
"Berhenti mengirim pesan, atau kau ku block" Shania berdiri berpangku tangan dengan raut wajah marah. Matanya menatap Jere dengan kesal. Sementara yang di tatap hanya tersenyum jahil saat mengetahui siapa yang menegurnya. Jere mengambil nafas, lalu menyandarkan punggung atletisnya ke sandaran sofa. Ya, kantin disini cukup mewah hingga untuk makan pun disediakan tempat duduk empuk. Jere kemudian menyesap ice jeruknya yang hanya tersisa seperempat gelas, lalu kembali menoleh pada Shania yang sudah duduk dihadapannya.
"Kau tak membalas pesanku, jadi ku lakukan sampai kau balas" Ucapnya kemudian meletakkan benda elektronik itu dari genggamannya.
"Kenapa wajahmu berubah cantik ketika sedang kesal?" tanyanya kemudian, ingin rasanya Shania melempar tasnya ke muka yang menurutnya sangat mengesalkan. Sementara Jere menautkan jari jempol dan telunjuk tangan kanan dan kirim, memicingkan mata dan seolah memotret wajah Shania dalam satu frame persegi.
"Aku mau pulang"
"Ku antar"
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
"Kau harus pulang bersamaku" Suara Jere berubah berat, sangat berbeda dengan sikapnya barusan. Shania terdiam sejenak, kala matanya memandang jauh ke dalam mata Jere, Anak itu menunjukkan pesona dominannya, Shania bisa merasakan ada nada tak ingin dibantah dari Suara Jere.
"Aku tahu Tom menghubungimu" Jere bangkit dari duduknya dan membungkuk dihadapan Shania, mendekatkan wajahnya, hingga nafasnya dapat menyapu bulu halus wajah Shania "Jangan bertemu dengannya dulu" lanjutnya, lalu menarik tangan Shania dan meninggalkan area kantin.
"Jer, ini bukan urusanmu!" Shania menggerutu tapi ia tetap melangkah mengikuti arah Jere. Pria itu hanya diam hingga mereka tiba di mobilnya.
"Kau selalu menjadi urusanku" Jawab Jere angkuh dan mendorong Shania agar masuk ke dalam mobil.
"Kau selalu bertindak semau mu" Shania masih menggerutu, ia memasang seatbelt dengan marah, bahkan berkali-kali ia mencolok tapi tak kunjung terpasang.
Tak banyak bicara Jere mendekat, membantu tangan Shania agar seatbelt segera terpasang, sementara Shania mengikut apa yang Jere lakukan terhadap tangannya, ia berusaha bersikap biasa meskipun agak sedikit lain jika berdekatan dengan Jere seperti ini.
"Aku lebih suka kau marah-marah padaku, daripada melihatmu menangisi lelaki sialan itu" Ucap Jere, tangannya sudah dengan lihai memutar-mutar stir sekarang.
"Siapa yang menangis?" Shania berusaha mengelak. Ia membuang muka ke jalanan yang dipenuhi pengendara sepeda motor, suara klakson bersahut-sahutan, jam padat pulang kerja, sehingga macet dimana-mana. Di kejauhan sana, disebuah layar LED besar di pinggir jalan, terlihat sepasang manusia sama-sama merangkul, tertawa bagaikan kebahagiaan hanya milik mereka. Jeremy, lelaki itu sedang mengiklankan produk couple dengan rekan kerjanya, tentu saja wanita itu cantik, seksi, mulus, tinggi semampai.
"Ah wajarlah dia model" desis Shania samar, bahkan jere tak bisa mendengarnya
"Jadi, kapan kau mentraktirku?" Jere menagih janji lagi.
Suara Jere membuat Shania menoleh, memperhatikan wajah Jere yang masih fokus dengan mainannya, Pria ini adalah orang menyebalkan seantero kota tapi orang ini jugalah yang paling pengertian sejagat raya. Pria berambut hitam inilah yang selalu ada saat-saat sulit Shania.
"Aku tampan kan?"
Shania tersadar, ia sedikit kikuk mendapati dirinya menatap Jere dan tanpa sadar memuji pria itu dalam hati. ****!
"Kau dengar pertanyaanku tadi?"
"Iya, besok" Shania berucap singkat, ia tak ingin terlibat pembicaraan panjang dengan Jere, lelaki itu bukanlah pria yang cocok diajak mengobrol, ia akan mematahkan setiap kalimat Shania dengan kata-kata swag dominannya.
"Ok. Kita langsung pulang"
Kini Shania sudah tertidur di kasur empuknya, Jeremy anak itu tak tega membangunkan tubuh lelah Shania, tadi tanpa berucap apapun ia menggendong Shania hingga tiba di unit apartemennya, Shania hanya melantur setengah sadar. Gadis keras kepala ini sepertinya kembali demam, Panas tubuhnya merambat ke tengkuk Jere, hangat. Bukan hangat lagi, panas.
"Kau keras kepala" Jere berucap pelan seraya menempelkan alat kompres di keningnya. Menyelimuti gadis lemah itu dengan selimut tebalnya setelah ia melepas sepatu kerja Shania.
Waktu menunjukkan jam 8 malam kala Jere melirik jam dinding, di luar terlihat hujan dan petir menyala menembus jendela kaca kamar Shania. Jere tak heran, penghujung tahun bukankah memang musim hujan?
Pria bermarga Davies ini bangkit, melangkah menuju tirai yang belum tertutup sempurna. Lalu menarik ujung ke ujung agar cahaya kilat tak menganggunya, Kemudian membuka baju kemejanya menyisakan kaos, ia akan mandi lebih dulu agar dapat tidur dengan nyenyak.
Sekarang Jere mengambil tempat dan turut berbaring disebelah Shania, tak lama kemudian ia pun terpejam. Hanyut bersama mimpi-mimpi indahnya. Bahkan suara petir menggelegar dan kilat menyambar tak bisa mengusik tidur nyenyak dua anak manusia dalam satu selimut itu. Mereka terlalu lelap. Hingga mereka saling memeluk satu sama lain, berbagi kehangatan dalam dekapan ternyaman.
...***...
Irene terbangun, suara ribut di luar rumah cukup mengagetkannya. Tidurnya terganggu karena rentetan guruh menggelegar seperti akan meluluh lantakkan langit. Ia menyibakkan selimut dan berjalan turun dari ranjang, mengambil jedai dan menguncir rambut bergelombang halusnya lalu melangkah keluar menuju dapur. Ia merasa haus dan lapar, terbukti ketika sampai di dapur ia membuka kulkas dan mengambil beberapa potong kue lalu duduk di pantry dan menikmati makanannya.
Besok, ia telah resmi sebagai kepala perusahaan. Menggantikan posisi yang seharusnya ditempati Jere. Pria itu tak berminat, ia memilih tetap berkecimpung di dunia model daripada bisnis. Sementara Jean adik Jere, anak itu akan kuliah ke luar negeri setelah ujian kelulusan tahun ini. Hingga Irene lah pilihan terakhir untuk mengelolanya. Tak apa. Ini bentuk amanah yang harus ia emban.
Jidat mulus itu berkerut, Sejak tadi siang Jere tak menunjukkan batang hidungnya dirumah. Karena penasaran, Irene melangkah ke kamar Jere, mengetuknya tapi tak ada jawaban.
Irene meraih handel pintu bermaksud membukanya saja dan ternyata di kunci. Hm.. Irene mengangguk menyadari sesuatu, Sesuai yang disampaikan Eve bahwa Jere kadang tinggal di apartemen, anak itu selalu menghabiskan waktu kesendirian ketika gundah gulana menghantuinya. Aneh memang, lelaki polos seperti Jere galau. Kira-kira apa yang dia pikirkan?
Irene kembali ke kamarnya, besok ia akan mengantar sarapan pagi pada kakaknya itu sebelum berangkat ke kantor. Ia tersenyum lalu tidur kembali.
Sementara di kediaman Shania.
"Pa....!!"
"Papa..!"
"Sssttt!" Jere terbangun, mengusap kepala Shania untuk menenangkannya.
Shania mengigau, seperti kebiasaannya ia seringkali mengingau seperti ini. Memimpikan orang-orang yang teramat sangat ia sayangi, termasuk nama seseorang yang dibenci Jere.
"Tom..!"
Jere menggoyang bahu Shania agar terbangun, wanita ini selalu terlihat lemah ketika mengingat masa lalunya. Ini lah alasan Jere selalu memilih tinggal ketika Shania sakit, menemani, memeluk hingga memberi tempat ternyaman agar Shania tetap terlindungi.
Sekitar 5 menit Shania melantur, selama itu juga Jere ada untuk menenangkan Shania. Hingga gadis itu kembali tertidur seperti sebelumnya, Hening, sepi hanya dengkuran halus mengisi kamar itu. Jere menghela nafas, lalu meletakkan kepala Shania dilengannya, Ya dia memeluk Shania dengan memberikan bahunya. Sumpah, tak ada lagi tempat ternyaman selain disini.
"Aku ada untukmu" Jere mengeratkan pelukan pada Shania.
Teleponnya berdering, tengah malam siapa yang menelpon? Jere memilih mengacuhkannya saja, tapi bukannya berhenti ponselnya terus saja berdering. Dengan berat hati, Jere melepaskan pelukannya pada Shania dan bangkit berdiri mencari ponselnya di atas meja.
"Hallo"
...***...