya ia sedikit tak terima.
"Kau cemburu?"
"Tidak"
"Lalu mengapa wajahmu sepertinya kesal? dan tak terima? bukankah dari kemarin kau ingin putus dengannya?"
"Iya juga. Ah aku haus. buatkan minum" Celetuknya asal,
"Buat sendiri. tanganmu masih berfungsikan?"
"Aku tamu disini"
"Tak ada yang memintamu datang"
Begitu terus sampai matahari terbit di barat, Shania dan Jere selalu adu mulut. pada Akhirnya, Jere mengalah ia mencari minuman di kulkas Shania, dan menemukan sebotol yogurt disana.
"Kau membeli mainan kucing? dasar bocah?"
"Bukan"
"Apa ini? bukan punyamu?"
"Paket"
"Dari siapa?"
Sesaat kemudian Jere tertawa
"Pergi lah, akan ku antar" ucapnya sambil tertawa, sementara Shania merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Jere, Ia melempar Jere dengan bantal sofa hingga Jere terhuyung ke belakang.
Shania kesal, marah, ia merasa di olok-olok. Wajah manisnya begitu menggemaskan, Jere tersenyum. Shania takkan menyadari betapa lucu wajahnya ketika sedang marah.
Jere diam, ia menatap Shania intens, tapi Shania tak memperdulikannya.Ia menyalakan TV dengan suara keras agar tak mendengar suara Jere lagi, yang mungkin mengejeknya lagi.
30 Menit berselang
Shania menoleh pada Jere, dia tertidur. Mata bulatnya terpejam, bibir tipisnya tampak menawan. dia tampan.
Shania menarik nafas malas, pandangannya beralih pada boneka kucing yang tergeletak di lantai, Apa benar Tom akan meninggalkan Indonesia? kalau iya baguslah, ia takkan bertemu Tom lagi. tapi sejujurnya Shania juga tidak rela, hati kecilnya masih ingin bertemu dan melihat Tom.
Shania kembali menatap Jere. lelaki menyebalkan, dengan segudang tingkah yang berubah-ubah, seperti power rangers.
Orang yang suka mengatur Shania, bahkan Jere lah yang paling tahu kesedihan Shania, bahkan mungkin orang yang paling mengerti dirinya di dunia ini.
...***...
Ponsel Shania berdering, Dave atasannya menelpon. Sesaat kemudian Shania bergegas pergi tanpa membangunkan Jere.
Ia menggunakan taksi agar lebih cepat, rapat dadakan antar divisi membuatnya harus sampai tepat waktu, jika tidak ia bisa di pecat. Begitu lah aturannya.
Matanya menyipit saat melewati gedung tinggi perusahaan YS, perusahaan yang sedang di emban Yura. Disana terpampang spanduk dan banner besar bertuliskan turunkan Yura dari CEO, ganti ketua, Yura Bedebah. Yura Busuk.
Apa yang terjadi? Shania bertanya-tanya sendiri. Pasti telah terjadi hal besar hingga keadaannya panas seperti ini. tapi apa?
Tak mau ambil pusing Shania berusaha fokus terhadap rapat sebentar lagi, ia mengambil catatan kecil di tasnya dan mencatat poin-poin penting agar memudahkannya nanti.
Ponsel berdering, Jere menelponnya.
"Kau dimana?"
"Aku di jalan ke kantor"
Telepon terputus. Shania hanya geleng-geleng kepala terhadap sikap Jere.
Sementara Jere berkerut heran melihat berita di Televisi, Yura, Yura dan Yura. ishhh apa pentingnya? Tapi ia tercengang ketika melihat namanya juga disinggung di sana, Jeremy Davies urutan pertama sebagai komplotan yang bekerja sama dengan Yura membawa kabur uang perusahaan.
Hah?
Ponsel Jere berdering seketika.
Jimmy, ayahnya.
Jere bisa menebak, pasti akan membahas berita di TV.
"Kau dimana?" tanya Jimmy datar, dan Jere menjawab apa adanya, di rumah Shania.
"Jangan beri tanggapan apapun jika kau bertemu wartawan. Biarkan perusahaan YS bicara lebih dulu" Ucap Jimmy penuh wibawa, Jere yang tak mengetahui dunia perbisnisan hanya mengiyakan ucapan ayahnya.
"Pulang lah, jangan libatkan Shania dalam masalahmu" Telepon terputus, Jere menatap benda elektronik itu malas. Hmmm, pasti lah karena dia masih dianggap kekasih Yura. hingga menyeret namanya.
Jere pulang, Ia lemas. Banyak sekali panggilan telepon masuk ke ponselnya. Dan yang paling mengecewakan telepon dari managernya. Beberapa brand pakaian membatalkan kontrak karena skandal Jere tak layak masuk kategori model mereka.
secara tidak langsung berita secuil yang menyeret namanya di TV berimbas pada kariernya, Jeremy geram. Apa hubungannya kepergian Yura dengan dia? siapa yang mengatakan dan membuat rumor bahwa dia terlibat taktik manis Yura? bahkan ia tak menerima uang dalam bentuk apapun dari Yura.
Menjelang malam hari berita memanas, bahkan beberapa media sudah merilis beberapa foto kedekatan Jere dan Yura. Salah satunya foto mereka berciuman di lantai dansa, isss benar-benar menjengkelkan.
Jere menghubungi Yura, tapi sama sekali tak tersambung.
Ia memutar otak bagaimana caranya menemukan Yura, dan ya ia menemukan satu cara.
...***...