
Daisy dan Raina kini sedang berada di rumah Claire. Mereka mengetuk pintu mansion Claire dan pintu pun terbuka menampakkan Claire yang menguap dengan surainya yang berantakan.
“Hoammm, ada apa kalian berada disini?” Tanya Claire.
“Kami ingin berkunjung di rumahmu, apakah tidak boleh?” Claire mengibas-ngibaskan tangannya.
“Maaf saja kalian sangat mengganggu sekali. Kudengar kalian berdua dikeluarkan dari sekolah, sepertinya kalian memang tidak berguna sama sekali.” Kedua gadis itu pun terperanjat mendengar ucapan Claire.
“A-apa maksudmu Claire? Kenapa kau berkata seperti itu?” Tanya Raina.
“Aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi. Lagipula, aku hanya memanfaatkan kalian untuk menghancurkan saudara kembarku tapi kita tidak pernah berhasil, bukankah itu menandakan kalian sangat tidak berguna?” Ujar Claire sombong.
“Apa?! Kurang ajar kau Claire, ternyata benar yang dikatakan oleh Clara, selama ini kau hanya memperalat kami untuk menghancurkan saudara kembarmu sendiri dan tidak pernah sama sekali kau menganggap kami ini sahabat baikmu?!” Bentak aisy.
“Sahabat? Apa itu sahabat? Apakah bisa dimakan? Hello teman-teman, di dunia ini tidak ada persahabatan, aku benci terikat dengan kalian yang hanya bisa meminta barang bagus dan mahal kepadaku tapi kalian tidak bisa sedikitpun membalas budiku. Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini sebelum aku memanggil satpam untuk
mengusir kalian dengan kasar.” Claire masuk kedalam rumah meninggalkan Raina
yang terus memanggil Claire.
“Claire! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Ini semua salahmu! Salahmu karena kau telah membuat kami dikeluarkan dari sekolah! Kau hanya beruntung karena orang tuamuadalah orang kaya dan investor karena itu kau hanya di skors selama seminggu! Kau pasti akan menyesal jika ayah dan ibumu mengetahui yang sebenarnya! Kita pergi dari sini Daisy.” Daisy menepuk-nepuk bahu Raina untuk menenangkan Raina dari emosinya.
“Hiks, aku menyesal karena pernah mengikuti kemauan Claire untuk membully hanya demi benda-benda tidak berguna ini. Sebaiknya kita buang saja benda-benda mahal ini karena aku tidak ingin terikat hutang budi kepadanya lagi.” Raina dengan kesal membuang seluruh perhiasan yang ia pakai di tubuhnya dan membuangnya ke jalan dekat mansion Claire diikuti oleh Daisy. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan rumah Claire dengan perasaan sesal, sedih, marah bercampur menjadi satu.
“Sudah-sudah, setidaknya kita harus menjadikan ini pelajaran untuk tidak berbuat jahat lagi kepada orang-orang. Kita sudah mendapatkan balasannya, kita harus berusaha memperbaiki kesalahan kita dan meminta maaf kepada orang-orang yang telah kita sakiti.” Daisy berucap sambil menenangkan Raina yang menangis.
“Terima kasih Daisy, tapi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Raina.
“Kita harus mencari tahu tempat tinggal Clara, Stella, dan Luna agar bisa meminta maaf.” Jawab Daisy.
“Rasanya aku tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengan mereka.” Raina menunduk.
“Jangan bilang begitu Raina. Oh iya, bagaimana kalau kita sarapan dulu. Kita belum sarapan sejak datang ke rumah nenek sihir itu kan?” Raina mendongak menatap Daisy kemudian mengangguk.
“Tersenyumlah, kita harus tetap bersemangat untuk melanjutkan kegiatan kita meskipun sudah dikeluarkan dari sekolah. Kita harus mencari pekerjaan terlebih dahulu dan tahun depan kita harus mengulang kembali untuk sekolah mengingat orang tua kita tidak ingin melakukannya agar kita menyadari kesalahan kita.” Raina kembali mengangguk dan wajahnya sudah kembali ceria.
Mereka pun berjalan menuju ke kafe yang tidak terlalu mahal dan memilih menu-menu sederhana yang sangat mereka sukai.
“Oh iya, kalau diingat kembali kita tidak pernah bisa makan sesuai apa yang kita inginkan selama berteman dengan Claire. Kita harus menurutinya setiap saat dan memakan makanan mahal yang sangat tidak enak itu.” Daisy memasang wajah seperti ingin mual dan itu terlihat menghibur di mata Raina.
“Kau lucu sekali. Kau benar juga, kita sudah terjerumus karena keserakahan kita sendiri, sebaiknya untuk kali ini kita tidak boleh berteman dengan orang sembarangan lagi.” Daisy mengangguk.
“Setidaknya kau tidak sedih lagi sekarang.”
Sementara itu, di apartemen Stella kini mereka sedang bersiap-siap dengan seragam sekolah mereka.
Ting Tong
Suara bel rumah berbunyi dan Stella pun buru-buru keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan tamu yang tak diundang itu.
“Iya, ada apa?” Tanya Stella kepada seorang pria yang berusia 20 tahun lebih itu membawa sebuah paket.
“Saya diminta untuk mengirimkan paket ini ke rumah anda dari perusahaan S.T Corps.” Stella menerima paket tersebut.
“Tapi setahu saya, saya tidak meminta mereka membawakan apapun kesini.” Jawab Stella.
“Anda tidak salah alamat kan?” Pria itu menggeleng.
“Tidak, justru tuan presdir meminta saya untuk mengirimkan ini kepada anda, katanya ini adalah produk teh yang telah jadi.”
“Benarkah? Baiklah kalau begitu terima kasih.”
“Tolong tandatangani ini dulu nona, sebagai bukti anda sudah menerima paket hari ini.” Stella mengangguk dan menandatangani kertas tersebut.
“Saya permisi dulu nona.”
“Iya, hati-hati.” Stella menutup pintunya dan pengirim itu pun telah pergi.
“Siapa Stella?” Tanya Clara.
“Pamanku mengirimkan produk teh dari perusahaan kemari, aku tidak mengerti apa tujuannya.”
“Kalau begitu kita buka saja, siapa tahu saja ada surat disana.” Stella mengangguk dan mereka bertiga membuka paket yang cukup besar tersebut dan berisi berbagai macam merek teh yang terbungkus dalam satu kotak persegi panjang.
“Wow, pamanmu baik sekali mengirim teh sebanyak ini Stella? Bahkan teh ini cukup selama satu tahun.” Ujar Luna.
“Itu jika kita tidak boros dalam memakainya.” Sambung Clara. Stella menemukan surat didalam kotak tersebut dan membacanya.
Stella, paman dengar ada kehebohan di sekolah dari Ibu Anna. Ketiga orang yang sering membully kalian salah satunya di skors dan dua orang lainnya dikeluarkan. Jadi, untuk merayakan kebebasan kalian di sekolah mulai hari ini, paman memberikan produk teh yang sudah jadi dari perusahaan untuk kalian. Oh iya, cepat-cepatlah lulus dari
“Cih, dasar bujang tua, padahal kau tidak mempunyai istri dan anak sama sekali tapi ingin cepat-cepat pensiun.” Clara dan Luna saling menatap satu sama lain mendengar celoteh dari Stella.
“Baiklah teman-teman, sebaiknya kita susun dulu semua teh ini di lemari lalu kita sarapan di luar hari ini.” Ujar Clara.
“Eh, tumben sekali.” Ujar Luna.
“Hari ini aku sedang malas masak, sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum terlambat.” Stella dan Luna mengangguk. mereka keluar dari rumah dan berangkat menggunakan mobil sport mereka hari ini. Akhirnya, mereka telah memutuskan untuk mengubah penampilan mereka karena berpura-pura cupu itu sangatlah melelahkan. Menjadi diri sendiri adalah jalan yang terbaik untuk menikmati masa-masa sekolah.
Setibanya di sekolah, seluruh siswa-siswi pun menjadi heboh di karenakan 3 mobil sport yang berbeda warna dan hampir tidak pernah terlihat di sekolah itu terparkir dengan sempurna berderetan.
Tiga orang gadis cantik dengan penampilan badgirl itu keluar dari dalam mobil membuat para pemuda membuka mulut mereka dan bahkan ada yang mimisan berkat penampilan mereka bertiga yang sungguh seksi di mata mereka. Clara, Stella, dan Luna menatap heran kepada para murid yang menatap mereka seperti singa yang sedang kelaparan.
“Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menatap kita seperti itu? Hah, terkadang aku ingin kembali lagi menjadi cupu dimana tidak ada kehebohan seperti ini.” Ujar Clara.
“Sungguh, aku lebih suka memakai seragam yang longgar dibandingkan seragam yang seperti ini.” Ujar Stella. Semalam, mereka baru saja membeli seragam baru yang cukup pas di tubuh mereka meskipun tidak terlalu ketat.
“Kita jadi pusat perhatian dengan penampilan apapun. Sudahlah teman-teman, kita nikmati saja, jika ada yang mendekat, cukup hajar saja mereka.” Clara dan Stella mengangguk mendengar ucapan Luna.
“Siapa mereka? Mereka cantik sekali.” Ujar para pemuda.
“Tubuh mereka seperti model.” Ujar pemuda yang lainnya.
“Apakah mereka murid baru?” Tanya pemuda yang lainnya.
“Cih, mereka hanya menang bentuk tubuh saja, padahal tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.” Ujar seorang gadis dengan wajah menor karena make up berlebihan.
“Menang bentuk tubuh? Ayolah kalian para wanita, tidak lihatkan wajah mereka yang natural itu? Kalian bahkan tidak sebanding dengannya.” Ujar seseorang yang membuat para gadis terkejut dan terserang gugup karena Marcello tiba-tiba berdiri dibelakang mereka dengan death smilenya yang berhasil membuat para gadis itu meleleh.
“Oh Marcello sayang, kau tampan sekali, jadilah kekasihku.” Ujar seorang gadis yang merupakan penggemar Marcello. Marcello menghilangkan senyumannya lalu menatap datar kepada sang gadis.
“Terima kasih nona, tapi sayang sekali aku tidak tertarik karena aku sudah mempunyai kekasih.” Marcello berjalan mendekati ketiga gadis cantik itu. Ia menggandeng salah satunya yang bernama Luna.
“Dia kekasihku yang bernama Luna.” Semua orang terkejut dan suasana sekolah pun menjadi semakin heboh.
“EEEEEEHHHHHH?!!!!!!!!!!” Teriak para pelajar yang mengisi keramaian di SMA Bunga Bangsa(nama sekolahnya
ngarang).
“Apakah mereka bertiga itu Clara, Stella, dan Luna? Gadis yang terkenal cupu dan kutu buku itu?!” Tanya seorang gadis yang tadi menyatakan perasaannya kepada Marcello.
“Wah, jadi selama ini mereka hanya berpura-pura menjadi gadis cupu? Apa tujuan mereka yang sebenarnya? Apakah hanya demi kasih sayang untuk guru?” Tanya gadis yang lain.
“Aku tidak tahu, tapi yang pasti mereka sudah menipu kita semuanya.”
“Ekhem, bagi siapapun yang berbicara seenaknya saja kepada kekasihku ini, maka jangan salahkan aku kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini.” Ancaman Marcello membuat semua orang takut.
“Bukankah lebih baik kalian bubar saja dan masuk ke kelas kalian masing-masing dari pada mengurus hal-hal yang tidak penting?” Semua orang yang mendengar itu pun berteriak dan masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
“Apa-apaan kau ini tuan? Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai kekasihku? Kau membuat suasana menjadi semakin runyam karenamu.” Marcello menanggapi ocehan Luna dengan senyuman mautnya.
“Iya itu benar Marcello, kau benar-benar membuat suasana sekolah ini menjadi semakin panas karena ulahmu.” Ujar Felix.
“Ayolah, kalian berdua, kalian berdua hanya iri saja karena kami sudah berciu-“ Sebelum menyelesaikan ucapannya, Luna dengan cepat langsung menutup mulut Marcello.
“Hehehe jangan didengarkan teman-teman, dia ini memang suka mengada-ngada. Sebaiknya kita ke kelas sekarang juga dan kau!” Luna menatap Marcello tajam.
“Sebaiknya jangan banyak bicara atau kupastikan hari ini menjadi hari terakhir kau hidup.” Marcello mengangguk dengan posisi mulutnya yang dibekap oleh Luna.
Luna menyingkirkan tangannya dari mulut Marcello.
“Luna, ancamanmu menjadi mengerikan. Apakah kau tertular dari Clara?” Tanya Stella.
“Cih, sembarangan kau berbicara.” Clara menjitak kepala Stella hingga membuat Stella kesakitan.
“Aww, sakit tahu! Kau ini menyebalkan.” Stella mengusap kepala cantiknya yang terkena jitakan sayang dari Clara.
“Oh iya, mengenai ucapan tuan Marcello yang terpotong tadi, kau berhutang penjelasan kepada kami. Ayo kita masuk ke kelas sekarang juga.” Keenam orang berbeda gender itu pun masuk ke kelas mereka masing-masing.
Clara bisa melihat tatapan orang-orang yang berbagai macam kepadanya. Ada yang berbinar, ada yang tajam dan lain sebagainya namun Clara mengabaikannya dan tidak mempedulikannya. Ia duduk di tempat duduknya dan tidak memusingkan situasi yang aneh didalam kelas.
“Semoga saja dengan penampilan baruku ini, mereka tidak macam-macam.”
TBC
Halo semuanya, saya kembali dengan chapter terbaru, maaf untuk typonya dan ini adalah kesekian kalinya saya mengubah beberapa tulisan saya di chapter sebelumnya dan terima kasih yang sudah membaca cerita ini. Apakah masih ada yang menunggu? Jika ada, cerita ini saya akan lanjut, namun jika tidak, saya tidak akan melanjutkannya dan akan langsung melaunching cerita baru. Hehehe, bercanda, tenang saja ada yang menunggu ataupun tidak, saya akan tetap lanjut. Rencananya kalau cerita ini sudah selesai, saya akan launching cerita saya yang kedua, berjudul Accept My Revenge. So stay tune everyone, I hope you can give me a comment that will make me getting any spirits to continue this story so as fast as I can, I'm gonna launch my new story for you guys.