
Jeremy tiba di kediaman Davies Family. Waktu menunjukkan pukul 04 sore, yang artinya sebentar lagi Jimmy dan Eve tiba dirumah.
Jere menurunkan koper besar milik Irene, tidak berat. Tak seperti bentuknya yang bahkan mencapai pinggang. Ia kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Irene masuk. Tentu saja, gadis muda itu di sambut Bi Asih dan para maid yang bekerja disana karena sudah lama tak bertemu Irene.
Jere memilih mengantar sendiri koper Irene ke kamarnya lebih dulu. Kamar berukuran sama dengan kamarnya itu sudah disiapkan bagi tamu siapa saja yang datang, tapi kali ini tampaknya Irene akan menjadi pemilik kamar itu karena ia telah resmi pulang ke tanah air, setelah menyelesaikan studinya di Italy.
"Tak ada yang berubah" Irene memasuki kamar dan meletakkan tasnya. Lalu duduk meregangkan otot-ototnya.
Jere mengangguk. Lalu ikut duduk disamping Irene, diatas kasur bersprei putih itu. "Kau tampak sehat meski hidup sendirian disana" Jere menoleh pada Irene, melempar senyum berusaha mencairkan suasana yang sedikit berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tentu saja, karena mereka sudah dewasa sekarang.
"Aku bahkan bisa melakukan semuanya sendiri" Irene berkata dengan girang. "Aku bisa mengangkat galon air" lalu menunjukkan otot lengannya yang tak seberapa besar. Tidak ada. Ia hanya menunjukkan otot mulus yang sengaja ia kencangkan agar keliatan berotot
Haha. Jere tertawa.
"Syukurlah. Kau bertumbuh dengan baik. Papa pasti bangga padamu"
"Yes. Aku juga bangga memiliki kalian"
"Sekarang, mandi lah. istriahat lebih dulu. Papa dan mama akan pulang sebentar lagi" Jere bangkit dan beranjak kluar kamar, melewati garis pintu dan menarik handlenya. Pintu tertutup.
Irene menghela nafas lega. Ia merebahkan diri ke kasur empuk terawat itu. Menatap langit-langit kamar berwarna putih bersih. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Ketika Heny, Omanya meninggal akibat kanker dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Kala itu Irene berusia 15 tahun, sedang duduk di bangku SMA dan sejak itu pula ia mengikut keluarga Jere. Dan menjadi anak angkat dari papa yang selalu ia damba sejak kecil, Jimmy.
Ia bahkan menjadi anak sebatang kara beberapa waktu. Siapa ayah sebenarnya juga belum diketahui hingga sekarang. Bahkan ia tak mau tahu, cukup Jimmy. Ayah Jere itu sudah cukup menjadi sosok ayah baginya.
Bahkan bersedia menyekolahkannya di negeri orang, dimana ia dilahirkan. Untuk mengenang si malang Ibunya.
Dimana lagi Irene temukan keluarga sebaik ini? Ia takkan pernah mengingkari janjinya supaya menjadi anak berbakti pada Jimmy dan Eve.
Ia beralih pada bingkai foto diatas lemari di sudut kamar. Dia juga ada disana, bersanding diantara Jere dan Jean. Ahh dia sangat bangga berada disana.
Tak mau terjebak dimasa lalu, Irene memilih bangkit dan merapikan barang bawaannya. Lalu membersihkan diri sebelum bertemu orangtuanya nanti.
...***...
Shania pulang. Hujan, Ia tak membawa payung karena tadi terburu-buru. Mau tak mau ia menempuh hujan menjelang ke halte bus. Hujannya tak seberapa lebat, tapi cukup membasahi rambutnya dan membuat pakaiannya lembab.
Sialnya lagi, bus menuju apartemennya tak kunjung datang padahal sudah 30 menit ia menunggu. Ia mengigil karena udara terasa dingin dan angin berhembus kencang ditambah bajunya sudah lembab.
Ia memilih memesan taksi online saja. Tapi sudah 10 menit berlalu belum juga ada yang mengambil orderannya.
Lama berselang, ia hanya berpeluk tubuh seraya menggosok-gosokan tangan.
Sudah gelap. Hujan bukannya reda, malah semakin lebat disertai petir dan kilat. Harusnya, tadi ia menerima tawaran Vivian yang mengajak pulang bersama. Huss.
Shania bisa pastikan ia akan sakit, tubuhnya rentan terhadap dingin. Ia mencoba mencari cara lain agar segera keluar dari situasi mencekam ini. Membuka kembali ponselnya dan tak sengaja disana ada berita bahwa jalur bus sedang tertutup karena pohon tumbang.
"Pantas tak ada yang lewat" ucapnya.
Satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah lelaki yang selalu ia anggap menyebalkan.Jere.
Shania mencari kontak Jere, tapi sebelum menemukan namanya. Lelaki itu lebih dulu menelpon.
"Shan, kau dimana?" tanyanya ketika Shania sudah menerimanya panggilan itu.
"Aku di halte bus dekat kantor. Kau bisa kemari?" Shania meminta tanpa basa basi lagi. Tubuhnya sudah terasa berat.
Dan benar Jere tiba setelah 5 menit Shania menunggu, membentangkan payungnya dan memberikan jaketnya pada Shania,
"Aku tak bawa apa-apa di mobil. Gosok terus tanganmu. Supaya suhu tubuhmu naik"
Merasa Shania sedikit kesulitan, Jere membantu menangkupkan tangannya. Menggosoknya, lalu memeluk Shania. Menyalurkan hangat tubuhnya pada Shania. Tak peduli ada beberapa orang yang sedang berada di halte tersebut.
"Percuma terus disini. Lebih baik ku antar kau pulang"
Shania tak berkata apapun, Ia hanya mengikuti Jere yang menuntunnya menuju mobil.
"Sepatumu basah, lepaskan saja"
Mereka meninggalkan halte bus, memilih jalan lain agar terhindar dari kemacetan karena pohon tumbang.
"Ku buatkan teh hangat untukmu. Aku juga sudah order makan malam untukmu. Dan ini obatmu" Jere memberikan secangkir teh hangat pada Shania, "Peganglah" Jere mengambil tangan Shania agar wanita itu menggengam cangkir, agar hangatnya tersalur ke tubuhnya.
Mereka sudah tiba 10 menit lalu di apartemen Shania, gadis itu sudah berganti baju dengan baju hangatnya.
"Mengapa kau tau aku di halte?"
"Aku ingat kau tadi ke kantor. Jadi aku menduga kau terjebak macet atau kehujanan"
"Oh"
Shania ber oh singkat. lalu meminum tehnya perlahan.
"Oh? Kau bodoh. Sudah tahu alergi hujan, masih saja diterjang"
"Lebih baik kau pulang" Shania tak mau bertambah pusing mendengar celotehan Jere.
"Kau tak berterima kasih padaku?"
"Bukan kah kau lebih memilih traktiran makan, daripada terimakasih?" Shania menjawab sinis. Dan Jere menyengir kuda membenarkan ucapan Shania.
"Aku takkan pulang"
"Aku baik-baik saja kok"
"Memang aku takkan pulang. Lihatlah berita terbaru, macet dimana-mana akibat banjir dibeberapa titik. Yang ada mobilku kelelep dibawa air" Ucapnya dengan lantang, Shania mengangguk ia salah menangkap maksud Jere, Dia pikir Jere tak ingin pulang karena mengkhawatirkannya.
Dasar Shania terlalu pede.
Bel berbunyi.
Makanan datang. Jere bergegas menuju pintu dan menerima pesanannya. Setelah beberapa menit, ia membawa makanan berupa bubur dan sup hangat itu pada Shania.
"Makan lah. Setelah itu minum obat"
"Aku pesan pecel lele yang kemarin kamu ajak aku makan" Ucapnya malu-malu.
Shania melongo. Tak disangka Jere menyukai pecel lele.
...***...