
"Pastikan anggotamu itu tidak bekerja lagi di kantor polisi atau aku akan meledakkan kantormu." Kepala kepolisian itu meneguk salivanya berat.
"Baik, Tuan. Saya merasa malu hari ini karena perbuatannya. Saya pastikan dia tidak akan muncul di manapun." Alvin mendengkus.
"Hm, pergi sana!" Kepala kepolisian itu membungkuk dan meninggalkan mansion mewah tersebut.
Alvin pun masuk ke rumahnya dan mendapati putrinya sedang bercanda dengan kekasihnya yang bernama Felix Melviano.
Felix Melviano sendiri merupakan agen yang bekerja untuk Badan Intelijen Nasional(BIN). Alvin menyeringai saat sebuah rencana muncul di otaknya.
Alvin Helbert merupakan pemimpin grup mafia yang bernama Vongolia. Organisasi ini menjual bisnis ilegal seperti narkoba, organ dalam, dan sebagainya. Ia juga mengendalikan BIN agar mau bekerja sama dengannya meski jarang ia gunakan kekuatan mereka. Namun kali ini, ia berencana meminta bantuan Felix untuk mencari keberadaan Clara.
Sebelum itu, ia berencana pergi ke ruang kerjanya dan menekan tombol yang ada di sebelah rak buku besarnya. Kemudian, rak buku besar itu terbuka dan menampakkan lorong gelap menuju ruang rahasia. Ia masuk ke lorong tersebut, dan tibalah di ruangan penyekapan.
Terdapat pemuda yang berdiri tegap di hadapannya. Pemuda itu merupakan asistennya yang ia percaya untuk menghapus rekaman di mana, ia membunuh dua orang di apartemennya. Alvin memiliki beberapa asisten cadangan untuk dibunuh saat tidak melaksanakan tugas dengan baik.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, Ardian?" tanya Alvin dengan nada menyeramkan.
"Ti-tidak tahu, Tuan." Alvin mengambil cambuk di bakul sebelah kanannya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku merasa kau berkhianat padaku hari ini, hm? Kau tidak menghapus seluruh rekaman CCTV seperti yang aku perintahkan, bukan?" Pemuda yang bernama Ardian itu membelalak.
"Saya bersumpah, saya sudah menghapus seluruh rekaman CCTV itu, tuan," jawab Ardian ketakutan.
"Lalu, bagaimana CCTV itu ada di tangan polisi?! Apa kau sedang membodohiku sekarang?!" bentak Alvin.
"Ampuni saya, Tuan. Saya tidak membodohi anda. Saya yakin, saya sudah menghapus bersih rekaman itu. Akkhhh...." Ardian meringis kesakitan saat cambuk itu mendarat di tubuhnya. Ia merasa tubuhnya terkuliti karena cambuk itu bukan cambuk biasa.
"Jika kau berkhianat, kau akan tahu akibatnya. Rasa sakit ini belum seberapa, paham?" Ardian mengangguk. Alvin menepuk belakang kepala Ardian.
"Sekarang katakan padaku. Apa kau melihat seseorang di apartemenku?" Ardian mencoba mengingat kembali kejadian pembunuhan tadi siang.
Flashback On....
Ardian berada di Distrik Mawar, mengawasi penjualan narkoba di sana.
Drrttt....
*Ponselnya berbunyi dan melihat nama penelepon. Ia pun langsung mengangkat saat bosnya menghubungi.
"Halo, Tuan. Ada apa menghubungi saya?" tanya Ardian*.
"Aku minta kau datang ke apartemenku sekarang." *Ardian mengernyit.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan Distrik Mawar ini?" Dapat Ardian dengar suara decakan di seberang sana.
"Biarkan saja. Aku sudah mengirim orang untuk mengawasi. Kau harus sampai ke sini dalam 1 jam. Jika tidak, kau akan mati saat aku menemukanmu." Ardian meneguk berat salivanya.
"Baik Tuan. Saya segera kesana." Ardian mematikan sambungan teleponnya dan menaikki mobilnya*.
Satu jam kemudian....
*Ardian mendapati petugas yang mengantar paket itu mencurigakan. Ia melihat, ada drone kecil yang terbang masuk ke kamar bosnya saat petugas itu menyerahkan paket. Namun, ia urungkan untuk menyelidiki itu dan menunggu petugas itu pergi.
Setelah pengantar paket itu pergi, Ardian langsung masuk kamar bosnya.
Ketika masuk ke kamar bosnya, ia mendapati dua orang tak bernyawa tergeletak di lantai.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Ardian.
"Tidak usah banyaj bertanya. Hapus seluruh rekaman CCTV di apartemen ini." Ardian mengangguk dan menuju ruang CCTV untuk menghapus seluruh rekaman CCTV itu*.
Flashback Off....
Bugh....
Ia memukul wajah Ardian dengan keras untuk melampiaskan emosinya.
"Kau memang tidak bisa dipercaya! Harusnya kau membunuh pemuda itu dan menghancurkan barang bukti itu, bodoh! Karena kau, aku harus berurusan dengan polisi gadungan itu!" Alvin menarik kerah Ardian dan kembali memukul wajah Ardian.
"Aku terlalu baik padamu selama ini. Sekarang, aku akan memberimu pilihan. Nyawamu atau orang tuamu?" Ardian tersentak. Ia menatap bosnya dengan tatapan memelas. Ia beringsut dan memeluk kaki Alvin.
"Saya mohon, jangan bunuh keluarga saya. Saya janji, saya akan lebih baik lagi ke depannya." Alvin tersenyum miring. Ia kembali menarik kerah Ardian dan memukul wajah Ardian hingga darah di hidungnya keluar semakin deras. Ia memuntahkan darah segar.
"Sudah banyak, kau berjanji padaku. Tapi nyatanya, omong kosong yang kudapatkan. Aku akan mengampuni nyawamu kali ini karena kau tidak akan mati di tanganku." Ardian menghembuskan napas lega.
"Kalian, siksa dan bunuh dia! Bakar tubuhnya sampai tidak bersisa!" Alvin meninggalkan ruang penyekapan tersebut tanpa menghiraukan teriakan Ardian.
Kedua bodyguard Alvin membabi buta memukuli Ardian hingga nyawanya melayang.
Sementara itu, Rendy terbangun dan menatap sekeliling ruangan tersebut. Ia mengernyitkan dahinya. Setahu dirinya, ia baru saja keluar dari kantor polisi. Kenapa sekarang ia di sini?
"Sudah bangun rupanya?" Suara gadis mennyapa pendengarannya.
"Siapa kau?" tanya Rendy.
"Aku Lydia Alcander. Pemilik perusahaan Lyd Lotus." Rendy membelalak dan membungkuk hormat pada Clara.
"Hei, kau tidak perlu segan begitu. Kau ingin tahu, siapa yang membawamu kemari?" Rendy mengangguk. Ia memang merasa penasaran, kenapa ia berada di kamar asing ini.
"Kau berada di apartemenku saat ini. Aku membebaskanmu untuk menggunakan fasilitas di sini, asalkan tidak macam-macam. Mengerti?" Rendy mengangguk sekali lagi.
"Aku akan membawa orangnya masuk dan kuharap, kau tidak terkejut."
Ceklek....
Rendy membelalak mendapati seseorang yang ia kenali.
"Yo, Rendy. Kau terlihat buruk sekali."
"Tutup mulutmu jika tidak ingin serangga masuk ke dalamnya." Rendy langsung menutup mulutnya.
"Aku akan keluar dan membiarkan kalian berbicara berdua." Clara meninggalkan Rendy dan David berdua di kamar.
"Lama tidak berjumpa, David? Kau benar, aku terlihat buruk sekali." David mendengkus.
"Tumben sekali, biasanya kau selalu menyangkal ucapanku." Rendy tersenyum miris.
"Aku dipecat." David tertawa mendengarnya.
"Bukankah sudah kuperingatkan, menjadi polisi itu tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua penjahat bisa ditangkap hanya dengan bukti yang kau dapatkan. Apalagi, hukum bisa dibeli dengan uang." Rendy pundung di kasur setelah mendengar nasihat David.
"Jika kau berpikir bisa membela kebenaran dengan menjadi polisi, kau salah besar. Menjadi orang baik bukanlah pilihan yang tepat dalam melawan kejahatan. Ada kalanya, kita harus berpaling dari jalan yang benar untuk mengurangi kejahatan. Markas Kepolisian telah dikendalikan oleh Tuan Alvin saat ini. Percuma jika kau ingin menjebloskannya ke penjara." Rendy mendongak dan menatap David.
"Lagipula, bekerja sebagai polisi tidak akan mampu menjamin kehidupan keluargamu. Jika kau ingin bekerja, mungkin Nona Lydia akan memberimu penawaran menarik untukmu. Apa kau tidak takut, akan nasib keluargamu? Kau telah berurusan dengan orang yang salah." Rendy seketika mengingat keluarga yang menunggu kepulangannya di kampung halamannya.
"Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Rendy.
"Kau bisa tanyakan itu pada Nona Lydia. Mungkin, dia akan memberi solusi padamu," jawab David.
**TBC
Updatenya, lebih cepat ya kali ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Semoga tulisan abal-abal ini bisa menghibur kalian semua😊😊😊😊**