
"Uhuk...." Gadis cantik dalam keadaan terikat di kursi terbangun karena wangi aromaterapi mengganggu penciumannya.
"Sudah bangun rupanya, baiklah. Kita mulai sesi tanya jawabnya." Kesadaran yang awalnya masih setengah pun langsung penuh seketika. Suara tak asing menyapa pendengarannya dan matanya membola, melihat sosok yang ada di hadapannya.
Dahinya mengernyit kala mendapati sosok gadis bermasker di hadapannya. Ia tidak mengenali sedikitpun gadis itu namun, suaranya sering terdengar di telinganya.
"Si-siapa kau?" tanya gadis itu terbata.
"Siapa aku itu tidak penting Nona Layla. Pemilik perusahaan memintaku untuk membunuhmu. Tapi sebelum itu, aku ingin menggali informasi darimu. Apa kau keberatan?" Gadis bernama Layla itu memegang dadanya yang mulai terasa sesak.
"Lilin itu sudah berefek rupanya. Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Siapa pimpinanmu sebenarnya?" Layla menatap Clara dengan tatapan tajam.
"A-aku ... ti-tidak ... meger-ti ... ma-maksudmu...." Clara menghela napas kesal.
"Sudah mau mati pun masih berpura-pura. David!" David mendekat saat Clara memanggilnya. Ia membawa suntikan berisi cairan pada Clara.
"Ini obat yang akan menyelamatkanmu. Kau akan selamat jika memberi informasi padaku. Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada kekasihmu." Layla menggeleng menahan sakit.
"Kumohon ... jangan bunuh aku ... biarkan aku hidup dan menikah dengan kekasihku...," tatapan Layla memelas namun, tidak mampu sedikitpun membuat Clara luluh.
"Katakanlah. Jika kau berbohong, rasakanlah akibatnya. Aku tidak menjamin akan menyiksamu dengan cara yang sama." Layla menggeleng sambil terisak. Ia menahan sakit pada dadanya dan memuntahkan darah.
Layla mulai menceritakan siapa dirinya dan juga siapa yang menyuruhnya bekerja di perusahaan Clara. Ia juga menceritakan jika perusahaan pimpinannya sedang di ambang kehancuran dan menyuruhnya untuk mencuri data perusahaan milik Clara. Clara yang mendengar itu pun merasa geram namun, ia menyembunyikan ekspresinya dengan baik. Ia tentu tidak akan membiarkan pengkhianat hidup.
"Cukup ceritanya dan terima kasih." Clara memberi suntikan kepada Layla hingga Layla terkapar tak bernyawa.
"Bukankah sudah kubilang? Kau tidak akan selamat dariku, jalang. Kau pikir, aku percaya dengan ucapanmu?" Clara mematikan aromaterapinya dan membuka masker serta kacamatanya. Ia memakai kembali wig dan softlensnya karena sudah waktunya bekerja.
"Terserah kalian mau memotong mayatnya atau tidak. Aku hanya ingin pamanku melihat kepala gadis ini sebagai peringatan untuknya. Aku pergi dulu." Clara keluar dari ruang rahasia itu dan menuju kantornya.
"Nona Lydia, anda kemana saja? Kenapa baru tiba sekarang?" tanya sekretaris Clara yang bernama Lea.
"Tidak kemana-mana, hanya ada urusan saja. Apa jadwalku hari ini?" Lea dengan sigap membaca catatan berisi jadwal Clara.
"Kita ada meeting dengan seluruh staf perusahaan 10 menit lagi." Clara mengernyit.
"Kenapa mendadak sekali?" Jesslyn tersenyum manis namun, di dalam hati ia merasa dongkol dengan pertanyaan Clara.
"Ini tidak mendadak Nona, bukankah saya sudah mengirim pesan lewat surel anda?" Clara mengangkat sebelah alisnya. Ia memeriksa surel di laptopnya dan mendapati pesan dari sekretaris cantik di sampingnya ini.
"Hah ... karena banyak laporan kemarin, aku tidak sempat memeriksa pesan darimu. Maafkan aku." Lea tersenyum maklum.
"Tidak apa-apa Nona. Oh iya, saya belum melihat Nona Layla hari ini. Di mana dia?" Clara mengedikkan bahunya.
"Mungkin saja dia kabur membawa uang milik perusahaan." Lea melongo.
"Semalam, aku memeriksa laporan dan mendapati kecurangan yang dilakukan olehnya." Lea hanya ber oh ria.
"Kita harus segera ke ruang rapat sekarang." Clara memakai jasnya dan keluar dari ruangan bersama sekretarisnya itu.
Ting tong....
"Ada apa?!" tanya pria paruh baya itu ketus.
"Saya ingin mengantar paket untuk anda Tuan." Pria paruh baya itu mendecih kesal.
"Paket apa?! Kapan saya pernah memesan paket?!" Kembali bertanya ketus namun, tak membuat kurir itu berekspresi ketakutan sedikitpun.
"Anda bisa membaca surat yang ada di atas paket ini." Pria paruh baya itu menghela napas kesal. Mau tidak mau, ia harus membuka pintu apartemennya dan mengambil paksa paket tersebut.
"Pergi sana!!!" Kurir itu terkejut mendengar bentakan pria di hadapannya ini. Ia pun langsung pergi dari apartemen itu.
"Paket apa ini? Awas saja jika isinya tidak penting." Pria paruh baya itu membaca surat yang tertera nama Clara di pojok kanan bawah. Ia membuka isi paket tersebut dan amarah langsung menguasai dirinya.
"Dasar gadis tidak berguna dan ceroboh. Mencuri saja tidak becus, dan sekarang? Dia seenaknya mati tanpa menyelesaikan tugasnya. Khe, beruntung sekali kau bukan mati ditanganku, jalang. Dan kau Clara, tunggu tanggal mainnya." Sang gadis berbalut selimut itu terbangun mendengar suara yang mengusiknya.
"Hoaammm ... ada apa Tuan Alvin sayang? Kenapa berisik sekali, hm?" tanya sang gadis sambil mengusap bahu Alvin.
"Tidak apa-apa. Bersiaplah, kita akan makan diluar hari ini." Alvin mengecup kening gadis muda itu dan meletakkan paket itu kembali ke lantai.
"Oh iya Tuan, apakah anda tidak ingin menjadikan saya istri? Saya sangat mencintai anda melebihi diri saya sendiri." Gadis itu masuk ke dalam pelukan Alvin dan menyatakan perasaannya.
"Akan kupikirkan tapi, tidak sekarang." Ia mengecup pucuk kepala gadis itu.
'Dasar jalang munafik, kau tidak mencintaiku melainkan mencintai hartaku. Tapi tidak apa, kau akan mati detik ini juga.' Alvin membatin.
"Sana mandi, kau bau." Gadis itu mengerucut dan memukul pelan dada Alvin lalu, berjalan tertatih ke kamar mandi.
"Halo, apa kau sudah mendapat informasi mengenai Clara?" tanya Alvin dalam telepon.
"...."
"Dasar tidak berguna! Untuk apa aku membayarmu jika tidak bisa menemukannya, hah?! Kau datang ke tempatku sekarang juga!" Alvin langsung mematikan ponselnya dan melempar ponselnya ke tembok hingga hancur.
"Sial. Punya anggota, sayangnya tidak becus bekerja. Aku harus menyuruh siapa lagi untuk mencarinya?" Alvin mengacak-ngacak rambutnya dan ponsel satunya berbunyi seketika.
"Halo sayang...." Nada bicara Alvin langsung melembut dibanding sebelumnya.
"Halo, Pa. Kapan Papa pulang dari perjalanan bisnisnya? Aku berencana untuk merayakan ulang tahunku di Kedai Lotus. Kudengar tehnya sangat enak sekali, Papa jangan lupa datang ya?" Alvin tersenyum.
"Baiklah Calista, Papa pasti akan datang dan membawa hadiah untukmu." Alvin menjauhkan ponselnya dari telinganya saat anaknya berteriak kegirangan di seberang sana.
"Terima kasih Pa, aku sayang Papa. Dah...."
"Dah...." Ia mematikan sambungan teleponnya dan menghela napas kasar. Ia menatap datar kamar mandi yang digunakan oleh wanita simpanannya itu.
Ia membakar semua isi paket tersebut tanpa menghilangkan jejak sedikitpun.
TBC
Hai, aku kembali lagi dengan chapter terbaru. Gimana, menarik? Semoga saja. Oh iya, ada yang bisa tebak gk ya, isi dari paket yang dikirimkan oleh Clara? Ada yang penasaran? Semoga saja ada yang menunggu cerita ini. Terima kasih dan sampai jumpa....