
Satu jam sudah berlalu, Clara, Luna, dan Stella berjemur di
lapangan upacara. Berdiri selama satu jam membuat kaki mereka terasa ngilu dan
yang mereka hanya bisa lakukan menghela napas lelah.
Jam istirahat masih lama dan mereka pun bertingkah seperti
cacing kepanasan akibat panas matahari dan kaki mereka yang terasa sakit.
“Cih, jam istirahat lama sekali membuatku kesal. Mereka harus
merasakan apa yang kita rasakan.” Ucap Stella.
“Tenang saja, rencana ini pastinya akan berhasil. Kita akan
melihat wajah malu mereka. Sebaiknya kita ke kantin terlebih dahulu sebelum
gadis-gadis sok cantik itu.” Ucap Luna.
“Iya itu benar, dan aku juga ingin melihat harga diri Claire,
saudara kembarku yang tercinta itu jatuh harga dirinya.” Clara menyeringai
membuat Stella dan Luna bergidik.
Jam istirahat pun tiba, Clara, Luna, dan juga Stella akhirnya
bisa menghembuskan napas lega karena masa hukuman mereka pun berakhir. Mereka
pun langsung berjalan menuju ke kantin dan alangkah beruntungnya mereka ketiga
gadis yang mereka bicarakan tadi belum ada sama sekali. Mereka pun memutuskan
untuk duduk secara terpisah agar bisa menjalankan rencana mereka.
Lalu, beberapa menit kemudian, ketiga gadis yang mereka
bicarakan tadi pun muncul.
“Sepertinya perasaanku tidak enak sekali hari ini Claire.”
Ucap seorang gadis bersurai biru langit.
“Berpikirlah positif seperti biasa Daisy, tidak akan ada yang
berani mencari masalah kepada kita. Tenang saja.” Ujar Claire santai.
“Claire benar Daisy, kau tidak perlu takut, mereka pasti ciut
melihat kita.” Sambung Raina.
“Baiklah, sebaiknya kita memesan makanan sekarang juga.”
Raina dan Daisy mengangguk mengikuti Claire menuju ke penjual makanan.
Setelah siap, Claire, Raina dan Daisy membawa makanan mereka
ke tempat terpisah sedangkan Clara, Luna, dan Stella bertingkah seolah tidak
menyadari kehadiran ketiga gadis cantik tersebut.
Mereka masing-masing bermaksud untuk menumpahkan jus mereka
di atas kepala Clara, Luna, dan Stella.
Ketika Claire, Raina, dan Daisy berada di samping Clara,
Luna, dan Stella, mereka pun tersandung kaki Clara, Luna, dan juga Stella, lalu
dengan cepat mereka bertiga bergeser di kursi sebelah dengan mudah mengingat
kursi tersebut terhubung menjadi satu.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun menahan tawa
mereka sementara ketiga pangeran yang dikelilingi oleh para gadis pun menyeringai
tanpa disadari melihat aksi ketiga gadis culun tersebut.
‘Menarik.’ Batin ketiganya.
“Sial!” Rutuk Raina.
“Heh, kau sengaja hah?!” Claire menarik kerah seragam Clara
dan menatap tajam mata biru laut tersebut.
“Apa maksudmu?” Tanya Clara berpura-pura bingung.
“Kau sengaja membuatku jatuh, bukan?!” Bentak Claire.
“Kau terjatuh karena perbuatanmu sendiri tapi kau
menyalahkanku? Dasar murahan.” Claire mendelikkan matanya ke arah Clara, saudara
kembarnya itu.
“Kupastikan kau tidak berkutik jika kuadukan kepada orang
tuaku dan kupastikan kau tidak akan bisa merasakan rasanya bagaimana sekolah.”
Clara hanya mengedikkan bahunya dan hal itu semakin membuat Claire merasa
kesal.
“Kau pikir mereka bisa melakukan itu?” Clara mendekat ke
telinga Claire.
“Mereka tidak akan peduli, kau tahu? Dan itu akan membuatku
semakin bebas melakukan apapun termasuk membuat harga dirimu jatuh di depan
mereka semua.” Clara menyeringai setelah melihat ekspresi Claire yang menahan
emosinya tersebut.
“Awwwww.... astaga kalian mempunyai tangan hanya untuk
menarik rambut orang? Sepertinya tangan kalian sama sekali tidak berharga untuk
menjadi anggota tubuh kalian.” Ucap Luna berpura-pura kesakitan.
“Berani sekali kau menyandung kakiku dan berpura-pura polos,
hah? Tunggu sampai mereka semua tahu keteladanan kalian itu hanyalah untuk
menarik perhatian para guru supaya guru menyayangi kalian.” Ucap Reina.
“Ckckckck, bukankah yang seperti itu kalian? Menarik
berpura-pura bertingkah baik seperti menolong guru untuk membawa tumpukan buku
ke ruang buku namun diam-diam kalian menyuruh siswa siswi culun untuk membawa
tumpukan buku itu dan ketika sampai ke ruang guru barulah kalian mengambil buku
tersebut layaknya murid yang baik. Benar-benar ciri khas seorang gadis murahan
sekali.” Luna sengaja berbicara dengan keras, membuka semua sifat jelek yang
dimiliki oleh ketiga gadis yang terkenal dengan kecantikannya tersebut.
“Ahhhh...” Teriakan Daisy membuat Clara, Luna, Claire, dan
juga Raina menoleh ke sumber suara.
“Ups tanganku licin, maaf ya.” Suatu hal yang biasanya
dilakukan oleh Claire, Reina, dan juga Daisy terhadap ketiga gadis culun itu
pun kini berbalik kepada mereka sendiri. Hal itulah yang disebut dengan karma.
“Kurang ajar!!!!”
Plakkk
Suara tamparan menggema dan wajah Stella mengarah ke sebelah
dengan bekas telapak tangan yang tertinggal di wajahnya.
“Hentikan!” Suara baritone terdengar tegas membuat semua
orang menoleh ke arah seorang pemuda dingin yang bernama Felix. Kedua pemuda
yang merupakan sahabatnya itu tersenyum tipis.
“Wah, kau lihat itu? Marcello sangat tampan sekali ketika tersenyum.
Tidak heran dia dijuluki ‘death smile’.” Ucap seorang gadis dengan kedua
matanya yang berubah menjadi sebuah hati.
“Iya, bahkan yang lebih mengejutkannya lagi, Vincent
tersenyum. Meskipun tipis sekali tapi aku menyukainya.” Ucapan itu terdengar
menjijikan membuat Vincent memutar bola matanya bosan.
Claire mendekati Felix dan melingkarkan tangannya di lengan
Felix.
“Felix, lihatlah Clara telah membuatku malu, dia sengaja membuatku
tersandung dan terjatuh.” Claire menggosok kepalanya di lengan Felix sementara
Felix hanya menatap datar kepada Claire. Clara hanya memutar bola matanya bosan
dan orang-orang menatap jijik kepada Claire.
“Lepaskan.” Felix menyentak lengannya membuat Claire terlepas
dan kembali terjungkal membuat orang-orang tertawa lepas.
“Ikut aku.” Felix menarik lengan Clara dan membawanya pergi
dari kantin. Tidak akan ada yang menyangka Felix akan menggenggam tangan
seorang gadis terlebih gadis yang berpenampilan tidak menarik sama sekali.
“Sepertinya kita harus membawa teman gadis itu juga, hm?”
Vincent melirik ke arah Marcello lalu menatap ke arah kedua gadis culun yang menatap
heran ke arah pintu luar kantin.
“Sebaiknya kita susul Clara. Kita tidak akan tahu apa yang
akan diperbuat oleh laki-laki itu.” Luna dan Stella hendak menyusul Clara,
namun tangan mereka digenggam oleh Marcello dan juga Vincent.
“Kalian sebaiknya ikut kami saja. Penampilan kalian
berantakan sekali. Wajahmu juga perlu diobati.” Vincent menarik tangan Stella
dan membawanya ke UKS.
“Kau juga ikut saja denganku nona, kau perlu merapikan
rambutmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Marcello dengan senyuman mautnya
itu membuat Luna kagum.
“Aku bisa merapikan rambutku di kelas, tidak perlu membawaku pergi
kemanapun.” Marcello menggelengkan kepalanya.
“Tidak boleh, sentuhan dari gadis murahan itu harus
dihilangkan dengan creambath.” Ketiga gadis yang dipermalukan itu pun merasakan
hati mereka retak ketika pemuda yang mereka sukai pergi dengan gadis lain,
terlebih dengan gadis yang amat mereka benci keberadaaannya. Mereka menatap
nanar ke arah Marcello dan Luna yang terakhir keluar dari kantin setelah
Vincente, Stella, Clara, dan Felix.
“Tidak akan kubiarkan, mereka tidak boleh merebut pangeran
kita.” Reina dan Daisy mengangguk pasti kepada Claire.
“Itu benar, mereka tidak boleh dibiarkan, kita harus menyusun
strategi agar mereka tidak bisa mendekati pangeran kita. Sial, kita harus
mengganti seragam kita. Kita harus pulang ke rumah sekarang juga.” Ucap Claire
yang dijawab anggukan oleh Reina dan Daisy.
Mereka pun pergi dari kantin meninggalkan para siswa dan juga
siswi yang masih meneruskan acara makan mereka.
TBC