I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Bab 6 : Enticement



Alvin keluar dari ruang kerjanya dengan penampilan yang segar. Seluruh pakaian bekas darah asistennya itu telah ia bakar tanpa sisa sedikitpun. Ia juga mendapati putrinya yang masih asik dengan kekasihnya, hingga tidak menyadari dirinya yang sudah pulang.


"Hmm ... asik sekali kalian berdua. Sampai-sampai, kalian tidak menyadari kedatanganku." Calista yang mendengar itu langsung berbinar. Felix yang melihat ayah kekasihnya pun membungkuk hormat.


"Selamat malam, Tuan Alvin." Alvin mengangguk dan menatap putrinya dengan hangat.


"Aku lega, Papa sudah pulang dari kantor polisi. Aku pikir, Papa akan di penjara di sana." Putrinya itu mengerucut, mengingat kejadian tadi di Kedai Lotus.


"Tentu tidak, sayang. Tidak akan ada yang berani memenjarakan Papa." Alvin mengecup kening putrinya.


"Benarkah? Kalau nanti ada orang yang ingin Papa ke penjara bagaimana?" Calista menatap sang ayah menyelidik.


"Kau tenang saja, Calista. Itu tidak akan terjadi. Mereka pasti akan hancur jika sampai terjadi. Oh iya, Papa boleh pinjam kekasihmu sebentar?" Calista mengangguk semangat.


"Felix, baik-baiklah dengan Papaku ya." Felix mengangguk.


"Aku sayang padamu, Pa. Aku ke kamar dulu, dah." Calista mengecup wajah sang ayah dan masuk ke kamarnya.


"Felix." Felix mengalihkan pandangannya dari Calista ke Alvin.


"Kita bicara di ruangan saya." Alvin masuk kembali ke ruang kerjanya, diikuti Felix.


"Ada perlu apa, Tuan?" Alvin mendengkus.


"Kau ini, tidak bisa diajak basa-basi. Aku ada permintaan untukmu." Felix mengernyit.


"Permintaan apa?" tanyanya.


"Aku ingin kau mencari tahu, orang yang menyebarkan rekaman di apartemenku. Aku juga ingin kau mencari tahu keberadaan gadis ini." Alvin menyerahkan foto Clara pada Felix.


"Siapa dia?" Felix bertanya sambil menatap foto Clara.


"Namanya Clara. Berapa banyak waktu yang kau butuhkan?" Felix menatap Alvin datar.


"Beri aku waktu dua hari. Aku akan mengabarimu." Alvin mengangguk.


"Jika kau telah menemukan Clara, bisakah kau menjebaknya?" Felix menatap bingung.


"Bertingkahlah seolah-olah kau bisa dipercaya olehnya. Setelah kau berhasil mendapat kepercayaannya, bawa dia ke hadapanku." Felix menyimpan foto Clara di kantong celananya.


"Apa kau yakin, aku bisa mendapat kepercayaan gadis ini?" Alvin menyeringai.


"Kenapa? Bukankah itu keahlianmu selama ini? Kau menggunakan cara itu untuk mendapatkan kepercayaan musuhmu. Apa aku benar?" Felix menghela napasnya. Pria di hadapannya ini benar-benar mengerikan namun, ia tidak takut sama sekali. Namun, ia tidak bisa melawan Alvin karena Alvin mengendalikan BIN. Pimpinannya pun berpesan padanya untuk menuruti apapun yang diminta oleh Alvin.


"Baiklah, aku akan melakukannya." Alvin tersenyum kemenangan dan menyerahkan uang pada Felix.


"Itu uang untuk pekerjaan ini. Sisanya, aku akan transfer lewat rekening." Felix mengangguk.


"Apa masih ada lagi yang harus kulakukan?" Alvin menggeleng.


"Kau boleh pergi." Felix membungkuk hormat dan keluar dari ruang kerja Alvin.


"Felix, kau mau kemana?" tanya Calista.


"Aku mau pulang sebentar, Calista. Aku rasa, kita tidak bisa bertemu untuk sementara waktu. Maaf ya, aku ada pekerjaan." Calista mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, silakan bekerja. Meskipun ditinggal sebentar aku rindu, aku tidak bisa melarangmu." Felix tersenyum dan mengecup kening Calista, membuat Calista merona.


"Jangan berselingkuh dariku, ya." Calista mengangguk.


"Semangat kuliahnya. Semoga kau berhasil mencapai cita-citamu," ujar Felix.


"Terima kasih, sampai jumpa." Calista dan Felix saling melambai tangan. Felix masuk ke mobilnya dan meninggalkan mansion milik Alvin.


Felix menatap foto Clara sambil mengemudi.


"Cantik," gumamnya. Felix dan Calista saling menyukai ketika diperkenalkan oleh Alvin pertama kali, saat Felix datang ke mansion Alvin. Ia diperkenalkan sebagai sekretaris Alvin pada Calista dan ibunya. Namun, ia merasa baru pertama kali ia merasa jantungnya berdetak kencang saat menatap foto Clara. Ia belum pernah merasakan detak jantungnya secepat ini ketika bersama Calista.


"Aku akan menjadi pria brengsek jika menyukaimu, di saat aku mempunyai kekasih. Andai saja, kita saling mengenal sejak lama." Felix menyimpan kembali foto Clara di kantong celananya.


Clara, David, dan Rendy kini berada di ruang khusus untuk bersantai.


"Jadi, ada apa kau menemuiku?" tanya Clara. Rendy merasa ragu untuk berbicara langsung pada Clara.


"Saya merasa, saya telah salah menangkap seseorang berdasarkan bukti rekaman video. Saya juga tidak tahu, siapa yang mengirim rekaman video itu ke saya. Saya juga baru tahu, jika Tuan Alvin adalah ketua mafia setelah mendengar cerita dari David." Clara memainkan bolpoin di jari kirinya.


"Ekhem, tidak usah bertele-tele. Kau menginginkan sesuatu, bukan?" David tersenyum tipis. Clara cukup peka dalam menangkap maksud seseorang.


"Saya ingin meminta tolong, pastikan keluarga saya tidak tersentuh oleh Tuan Alvin." Clara diam sebentar.


"Kau ingin aku menjaga keluargamu?" Rendy mengangguk.


"Apa yang bisa kau berikan padaku sebagai imbalannya?" Rendy mendongak.


"Saya akan memberikan apapun yang anda inginkan." Clara tertawa.


"Bagaimana dengan nyawamu?" Rendy meneguk salivanya berat. David memutar bola matanya bosan. Atasannya ini suka sekali mempermainkan psikis seseorang.


"Hei, jangan ketakutan begitu. Aku hanya bercanda. Aku akan mengabulkan permohonanmu, aku akan menjaga keluargamu dari Tuan Alvin. Tapi, di dunia ini tidak ada yang gratis." Rendy menghembuskan napas lega meski ia harus membayar mahal pada Clara.


"Pastikan, tidak ada yang membobol keamanan data perusahaan, data pribadi saya, dan lain sebagainya. Apa kau bisa?" Rendy mengangguk pasti.


"Baiklah, jika kau sampai berkhianat. Aku akan mempermudah Tuan Alvin mengincar keluargamu. Mengerti?" Rendy kembali mengangguk.


"Bagus. Pekerjaan ini adalah yang paling mudah untukmu. Kalian boleh pergi sekarang, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." David dan Rendy membungkuk dan berbalik ke arah pintu.


"Untukmu, Rendy. Jika ada yang membobol, laporkan saja padaku." Rendy berbalik menghadap Clara.


"Anda bisa mempercayai saya, Nona Lydia. Saya permisi." Clara mengangguk dan melanjutkan mengetik laporan di laptopnya.


Drrttt....


"Halo, ada apa?" tanya Clara.


"Aku sudah mengirimkan video itu ke kantor polisi. Kau berjanji akan melindungiku, bukan?" tanya pemuda yang mengantar paket tadi.


"Kau tenang saja, kupastikan tidak ada yang mendekatimu," ujar Clara santai.


"Selamat datang ke neraka, pengkhianat." Pemuda di seberang sana nampak terkejut namun, sebelum bertanya lebih lanjut. Ia terpental ke danau di bawah jembatan yang ia pijak. Nyawanya pun tidak akan tertolong dan tinggal menunggu berita yang akan menyiarkan kematiannya.


"Tidak akan ada yang mendekatimu, sekarang. Kau bisa pergi dengan tenang, brengsek."


2 hari kemudian....


Felix datang ke kantor Alvin dan disambut oleh bodyguard yang berjaga di depan. Sekretaris wanita bernama Naomi menyambut kedatangan Felix.


"Selamat pagi, Tuan Felix. Saya akan mengantar anda ke ruangan Tuan Alvin." Felix mengangguk dan mengikuti sekretarisnya ke ruangan Alvin.


"Jadi, apa yang kau temukan kali ini?" tanya Tuan Alvin.


"Saya sempat memeriksa CCTV di apartemen anda. Kalau tidak salah, ada orang yang mengantar paket ke kamar anda. Benar, bukan?" Alvin menangkup dagunya dengan tangan kiri.


"Benar. Dia yang menyebarkan rekaman itu?" Felix mengangguk.


"Cih, kurang ajar. Dia juga mengirim teror padaku dengan paket itu. Si pengantar paket itu bekerja sama dengan Clara karena ada surat dari Clara di dalamnya. Untuk itu, aku memintamu mencari tahu keberadaan Clara. Apa kau sudah menemukannya?" Felix menyerahkan seluruh data juga foto milik Clara.


"Kau akan terkejut setelah melihatnya." Alvin mengerutkan dahinya dan membuka isi amplop tersebut.


"Clara dan Lydia Alcander adalah orang yang sama. Dia adalah pemilik perusahaan Lyd Lotus." Alvin membelalak dan menyeringai.


"Akhirnya, kutemukan kau."


"Aku ingin kau bekerja di perusahaannya. Oh iya, kau tidak meninggalkan jejak saat meretas, bukan?" Felix menggeleng.


"Bagus. Kau boleh pergi sekarang." Felix pun membungkuk dan pergi meninggalkan kantor Alvin.


TBC