I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Prologue



*Clara kecil terbangun dari tidur dan membuka pintu kamarnya untuk mengetahui yang sedang terjadi. Kegaduhan yang luar biasa keras, dengan teriakkan yang terdengar membuatnya penasaran dan ketakutan untuk membenarkan dugaan-dugaan yang ada di kepalanya. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit dan membolakan matanya. Ia menutup pintu kamarnya perlahan dan bersembunyi di bawah kasur, menutup telinga dan matanya untuk menyalurkan rasa takut. Tubuhnya gemetar hebat, air mata mengalir deras dari mata onixnya dan berusaha menyingkirkan kejadian mengerikan yang ada di kepalanya.


*Clara menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan rasa takut. Kejadian yang ia lihat tadi, melintas tanpa henti dalam otaknya. Kepalanya terasa berat, dadanya terasa sesak, hingga ia kehilangan kesadarannya. Ia sekilas merasakan tubuhnya melayang di bawa oleh seseorang. Ia tidak tahu siapa yang membawanya namun, matanya terlalu berat untuk dipaksakan terbuka.**


Di mansion mewah....


Dua orang perempuan berbeda usia itu terkejut ketika pintu utama terbuka secara tidak elitnya. Sosok yang amat dikenali muncul di hadapan mereka dengan senyuman yang mengerikan.


"Clara???" ujar mereka kaget.


"Masih ingat rupanya... senang bertemu dengan kalian di rumah ini." Merasakan tidak nyaman, mereka mundur perlahan saat Clara mendekat perlahan, dengan tangan tersembunyi di belakang tubuhnya.


"Calista dan Bibi Risa, kenapa wajah kalian seperti itu? Kalian terlihat seperti tertangkap basah setelah mencuri benda milik orang lain. Biasanya, kalian akan menatapku dengan dagu terangkat dan menatap remeh diriku ini. Jika ada cermin di hadapan kalian, kupastikan wajah kalian akan sangat aneh sekali." Clara tertawa setelah mengatakan itu.


"Ma-mau apa kau?" tanya Risa gugup.


"Mauku? Tidak ada... aku hanya ingin bilang saja jika aku pernah menjanjikan sesuatu pada kepala rumah tangga kalian." 


"A-apa maksudmu?" Kini giliran Calista yang bertanya. Mereka menatap waspada dengan gerak-gerik Clara.


Mereka membelalak melihat pistol di genggaman Clara. Mereka yakin, satu peluru saja mampu menghilangkan nyawa mereka.


"Ka-kau mau apa Clara?" tanya Risa.


"Aku menjanjikan pada tua bangka itu untuk menumbalkan nyawa kalian atas dendamku padanya. Aku yakin dia tidak keberatan karena kalian tidak berarti apa-apa baginya. Apalagi, putri bodohmu ini telah menghancurkan perusahaannya." Calista mengepalkan tangannya.


"Itu karena kau yang menyuruhku menangani perusahaan ayahku, Clara!!! Kau mengancamku menggunakan Felix agar aku mau mengelola perusahaan ayahku!!! Kaulah yang menghancurkan perusahaan ayahku, Clara... bukan aku!!!" Clara menutup telinganya mendengar bentakan Calista.


"Hah, mendengar suaramu membuatku muak, Nona. Pergilah kalian ke neraka!" Clara menekan pelatuk pistolnya dan....


Dor... Dor....


Di ruang Interogasi....


"Kuakui kau memang hebat Felix, pangkatmu sangat sesuai dengan permainanmu," Felix mengernyitkan dahinya. Ia masih menunggu Clara melanjutkan ucapannya.


Clara terkekeh melihat ekspresi Felix.


"Kau meletakkan alat pelacak di dalam batu emerald ini agar bisa mengawasiku kapanpun dan di manapun kau mau. Kau bahkan mengawasiku saat berkencan dengan kekasihmu. Aku ingin bertanya, kenapa kau memanggil anak buahmu, di saat kau sendiri bisa menangkapku saat itu?" Felix tidak menjawab.


"Ah, biar kutebak, kau takut kekasihmu tahu mengenai jati dirimu? Hahaha lucu sekali, jika aku mau, aku bisa saja bilang padanya. Lalu setelahnya, dia akan mati. Dan kita... kita akan hidup bahagia selamanya...." Clara menyeringai melihat ekspresi Felix yang menahan emosi.


"Berhenti bicara omong kosong, Clara... tujuanku kemari bukan untuk mendengarmu berceloteh. Aku ingin bertanya padamu," ujar Felix datar.


"Bertanya? Perlukah kau bertanya, di saat kau mengetahui jawabannya?" Clara menyilangkan kakinya.


"Kau?!" Felix mulai emosi, sementara Clara mengedikkan bahunya.


"Kau naif Felix, kau pikir semuanya bisa diubah dengan hukum dan keadilan? Di manakah kalian dan para polisi sialan itu saat aku membutuhkan mereka? Di mana?!!!" Clara mulai berteriak di kata terakhir.


"Kau harusnya tahu Felix, BIN sudah dibeli oleh pamanku. Kau hanyalah budak yang harus menurutinya dan menutupi kejahatannya. Kau hanyalah sebuah alat untuk menangkapku dan menyerahkan nyawaku pada pria bejat seperti pamanku itu, kau paham?" Felix menggebrak meja menahan emosi hingga meja itu retak.


"Bisakah kau diam dan menjawab pertanyaanku saja?" Suara Felix mulai memberat menandakan emosinya yang naik.


"Selagi pertanyaan penting, aku akan menjawab. Jika tidak, mati saja kalian semua." Clara berbicara sambil mengibas tangan kirinya.


"Apa dengan membunuh mereka hatimu membaik?" Clara mendecih.


"Tentu saja. Jika saja anak buahmu tidak datang, aku pasti merasa lega meski harus mendekam di penjara," ujar Clara santai dijawab geraman dari Felix.


"Psikopat...," lirih Felix.


"Hei, telingaku ini tajam, aku bisa mendengarmu mengumpat. Pamanku juga seorang psikopat, kenapa kau tidak memberi title itu juga padanya?" tanya Clara sambil mengorek-ngorek telinganya.


"Itu karena kau membunuh banyak orang tidak berdosa atas ambisimu itu. Tidakkah kau merasa bersalah?" Clara menyentil kotoran telinganya dan kembali menatap Felix.


"Apa hanya aku yang membunuh orang tidak berdosa? Sayang sekali pembunuhan yang dilakukan tua bangka itu tidak terbongkar." Felix mengernyit bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Felix.


"Entahlah, selidikilah sendiri. Aku tidak ingin memberitahukannya. Satu lagi, jangan lengah Felix." Felix menatap curiga pada Clara.


"Cincin lamaranmu, sudah dimodifikasi sebelum aku datang ke rumah tua bangka itu. Beruntungnya, aku punya teman yang pintar dan berguna untukku." Clara melepaskan batu emerald cincinnya membuat Felix menatap curiga. Ia memasang sikap waspada terhadap Clara.


"Kenapa kau menatapku? Apa kau ingin tahu, apa saja yang bisa batu emerald ini lakukan?" Felix meneguk salivanya berat.


"Akan kutunjukkan, asal kau tidak menyesal." Clara meletakkan batu emerald dan kalungnya di atas lilin aromaterapi hingga muncul percikan api. Felix mematung dengan pemandangan di hadapannya.


'Gawat,' batinnya.


"Jika kau berpikir aku datang tanpa persiapan maka, kau salah. Aku sudah memperkirakan rencanamu sejak dulu. Sampai jumpa di neraka, Felix." Clara melambaikan tangannya dan menyeringai. Percikan api mulai membesar dan melahap apa saja yang ada di hadapannya.


Duarrrr....


Ledakan terdengar dalam ruang interogasi hingga membuat panik seluruh isi kantor BIN. Kemungkinan selamat sangatlah kecil untuk dua orang yang berada di ruang interogasi tersebut. Semua orang berlalu lalang mencoba kabur dan menghubungi pemadam kebakaran agar api tersebut dipadamkan.


TBC


Halo guys, saya penulis pemula yang mempublikasikan cerita perdana saya. Cerita ini masih banyak kekurangannya, untuk itu, komen kalian semua sangat saya perlukan untuk mengembangkan cerita ini menjadi lebih baik. Cerita ini akan cukup panjang dan perlu waktu lama untuk dilanjutkan. Untuk itu, komen para readers sangat diperlukan agar saya bisa belajar dari kesalahan saya. Semoga kalian diberikan kesehatan di manapun kalian berada, saya pamit undur diri. See you in the next chapter guys! Lov u all...