I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 9 : Secret Headquarters



“Kami sudah menyebar semua video dan kau bisa bayangkan betapa hebohnya masyarakat di sekolah ini,


bukan? Luna?” Marcello tersenyum.


“Lalu?” Tanya Luna dengan wajah datarnya. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak karuan ketika


melihat senyuman Marcello.


“Ayolah, kau tidak sebodoh itu untuk melupakan ucapan beberapa menit yang lalu kuucapkan.” Luna


menghela napas.


Flashback


Marcello menarik tangan Luna yang sedari tadi meronta meminta dilepaskan dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat nametag di pintu dengan tulisan ACE.


“Lepaskan tanganku dasar pria gila! Kau pikir kau siapa menarik-narik tanganku dengan seenaknya


begitu?!” Bentak Luna.


“Aku adalah Marcello yang tidak menerima bantahan, penolakkan, dan juga kata kasar. Kau sepertinya harus dihukum untuk ucapanmu yang mengatakan aku pria gila.” Luna memalingkan wajahnya ke samping dan menekuk wajah menahan kesal.


“Kurasa kau akan tertarik jika aku memperlihatkan ini.” Luna kembali menatap Marcello.


“Apa itu? Jika tidak penting aku keluar dari sini.” Luna berucap tegas.


“Sayangnya kau harus menarik kata-katamu kembali karena aku yakin kau sangat tertarik jika aku menunjukkan sebuah rekaman ini.” Marcello memutar semua rekaman-rekaman Claire, Daisy, dan Raina.


Luna menatap lekat ke rekaman-rekaman tersebut di laptop Marcello.


“Apa kau sedang mencoba menyuapku?” Marcello tertawa.


“Kau cerdas, menurutmu mungkin begitu, tapi menurutku, aku menawarkan kesepakatan.” Luna menghela


napasnya.


“Baiklah apa kesepakatannya?” Tanya Luna.


“Aku akan menyebarkan semua video ini di media sekolah tentunya tanpa diketahui oleh semua orang di sekolah ini, kecuali kau dan teman-temanku. Tapi sebagai gantinya kau mengubahpenampilan dari culun menjadi badgirl yang mana merupakan karaktermu yang asli.” Luna membelalak.


“Kau gila. Aku tidak ingin mengubah penampilanku karena aku sudah biasa berpenampilan seperti ini. Aku tidak mau menurutimu.” Luna melipat kedua tangannya di dadanya dan membuang wajahnya ke arah samping.


“Sayang sekali, kau akan kembali diganggu oleh kedua teman Claire dengan penampilanmu yang seperti itu dan aku juga tidak akan menyebarkan video ini tanpa persetujuanmu.” Luna kembali menatap Marcello.


“Memangnya aku peduli? Lagipula aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka, jadi tidak seharusnya kau mengatur-ngatur penampilanku.”


“Terserah saja apa katamu, tapi yang jelas, jika bukan mereka yang keluar dari sekolah ini, maka kaulah yang akan keluar dari sekolah ini karena penampilanmu yang saat ini kapanpun bisa menjadi pisau berujung tajam yang akan menghunusmu. Kau pikir guru-guru akan kembali membela kalian jika kalian sendiri tidak pernah melawan dan tidak pernah menjadi licik untuk melawan?” Luna mendelik tajam kepada Marcello.


“Tahu apa kau mengenai diriku?” Marcello tersenyum kembali membuat detak jantung Luna menjadi cepat.


“Aku tahu semuanya mengenai dirimu. Yang pasti, aku bisa saja membuat jati dirimu yang asli tersebar di sekolah ini, dan kupastikan para peganggu itu akan tetap merajalela karena penampilanmu sendiri. Bukankah akan lebih baik menjadi diri sendiri? Terlebih kau bukanlah gadis yang feminine dan kau bisa saja menghajar mereka, bukan?”


Luna mendecih.


“Jadi, kau ingin aku berubah dan menyetujui keputusanmu untuk menyebarkan semua rekaman-rekaman video ini?” Marcello mengangguk dengan wajah polosnya.


“Baiklah, kuputuskan untuk mengubah penampilanku, tapi sebagai gantinya jangan membuat lelucon aneh terhadap diriku besok dan jangan tersenyum lagi kepadaku.” Luna menunjuk wajah Marcello.


“Kau sangat menjijikan!”


“Ku anggap itu pujian. Aku hanya perlu menekan tombol enter lalu video ini akan tersebar ke satu sekolah dan bahkan keluar sekolah. Asalkan kau kembali ke penampilanmu yang asli besok. Katakan juga ini kepada teman-temanmu karena jika tidak...” Marcello mendekatkan wajahnya ke telinga Luna.


“Aku akan membuatmu menyesal karena tidak menuruti ucapanku.” Marcello menjauhkan wajahnya dari Luna yang terlihat mematung itu. 


Flashback Off...


Luna yang mengingat itu pun menghembuskan napas kasar.


“Baiklah, baiklah. Berdoa saja aku tidak lupa itu besok. Kau tahu, aku ini pelupa sebenarnya, jadi jika aku lupa, jangan melakukan apapun ya.”


“Tidak bisa. Kau akan kuhukum dan hukumannya adalah...” Marcello mendekatkan wajahnya ke wajah Luna


dan mengecup bibir Luna.


“Itulah hukumanmu besok. Jantungmu berisik sekali ya sejak tadi.” Luna merona dan wajahnya kini seperti


kepiting rebus.


“Ekhem.” Pemuda yang satu lagi bernama Vincent berdeham mengganggu kemesraan yang dilakukan oleh Marcello terhadap Luna.


“Ayolah, aku sudah merasakan bibir Luna, setidaknya kau juga harus merasakannya, karena aku sudah membuat kesepakatan dengan gadis ini jika mereka lupa mengganti penampilan mereka, maka itulah hukumannya. Aku sangat beruntung karena mendapatkan ciuman pertama dan menjadi orang pertama yang menciummu.” Marcello kembali menatap Luna.


“Oh iya Vincent, dimana Felix?” Tanya Marcello.


“Dia sedang menunggu di depan ruang guru. Dia mengatakan akan mengajak Clara kemari, sepertinya aku juga harus keluar sekarang juga. Aku juga ingin mendapatkan keberuntungan sepertimu.” Vincent menyeringai dibalas dengan seringai oleh Marcello membuat Luna merinding disco.


‘Apa yang sebenarnya dilakukan oleh kedua pria sialan ini?’ Tanya Luna dalam hatinya.


“Kusarankan kau segera mengikatnya dalam sebuah hubungan sebelum dia diambil laki-laki lain.” Vincent berjalan mendekati pintu keluar.


“Sebelum itu terjadi, kupastikan mereka tidak akan bisa menggapai gadisku. Iya kan Luna?” Luna menatap jijik kepada Marcello.


“Baiklah, baiklah, aku keluar dulu. Selamat menikmati kebersamaan kalian.” Vincent melambaikan tangannya kepada Marcello lalu meninggalkan ruangan yang seperti apartemen tersebut.


“Panggilan kepada Daisy dan Raina segera menghadap ke ruangan guru sekarang juga.”Suara terdengar di speaker dekat ruangan yang ditempati oleh Luna dan Marcello.


“Selamat tinggal kepada pengganggu dan selamat datang penampilan baru.” Luna mendelik kepada Marcello dan ditanggapi oleh Marcello yang menghadap ke arah layar CCTV yang terpampang menampakkan gambar-gambar yang ada di seluruh sekolah.


“Kalau boleh tahu, apakah ini markas rahasia kalian?” Tanya Luna.


“Itu benar. Sejujurnya tempat ini tidak dipakai dan bahkan tidak terawat awalnya, namun atas izin para guru, kami memakai tempat ini sebagai markas kami untuk mengawasi seluruh sekolah ini.”


“Oh kupikir tempat kalian hanya ada di atap sekolah saja.”


“Tentu tidak, atap hanya tempat untuk bersenang-senang, tapi tempat ini jauh lebih menyenangkan lagi dimana aku bisa mengawasi kegiatan semua orang disini dan juga melaporkan semua pelanggaran peraturan di sekolah ini kepada guru. Itulah tanggung jawab kami setelah mendapatkan tempat ini.” Luna mengangguk-ngangguk.


“Kamu terlihat tidak khawatir sama sekali ya dengan kedua temanmu di ruang guru itu.” Luna mengangkat sebelah alisnya.


“Tentu saja tidak, lagipula mereka berdua bisa menanganinya. Terlebih dengan seluruh bukti yang kalian sebarkan di seluruh sekolah ini.”


“Baiklah, sebentar lagi kedua sahabatku akan kemari membawa kedua temanku. Tapi sebelum itu, bolehkah aku mengungkapkan sesuatu?” Luna menatap bingung kepada Marcello.


“Memangnya apa yang ingin kau ungkapkan? Apakah kau jatuh cinta kepadaku?” Luna menyeringai, namun ditanggapi Marcello dengan terkekeh.


“Kau memang berbeda dari yang lain. Aku ingin mengungkapkan seluruh perasaanku hari ini kepadamu. Aku menyukaimu.” Luna menahan tawanya.


“Ternyata kau cocok juga untuk melawak. Lawakanmu lucu sekali. Kau menyukaiku? Aku tidak percaya itu.” Marcello menghilangkan senyumannya dan mulai menatap serius kepada Luna yang membuat Luna meneguk ludahnya.


“Aku menyukaimu. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap, tapi, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu.” Luna tertegun.


“Sekarang aku lega, tapi aku akan pastikan kau menyukaiku.” Marcello berbisik di telinga Luna.


“Mungkin untuk sekarang kau tidak menyukaiku, tapi tatapanmu itu memberikan arti yang berbeda untukku.” Marcello menjauhkan wajahnya dari telinga Luna dan tersenyum.


“Baiklah, itu saja yang ingin kukatakan kepadamu, terima kasih sudah mau mendengarnya.” Marcello beralih menuju ke dapur.


“Dia menyukaiku? Khe yang benar saja?” Luna mendengus.


‘Apakah benar itu gurauan semata? Caranya menyatakan perasaannya tidak seperti bermain-main.’ Batin Luna. Tak lama kemudian sudut bibirnya terangkat dan ia tersenyum.


Clara dan Stella keluar dari ruang guru begitu juga dengan Daisy dan Raina yang menggenggam sebuah surat pengunduran diri dari sekolah. Mereka berdua memandang benci kepada Clara dan Stella yang berdiri membelakangi mereka.


“Ini semua karena kamu Clara! Hanya karena masalahmu dan saudara kembarmu itu kami juga harus keluar dari sekolah ini! Keterlaluan! Kamu harus bertanggung jawab!” Bentak Daisy.


“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kalian sendiri yang berbuat seenaknya di sekolah ini hingga membuat kalian keluar? Kalian ini sangat bodoh sekali, bukankah semua perbuatan yang dilakukan oleh kalian berdua bersama gadis primadona bernama Claire itu yang membuat kalian berdua dikeluarkan dari sekolah?” Ujar Clara.


“Kurang ajar! Lihat saja, kupastikan kami akan kembali dan membalas perbuatan kalian setelah Claire kembali dari hukuman skorsnya nanti.” Clara menatap remeh kepada kedua gadis murahan itu.


“Itu jika dia masih punya malu untuk kembali ke sekolah ini. Kalian ini hanyalah seorang budak yang dimanfaatkan oleh Claire untuk melawan kami. Dia tidak akan bisa melakukan apapun tanpa kalian, lalu, setelah ia sukses, kupastikan kalian akan dibuang layaknya boneka rusak.” Clara menyeringai melihat kedua gadis itu yang semakin


emosi.


“Sudahlah Clara, ayo kita pergi dari sini, tidak ada gunanya meladeni mereka yang masa depannya suram, sebaiknya kita mencari Luna dan kembali ke kelas.” Clara mengangguk. Ia pasrah saja ketika Stella menggenggam tangannya. Namun, instingnya berkata ada pergerakkan menuju ke arahnya dari belakang. Ia menoleh dan dengan cepat menahan tangan Daisy lalu menggenggam dengan kuat tangan itu hingga membuat gelang yang dikenakan Daisy putus dan terjatuh ke lantai koridor.


“Ckckck, taktik murahan kalian tidak akan mempan bagi kami. Sebaiknya kalian mundur sebelum aku mematahkan tangan kalian seperti ini.” Daisy meringis keras karena tangannya dipelintir kuat oleh Clara.


“Hei Clara, kau bisa masuk ke penjara karena mematahkan tangan anak orang, sebaiknya kau lepaskan saja dan kita cari Luna, ya.” Stella menarik tangan Clara dan mencoba meredakan emosi Clara.


“Kau yang hanyalah seorang aib yang tidak pernah dianggap oleh keluargamu sendiri, oleh karena itu kau tidak pernah tahu bagaimana sifat Claire.” Clara hanya mengedikkan bahunya mendengar ucapan Raina yang mencoba memprovokasinya.


“Ya, aku adalah aib bagi keluarga kalau kalian adalah aib bagi kota ini.” Raina merasa kesal karena provokasinya tidak berhasil.


“Sudahlah, dua orang gadis yang sebentar lagi akan menjadi sampah harusnya sadar diri di mana tempat mereka. Aku pergi dulu ya, bye.” Clara melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Daisy dan Raina yang sedang panas karena emosi.


TBC