
Jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun telah tiba membuat para siswa dan siswi mengantre di kantin untuk mengisi perut mereka. Namun, tidak dengan Claire yang saat ini diharuskan membersihkan meja Clara yang sudah ia coret entah menggunakan apa sehingga sulit untuk dibersihkan. Air mata masih mengalir di matanya lantaran merasa malu dan marah karena rencananya untuk membuat saudara kembarnya itu dimarahi oleh guru dan terkena poin pada buku tata tertibnya. Sayang seribu sayang, kali ini Clairelah yang harus mendapatkan poin itu di buku tata tertibnya ditambah lagi ia mencoba menuduh Clara, sehingga poinnya pun membuatnya nyaris diistirahatkan di rumah dengan mengerjakan semua tugas sekolah yang diberikan oleh guru-guru.
“Hiks, awas saja kalian semuanya. Aku akan melaporkan semua ini kepada papa. Aku yakin kalian semua tidak akan berkutik jika papa datang ke sekolah dan mencabut investasinya kepada kalian.” Claire mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ayahnya sambil menangis.
Sementara itu, Clara, Stella, dan Luna kini berada di kantin. Sembari makan, mereka berbincang-bincang mengenai kejadian yang terjadi hari ini.
“Itulah risiko jika kau satu kelas dengan saudara baik itu sepupu maupun saudara kandung. Persaingan antara saudara itu pasti akan terjadi dalam bidang apapun. Dia pasti iri denganmu Clara karena buku tata tertibmu belum pernah tersentuh sedikitpun oleh poin pelanggaran.” Ujar Stella bijak.
“Ralat, bukuku sudah terkena 1 poin karena gadis manja itu. Dia mengadu kepada guru pengajar kami kalau aku menyontek.” Clara memasang wajah malasnya.
“Jujur jika saja tidak ada si Felix itu, poinku sekarang menjadi 26 totalnya karena dianggap merusak properti sekolah. Untungnya ketua kelas di kelasku jujur kepada Ibu Anna dan merekam perbuatan Claire itu. Setidaknya rasa kesalku terbayar dengan penderitaannya akibat perbuatannya sendiri.” Luna dan Stella terkekeh.
“Kau sepertinya sedang sial sekali hari ini Clara. Kami hari ini beruntung tidak diganggu oleh dua sahabat Claire itu hari ini. Kudengar-dengar sejak kejadian di kantin kemarin, dua orang itu terkena 25 poin di buku tata tertib mereka. Karena itulah mereka tidak mengganggu kami berdua, mungkin saja.” Clara mengangguk-ngangguk.
“Kalau begitu mereka memang selalu ditakdirkan untuk bersama. Lihatlah meskipun kemarin dia tidak mendapatkan poin, hari ini ia mendapatkan poin akibat ulahnya sendiri. Itulah definisi dari karma is real. Dia benar-benar mendapatkan karmanya pada hari ini.” Clara tertawa puas.
“Setidaknya mereka kapok dan tidak mengganggu kita lagi.” Ujar Luna.
“Jika itu Daisy dan Raina, bisa saja kapok, tapi aku tidak yakin dengan Claire. Firasatku mengatakan jika dia mengadu kepada ayahnya hari ini untuk membuat kehebohan karena ia dihukum. Apakah anak orang kaya semuanya seperti itu?” Clara dan Luna berdehem.
“Ekhem, bukankah kau juga termasuk anak orang kaya Stella?” Stella yang mendengar pertanyaan atau lebih tepatnya sindiran pun hanya bisa tersenyum miris.
“Meskipun aku orang kaya, aku tidaklah sama dengan mereka. Bahkan aku tidak ingin mereka semua tahu jika aku ini calon pewaris perusahaan S.T Corps.” Clara tertawa.
“Kau memang lebih cocok menjadi saudariku dibandingkan gadis manja tak tahu diri itu.” Stella tersenyum
membanggakan dirinya.
“Lalu bagaimana denganku Clara? Apakah aku juga cocok untuk menjadi saudaraku?” Tanya Luna sambil
menunjuk dirinya sendiri.
“Kau lebih cocok menjadi pembantuku.” Clara menaikkan alisnya untuk menggoda Luna yang terlihat kesal
itu.
“Bercanda, tentu saja kau juga saudariku. Bukankah kita semua ini bersaudara?” Luna yang tadinya kesal
pun terkikik.
“Ayo kita kembali ke kelas sekarang juga.” Mereka bertiga beranjak keluar dari kantin menuju ke kelas masing-masing namun langkah mereka terhenti ketika sekolah dihebohkan oleh suara para murid yang sibuk mengagumi kehadiran seseorang.
“Wah lihatlah, bukankah dia presdir Vanilla Corps yang bergerak di bidang makanan?”
“Tidak hanya itu saja, dia juga mempunyai restoran berbintang terkenal yang bernama Baryon’s food. Ada apa dia datang kemari?” Begitulah kira-kira bisik kagum dari para murid.
Clara, Stella, dan Luna yang melihat itu hanya memasang wajah datar. Jika Stella dan Luna tidak mengetahui tabiat asli dari Ayah kandung Clara ini, mungkin mereka juga akan mengaguminya karena prestasinya yang luar biasa.
“Khe, aku ingin tahu kehebohan apa yang akan terjadi setelah ini.” Ujar Clara.
“Kudengar dari pamanku, perusahaan kami bekerja sama dengan perusahaan ayahmu Clara. Jujur saja, pamanku mengatakan jika dia adalah orang yang sombong sekali. Jika bukan karena pamanku, mungkin dulu perusahaannya sudah bangkrut sekarang.” Clara menatap Stella.
“Benarkah? Dunia begitu sempit sekali.” Ucap Clara.
Claire langsung keluar dari kelas ketika mendapati kehebohan. Ia menyeringai mendapati ayahnya sudah
datang ke sekolah.
“Papa.” Panggil Claire.
“Oh Claire, ada apa? Kenapa bajumu menjadi kusam seperti ini? Cerita sama papa, apa yang terjadi?” Tanya Ayah Claire bertubi-tubi.
“Benarkah? Kalau begitu, antar Papa ke ruang guru sekarang juga. Biar Papa yang bicara kepada Ibu Anna.” Claire mengangguk. Ia mengantar sang Ayah menuju ke ruang guru.
“Sepertinya kau akan dipanggil sebentar lagi Clara. Tenang saja, aku akan ikut juga ke ruang guru.”
Clara mendengus.
“Untuk apa memangnya?” Tanya Luna.
“Untuk mengancam dan mencabut kerja sama dengannya.” Stella menyeringai.
“Dan identitasmu akan terbongkar.” Stella mengedikkan bahunya.
“Tidak masalah, lagipula firasatku benar-benar bagus hari ini. Kurasa para pengganggu itu akan di
skorsing juga hari ini.”
“Clara.” Panggilan dari Felix membuat Clara menoleh ke arahnya.
“Ada apa Felix? Apa kau mengharapkan aku mengeluarkan kata terima kasih kepadamu?” Tanya Clara.
“Tidak juga, justru aku ingin memberikanmu ini.” Clara menatap bingung kepada Felix. Ditangannya terdapat flashdisk yang tidak ia ketahui apa isinya.
“Kau bisa buka isi flashdisk itu melalui ponselmu dan kau akan menyukainya.” Clara mengambil ponselnya dan mencolokkan flashdisk tersebut ke ponsel canggihnya. Ia membuka isinya dan jika boleh jujur ia cukup senang. Ia menatap kepada Felix setelah menonton video tersebut.
“Aku sepertinya harus berterima kasih kepadamu Felix. Kuakui kau sangat berbeda dibandingkan yang biasanya. Bagaimana caramu melakukannya? Aku tidak pernah melihatmu merekam.” Felix menanggapi pertanyaan itu dengan tersenyum bangga.
“Kau tidak pernah tahu saja jika selama ini ada kamera kecil yang selalu mengikuti saudara kembarmu. Aku juga memberikan kamera kecil itu kepada kedua temanku. Perusahaan ayahku bergerak di bidang teknik, jadi aku memintanya untuk membuatkan kamera kecil seperti ini untuk berjaga-jaga saja. Aku akan menggunakan ini dan membela orang yang kusuka.” Clara memiringkan kepalanya mendengarkan ucapan Felix.
“Kau sangat aneh jujur saja.” Felix sweatdrop ketika disebut aneh oleh Clara.
“Terserah kau saja yang pasti aku sudah menolongmu untuk masalah hari ini. Aku pergi dulu.” Clara menatap flashdisk tersebut dan tersenyum tipis.
“Wah, wah, wah, sepertinya Clara sedang jatuh cinta ya. Sangat jarang sekali melihatmu terbawa suasana seperti ini.” Clara menatap malas kepada kedua sahabatnya yang kini menggodanya.
Baru saja ia akan bersuara, sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya.
“Kepada siswi kelas 10 IPA bernama Clara harap menuju ke ruang guru sekarang juga.”
“Akan ada drama disana. Aku pergi dulu sekarang.” Clara yang hendak pergi ke ruang guru pun ditahan oleh Stella yang menggenggam tangannya.
“Bukankah aku sudah bilang aku akan ikut untuk mengancam pria tua itu Clara?” Clara menghela
napasnya.
“Baiklah-baiklah tapi jangan keterlaluan juga ya. Walau bagaimanapun juga dia Ayahku dan Claire adalah saudariku.” Stella mengangguk.
“Kau mau ikut Luna?” Tanya Stella.
“Maaf, tapi Luna akan ikut denganku.” Marcello menarik tangan Luna untuk ikut dengannya.
“Hei, kau mau bawa aku kemana? Lepaskan aku dasar pria.” Luna ingin mengumpat rasanya ketika Marcello dengan senyuman palsunya menarik tangannya dengan seenak jidatnya namun ia tahu diri untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar yang mengakibatkan dirinya mendapat poin di buku tata tertibnya.
TBC
Wah untuk pertama kalinya aku update dalam waktu dekat. Ide sedang mengalir deras hari ini, dan setelah cerita ini selesai nanti, aku berencana akan launching cerita baru. Doain terus ya bagi yang membaca dan semoga cerita ini bisa membuat kalian terhibur semuanya. See you in the next chapter.