I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 5 : Night



Pulang dari sekolah, Clara, Stella, dan juga Luna terlihat berbeda dari sebelumnya. Mereka tampak


culun, polos dan juga sangat feminin, kali ini mereka berpenampilan layaknya


seorang badgirl dengan penampilan seperti laki-laki. Alasan mereka terlihat seperti


saudara kembar adalah karena gaya penampilan mereka sama dan yang tidak disukai


pun juga hampir sama. Tidak akan ada yang menyangka jika Clara, Stella, dan


Luna yang diketahui sangat culun di sekolah itu merupakan seorang badgirl yang


selalu ikut balap liar di sirkuit Sakura 09. Sirkuit Sakura 09


sangatlah terkenal di kalangan pembalap liar dikarenakan tempat itu jarang


diincar oleh polisi, hadiahnya pun sangatlah besar dan pemiliknya pun terkenal


sangat ramah dalam memberikan hadiah. Oleh karena itu banyak yang mengincar


tempat ini untuk dijadikan lokasi untuk balap liar. Lalu, dari hadapan Clara,


Luna, dan juga Stella, ada tiga orang pemuda yang bernama Felix, Vincent, dan


Marcello dengan senyuman mautnya itu.


“Wah tiga orang gadis cantik yang sama lagi. Kali ini apa taruhannya?” Felix menyeringai.


“Bagaimana kalau yang kalah kali ini harus melayani kita sepuasnya?” Tanya Marcello sembari senyum.


“Setuju.” Jawab Vincent dengan wajah tenangnya.


“Maaf saja kali ini kami pasti menang.” Clara menatap remeh kepada Felix.


“Jika kami menang, maka kalian harus tidur sendirian atau mencari gadis lain yang bisa melayani kalian.” Ujar Luna.


“Kalian pasti kalah kali ini karena jika diperhatikan kemenangan kita selalu selang-seling.” Sambung Stella.


“Ayolah jika dibandingkan dengan mobil kami ini, mobil kalian tidak ada apa-apanya.” Ujar Marcello.


“Maaf saja, jika dari bentuk memang tidak sebanding dengan kalian, tapi kecepatannya jangan diremehkan dan kalian pasti kalah malam ini.” Stella tersenyum miring.


“Kita langsung saja malam ini lombanya dan kupastikan kalian akan menangisi kekalahan kalian.” Felix berucap dengan percaya diri.


“Jangan percaya diri kau tuan karena keberuntungan tidak akan berpihak kepadamu. Ayo teman-teman, kita masuk kedalam mobil dan tunjukkan bahwa kita merupakan pembalap yang terbaik di sirkuit sakura-09 ini.” Luna dan Stella mengangguk tegas lalu mereka bertiga masuk ke mobil mereka masing-masing.


“Cih, kita lihat saja ladies, keberuntungan akan berpihak kepada siapa.” Felix dan kedua sahabatnya juga masuk ke mobil mereka masing-masing.


“Sial! Para gadis itu terlalu lincah.” Umpat Felix.


Para penonton menyambut dengan meriah saat Clara, Luna, dan Stella telah sampai ke garis finish. Felix, Marcello, dan Vincent kalah telak dan merasa malu kali ini karena telah menyombongkan diri dan juga mobil mereka dengan membandingkan mobil mereka dan mobil ketiga gadis cantik itu.


“Bagaimana boys? Apakah kalian ingin mengatakan jika mobil kalian lebih bagus dari kami? Sayang sekali, mobil kalian hanya menang bentuk saja, tapi tidak apa-apa, anggap saja keberuntungan sedang berpihak kepada kami.” Clara menatap jam tangannya.


“Hari ini sepertinya sudah malam ya guys, sebaiknya kita pulang saja hari ini. See you later boys, kami senang kalian bisa menghibur kami dengan kekalahan kalian.” Clara, Stella, dan Luna memasukki mobilnya dan langsung pulang ke rumah.


“Jika dilihat-lihat, mereka tidak asing ya. Kalau boleh tahu, siapa ya nama mereka bertiga?” Tanya Vincent.


“Entahlah. Oh iya, Felix, bukankah kau sangat ahli dalam menyelidiki? Kenapa kau tidak mencari tahu saja siapa mereka bertiga?” Tanya Marcello.


“Boleh juga. Pertama-tama, kita harus mencari tahu dulu siapa mereka melalui sosial media. Beri aku waktu satu hari, aku akan mendapatkan informasinya mengenai mereka bertiga dan menyerahkannya kepada kalian. Sekarang sebaiknya kita pulang saja.”


“Hei, kalian lihat kan wajahnya tadi? Benar-benar lucu sekali, mereka menyombongkan mobil mereka yang mahal itu tapi nyatanya mereka kalah kepada kita.” Ujar Luna tertawa.


“Kau benar Luna, wajah mereka sangat lucu saat keluar dari mobil tadi. Aku rasa kekalahan ini akan membuat mereka kehilangan harga diri mereka dan tidak akan berani lagi menyombongkan mobil mereka.” Stella juga ikut tertawa.


“Clara, ada apa denganmu? Kenapa kau diam saja? Biasanya kau yang paling keras tertawa ketika ketiga laki-laki itu kalah. Apakah kau sedang sariawan?” Tanya Luna dengan wajah polosnya.


“Tidak teman-teman, tapi aku rasa besok akan ada sesuatu yang menghebohkan nantinya di sekolah. Ketiga laki-laki tadi sepertinya mencurigai kita semua dilihat dari tatapannya, atau mungkin saja ini hanya perasaanku saja.” Clara mengusap-usap dagunya dan memejamkan matanya.


“Benarkah? Semoga saja itu hanya perasaanmu saja Clara. Mari kita berpikiran positif, tapi tetap saja kita akan menghadapi masalah karena saudara kembarmu dan juga teman-temannya.” Clara menghela napasnya.


“Jujur saja, aku malas mengingat dia tapi entah kenapa aku harus bertemu dengannya. Mau pindah sekolah tapi aku tidak suka sesuatu yang menyusahkan.” Ujar Clara.


“Apa perlu kita mengubah penampilan kita saja menjadi diri sendiri? Lagipula tidak ada teman yang benar-benar tulus selain mengganggu.” Sambung Clara.


“Maafkan aku ya kalian juga menjadi ikut terlibat karena aku.” Clara menampakkan wajah merasa bersalahnya kepada Stella dan Luna.


“Hei tenanglah, kita ini sahabat, jangan menyalahkan dirimu sendiri Clara, lagipula kami juga sudah terbiasa mengalami hal itu setiap harinya sebelum kita bertiga bertemu.” Ucap Stella tersenyum.


“Itu benar, lagipula hidup itu tidak ada yang mudah. Oh iya, kita belum makan malam semuanya, ayolah Clara, masakkan makan malam seperti biasa apa kau tidak lapar?” Luna menepuk-nepuk bahu Clara untuk mencairkan suasana.


“Hah kalian ini selalu saja. Bantu aku cepat!” Clara berujar kesal, namun itu hanya gurauan saja.


“Sudah pasti kami akan membantumu, bukankah setiap hari kami selalu membantumu masak?” Ujar Stella menaik-naikkan alisnya untuk menggoda Clara.


“Khe, yang benar saja. Kalian tidak pernah membantuku pagi hari, bahkan aku harus kehabisan energiku setiap pagi hanya untuk membangunkan kalian.” Stella dan Luna menggaruk belakang kepala mereka yang tidak gatal.


“Maafkan kami tapi rasanya tidur itu lebih enak dari pada sekolah.” Ujar Stella dan Luna bersamaan.


“Ya sudalah sekarang kita masak, kita juga punya banyak tugas.” Clara memakai apronnya dan mulai memasak dibantu oleh kedua sahabat setianya itu. Mereka makan malam sembari bercanda seolah-olah melupakan tata krama dalam makan, lalu bersama-sama mengerjakan tugas, lalu membersihkan diri mereka dan tidur.


TBC