I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 20 : Worried



Seorang pria paruh baya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya pun melihat pesan di ponselnya. Ia membelalak ketika membaca isi pesan tersebut lalu dengan cepat ia keluar dari ruangan tanpa mempedulikan para karyawan yang menyapanya.


Ia menuju ke parkiran dan menaikki mobilnya lalu menjalankan mobil itu bak orang kesetanan menuju ke rumah sakit.


Claire kini tertidur dengan bersandar di bahu Clara akibat lelah menangis.


“Di mana istriku?!” Suara teriakan dari pria paruh baya itu membuat Claire terkejut dan terbangun dari tidurnya begitu juga dengan Clara yang mendelik menoleh menatap sang Ayah.


“Bisakah anda tidak berteriak tuan? Ini di rumah sakit dan bersikaplah seperti biasa dan tidak memalukan disini!” Clara berujar sarkastik.


“Diam! Apa yang kamu lakukan disini?!” Clara mengernyit ketika ditunjuk dengan kasar oleh ayah kandungnya sendiri.


“Saya disini atas permintaan Claire karena Mama kecelakaan dan juga karena anda yang tidak bisa dihubungi,” Jawab Clara membuat pria paruh baya itu terdiam.


“Lalu, apakah sudah ada kabar dari dokter?” Clara menggeleng.


“Apa yang dilakukan dokter itu sebenarnya sampai selama ini?!” Clara memutar bola matanya bosan.


“Pemeriksaan itu juga diperlukan waktu untuk memastikan kerusakannya sampai mana baru mereka mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien. Keluarga pasien harusnya bisa bersabar agar pengobatan yang dilakukan dokter bisa lancar tanpa adanya kendala. Sebaiknya anda duduk dan tenangkan Claire, putri kesayangan anda


karena dia sempat shock tadi mendengar Mama kecelakaan.” Sang ayah yang mendengar itu pun langsung duduk disamping Claire lalu memeluk Claire.


“Mama pasti akan baik-baik saja, kamu tidak perlu cemas, mama itu sangat tangguh, percayakan semuanya kepada dokter mereka pasti bisa menyembuhkan Mama.” Claire mengangguk.


“Kamu ngapain masih disini? Sana pergi! Keberadaan kamu tidak diperlukan lagi!” Clara mendengus mendengar itu.


“Felix, kita pergi dari sini karena keberadaan kita sudah tidak dibutuhkan lagi.” Felix menggandeng tangan Felix meninggalkan rumah sakit itu sedangkan Claire masih dalam pelukan sang ayah dan bahkan sama sekali tidak menghiraukan kepergian Clara.


Clara dan Felix kini berada di kantin rumah sakit. Felix terkekeh ketika melihat wajah Clara yang menggemaskan itu.


“Bisakah kau tidak memasang wajah seperti itu? Usiamu tidak sesuai sekali dengan wajahmu.” Clara mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Felix.


“Lalu, aku harus bagaimana?” Felix tersenyum lalu mencubit wajah gembul Clara itu.


“Sakit tahu!” Clara mengusap-usap wajahnya yang memerah bekas cubitan gemas Felix.


“Ya habisnya kau dari tadi bertingkah seperti anak kecil, siapapun akan melakukan hal yang sama sepertiku jika berhadapan denganmu seperti saat ini.” Clara berdecak kesal lalu meminum yang ia pesan sebelumnya.


“Apa kau kesal karena diusir oleh ayahmu sendiri padahal kau sudah datang jauh-jauh untuk menenangkan Claire yang shock karena ibumu yang kecelakaan?” Clara mendengus.


“Tidak sama sekali.”


“Kau tidak pandai berbohong Clara.”


“Memangnya kau tahu apa?” Felix tersenyum miring.


“Dari matamu.” Clara mendecih.


“Woah, hebat. Sepertinya kau tidak perlu bersekolah untuk menghabiskan banyak uangmu. Aku yakin dengan menjadi psikolog atau guru konseling setidaknya kau akan digaji dengan baik karena sangat pandai membaca kehidupan seseorang. Tapi maaf, aku tidak peduli dengan Claire ataupun ayahku yang hanya bisa marah kepada orang-orang sekitar.” Clara menyibakkan surainya setelah menyelesaikan ucapannya.


“Menarik, padahal aku melihat sangat jelas sekali wajahmu ketika kau menenangkan saudari kembarmu itu. Bahkan


aku mengambil gambarmu diam-diam saat itu.” Felix memainkan ponselnya dan menunjukkan foto yang baru saja ambil kepada Clara membuat Clara melotot. Ia mencoba mengambil ponsel itu namun Felix menyimpannya kembali di kantong celananya hingga membuat Clara mendengus kesal.


“Simpan saja sepuasmu kalau begitu tapi kau tidak bisa membaca pikiran seseorang hanya dengan mata mereka begitu saja.” Felix menahan tawa ketika mendapati ekspresi Clara yang sangat lucu saat ini.


“Kau apa?!” Bentak Clara.


“Wajahmu itu terlalu jelas untuk terbaca oleh orang bodoh sekalipun.”


“Ya, ya, ya, bicaralah sepuasmu sekali lagi maka kupastikan daging tikus akan benar-benar masuk ke dalam mulutmu kali ini. Kau tahu? Aku memelihara daging tikus di rumahku banyak sekali, aku bisa memasaknya salah satu untukmu dan kau bisa mencobanya.” Felix terdiam.


“Hahaha, kau memang sangat takut sekali ya dengan tikus, seharusnya setiap kali kau bertingkah menyebalkan aku mengancammu dengan tikus agar kau diam.” Felix mengangkat kedua tangannya ke atas menandakan jika ia menyerah.


“Baiklah, baiklah, aku menyerah dan kau menang. Habiskan makananmu dan kita kembali ke rumah sakit.” Clara menghela napasnya lalu meminum kembali minuman kesukaannya yaitu, jus melon.


Beberapa jam kemudian setelah operasi, seorang wanita paruh baya kini terbaring lemah di ruang perawatan dengan gips di kaki kanannya dan juga perban di kepalanya. Lalu, seorang pria paruh baya duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan wanita itu.


“Ma, kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Tidak biasanya kamu membawa mobil seceroboh ini. Ceritakan apa yang terjadi padamu Ma jangan hanya menutup mata saja.” Ayah Clara dan Claire itu menundukkan kepalanya di ranjang untuk melampiaskan rasa sedihnya.


“Claire, kamu mau makan?” Claire menggeleng.


“Aku tahu kamu khawatir sama mama, tapi mama juga akan sedih kalau kamu tidak makan. Tubuhmu juga perlu nutrisi dan kamu belum makan seharian. Kalau sakit bagaimana?” Claire kembali menggeleng.


“Aku tidak lapar.” Clara menghela napas.


“Susah juga membujuk kamu ya. Kemana Claire yang suka membully seseorang yang lemah hm? Apakah itu hanya omong kosong belaka? Bagaimana ya kalau mereka melihat kamu begini? Aku yakin kamu pasti dibully habis-habisan oleh mereka. Perlukah aku menyebarkan foto wajahmu yang seperti ini ke seluruh sekolah?” Clara tidak tahu lagi harus menghibur Claire seperti apa, namun yang pasti ia terpaksa memprovokasi Claire agar Claire tidak menyiksa dirinya sendiri karena kekhawatirannya kepada mama.


“Terserah, kamu bebas melakukan apapun. Toh, ini semua juga salah aku. Seandainya saja aku mendengarkan


kata-kata mama sebelumnya untuk berubah menjadi lebih baik dan tidak membully orang, maka mama tidak akan seperti ini. Hiks, aku tidak tahu jika ucapan itu memberikan tanda yang mengerikan seperti ini. Aku takut mama kenapa-kenapa aku tidak mau.” Clara menghela napas untuk kesekian kalinya. Baru pertama kali ia melihat Claire sampai sesedih itu dan itu membuatnya sedih meskipun saudarinya itu sangat jahat kepadanya.


“Menangis lagi. Makanya jangan terlalu sering membully orang, aku tidak tahu ini bisa dibilang hukuman atau tidak, tapi semua orang tidak berhak menyiksa tubuh mereka sendiri dengan tidak memakan apapun. Sekarang, ikut aku ke kantin dan makan yang banyak atau kalau kamu mau aku bisa pulang ke rumah untuk memasakkan makanan untuk kamu, mau tidak?” Claire kembali menggeleng.


“Ya sudahlah lelah hatiku membujukmu untuk makan, kalau kamu tidak mau ya sudah, aku mau pulang, lagipula


keberadaanku tidak diperlukan lagi disini.” Clara beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Claire, namun suara Claire kembali menahannya.


“Buatkan aku puding.” Suara Claire lirih.


“Hah? Apa? Aku tidak mendengarmu. Bisakah kau mengatakannya lebih keras?” Claire menahan kesalnya karena Clara sedang mempermainkannya saat ini.


“Aku mau puding. Katanya kamu mau memasakkan makanan untukku. Buatkan puding untukku.” Clara mendengus.


“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Titipkan salamku untuk papa dan untuk mama kalau sudah sadar nanti. Bye.”


“Oh iya Felix, jaga Claire sebentar. Jika hilang dari pengawasanmu sedetik saja, maka mulai besok bekal makan siangmu nanti adalah daging tikus. Bye.” Felix mendecih.


“Dasar wanita,” Bisiknya.


“Kutitipkan Claire padamu Felix, aku akan kembali lagi.”


“Hm, hati-hati dan jangan ngebut.” Clara mengacungkan kedua jempolnya dan berekspresi layaknya anak kecil lalu pergi meninggalkan mereka pulang menuju ke rumahnya.


TBC


Hai semuanya, udah lama nih gk ketemu kalian, apa kabar? Semoga semuanya pada sehat selalu ya, aku kembali dengan chapter terbaru nih, tapi yah garing banget rasanya dan gk dapet feel, semoga chapter selanjutnya bisa dapetin feel ya. Amin. Btw, guys, nice to see you in the comment, and see you guys in the next chapter.