I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Masa Lalu yang Menyakitkan



Kehidupan Clara jauh sebelum dibawa oleh Felix.


"AKKKHHHH!!!!" teriak Clara ketika ikat pinggang dilayangkan pada tubuhnya.


"Dasar anak tidak berguna! Apa saja yang kau kerjakan diluar sana, hah?! Uang segini mana cukup untukku minum bir, bodoh?!" Clara menutup matanya saat sang ayah berteriak tepat di depan wajahnya.


"Maafkan Clara, Ayah. Clara tidak bisa mendapatkan uang yang banyak untuk Ayah. Clara berjanji, besok Clara akan mendapatkan uang yang banyak untuk Ayah." Clara menahan sakit pada tubuhnya yang dipukul oleh sang ayah. Beberapa bagian kulitnya mengeluarkan darah segar akibat sabetan sabuk pinggang sang ayah.


"Tidak usah banyak alasan, anak bodoh! Kau tahu, aku menyesal memungutmu saat itu! Tahu begini, aku buang saja kau di sungai jika tidak berguna untukku!" ucapan tersebut sangat menusuk hati Clara. Namun entah kenapa, ia mulai terbiasa dengan ucapan itu.


"Jika Ayah menyesal, kenapa tidak membuangku saja?! Kenapa Ayah harus merawatku?! Ayah pikir, aku suka hidup seperti ini?! Punya ayah yang suka berjudi, mabuk-mabukan, bersikap layaknya bajingan?!" Sang ayah yang bernama David itu menatap tajam pada Clara.


"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu! Anak tidak tahu diuntung, sini kau!" David menarik tangan putri angkatnya keluar rumah di tengah dinginnya malam. Clara meringis saat tangannya dicengkeram kuat oleh sang ayah.


"Ayah, Ayah mau membawaku ke mana?" Sang ayah tidak menjawab dan tubuhnya pun terdorong keluar rumah.


"Jangan kembali ke rumah ini sebelum menghasilkan uang untukku!" David menutup pintu dengan kasar membuat Clara menutup matanya. Air mata mengalir dari matanya, tubuhnya terasa sakit akibat pukulan sang ayah. Clara bangkit berdiri dan meninggalkan rumah sang ayah tanpa tujuan.


Hujan mulai turun membasahi tubuh Clara hingga akhirnya, Clara kehilangan kesadarannya.


Clara membuka matanya dan mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur.


"Clara, syukurlah kau sudah sadar." Suara yang terdengar tidak asing menyapa pendengarannya.


"Aku di mana?" tanyanya lirih.


"Kau ada di rumah sakit, Clara. Bersyukurlah, aku cepat menolongmu. Lukamu juga sudah diobati oleh dokter." Clara hendak bangkit namun, ditahan oleh gadis yang merupakan teman kerjanya.


"Jangan banyak bergerak, Clara. Kau harus banyak istirahat." Clara mengangguk dan memejamkan matanya.


"Aku ingin bertanya padamu, Clara. Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" Clara menatap teman kerja yang bernama Stella dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Apa maksudmu?" tanya Clara.


"Tubuhmu banyak luka lecet, kau pingsan di jalanan dengan keadaan basah kuyup. Beruntung, aku menemuimu dan memanggil ambulance semalam. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisimu selanjutnya." Clara menghela napasnya mengingat ketika ia diusir dari rumah oleh sang ayah.


"Aku tidak apa-apa. Semalam, ada motor yang lewat dan menabrakku. Beruntung, aku sempat menghindar dan menghasilkan luka lecet seperti ini." Stella mengerutkan dahinya. Ia merasa jika Clara tidak berkata jujur padanya.


"Meski aku belum lama mengenalmu, kau tidak pandai berbohong padaku." Clara tercekat mendengarnya.


"Katakan padaku, sesuatu telah terjadi padamu. Apa aku benar, Clara?" Clara terdiam mendengarnya. Padahal, mereka belum lama kenal. Tapi, kenapa Stella sangat peka terhadapnya?


"Aku sudah berkata jujur padamu, Stella. Kau mau aku jujur apa lagi?" Stella dibuat terdiam oleh ucapan Clara. Ia khawatir dengan keadaan Clara yang memprihatinkan semalam. Wajahnya pucat, luka yang masih basah, dan pakaian yang basah kuyup saat Stella menemukan Clara di jalan.


"Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku ini gadis yang kuat, kau tahu?" Stella mengangguk.


"Hm, aku tahu itu. Hanya saja, keadaanmu semalam sangat menakutkan. Kau seperti dilukai oleh psikopat, Clara." Clara tersentak mendengarnya. Yah, ayahnya memang keterlaluan dalam memukulnya. Bahkan, ayahnya pernah memukul wajahnya hingga lebam. Beruntung, dia memakai make up untuk menyamarkan lebam itu sehingga tidak diketahui semua orang.


"Tenanglah, Stella. Kau terkadang, berpikir terlalu jauh. Sebaiknya, jernihkan dulu pikiranmu dan doakan aku agar aku terus sehat. Okay?" Stella menghela napas. Mungkin, Clara benar. Ia berpikir terlalu jauh dan belum tentu semua yang dipikirkannya terjadi.


"Terima kasih, kau telah mengkhawatirkanku. Oh iya, apa kau tidak bekerja?" Stella menggeleng.


"Aku bolos demi menjagamu." Clara cemberut mendengarnya.


"Lain kali, jangan bolos seperti itu. Kau juga harus memenuhi kebutuhan adikmu, bukan? Kerja sana, nanti kau dipecat dan mencari pekerjaan sekarang sangatlah sulit." Stella menghela napas.


"Kau sudah seperti ibuku saja. Baiklah, aku akan bekerja sekarang. Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu, ya?" Clara mengangguk.


"Hn, nanti kuhubungi. Dah." Stella melambaikan tangannya dan keluar dari rumah sakit.


"Di sini kau rupanya!" Clara terkejut dan ketakutan mendengar suara sang ayah.


"A-Ayah, da-dari mana Ayah tahu aku di sini?" tanya Clara tergagap.


"Itu tidak penting. Sekarang, ayo kita pulang karena kau harus mencari uang yang banyak untukku. Aku ingin berjudi malam ini." Clara menatap sendu pada sang ayah.


"Sampai kapan, Ayah? Sampai kapan Ayah ingin berjudi terus? Apakah Ayah tidak lelah? Baru saja kemarin hutang Ayah lunas karena kekalahan Ayah, sekarang Ayah ingin bermain lagi?" David mendecih.


"Tidak usah banyak bicara, bodoh. Ayah melakukan ini juga agar kita tidak hidup susah lagi. Jika Ayah memenangkan permainan judi itu, uang yang Ayah dapatkan akan semakin banyak, mengerti?" Clara menggeleng-geleng.


"Khe, aku sudah bosan mendengarnya. Ayah selalu bicara seperti itu setiap hari. Tapi kenyataannya? Hidup kita tetap seperti ini. Lagipula, Ayah mendapatkan uang itu untuk Ayah sendiri, bukan untukku." David yang mendengar itu mendengkus.


"Tidak usah banyak bicara dan pulang sekarang juga. Dokter sudah memberi izin untukmu pulang ke rumah hari ini." David menarik kuat tangan Clara hingga ringisan keluar dari mulutnya. Luka yang baru saja diobati kembali mengeluarkan darah akibat cengkeraman sang ayah.


"Tidak usah manja. Lukamu tidak seberapa dibandingkan Ayah." Clara hanya diam dan pasrah mengikuti langkah ayahnya tersebut.


Setibanya mereka di rumah, Clara dibawa masuk ke kamarnya dan didorong ke kasur.


"Suasana hatiku sedang baik hari ini. Seseorang meminjamkanku uang untuk berjudi tadi. Besok, kau harus bekerja untuk mengganti uang pinjaman Ayah. Istirahatlah." David pergi meninggalkan Clara yang menunduk menatap lantai.


Hembusan napas lelah keluar dari mulut Clara. Ia tidak mengerti lagi dengan apa yang dilakukan ayahnya. David seperti tidak ada beban sama sekali dalam menghabiskan uang untuk berjudi, mabuk-mabukan dan bahkan meminjam uang untuk melakukan hal yang sama. Sementara itu, Clara harus menanggung seluruh hutang yang dilimpahkan sang ayah padanya.


'Andai saja, seorang pangeran tampan datang menjemputku dan mengeluarkanku dari situasi sulit ini.'


TBC