I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 17 : Annoyance



Clara, Stella, Luna, Raina dan Daisy menikmati makanan yang terhidang di meja makan tersebut. Makanan yang dibuat oleh Clara dengan bahan-bahan yang ia beli sebelumnya dari pasar.


‘Makanan ini enak sekali dan juga makanan ini setara dengan restoran-restoran besar yang selama ini pernah kami kunjungi.’ Ucap Raina dalam hatinya.


‘Dagingnya termarinasi dengan sangat baik.’ Batin Daisy. Daisy dan Raina saling menatap.


“Ini sangat enak.” Clara mendongakkan kepalanya dan menatap Daisy dan Raina yang memuji makanan itu.


“Kenapa? Apakah ini pertama kalinya kalian melihat makanan enak? Bukankah orang-orang berkelas seperti kalian sudah pernah memakan di restoran berkelas juga?” Tanya Clara.


“Iya, tapi sejauh ini makanan ini lebih enak lagi dibandingkan dengan yang pernah kami makan.” Ucap Raina.


“Benarkah? Baguslah kalau begitu, meskipun kami baru sekali pergi ke restoran, aku cukup hebat untuk menghasilkan sandwich yang setara dengan restoran, benar bukan?” Raina dan Daisy mengangguk setuju.


Mereka pun telah menyelesaikan makan mereka, lalu Clara mencuci piring bekas mereka makan sementara Stella dan yang lainnya menikmati minuman teh yang dihidangkan oleh Clara sebelumnya.


“Teh ini juga rasanya sangat enak. Clara berbakat sekali.” Ucap Stella.


“Kau terlalu melebih-lebihkan Stella, bukankah semua teh itu sama saja rasanya?” Clara yang telah selesai mencuci piringnya pun langsung ikut nimbrung bersama kedua sahabatnya itu.


“Aku tidak melebih-lebihkan Clara, kebanyakan teh itu rasanya seperti kebanyakan airnya dibandingkan tehnya.” Clara mendengus.


“Mungkin karena kualitas tehnya yang bagus, jadi pas minum rasanya juga menjadi enak.” Stella menggelengkan kepalanya.


“Kau ini suka sekali merendahkan dirimu sendiri, padahal kau sangat pandai sekali dalam membuat teh. Oh iya kalian berdua, datanglah kapan-kapan kemari ya, jangan sungkan.” Ucap Luna dijawab anggukan oleh Raina dan Daisy.


Raina dan Daisy tanpa sadar tersenyum dengan suasana yang diciptakan oleh ketiga sahabat ini. Mereka memandang sendu kepada ketiga orang dihadapan mereka, melihat ketiga sahabat itu tersenyum rasa bersalah mereka kembali bersarang di hati mereka.


“Clara, Stella, Luna, sekali lagi maafkan kami karena terlalu sering membully kalian.” Clara, Stella, dan Luna terdiam lalu berdecak.


“Kalian berdua ini, bukankah kami sudah memaafkan kalian? Kalian menyebalkan sekali, lagipula jika dipikir-pikir apa yang kalian lakukan itu masih lebih ringan dibandingkan apa yang kami alami selama ini.” Ucap Stella.


“Iya, santai saja, tidak perlu merasa bersalah terus seperti itu. Nanti kalian sendiri yang merasa tersiksa, kami juga akan merasa tidak enak jika itu terjadi.” Sambung Luna membuat Raina dan Daisy meneteskan air mata mereka. Mereka mengusap air mata mereka dan merasakan lega seolah-olah beban yang selama ini berada di bahu


mereka terangkat dan melayang begitu saja.


“Terima kasih, kalian memang sangat baik. Oh iya, terima kasih sekali makanannya, besok kami akan mencari pekerjaan lagi, doakan ya.” Ketiga gadis itu mengangguk.


“Hm, semangat.” Ucap ketiga gadis itu. Tiba-tiba, ponsel mereka berbunyi secara bersamaan membuat Raina dan Daisy menatap bingung.


“Sebentar ya, kami ingin melihat ponsel kami siapa tahu ada pesan penting didalamnya.” Ketiga gadis itu membuka ponsel mereka lalu melotot.


“Dasar pria, mereka tidak bisa kalau tidak mengganggu hanya karena memenangkan pertarungan.” Rutuk Clara.


“Apakah isi pesanmu sama dengan kami Clara?” Tanya Stella.


“Tentu saja, bukankah itulah perjanjian dalam pertaruhan yang dibuat oleh mereka? Sial!” Rutuk Clara.


“Sepertinya kalian bertiga sibuk sekali ya, kami berdua pulang dulu ya.” Raina memutuskan untuk membuka suara setelah melihat tingkah absurd ketiga sahabat itu.


“Iya, perlukah kami mengantar kalian berdua?” Raina dan Daisy menggeleng.


“Tidak usah, kami sudah banyak menyusahkan kalian, orang tua kami pasti akan mencari nanti karena kami terlalu lama berkeliaran. Permisi.” Raina dan Daisy berjalan menuju pintu depan diikuti ketiga sahabat itu.


“Baiklah, hati-hati di jalan ya.”


Duarrrr


Suara petir tiba-tiba terdengar membuat kelima orang itu terperanjat. Langit menjadi mendung lalu rintik-rintik hujan mulai turun.


“Kami sepertinya harus mengantar kalian. Kalian berdua masuklah terlebih dahulu, kami akan bersiap-siap.” Raina dan Daisy mau tidak mau menuruti ucapan Clara karena mereka pun tidak ingin jatuh sakit karena hujan.


Raina dan Daisy kini duduk di sofa sambil menunggu ketiga gadis cantik itu membersihkan diri.


Tak perlu waktu yang lama, mereka telah bersiap dengan setelan baju yang sangat simple juga memberikan kesan bahwa mereka itu badgirl.


“Rasanya malas sekali bawa mobil, Clara, kau yang bawa saja hari ini ya mobilnya.” Clara menatap malas kepada kedua sahabatnya itu.


“Cih curang sekali kalian. Kalian takut mobil kalian basah dan kotor juga malas membersihkannya makanya kalian menyuruhku untuk membawa mobil dan kalian tinggal menumpang begitu kan?Enak saja.” Clara melipat tangannya dan membuang wajahnya membuat kedua sahabatnya itu tertawa.


“Baiklah, aku akan mengantar kalian, tapi sebagai gantinya kalian harus mencuci mobilku, oke?”


“Tidak usah memasang tampang menjijikan seperti itu, jika tidak aku tinggal kalian.” Stella dan Luna


menghembuskan napas kasar.


“Baiklah.” Jawab mereka berdua lesu.


“Bagus. Jangan lupa menutup pintu, lalu kunci pintunya, aku akan ke garasi untuk mengambil mobil.” Clara menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya lalu membawanya ke depan rumahnya dan membunyikan klakson untuk memanggil kedua sahabatnya dan mungkin dua orang teman barunya.


Stella, Luna, Raina, dan Daisy pun masuk ke dalam mobil Clara dan mereka pun menancap gas meninggalkan rumah.


Mereka tiba di rumah Raina mengikuti arahan yang diberikan oleh Raina. Mereka terkejut ketika mendapati rumah itu tidak sebesar yang ia kira mengingat orang yang menempati rumah itu adalah seorang pembully yang selalu merasa kaya raya selama ini.


“Ini rumahmu?” Tanya Clara kepada Raina melalui spion yang ada di mobilnya.


“I-iya.” Clara mengangguk.


“Pantas saja orang tuamu bisa menyuruh kalian untuk berusaha sendiri untuk kembali sekolah dan mencari uang ya.” Clara menyeringai menatap kedua gadis itu yang menegang.


“M-maaf dan terima kasih atas tumpangannya, jika kalian ingin singgah ke rumahku, aku tidak masalah.” Ucap


Raina.


“Apakah tidak apa-apa? Kami juga harus mendatangi seseorang saat ini, akan sangat bahaya jika kami terlambat datang.” Ucap Clara tersenyum menahan geram.


“Baiklah kalau begitu, kami turun dulu, kapan-kapan mampirlah kemari.” Ucap Daisy.


“Kau tidak ingin kami antar juga ke rumahmu Daisy?” Tanya Stella yang duduk di sebelah Clara.


“Tidak, aku tadi datang ke rumah Raina dengan sepeda sebelum datang ke rumah kalian. Terima kasih atas tumpangannya dan sampai jumpa.” Clara, Stella, dan Luna mengangguk.


“Kami pergi dulu.” Ucap Luna dan dijawab anggukan oleh Raina dan Daisy. Mereka berdua melambaikan tangan kepada Clara, Stella, dan Luna lalu memandang mobil yang mulai menjauh dari mereka.


“Ayo kita masuk terlebih dahulu sebelum kamu pulang.” Daisy mengangguk dan mereka pun bergandengan tangan menuju ke rumah sederhana itu.


Kini di sebuah mansion mewah, sudah terdapat tiga orang pemuda yang sedang bermain game di rumah Felix. Ruang tamu disana sudah terlihat sangat berantakan layaknya kapal pecah.


“Astaga Felix! Kenapa ruang tamunya menjadi kapal pecah seperti ini?! Bukankah kalian akan kedatangan tamu nanti?! Kalian bertiga harus membereskan ruang tamu ini sekarang juga!” Seorang wanita yang memiliki wajah cantik dengan rupa yang mirip dengan Felix itu memandangi mereka dengan sangat tajam melihat ruang tamu yang sangat berantakan itu.


“Tidak apa-apa ma, justru kedatangan tamu itulah yang akan meringankan pekerjaan kami. Mereka sudah berjanji akan menjadi pelayan kami karena kalah taruhan semalam.” Wanita paruh baya itu pun menghela napas.


“Tidak bisa! Bereskan sekarang atau mama ledakkan seluruh peralatan gamemu, juga, mama akan menyita kartu kredit, mobil dan semua benda-benda kesayanganmu. Mulai besok kamu ke sekolah naik bus!” Bulu kuduk Felix berdiri mendengar ancaman sang ibu.


“Baiklah.” Ucap Felix lesu dan hal itu dijadikan bahan tertawaan oleh kedua sahabat Felix.


“Kalian berdua! Jangan tertawa, bantu Felix membersihkan ruangan ini sebelum tante usir kalian dari rumah ini.” Vincent dan Marcello menghentikan tawa mereka lalu ikut membersihkan ruang tamu itu.


Suara bel rumah berbunyi menandakan tamu yang dimaksud oleh Felix sudah datang.


“Tamunya sudah datang dan mama akan membukakan pintu, ingat, kalian sendiri yang harus membersihkan ruangan tamu ini. Jangan melibatkan para tamu karena tamu itu harus dihormati bukan dijadikan pelayan.” Felix menghela napas.


‘Kalau begitu, apa gunanya aku memanggil mereka?’ Ucap Felix dalam hatinya.


“Ini semua karena kalian. Kalian yang membuat ruangan ini berantakan kenapa aku harus ikut membersihkan


juga?” Rutuk Marcello.


“Itu karena kau adalah sahabat kami. Kau tidak pernah mendengar pepatah? ”Susah maupun senang, kita harus melaluinya bersama-sama, lalu jika satu orang membuat kesalahan, maka semuanya akan menerima hukumannya” Kau mengerti Marcello?” Marcello mendengus.


“Seketika aku merasa menyesal bersahabatan dengan kalian.” Bisik Marcello.


“Kami mendengarmu Marcello, bantulah kami maka semuanya akan cepat selesai. Jika tidak, maka selamat tinggal kepada dunia ini.” Marcello yang mendengar itu pun bergidik.


“Selamat datang.” Wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Felix itu terkejut mendapati penampilan tiga orang gadis yang amat begitu cantik dan bersinar dalam balutan pakaian simpel mereka tersebut.


“Kalian bertiga tamunya?” Tanya wanita itu.


TBC


Woah cukup lama juga nih aku gk update cerita, apakah masih ada yang menunggu? Kalau ada, cerita ini akan tetap saya lanjutkan lho kalau gk? Ya tetep lanjut, maaf ya saya updatenya lama soalnya ada kesibukan selama beberapa hari ini. Terima kasih sekali lagi bagi yang sudah baca, jujur aja saya merasa gk enak kepada para pembaca karena cerita saya ini masih banyak kekurangannya dan belum tahu kapan akan saya revisi, tapi saya usahakan akan tetap menghibur para pembaca dengan cerita-cerita saya yang baru nanti. See you in the next chapter guys.