I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 19 : Hospital



“Bermain game ternyata membuatku lapar, Clara, sebagai perjanjian dalam pertaruhan kita waktu balap liar waktu itu, bagaimana jika kau mulai melayaniku sekarang juga dan memasakkan makanan untukku?” Clara berdecak kesal.


“Dasar lelaki!” Rutuk Clara.


“Ajak juga teman-temanmu untuk membantumu memasak karena tidak hanya aku saja yang lapar karena sahabatku juga pasti lapar.” Vincent dan Marcello mengangguk.


“Astaga kalian merepotkan sekali,” Ucap Clara.


“Itu benar, kalian juga payah sekali.” Ketiga pemuda itu berdeham serentak.


“Iya, iya, kami memang payah, puas kau?” Clara tertawa mendengar ucapan Felix tersebut.


“Ya sudah teman-teman, aku saja yang memasak, kalian duduklah dengan manis disini ya.”


Vincent yang mendengar itu pun menyatakan protesnya.


“Tidak bisa begitu, mereka berdua juga harus memasak karena kami ingin mencoba masakan mereka.” Clara berjalan sambil menghentakkan kakinya lalu tersenyum mengerikan.


“Kalau begitu serahkan tubuhmu untuk kupotong lalu makanlah dagingmu sendiri.” Vincent meneguk salivanya berat mendengar ancaman Clara.


“Baik,” Jawab Vincent lesu.


“Kalau begitu, aku lega mendengarnya. Kalian ini memang terlalu sering membantah. Jadi, apa yang ingin kalian makan hari ini?” Tanya Clara dengan lembut.


“Kami akan memakan apapun yang kalian masak.” Clara mengangguk lalu ia berjalan menuju ke dapur untuk memasak makanan sesuai kesepakatan yang telah dibuat sejak semalam.


“Tante, aku izin memakai dapur ya, soalnya para lelaki itu ingin merasakan masakanku.”


“Jadi, mereka menyuruhmu untuk memasak? Benar-benar mereka itu, tidak ada sopannya sama sekali.” Clara tersenyum manis mendengarnya.


“Tenang saja Tante, tadinya mereka menyuruh kedua temanku untuk ikut memasak tapi aku sudah meyakinkan mereka agar membiarkanku sendiri untuk bekerja.”


“Baiklah, mari tante bantu.”


“Tidak usah Tante, Tante pasti kelelahan, biar Clara saja yang memasak, tante duduk saja.” Wanita paruh


baya itu menggeleng.


“Tante juga akan merasa bosan jika kerjaannya duduk-duduk saja. Jadi biarkan tante membantu.” Clara pun mengangguk dengan canggung.


Clara dan ibu Felix pun mulai bergerak menyiapkan peralatan untuk memasak dan mengeluarkan bahan-bahan


makanan dari kulkas untuk diolah menjadi sebuah hidangan lezat.


Setengah jam kemudian, Clara dan ibu Felix telah selesai memasak makanan dengan beberapa porsi lalu mereka menghidangkan makanan tersebut di atas meja.


“Kamu hebat juga ya bisa masak, mamamu pasti mengajarimu dengan baik.” Clara tersenyum, namun dibalik


senyuman itu terselip rindu dengan sang ibu karena sejak diusir dari rumah, ia tidak pernah lagi berhubungan dengan ibunya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tadi bertemu dengan ibunya saat berbelanja.


“Iya mama memang mengajarkanku masak, masakannya sangat enak sekali.” Ibu Felix mengernyitkan dahinya karena merasakan ekspresi Clara yang berbeda.


“Kalau begitu, kapan-kapan perkenalkan aku dengan ibumu ya.” Clara mengangguk.


“Iya, pasti,” Clara berucap ragu.


Tiba-tiba Clara merasakan getaran pada ponselnya. Entah kenapa perasaannya kali ini tidak enak, ia pun mengambil ponselnya dari kantong celananya lalu melihat nama orang yang dikenalinya.


‘Claire? Tumben sekali?’ Tanya Clara dalam hatinya. Ia mengernyitkan dahinya.


“Tante, aku izin angkat telepon dulu ya, adikku menghubungiku sepertinya ada yang penting.”


“Iya silakan, tante ke dapur dulu ya, oh iya Felix, ajaklah teman-temanmu makan!!” Felix yang mendengar itu pun membawa teman-temannya ke ruang makan.


“Aroma masakanmu sampai kesini, rasanya pasti sangat enak,” Bisik Felix.


“Semoga saja, kebetulan aku memasak daging tikus untukmu.” Felix mendengus.


Clara pun beralih dari ponselnya yang masih bergetar. Ia mengangkatnya dengan ragu dan terdengarlah isakan Claire.


“Halo, Claire? Ada apa?” Tanya Clara yang khawatir.


“Halo hiks... Clara hiks, cepat ke rumah sakit sekarang juga hiks... Mama hiks... Mama...” Detak jantung Clara tiba-tiba menjadi cepat.


“Cepat katakan Claire, ada apa?!” Clara berujar keras karena perasaannya semakin tidak enak.


“Mama masuk rumah sakit hiks... Mama kecelakaan, sekarang aku sudah berada di rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu sama Mama. Aku juga sudah menghubungi Papa, tapi Papa tidak mengangkat, karena itulah aku menghubungimu hiks...”


Deg...


“Jangan bercanda kamu Claire! Kamu pasti bohong kan?” Felix yang sedang makan menatap Clara yang berposisi


membelakangi mereka.


“Oke ceritakan nanti saat aku sudah di rumah sakit. Kirimkan alamat rumah sakitnya aku akan segera kesana sekarang juga.” Clara mematikan sambungan teleponnya lalu ia mengambil jaketnya yang sempat ia sampirkan di sofa menuju keluar.


Felix, Stella, Luna, dan Marcello menatap heran kepada Clara yang terlihat ketakutan tersebut.


Mereka berempat menghampiri Clara lalu Stella mewakili mereka untuk bertanya.


“Ada apa Clara? Siapa yang menelepon?” Tanya Stella.


“Claire, dia menghubungiku kalau mama kecelakaan. Sekarang di rawat di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi,” Jawabnya dengan suara bergetar. Rasa sesak memenuhi dadanya, ingin menangis tapi ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan sahabat-sahabatnya.


“Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang juga.” Ucap Luna.


“Tidak, kalian lanjutkan saja makannya biar aku saja yang ke rumah sakit. Vincent dan Marcello aku tahu mungkin akan menyusahkan tapi tolong antar Stella dan Luna pulang ke rumah nanti.” Vincent dan Marcello mengangguk.


“Aku ikut untuk mengantarmu Clara.” Clara menggeleng.


“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, aku tidak mau merepotkanmu.”


“Dalam keadaan seperti ini kamu tidak bisa menyetir, biar aku saja yang menyetir. Mana kunci mobilmu?” Clara menghela napasnya lalu memberikan kunci mobilnya kepada Felix.


“Ma, aku pergi dulu!” Teriak Felix agar suaranya terdengar sampai ke ibunya yang kini sedang berada di dapur.


“Apa?! Kenapa?!” Tanya sang ibu.


“Nanti aku jelaskan Ma tidak ada waktu, kami sedang buru-buru sekarang. Kalau Mama ingin jawabannya silakan tanyakan kepada Vincent atau Marcello! Aku pamit!” Felix merangkul Clara yang sedang terguncang itu menuju ke mobil. Cuaca sudah mulai cerah, namun suasana hati Clara tetap mendung karena khawatir mengenai keadaan ibunya tersebut.


Ibu Felix keluar dari dapur karena penasaran dengan apa yang terjadi.


“Ada apa?” Tanyanya kepada Vincent.


“Ibu Clara kecelakaan, begitulah yang kami dengar.” Ibu Felix pun terkejut mendengarnya lalu menutup mulutnya.


“Bagaimana bisa?”


“Entahlah Tante, aku tidak tahu bagaimana kejadiannya, aku hanya mendengarnya dari Clara.” Ibu Felix mengangguk.


“Semoga tidak terjadi apa-apa.” Keempat orang berbeda gender itu mengangguk serentak dan berharap yang sama seperti Ibu Felix.


“Tante tidak ingin mencoba makanan ini?”


“Tadi Tante sudah mencobanya di dapur, Tante juga sudah kenyang, tapi nanti Tante akan memakannya, jadi, jangan lupa sisakan untuk Tante ya.” Mereka mengangguk dan kemudian memakan makanan enak yang sudah terhidangkan itu.


Clara dan Felix kini telah sampai di rumah sakit berdasarkan alamat yang dikirimkan oleh Claire. Mereka melihat


Claire yang sedang duduk di kursi depan ruangan sang ibu diperiksa.


“Claire.” Claire yang sedang menunduk pun menoleh ke arah Claire. Ia berjalan lalu memeluk Claire sambil menangis karena rasa sedihnya terhadap kecelakaan yang dialami oleh sang ibu.


“Claire, tenangkan dirimu dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Claire masih menangis, ia pun melepaskan pelukannya dari Clara.


“Tarik napas perlahan lalu hembuskan perlahan.” Claire mengikuti arahan Clara lalu mulai menceritakan kejadiannya yang ia dengar dari orang-orang yang menemukan ibunya.


Flashback


“Mobilnya sudah hampir meledak? Ayo kita periksa untuk memastikan ada atau tidak penumpangnya.”


“Tidak mau, mobilnya sudah mau meledak, kalau kita mendekat, kita juga akan ikut meledak disana.”


“Dasar penakut, kau hubungi ambulance biar aku yang memastikannya sendiri,” Ucap pria paruh baya itu. Ia mendekati mobil yang sudah mengeluarkan api tersebut dan melihat satu orang wanita paruh baya yang duduk di kursi kemudi dalam keadaan luka parah dan tidak sadarkan diri.


“Bu, Ibu bisa dengar saya? Bu?” Ia menggerakkan tubuh wanita yang merupakan ibu kandung Clara dan Claire itu namun wanita itu tidak bergerak sama sekali. Akhirnya pria itu mulai mengeluarkan tubuh wanita itu dan membopong wanita itu menjauh dari mobil yang apinya semakin besar itu. Ia juga mengambil ponsel dari kantong celana wanita itu dan mencari kontak yang mungkin bisa dihubungi.


Ia menemukan kontak yang bernama Princess, ia pun menghubungi nomor itu untuk memastikan ia adalah kerabat dari wanita yang ia tolong itu.


Flashback End


“Begitulah ceritanya Clara hiks... sampai sekarang dokter masih ada di dalam dan belum keluar untuk sekedar memberi kabar kepadaku apa yang terjadi pada Mama.” Clara yang mendengar itu menahan nangisnya lalu memeluk Claire untuk memberi ketenangan kepadanya. Ia mengusap punggung bergetar adiknya karena isakan saudari kembarnya dalam pelukannya.


“Tenanglah, aku yakin Mama pasti akan bertahan. Karena Mama sangat kuat, jangan nangis lagi ya.” Felix yang melihat cara Clara menenangkan adiknya merasakan hatinya hangat.


‘Aku bisa melihat jika kau menyayangi adikmu meskipun adikmu sering membullymu dan bahkan tidak menganggapmu sebagai saudara. Entah terbuat dari apa hatimu itu tapi yang jelas kau berhasil membuatku semakin jatuh cinta kepadamu.’ Felix tersenyum tipis, ia hanya berdiri diam melihat Clara dan Claire saling berpelukan.


“Kita berdoa untuk Mama ya.” Claire mengangguk dalam pelukan Clara.


‘Tuhan, selamatkanlah Mama, aku berjanji akan menuruti semua keinginan Mama dan berubah menjadi lebih baik. Ini semua salahku, jika saja aku lebih peduli pada Mama, pasti Mama tidak akan mengalami kejadian seperti ini.’ Claire kembali menenggelamkan wajahnya di bahu Clara yang terus memberikan kata-kata penenang kepadanya.


TBC


Hai, saya kembali lagi nih dengan chapter terbaru, cepet banget yah. Itu karena ide sedang mengalir deras akhir-akhir ini, semoga besok juga mengalir deras yah, karna untuk chapter selanjutnya aku akan lanjut besok kalau gk lusa kalau sempat. Terima kasih ya teman-teman bagi yang sudah memberi saya vote, like, dan komen, I appreciate it guys and see you in the next chapter.