
“Kau siapa?” Tanya Raina.
“Kalian tidak mengenalku?” Raina dan Daisy saling menatap heran.
“Sejujurnya kami kesini ingin mencari Clara dan kedua sahabatnya, apakah mereka ada didalam? Kami ingin meminta maaf atas segala kesalahan kami.” Ucap Daisy sedih.
“Oh, tenang saja, aku sudah memaafkan kalian. Perkenalkan namaku Clara dan kedua sahabatku masih tidur.” Clara menyodorkan tangannya dan tersenyum manis membuat kedua gadis dihadapan Clara itu terkejut.
“Ja-ja-jadi kau yang bernama Clara? Apakah ini penampilan aslimu?” Clara mengangguk.
“Kuharap kalian tidak datang untuk mengejekku jika tidak, maka aku akan berubah pikiran dan tidak akan memaafkan kalian.” Raina dan Daisy shock seketika.
“Ini juga rumahmu?” Clara menggeleng sambil tertawa. Entah kenapa ekspresi Raina dan Daisy terlihat lucu sekali saat ini.
“Tentu saja bukan, ini rumah Stella, kami sudah tinggal lama disini. Kalian berdua tidak bersama-sama lagi dengan Claire? Bukankah dia teman kalian? Jujur saja, teman kalian itu masih saja berulah, tolong diingatkan lagi ya untuk
dikondisikan tingkah laku jeleknya itu.” Setelah berucap, Clara pun hendak masuk ke dalam rumah namun tangannya di tahan oleh Daisy dan Raina.
“Tolong maafkan kami. Kami tahu, kami sudah banyak salah selama ini denganmu juga Stella dan Luna. Kami sangat menyesal karena pernah menuruti kemauan Claire hanya demi suatu benda yang tidak memiliki arti sama sekali.” Ucap Daisy.
“Iya Clara, kami mohon maaf atas perbuatan kami, mohon beri kami kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan kami. Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kami rela melakukan apapun demi mendapatkan maafmu bahkan kalau perlu kami akan berlutut dihadapanmu.” Clara yang mendengar itu merasa risih dan membantu Daisy juga Raina yang hendak berlutut itu berdiri.
“Sudah, sudah, kalian tidak perlu melakukan itu. Aku sudah melupakannya, lagipula kalian sudah menyesali perbuatan kalian. Jadikan semua itu pelajaran dan berbuat baiklah kepada semua orang tanpa membeda-bedakan penampilan mereka. Aku masuk dulu.” Clara yang hendak membuka pintu mendengar suara perut membuat Clara kembali menghadap ke belakang.
“Apa kalian belum makan?” Tanya Clara malas dijawab gelengan oleh Raina dan Daisy.
“Kalian tidak makan hanya demi meminta maaf kepada kami? Yang benar saja?” Raina dan Daisy menunduk menyembunyikan rasa malu mereka.
“Aku tidak tahu keputusan yang benar atau tidak karena setelah ini bisa saja kalian menjadi amukan kedua sahabatku itu. Kalian sudah terlalu sering mengganggu mereka, padahal jika mereka mau melawan, kalian pasti sudah dipenuhi lebam saat ini juga.” Raina dan Daisy yang mendengar itu pun semakin merasa malu dan
menyesal atas perbuatan mereka.
Clara yang tadinya ingin membuka pintu pun akhirnya lebih memilih menekan bel membuat tidur kedua gadis cantik di dalam rumah pun terganggu.
“Hoaaaammmmmmm, siapa sih yang datang pagi-pagi begini?!” Suara serak dari Stella pun terdengar hingga ke kamar Luna membuat Luna harus menutup telinganya. Stella pun mau tidak mau terbangun dari tidurnya karena mendengar suara bel yang terus berbunyi membuatnya merasa kesal. Ia pun menggedor pintu kamar Luna hingga
membuat Luna kesal. Ia pun menendang selimutnya ke udara lalu berjalan menuju pintunya.
“Apa sih?! Aku ini lagi tidur dan bermimpi indah tapi kamu seenaknya membangunkanku dasar manusia tidak berakhlak.” Luna menjitak kepala Stella hingga membuat sang empu mengadu kesakitan.
“Aww, tanganmu ini terbuat dari batu atau besi sih? Sakit sekali. Bangun cepat, ada tamu tidak diundang yang datang dan membunyikan bel terus. Clara pasti sedang keluar rumah karena dia bilang bahan makanan sudah mau habis.” Luna menghela napas kasar.
“Dasar tamu sialan, bisakah mereka tidak mengganggu?! Awas saja kalau tidak penting!” Luna mengoceh namun tidak dihiraukan oleh Stella yang menarik tangannya menuju ke pintu utama.
Mereka membuka pintu sambil mengucek-ngucek mata mereka.
“Hoam, siapa kalian?” Tanya Stella sambil menguap menahan kantuknya.
“Dasar pemalas kalian berdua. Tidur saja kerjaannya, untung saja hari ini libur.” Stella dan Luna mendongak dan terkejut mendapati Clara di luar begitu juga dengan Raina dan Daisy.
“Clara, kamu ini mengganggu saja, kenapa kamu menekan-nekan bel rumah? Bukankah kamu biasanya langsung terobos masuk saja selama ini?” Clara menggeleng-geleng melihat tingkah kedua sahabatnya ini.
“Jadi, apa mau kalian datang kemari?!” Tanya Stella ketus.
“Apakah kalian ingin membalas dendam kepada kami karena kalian keluar dari sekolah?! Sambung Luna dengan nada ketus.
“Ka-kami ingin minta maaf kepada kalian atas kesalahan kami. Kami sangat menyesal atas perbuatan kami kepada kalian. Kalian juga dijemur di lapangan basket karena kami, pasti kaki kalian pegal-pegal waktu itu. Kami juga menyesal mengikuti kemauan Claire karena keinginan kami yang tidak bermakna sama sekali. Jujur saja, kami iri dengan kalian berdua karena kalian sangat pintar dibandingkan kami, kalian juga selalu di anak emaskan oleh para guru membuat kami secara sadar ingin sekali para guru tidak lagi melirik kalian. Kami juga ingin sekali-sekali dibanggakan seperti kalian bertiga karena itulah kami selalu mengganggu kalian, membully kalian dan lain sebagainya. Sekali lagi maafkan kami Stella, Luna, kami sangat menyesal. Kami berjanji tidak akan melakukan itu lagi, kami tidak akan mengganggu kalian lagi karena kami tahu rasanya dibully, apalagi dibuang oleh teman sendiri.” Stella dan Luna saling menatap lalu menatap datar kedua gadis dihadapan mereka.
“Ya setidaknya kalian sudah mengakui semua kesalahan kalian, kami hanya ingin mengatakan jika kalian ingin mendapatkan kasih sayang dari para guru, cukup dengan rajin mengerjakan tugas dan dekatilah mereka. Meskipun kami tidak pernah dekat dengan mereka, setidaknya jika kau bisa menyenangkan mereka dengan nilai kalian, maka mereka akan baik dengan kalian. Jujur saja, kami tidak pernah merasa di anak emaskan oleh para guru sama sekali, kalian saja yang mudah untuk terbawa suasana.” Ucap Stella.
“Iya benar apa yang dikatakan Stella, kami tidak pernah merasa di anak emaskan oleh mereka, bahkan kami tidak berharap untuk dipuji oleh mereka. Kaliannya saja yang terlalu berlebihan karena kalian juga dihasut oleh sahabat tercinta kalian itu, bukan?” Raina dan Daisy mengangguk dengan wajah sedih mereka.
“Tolong jangan sebut ia sahabat tercinta, kami muak mendengarnya. Dia juga telah membuang kami begitu saja setelah memanfaatkan kami, dia hanya beruntung karena dia anak orang kaya dia masih bisa masuk sekolah, sedangkan kami? Bahkan kedua orang tua kami menyuruh kami untuk berusaha sendiri masuk sekolah dan mencari uang.” Ucap Raina.
“Benarkah? Jadi, kalian diharuskan mencari uang sendiri untuk kembali ke sekolah dan selanjutnya mengurus diri kalian sendiri?” Raina dan Daisy mengangguk kembali.
“Mereka berkata kepada kami mungkin saja kalian juga begitu, karena itu mereka ingin kami juga merasakan apa yang kalian rasakan. Masuk sekolah dengan usaha sendiri juga merasakan bagaimana rasanya seperti kalian. Untuk itu, kami juga sedang mencari pekerjaan yang mau menerima kami.” Luna mengangguk.
“Yah jika aku menjadi kedua orang tua kalian juga aku akan melakukan hal yang sama karena sejujurnya kalian sangat keterlaluan.” Ucap Luna santai membuat Raina dan Daisy kembali menunduk. Mereka malu atas semua perbuatan yang dilakukan, mereka mengaku pantas mendapatkannya.
Sekali lagi, bunyi perut keroncongan membuat Stella dan Luna mengernyitkan dahi mereka.
“Jadi, kalian kemari dengan perut kosong hanya untuk minta maaf kepada kami?” Tanya Stella.
“Kami belum sempat makan tadi. Biasanya kedua orang tua kamilah yang menyiapkannya namun mereka tidak melakukannya karena kami pantas mendapatkannya. Kami bahkan tidak bisa makan dengan tenang jika tidak meminta maaf segera kepada kalian.” Ucap Daisy.
“Kasihan sekali kalian. Ya sudah kami memaafkan kalian karena kalian sangat menyesal sekali. Tapi, jika kalian mengulangi lagi perbuatan kalian, maka kalian akan mati.” Stella menatap menusuk kepada Raina dan Daisy.
“Kami tidak akan segan-segan menghabisi kalian meskipun kalian ini seorang perempuan.” Luna menyeringai membuat dua gadis dihadapan mereka ini merinding.
Clara menghampiri dua orang gadis itu lalu menepuk bahu mereka.
“Kalian sudah selesai berdrama disini? Sebaiknya kalian berempat masuk sekarang karena aku sudah memasak sarapan yang porsinya pas untuk kalian kita berlima.” Ajak Clara dengan senyuman manisnya. Ia terlihat manis dengan apron yang melekat di tubuhnya membuat Raina dan Daisy menatap kagum.
‘Tidak disangka mereka bisa secantik itu dengan penampilan asli mereka.’ Batin Raina dan Daisy.
“Kebetulan aku sudah mencoba resep barunya dari teh yang pamanmu kirim Stella, bahannya sangat berguna sekali.” Stella mengernyitkan dahinya.
“Apakah enak?” Clara mengedikkan bahunya.
“Mungkin saja, karena pamanmu sangat baik sekali mengirimkan tanaman-tanaman teh di sebuah wadah, jadi aku coba saja satu persatu. Aku mengembangkan sebuah resep dan jadilah sebuah sandwich. Kalian penasaran?” Mereka mengangguk.
“Kalau begitu, ayo kita masuk sekarang.” Clara merangkul kedua sahabatnya.
“Kalian berdua masuklah dan jangan lupa menutup pintu lalu makan bersama kami.” Raina dan Daisy mengangguk lalu ikut masuk dan menutup pintu rumah yang cukup mewah itu.
TBC
**Halo\, semuanya\, aku ini sebenarnya mau double update lho chapter cerita ini di mangatoon tapi sayangnya belum aku susun ke dalam cerita\, masih dalam bentuk outline chapter 17nya\, so\, if you want me to update the next chapter quickly\, please give me your comment\, so I will know that you all really want me to continue this story. Thank you guys\, see you in the next chapter. **