I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 14 : Nostalgic



“Apakah kalian lapar?” Tanya Clara kepada kedua temannya melalui earpiecenya.


“Iya, balap liar selalu menghabiskan banyak energi membuatku menjadi sangat lapar. Di depan sepertinya ada restoran, kita makan disana saja yuk.” Ajak Stella.


“Ingin makan disana? Wah, sayang sekali, padahal aku ingin mencoba resep baru hari ini di rumah.” Rengek Clara.


“Kalau itu, besok saja, bukankah besok kita libur? Besok kamu bisa mencoba sepuas kamu resep makanannya. Hari ini kamu pasti letih, jadi ada baiknya sesekali kita makan diluar.”


“Kalian memang sangat perhatian sekali padaku.” Clara berucap dengan nada terharu membuat kedua sahabatnya itu mendengus geli.


“Oh ayolah Clara, jangan terharu seperti itu. Bukan gayamu sama sekali.” Clara mendecih.


“Iya, iya. Sekali-sekali ganti gaya tahu.”


“Menggelikan sekali, apa lagi tadi kamu berbicara dengan nada merengek. Rasanya mual mendengarnya.” Clara mendengus.


“Pedas sekali ucapan kalian itu.” Stella dan Luna tertawa mendengar ocehan Clara.


“Sudah, sudah, sebentar lagi kita sampai.”


Setelah sampai di restoran, mereka memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil.


“Baryon’s food? Bukankah restoran ini milik ayahmu Clara? Aku baru tahu tempatnya disini.” Clara hanya menatap datar ke restoran ini.


“Apa kamu baik-baik saja Clara?” Clara menghela napasnya.


“Kita masuk saja sekarang kawan, bukankah kalian tadi bilang kalian sudah lapar? Siapa yang peduli aku akan bertemu lagi dengan mereka atau tidak, yang pasti kita datang untuk mengisi perut bukan untuk berdrama.” Clara merangkul kedua sahabatnya itu.


Mereka kini telah duduk di restoran mewah tersebut dan membaca menu yang tersedia di buku menu restoran tersebut.


Seorang waiter datang mendekati mereka bertiga yang membaca menu saat ini.


“Nona-nona yang cantik, mau pesan apa?” Tanya waiter tersebut.


“Kami pesan mie ayam spesial pedas 1, tomyum pedas 1, dan ayam geprek level 3. Minumannya, jus alpukat 1, jus jeruk 1, dan jus melon 1.” Waiter tersebut pun telah selesai mencatat.


“Saya ulangi ya. Mie ayam spesial pedas 1, tomyum pedas 1, dan ayam geprek level 3 satu. Minumannya, jus alpukat 1, jus jeruk 1, dan jus melon 1.” Ketiga gadis tersebut mengangguk menanggapi pesanan yang dibaca ulang oleh Waiter itu.


“Silakan ditunggu ya. Oh iya sebelum itu, kami memberikan camilan terbaik kami sambil menunggu makanan tiba agar kalian tidak bosan menunggu.”


“Wah, benarkah?” Tanya Luna dengan matanya yang berbinar-binar.


“Iya itu benar. Sebentar lagi akan datang. Saya permisi dulu.” Waiter itu pun pamit dan mengantarkan pesanan itu ke dapur. Lalu, seorang waiter satu lagi datang mengantar camilan terbaik mereka masing-masing untuk tiga orang.


Stella dan Luna yang melihat itu pun berbinar karena penampilan camilan itu sangat menarik.


“Terima kasih.” Ucap mereka berdua.


Clara pun memakan camilan itu dalam satu gigitan kecil. Ia merasakan hangat dalam hatinya ketika memakan camilan itu. Ketika memakan itu, ia diajak bernostalgia ke dalam masa lalunya di mana sang ibu waktu itu memberikannya camilan ketika ia sedang belajar lalu berakhir sang ibu dimarahi oleh ayah saat itu.


Flashback


Tok, tok...


Pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya namun cantik membawa camilan di kamar Clara. Ia tersenyum mendapati Clara yang sedang fokus belajar sambil mendengarkan musik di kamarnya. Ia berjalan mendekati Clara lalu menepuk bahu Clara membuat Clara melepaskan earphonenya.


“Mama. Mama kenapa kemari? Apakah tidak apa-apa? Nanti Papa marah sama Mama lho.” Sang ibu hanya tersenyum.


“Mama tidak apa-apa. Kamu belum makan kan dari tadi? Makan dulu baru lanjut lagi belajarnya. Nih, Mama bawakan camilan kesukaan kamu biar semangat belajarnya. Jangan tidur malam-malam ya.” Clara mengangguk dan memakan camilan tersebut.


“Ma, kenapa kamu memberikan dia camilan? Dia harus belajar dan jangan ganggu dia, nilainya nanti malah semakin turun karena kamu! Sebaiknya kamu keluar dan jangan memberikan apapun padanya kalau belum bisa menyamai nilai adiknya!” Clara yang mendengar itu hanya diam saja dan kembali memakai earphonenya.


“Tapi Pa, Clara belum memakan apapun, apa kamu tidak kasian dia semakin pucat?”


“Maafkan Mama ya sayang, Mama tidak bisa berbuat apapun untuk kamu. Mama keluar dulu ya.” Sang Ibu mengusap bahu Clara dan kemudian meninggalkan Clara yang kembali terfokus pada belajarnya.


Flashback Off...


Air mata tiba-tiba keluar dari mata Clara ketika mengingat masa lalu tanpa disadari olehnya.


“Clara, kenapa kamu menangis?” Tanya Stella.


“Oh tidak apa-apa. Apa aku menangis sedari tadi?” Tanya Clara sambil menyeka air matanya.


“Baru saja. Apa kamu tidak sadar kalau kamu baru saja menangis?” Tanya Luna.


“Iya, tadinya bermaksud bernostalgia tapi tidak disangka air mataku turun. Wah camilannya sudah habis juga sampai-sampai aku tidak sadar.” Clara tertawa.


“Clara, kalau kamu merasa ingin menceritakan segala sesuatu mengenai kesedihanmu, nanti di rumah ceritakan ya, aku tidak mau kamu menyimpan sendiri beban itu, kita bertiga adalah sahabat, kita harus saling menceritakan semua isi hati kita. Sekarang, kita harus makan untuk mengisi perut kita terlebih dahulu.” Stella mengusap bahu


Clara.


“Hm.” Gumam Clara.


Makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. Stella dan Luna terlihat tidak sabar untuk menyantap hidangan yang mampu membuat air liur menetes.


Mereka pun memakan hidangan sambil menikmati hidangan itu. Clara juga mulai menikmati makanan itu dengan perasaan campur aduk.


Setelah selesai, mereka pun membayar makanan ke kasir lalu meninggalkan restoran itu menuju ke mobil mereka


masing-masing dan pulang menuju ke rumah. Clara menatap kosong ke arah jalanan yang mulai sepi lantaran orang-orang memilih menghabiskan waktu di rumah setelah pulang kerja atau beraktivitas.


Mereka sampai di rumah dengan selamat dan Clara tiba-tiba menjadi lesu sejak ia mengunjungi restoran milik sang Ayah. Hidangan yang mereka makan tadi adalah masakan sang ibu meskipun lebih mewah dari hidangan rumah yang biasa ia makan.


‘Masakan Mama masih enak seperti biasanya.’ Clara mengangkat kedua kakinya di atas meja dan melipat tangannya di depan dada lalu menengadahkan kepalanya menatap langit-langit.


“Clara kamu baik-baik saja?” Tanya Stella yang terlihat khawatir.


“Tidak, tapi entah kenapa aku merasa rindu dengan masakan Mama setelah memakan masakan tadi. Aku yakin makanan dan juga camilan yang kita makan itu masakan Mamaku.” Jawab Clara.


“Terkadang rindu itu berat. Jika memang takdir mengizinkan kamu pasti akan bertemu kembali dengan Mama kamu Clara.” Clara mengangguk.


“Sejak dulu hanya Mama yang baik kepadaku disaat Papa dan saudariku membenciku. Hanya Mama yang tidak pernah menuntutku harus mendapatkan nilai yang sempurna. Padahal aku hanya kalah satu poin dari saudariku tapi tetap saja Papa tidak terima. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar nilai saudariku tapi tetap saja tidak pernah ada sedikitpun kata kerja bagus yang keluar dari mulutnya, beliau hanya membanding-bandingkan nilaiku dengan Claire meskipun hanya satu poin.” Clara menghela napasnya setelah berucap panjang lebar.


“Terkadang melelahkan memang, tapi jika dibandingkan dengan kalian, masalahku masih lebih baik, karena itu aku tidak menangis.” Stella dan Luna menatap iba kepada Clara. Sebagai orang yang kehilangan dan orang yang tidak dianggap ada, Stella dan Luna mengerti perasaan Clara. Mereka bertiga memang kekurangan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua mereka. Clara yang diperlakukan pilih kasih oleh ayahnya, Stella yang kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan, dan Luna yang dibuang oleh kedua orang tuanya sejak kecil.


“Mataku mengantuk sekali rasanya.” Ucap Clara.


“Jangan lupa mandi.” Clara menjawab dengan jari jempolnya lalu masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


“Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang ada di posisi Clara. Dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri itu tidak enak sama sekali.” Ucap Stella.


“Kamu benar, aku pasti akan membenci mereka yang memperlakukanku tidak adil.” Balas Luna.


“Jadi, apa kamu membenci kedua orang tua kamu?” Luna menggeleng. Ia bingung harus menjawab apa.


“Aku ingin membenci mereka, tapi aku tetap berpikir positif dan mengatakan kepada diriku sendiri kalau kedua orang tuaku pasti mempunyai alasan untuk membuangku.” Stella mengangguk paham.


“Aku akan membantumu mencari kedua orang tuamu.” Luna hanya diam mendengarnya, lalu mereka beranjak dari sofa yang mereka duduki dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


TBC


Halo guys, lagi kesepian nih, ada gak ya yang mau ngobrol sama aku? Hehehe gklah bercanda, kembali lagi nih cerita aku ya, semoga bisa menghibur kalian dan membawa kalian bernostalgia sesuai judul episode kali ini. Nyambung gk ya, maklumilah masih belajar nulis. See you guys in the next episode bye...