I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 3 : Plan



Satu jam sudah berlalu, Clara, Luna, dan Stella berjemur di


lapangan upacara. Berdiri selama satu jam membuat kaki mereka terasa ngilu dan


yang mereka hanya bisa lakukan menghela napas lelah.


Jam istirahat masih lama dan mereka pun bertingkah seperti


cacing kepanasan akibat panas matahari dan kaki mereka yang terasa sakit.


“Cih, jam istirahat lama sekali membuatku kesal. Mereka harus


merasakan apa yang kita rasakan.” Ucap Stella.


“Tenang saja, rencana ini pastinya akan berhasil. Kita akan


melihat wajah malu mereka. Sebaiknya kita ke kantin terlebih dahulu sebelum


gadis-gadis sok cantik itu.” Ucap Luna.


“Iya itu benar, dan aku juga ingin melihat harga diri Claire,


saudara kembarku yang tercinta itu jatuh harga dirinya.” Clara menyeringai


membuat Stella dan Luna bergidik.


Jam istirahat pun tiba, Clara, Luna, dan juga Stella akhirnya


bisa menghembuskan napas lega karena masa hukuman mereka pun berakhir. Mereka


pun langsung berjalan menuju ke kantin dan alangkah beruntungnya mereka ketiga


gadis yang mereka bicarakan tadi belum ada sama sekali. Mereka pun memutuskan


untuk duduk secara terpisah agar bisa menjalankan rencana mereka.


Lalu, beberapa menit kemudian, ketiga gadis yang mereka


bicarakan tadi pun muncul.


“Sepertinya perasaanku tidak enak sekali hari ini Claire.”


Ucap seorang gadis bersurai biru langit.


“Berpikirlah positif seperti biasa Daisy, tidak akan ada yang


berani mencari masalah kepada kita. Tenang saja.” Ujar Claire santai.


“Claire benar Daisy, kau tidak perlu takut, mereka pasti ciut


melihat kita.” Sambung Raina.


“Baiklah, sebaiknya kita memesan makanan sekarang juga.”


Raina dan Daisy mengangguk mengikuti Claire menuju ke penjual makanan.


Setelah siap, Claire, Raina dan Daisy membawa makanan mereka


ke tempat terpisah sedangkan Clara, Luna, dan Stella bertingkah seolah tidak


menyadari kehadiran ketiga gadis cantik tersebut.


Mereka masing-masing bermaksud untuk menumpahkan jus mereka


di atas kepala Clara, Luna, dan Stella.


Ketika Claire, Raina, dan Daisy berada di samping Clara,


Luna, dan Stella, mereka pun tersandung kaki Clara, Luna, dan juga Stella, lalu


dengan cepat mereka bertiga bergeser di kursi sebelah dengan mudah mengingat


kursi tersebut terhubung menjadi satu.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun menahan tawa


mereka sementara ketiga pangeran yang dikelilingi oleh para gadis pun menyeringai


tanpa disadari melihat aksi ketiga gadis culun tersebut.


‘Menarik.’ Batin ketiganya.


“Sial!” Rutuk Raina.


“Heh, kau sengaja hah?!” Claire menarik kerah seragam Clara


dan menatap tajam mata biru laut tersebut.


“Apa maksudmu?” Tanya Clara berpura-pura bingung.


“Kau sengaja membuatku jatuh, bukan?!” Bentak Claire.


“Kau terjatuh karena perbuatanmu sendiri tapi kau


menyalahkanku? Dasar murahan.” Claire mendelikkan matanya ke arah Clara, saudara


kembarnya itu.


“Kupastikan kau tidak berkutik jika kuadukan kepada orang


tuaku dan kupastikan kau tidak akan bisa merasakan rasanya bagaimana sekolah.”


Clara hanya mengedikkan bahunya dan hal itu semakin membuat Claire merasa


kesal.


“Kau pikir mereka bisa melakukan itu?” Clara mendekat ke


telinga Claire.


“Mereka tidak akan peduli, kau tahu? Dan itu akan membuatku


semakin bebas melakukan apapun termasuk membuat harga dirimu jatuh di depan


mereka semua.” Clara menyeringai setelah melihat ekspresi Claire yang menahan


emosinya tersebut.


“Awwwww.... astaga kalian mempunyai tangan hanya untuk


menarik rambut orang? Sepertinya tangan kalian sama sekali tidak berharga untuk


menjadi anggota tubuh kalian.” Ucap Luna berpura-pura kesakitan.


“Berani sekali kau menyandung kakiku dan berpura-pura polos,


hah? Tunggu sampai mereka semua tahu keteladanan kalian itu hanyalah untuk


menarik perhatian para guru supaya guru menyayangi kalian.” Ucap Reina.


“Ckckckck, bukankah yang seperti itu kalian? Menarik


berpura-pura bertingkah baik seperti menolong guru untuk membawa tumpukan buku


ke ruang buku namun diam-diam kalian menyuruh siswa siswi culun untuk membawa


tumpukan buku itu dan ketika sampai ke ruang guru barulah kalian mengambil buku


tersebut layaknya murid yang baik. Benar-benar ciri khas seorang gadis murahan


sekali.” Luna sengaja berbicara dengan keras, membuka semua sifat jelek yang


dimiliki oleh ketiga gadis yang terkenal dengan kecantikannya tersebut.


“Ahhhh...” Teriakan Daisy membuat Clara, Luna, Claire, dan


juga Raina menoleh ke sumber suara.


“Ups tanganku licin, maaf ya.” Suatu hal yang biasanya


dilakukan oleh Claire, Reina, dan juga Daisy terhadap ketiga gadis culun itu


pun kini berbalik kepada mereka sendiri. Hal itulah yang disebut dengan karma.


“Kurang ajar!!!!”


Plakkk


Suara tamparan menggema dan wajah Stella mengarah ke sebelah


dengan bekas telapak tangan yang tertinggal di wajahnya.


“Hentikan!” Suara baritone terdengar tegas membuat semua


orang menoleh ke arah seorang pemuda dingin yang bernama Felix. Kedua pemuda


yang merupakan sahabatnya itu tersenyum tipis.


“Wah, kau lihat itu? Marcello sangat tampan sekali ketika tersenyum.


Tidak heran dia dijuluki ‘death smile’.” Ucap seorang gadis dengan kedua


matanya yang berubah menjadi sebuah hati.


“Iya, bahkan yang lebih mengejutkannya lagi, Vincent


tersenyum. Meskipun tipis sekali tapi aku menyukainya.” Ucapan itu terdengar


menjijikan membuat Vincent memutar bola matanya bosan.


Claire mendekati Felix dan melingkarkan tangannya di lengan


Felix.


“Felix, lihatlah Clara telah membuatku malu, dia sengaja membuatku


tersandung dan terjatuh.” Claire menggosok kepalanya di lengan Felix sementara


Felix hanya menatap datar kepada Claire. Clara hanya memutar bola matanya bosan


dan orang-orang menatap jijik kepada Claire.


“Lepaskan.” Felix menyentak lengannya membuat Claire terlepas


dan kembali terjungkal membuat orang-orang tertawa lepas.


“Ikut aku.” Felix menarik lengan Clara dan membawanya pergi


dari kantin. Tidak akan ada yang menyangka Felix akan menggenggam tangan


seorang gadis terlebih gadis yang berpenampilan tidak menarik sama sekali.


“Sepertinya kita harus membawa teman gadis itu juga, hm?”


Vincent melirik ke arah Marcello lalu menatap ke arah kedua gadis culun yang menatap


heran ke arah pintu luar kantin.


“Sebaiknya kita susul Clara. Kita tidak akan tahu apa yang


akan diperbuat oleh laki-laki itu.” Luna dan Stella hendak menyusul Clara,


namun tangan mereka digenggam oleh Marcello dan juga Vincent.


“Kalian sebaiknya ikut kami saja. Penampilan kalian


berantakan sekali. Wajahmu juga perlu diobati.” Vincent menarik tangan Stella


dan membawanya ke UKS.


“Kau juga ikut saja denganku nona, kau perlu merapikan


rambutmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Marcello dengan senyuman mautnya


itu membuat Luna kagum.


“Aku bisa merapikan rambutku di kelas, tidak perlu membawaku pergi


kemanapun.” Marcello menggelengkan kepalanya.


“Tidak boleh, sentuhan dari gadis murahan itu harus


dihilangkan dengan creambath.” Ketiga gadis yang dipermalukan itu pun merasakan


hati mereka retak ketika pemuda yang mereka sukai pergi dengan gadis lain,


terlebih dengan gadis yang amat mereka benci keberadaaannya. Mereka menatap


nanar ke arah Marcello dan Luna yang terakhir keluar dari kantin setelah


Vincente, Stella, Clara, dan Felix.


“Tidak akan kubiarkan, mereka tidak boleh merebut pangeran


kita.” Reina dan Daisy mengangguk pasti kepada Claire.


“Itu benar, mereka tidak boleh dibiarkan, kita harus menyusun


strategi agar mereka tidak bisa mendekati pangeran kita. Sial, kita harus


mengganti seragam kita. Kita harus pulang ke rumah sekarang juga.” Ucap Claire


yang dijawab anggukan oleh Reina dan Daisy.


Mereka pun pergi dari kantin meninggalkan para siswa dan juga


siswi yang masih meneruskan acara makan mereka.


TBC