
Shania meletakkan sebuah buket bunga besar di atas nisan full marmer granit yang tampak cantik dan terawat, sebuah tempat pemakaman kelas atas ini tampak seperti taman bunga hijau terbuka, sesuai namanya Garden Heaven sangat indah.
Mata Shania tertuju pada foto lelaki di nisan itu, mengenakan kemeja panjang dan memegang stetoskop, dalam foto itu ia tersenyum, senyuman menenangkan yang tak kan pudar dimakan waktu.
Melihatnya Shania ikut tersenyum, senyuman sendu dengan kilatan mata yang meredup.
"Papa, Selamat ulang tahun" ucapnya pelan, tangannya mengusap lembut foto itu.
"Aku rindu..." lirihnya.
Shania beralih pada makam disebelahnya, ada foto ibunya tersenyum dengan gaun selutut membalut tubuh mulusnya, Shania tersenyum mengusapnya dengan tatapan sendu.
"Mengapa kalian tak mengajak ku untuk ikut kalian? Aku kesepian disini"
Sekumpulan kenangan melintas di benaknya, ketika ayah ibunya akan berangkat ke Singapore, papanya menanyakan mau oleh-oleh apa, Shania minta Coklat Merlion, Buah tangan khas negeri singa itu terbuat dari coklat berbentuk bulat dan kotak sebesar kelereng dan ternyata pesanan itu tak pernah sampai pada Shania
Memori lalu mulai terngiang kembali di benaknya, bagaimana Shania begitu banyak mendapat cinta dari keluarganya, ayah dan ibunya, kebahagiaan sederhana namun menyentuh telak dasar hatinya.
Saat itu umurnya menginjak 12 tahun ia harus menerima kabar bahwa kedua orangtuanya mengalami kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi saat akan kembali ke Indonesia. Shania harus mengenal kata kehilangan saat umurnya masih belia. Namun begitu, bersyukur lah Shania tinggal bersama seorang asisten rumah tangga orangtua nya yang sangat setia.
Mirna, ia bertindak sebagai penopang hidup Shania, ketika Shania masih kecil ia merawatnya dengan teramat berhati-hati untuk melindungi Shania yang ia anggap adik kecilnya yang rapuh.
Sudah kewajibannya merawat Shania meskipun sebenarnya ia tak mendapat gaji lagi, tapi dari lubuk hati terdalamnya ia tulus melakukan semuanya, membiayai hidup Shania dan dirinya dari tabungan yang ia kumpulkan selama ini.
Hingga 4 tahun berselang, Mirna menyusul kedua orang tua Shania karena mengidap penyakit mematikan kanker yang menggerogoti tubuhnya selama 2 tahun terakhir. kembali lagi Shania harus merasakan kehilangan, kali ini ia benar-benar sendiri.
Air mata yang sejak tadi menggenang dimatanya jatuh membasahi kedua pipinya, Shania menangis dalam diam, mengingat kembali hidupnya yang banyak berubah semenjak kehilangan orang yang disayanginya.
Shania berubah jadi pribadi yang diam dan kaku, rasa sungkan dan tak ingin merepotkan orang lain terlalu jauh tertanam di benaknya, terutama pada Keluarga Tom yang menjadi topangan baginya selama ini, menampung dan membiayai seluruh kehidupan Shania satu tahun setelah kepergian Mirna. Meskipun keluarga Tom adalah rekan dan sahabat orangtuanya, tapi ia tetap merasa sungkan. hingga diumur genap 17 tahun Shania memutuskan untuk pindah dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, dengan segala macam skenario dilalui, ia akhirnya bisa kembali ke Jakarta kota dimana ia di lahirkan.
Bagi Shania tak ada yang bisa menyayanginya melebihi keluarganya, bahkan kekasihnya Tom sekalipun. Gadis berambut hitam ini menyadari arti itu, bagaimana sikap Tom belakangan ini yang sering mengecewakan.
"Ma, Pa aku pengen ikut kalian" lirihnya dengan suara tertahan di tenggorokan, matanya berembun lagi. Kedua bahu dan tangannya bergetar ingin rasanya ia menangis nyaring, barangkali kedua orangtua nya disurga mendengar dan datang menemuinya yang sudah sangat rapuh ini. Namun kembali lagi, ia hanya bisa menangis tanpa suara menahan segala sesak di dadanya.
Hingga Shania dapat merasakan...
Kehangatan menjalar di tubuhnya, kedua tangan besar mengapit perutnya, Jeremy memeluknya dari belakang menyandarkan kepalanya pada bahu Shania yang bergetar.
Pria itu ada disana sejak tadi, mengamati Shania dalam diam, berjaga disudut taman dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, menurutnya, Shania butuh waktu sendiri. Bukan tidak peduli, hanya saja ia tak mau menjadi orang sok mengerti dengan perasaan Shania, orangtuanya masih lengkap, bahkan ia tidak tahu rasanya kehilangan orang tua, ia takut nantinya akan menyakiti perasaan Shania.
"Aku rindu kalian" lirihnya masih terus berucap dengan suara serak.
Dan Jeremy semakin memeluk erat tubuh Shania. Hingga ia membalikkan badan Shania untuk menghadapnya, dan membawa Shania dalam pelukan di dada bidangnya dengan mengelus rambutnya.
"Menangislah Shan.." ucap Jeremy pelan, Shania menggeleng pelan namun nafasnya tak beraturan karena berusaha menahan tangis.
"Keluarkan saja semuanya, tak perlu di tahan. Aku disini"
Shania terenyuh, sesak yang sedari tadi ditahannya meluap
Maka ia menumpahkannya disana, rasa sakit yang selama ini ia pendam seorang diri, ia tumpahkan begitu saja. Biarlah untuk saat ini seorang Jeremy tahu kerapuhannya sekali pun itu bukan pacarnya Tom.
Jeremy dapat merasakan betapa rapuhnya seorang Shania Anggara, begitu putus asa dan hancur. Wanita yang selama ini menjadi teman terdekatnya, bahkan ia tidak mengetahui hal seperti ini sebelumnya, Shania yang ia kenal sangat manis dan bijak, ia tidak mudah menangis.
Shania terus menangis memekakkan telinga, Jeremy hanya diam mengusap lembut punggung Shania pelan, mendekapnya seolah memberi kekuatan pada Shania.
Setelah sekian lama, Shania berhenti menangis ia hanya mengeluarkan ringisan kecil pertanda habis menangis sejadi-jadinya. Jeremy melepaskan pelukan, menatap bola mata indah yang meredup itu, melihat betapa hancur dan kacaunya Shania.
Jeremy mengusap lembut kedua pipi Shania, menghapus jejak airmata yang membasahi pipinya, kemudian merapikan anak rambut yang ikut berkeringat di sekitar kening Shania.
"Sudah lebih baik?" tanya Jeremy, Shania mengangguk pelan.
"Maaf..!" Lirih Shania menunduk, sedikit tidak enak karena ia lepas kendali menangis yang tentunya merepotkan Jeremy.
Jeremy hanya terkekeh pelan sebagai jawaban, ia mengusap puncak kepala Shania dengan gemas, membuat Shania ikut tersenyum kecil.
"Mau pulang sekarang?" tanya Jeremy dan diangguki oleh Shania.
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang pemakaman, melalui berbagai macam hiasan bunga dan dekorasi taman indah. Angin bertiup sepoi-sepoi seakan membawa duka Shania pergi turut melayang bersama angin tersebut.
Shania tersenyum berat dengan mata sembabnya, ia menoleh pada Jeremy dengan sedikit mendongak, karena lelaki itu cukup tinggi jika di banding dirinya.
"Jer.. terimakasih ya. sudah menemaniku hingga sampai kesini" ucapnya pelan.
"Hmmmm.." hanya deheman pelan yang keluar dari mulut Jeremy,
"Aku banyak sekali merepotkanmu" sambungnya dengan wajah tertunduk.
"Kau tidak merepotkanku asal kau mentraktirku" Jawabnya sambil terkekeh pelan, jawaban itu lah yang selalu di lontarkan Jeremy saat Shania mulai berbicara serius padanya perihal ketidakenakannya.
Shania tersenyum. Senja merekah, menampakkan langit dengan rona jingga.
Shania dan Jeremy kembali ke hotel. besok mereka akan berkunjung ke rumah Tom sebelum kembali ke Jakarta.
"Jer, aku harus membeli baju untuk dipakai malam ini" Shania membuka mulut ketika melewati toko pakaian di pinggir jalan.
"Pakai baju hotel saja" jawab Jeremy seadanya.
"Aku tak membawa baju apapun kemarin. tidak mungkin aku pakai baju hotel besok ke rumah orangtua Tom" ucapnya sedikit kesal.
"Ayo mampir disini, sekalian ku traktir kamu makan, lagi pula kau belum sempat mengganti ponsel baru kan jadi Ayo aku temani beli disini" ajaknya. Shania kemudian menunjuk pusat belanja sekaligus merayu Jeremy.
Hmmm
Saat memasuki pusat belanja tersebut, Mata Jeremy menyipit memperhatikan seseorang di sudut outlet brand tas ternama... Tom? yes itu Tom.. bersama seorang wanita mengenakan dress pendek sedang memilih tas, dan kenapa bergandengan?
"Ayo.. Jer.. kamu budeg ya.." sergah Shania dari depan karena Jeremy tertinggal beberapa langkah.
...***...