I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 12 : Back



1 Minggu Kemudian...


Claire kembali bersekolah dengan penampilan seperti biasanya dan juga dengan kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi sehingga membuatnya terlihat berkelas. Wajahnya juga terlihat semakin cantik setelah satu minggu diskors dari sekolah karena selama libur, ia melakukan perawatan kecantikan penuh dan juga berbelanja banyak kebutuhannya.


“Ekhem, Claire, apakah perhiasanmu tidak berlebihan hari ini?” Tanya Ibu Anna.


“Tentu saja tidak, lagipula ini adalah hadiah dari papa karena aku sudah menjadi anak yang bekerja keras selama di rumah untuk mengerjakan tugas-tugas di sekolah ini dan aku berhasil merawat wajahku yang sebelumnya terkena banyak debu di sekolah.” Claire menatap kukunya yang cantik karena habis perawatan di rumahnya lalu meniupnya


seolah-olah ada debu disana.


“Benarkah? Kalau begitu, bolehkah ibu lihat tugasnya?” Ibu Anna menyodorkan tangannya menandakan ingin melihat tugas Claire.


“Cih, memangnya ibu siapa?” Tanya Claire cuek.


“Ibu adalah guru yang memberikanmu tugas lewat email setiap harinya untuk dikerjakan olehmu selama satu minggu. Untuk itu dimana tugasnya?” Tanya Ibu Anna.


“Apa?! Jadi, ibu yang selalu memberikan tugas bertumpuk setiap harinya! Ibu Anna jahat sekali! Padahal aku lelah sekali lho, untung saja aku punya waktu untuk melakukan perawatan setelah mengerjakannya! Ibu menyebalkan!” Claire menghentak-hentakkan kakinya.


“Yah itu kan salahmu sendiri. Siapa yang suruh kamu berbuat nakal dan berujung diskors?” Claire memanyunkan mulutnya kesal.


“Itu semua karena Clara yang selalu berulah sama saya, saya merasa kesal sekali, seharusnya dia juga diskors bukan hanya saya.” Ibu Anna memutar bola matanya bosan.


“Jika Clara mencari masalah, video yang disebarkan itu seharusnya tidak terlewatkan Claire sayang, pastinya video Clara dan kedua temannya yang mengganggumu juga pasti akan tersebarkan entah oleh siapa.” Claire mendengus kesal.


‘Cih, anak itu sudah menjadi anak emas di sekolah ini sehingga mereka tidak percaya dengan kebohonganku.’ Rutuk Claire dalam hatinya.


“Baiklah-baiklah aku akan mengaku jika aku bersalah pada Clara.” Claire berucap malas dan mengeluarkan tugas-tugas yang telah ia kerjakan sebelumnya kepada Ibu Anna.


“Tulisanmu sangat rapi ternyata, dan juga, wow, ibu tidak percaya nilaimu menurun drastis seperti ini.” Claire mendelik mendengar ucapan Ibu Anna yang terdengar menghina tersebut.


“Apa maksud Ibu? Saya sudah mengerjakannya dengan baik dan saya sangat berusaha keras mengerjakan tugas menumpuk yang ibu katakan. Jadi, bagaimana bisa nilai saya menurun? Ibu tidak berbohong, bukan?” Ibu Anna menggeleng.


“Itu karena kamu mencari semua jawabannya di internet, kamu tahu, semua orang yang pernah diskors dari sekolah ini bahkan memiliki nilai yang berada di atas kamu. Tapi untuk menghargai usahamu, ibu akan memberikan nilai bonus untukmu.” Claire berbinar mendengar itu.


“Dengan persyaratan, kamu tidak mengganggu siapapun termasuk Clara, Stella, dan Luna.” Claire mengangguk, namun didalam hatinya, ia berpikir untuk kembali mencari masalah baru dengan Clara, Stella, dan Luna.


‘Kita lihat saja nanti, kupastikan kalian akan diskors sepertiku, gara-gara kalian, aku hampir saja dipindahkan dari sekolah ini.’ Claire berucap dalam hatinya.


Flashback


“Claire, papa akan memindahkanmu ke sekolah lain karena papa tidak mau kamu satu sekolah dengan saudaramu itu.” Claire membelalak.


“Tapi Pa, Claire tidak mau, karena Claire lebih suka bersekolah disana.” Claire memasang wajah memelasnya.


“Tidak bisa, keputusan Papa sudah bulat, kamu harus pindah sekolah titik!” Claire menganga.


“Tidak mau Pa, jika Claire dipindahkan, Claire lebih baik berhenti sekolah.” Claire melipat tangannya dan membuang wajahnya ke samping.


“Kamu berani melawan Papa?” Sang Ayah menatap tajam kepada Claire namun Claire nampak tidak takut sedikitpun.


“Hah, kalau begitu, Papa ada syarat yang harus kamu penuhi. Kalau kamu bisa melawan nilai Clara, maka kamu bisa berekolah disana, jika tidak, maka bermimpilah untuk kembali bersekolah disana.” Claire pun bersemangat dan mengecup wajah sang ayah.


“Terima kasih Pa, aku sayang Papa.” Claire kembali ke kamarnya dan kembali mengerjakan tugas-tugas menumpuk yang diberikan oleh guru yang tidak diketahui siapa namanya melalui email dengan mencari semua jawabannya di internet.


Flashback Off


Claire masuk ke dalam kelasnya dan terkejut ketika mendapati orang yang sangat dikenalinya. Ia segera menghampiri Clara yang saat ini sedang memainkan game di ponselnya sambil memakai earphone. Claire yang menatap itu pun geram dan mencabut earphone yang dipakai oleh Clara.


“Oh iya, bukankah kemarin yang duduk disini anak cupu? Kemana anak cupunya?” Tanya Claire yang


berpura-pura tidak tahu.


“Dia itu gadis cupu yang kemarin Claire. Dia selama ini mengelabui kita dengan menyamar sebagai anak cupu demi mendapatkan kasih sayang para guru.” Claire tersenyum remeh.


“Jadi, apa yang memutuskan dia untuk berubah? Aku akan mencari tahu sekarang. Hei, cupu, kenapa kamu mengubah penampilan seperti sekarang?” Clara tidak menjawab karena telah hanyut kedalam gamenya.


“Hei jalang, kau dengar aku?!” Bentak Claire namun tidak digubris oleh Clara.


“Oh iya, jika dilihat-lihat kalian berdua mirip sekali, apakah kalian kembar?” Tanya seorang laki-laki berpenampilan layaknya preman, namun ia bukanlah pencari masalah.


“Tidak, kami hanya pasaran saja, lagipula, saudara kembarku sudah lama mati. Sedangkan dia ini, hanyalah gadis pembawa sial dan aib bagi keluarga kami.” Claire menatap remeh kepada Clara.


“Cih, sepertinya dia tidak akan mendengarkanku jika tidak diperlakukan dengan kasar.” Claire yang habis kesabarannya pun ingin menarik surai Clara dan ditepis dengan kuat oleh Clara membuat tangan Claire terasa kebas.


“Kurang ajar!!!” Claire hendak melayangkan tamparan ke wajah Clara, namun Clara dengan cepat memelintir tangan Claire hingga Claire mengadu kesakitan.


“Sekali lagi kamu melayangkan tanganmu kepadaku, aku tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu meskipun aku di penjara sekalipun. Jujur, kesabaranku untuk tidak bersikap kasar kepadamu sudah habis dan ingin rasanya membuat wajahmu yang cantik ini hancur dengan tanganku.” Clara memperkuat pelintirannya membuat Claire kesakitan dan suasana kelas menjadi sepi.


“Wow, apakah ini gadis cupu yang selama ini kita gunjing? Kenapa berbeda sekali?” Claire hanya bisa mengadu kesakitan ketika tangannya dipelintir oleh Clara, rasanya tangannya akan terpisah dari tubuhnya detik ini juga.


HAP...


Tangan Clara ditangkap oleh Felix sementara Claire yang tidak merasakan apa-apa pada wajahnya pun menolehkan wajahnya dan matanya memanas ketika mendapati Felix menggenggam tangan Clara.


“Jangan membuang-buang tenagamu hanya untuk orang yang tidak berguna bagimu. Lebih baik kita membolos saja hari ini untuk menenangkan dirimu.” Clara menghela napasnya kasar Ia menatap Claire lalu berdecih.


“Baiklah Felix, kurasa aku sudah menguras banyak energiku untuk meladeni orang gila dihadapanku ini, aku akan membolos hari ini karena aku bukan lagi seorang cupu.” Clara berjalan dengan anggun diikuti oleh Felix meninggalkan kelas menuju ke markas kemarin.


Claire menghentak-hentakkan kakinya lalu duduk di kursinya. Air matanya keluar dari matanya menahan sakit di tangan sekaligus hatinya karena ia merasa cemburu dengan kedekatan Felix dan Clara.


‘Kenapa? Kenapa dia tidak pernah melirik sedikitpun kepadaku?’ Claire menenggelamkan wajahnya di meja dan menangis.


“Wah, kalian berdua juga bolos sekolah, hm?” Tanya Clara yang baru saja masuk ke ruangan ACE.


“Tentu saja, dengan paksaan dari dua orang pemuda kurang ajar ini.” Vincent mendengus sedangkan Marcello tersenyum.


“Ayolah, bukankah kita sekarang adalah teman? Teman membalap.” Ujar Marcello.


“Bagaimana kalau malam ini kita balap? Kita bertaruh hari ini, yang kalah harus menjadi budak pemenang sampai lulus nanti.” Vincent dan Felix menyeringai mendengar ucapan Marcello.


“Setuju.” Felix dan Vincent menjawab serentak.


“Kami belum menyatakan setuju, lagipula, percuma saja kalian ingin bertaruh kali ini, kami akan menang lagi seperti seminggu yang lalu.” Clara berucap dingin.


“Oh ayolah apakah kalian takut kalah kali ini? Jika diperhatikan kemenangan dan kekalahan kita itu selalu selang- seling. Jika kemarin kalian menang, maka, mungkin saja kali ini kalian kalah.” Stella dan Luna mendengus.


“Siapa bilang kami takut? Kami bukannya takut, tapi, pertaruhan yang kalian inginkan itu sangatlah membosankan. Tidak adakah yang lebih menantang lagi dari ini? Benar-benar seperti cerita fiksi saja.” Setelah berucap, Clara pun menguap lebar.


“Baiklah, begini saja. Pertaruhan tadi tetap akan kami pakai, lalu siapa yang kalah nanti, dia harus menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada yang menang, setuju?” Clara melotot mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Felix.


“Maksudmu?” Tanya Clara dengan tatapan menyelidik.


“Menyatakan jika kalian jatuh cinta kepada pemenang, setuju?” Stella dan Luna yang sedang minum pun menyemburkan minuman dari mulut mereka.


“Heh yang benar saja? Itu jika kita memang saling jatuh cinta, jika tidak? Yah mimpi saja sana.” Ujar


Stella.


“Percayalah kepadaku, mungkin saja kita sudah ditakdirkan untuk bersama.” Ujar Vincent.


“Oh Ya Tuhan, pertaruhan macam apa ini?” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya dan memijat keningnya yang


terasa pening.


“Tenang saja, menyatakan cinta itu tidak harus langsung setelah lomba, kapan saja orang kalah itu siap. Mereka harus menyatakan cinta mereka kepada sang pemenang, setuju?” Tanya Felix menatap Clara dengan wajah konyolnya itu.


“Baiklah setuju. Ku pastikan kalianlah yang akan kalah kali ini. Jadwal kekalahan kita akan berubah drastis, kami para wanita akan lebih banyak menang dibandingkan kalian para pria.” Ujar Clara dengan kepercayaan dirinya yang tinggi jika sudah menyangkut balap liar.


“Jangan terlalu percaya diri nona, kamilah yang akan menang malam ini. Jika kalian kalah, maka bersiap-siaplah untuk menjadi pelayan kami, mulai dari mengantar bekal, dan lain sebagainya.” Clara mendelik mendengarnya.


“Dan kenapa kami harus membawakan bekal kalian?” Tanya Clara yang terdengar sarkastik.


“Itu karena kalian akan kalah malam ini dan begitulah tugas orang yang kalah begitu juga sebaliknya.” Jawab Felix.


“Oh iya, kedua temanmu itu, kuharap juga bisa memasak karena aku tidak ingin masakanmu juga dibagi kepada dua orang banci itu.” Vincent dan Marcello mendelik mendengar ucapan Felix yang terdengar menghina itu.


“B-banci? Cih yang benar saja, kau bahkan takut kepada tikus.” Ujar Vincent santai.


“Apa katamu?!” Bentak Felix yang membuat ketiga gadis yang ada didalam ruangan itu tertawa.


“Wah aib seorang pangeran tampan di sekolah ini tersebar ya, kamu takut sama tikus? Yang benar saja.” Clara menutup mulutnya menahan tawa.


“Aku bukannya takut, aku hanya tidak bisa berurusan dengan makhluk lincah itu.”


“Hm, kalau begitu, aku berharap aku yang kalah, jadi aku bisa memasakkan daging tikus untukmu nantinya.” Clara menyeringai melihat Felix membuang wajahnya kesamping dengan rona di kedua belah wajahnya.


“Ide yang bagus Clara, karena kalian berdua adalah teman Felix, kami juga akan memasakkan kalian daging tikus semuanya untuk permulaan.” Marcello dan Vincent menatap tajam kepada Luna.


“Meskipun kami tidak takut dengan tikus bukan berarti kami harus memakannya. Oh iya, Luna yang cantik, jika kamu berani memberikan kami tikus, maka ingatlah hukuman yang aku katakan kepadamu.” Luna langsung terdiam dan merona membuat Stella menatap heran kepada Luna.


“Adakah yang kami lewatkan hari ini?” Tanya Stella dan dijawab gelengan kepala oleh ketiga pemuda itu.


“Baiklah kalau begitu, kami menyetujui taruhan yang kalian berikan.”


TBC


Halo teman-teman, saya kembali dengan chapter terbaru dari Faknerds & Badboys, saya mengganti judulnya karena merasa kurang nyambung dengan ceritanya, ayo dong sekali-sekali komen untuk meramaikan saja. Saya senang bisa berinteraksi dengan kalian para pembaca. Btw, maaf agak telat updatenya karena sibuk nonton drakor. Baiklah saya pamit undur diri dulu, jika ada yang ingin berkenalan dengan saya bisa lewat pesan pribadi ya teman-teman, kalau ada yang mau follow, vote, like, dan komen, silakan, saya akan terbuka menyambut kalian semua para pembaca