
“Kalian bertiga tamunya?” Clara, Stella, dan Luna mengangguk.
“Itu benar tante, apakah tante ini ibu kandung Felix atau Vincent, atau Marcello?” Wanita paruh baya itu tersenyum mendengar pertanyaan dari Clara.
“Tante ini ibunya Felix. Masuklah, mereka bertiga sudah menunggu di dalam. Tolong dimaklumi karena anak tante dan teman-temannya itu memang rusuh sekali. Tante sudah menyuruh mereka membersihkan ruang tamu yang mereka hancurkan.” Clara, Stella dan Luna saling menatap lalu tersenyum miris.
‘Nyatanya kami bertiga dipanggil untuk membersihkan kekacauan yang mereka lakukan sepertinya,’ Batin ketiga gadis cantik tersebut.
“Tidak apa-apa tante, kami sangat memaklumi mereka. Mereka memang sangat nakal dan tidak pernah menaati peraturan,” Ucap Clara tersenyum.
“Benarkah? Benar-benar mereka itu. Baiklah karena kalian sudah datang kemari, silakan masuk, tante akan menyiapkan camilan untuk kalian bertiga.” Mereka bertiga mengangguk lalu mengikuti wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah.
Lalu, di mansion tempat Claire tinggal, Claire hingga saat ini masih belum bangun dari tidurnya meskipun sudah pukul 10.00 pagi. Ia membuka matanya setelah mimpi indahnya berakhir dan menguap sambil menutup mulutnya. Ia melirik ke samping meja belajarnya dan mendapati buku-bukunya masih berantakan karena semalam ia
belajar sampai pukul 12 malam.
“Clara, akan kukalahkan kau sekali lagi dan akan kupastikan piala juara satu menjadi milikku.” Ia beranjak dari tidurnya lalu membersihkan diri dan keluar dari kamarnya lalu sarapan.
“Mama, tumben sekali belum berangkat kerja?” Wanita yang sedang mencuci piring itu berbalik menghadap Claire.
“Mama meliburkan diri hari ini dan mempercayakan restoran kepada asisten mama.” Claire mengangguk.
“Oh iya, ma, hari ini aku pergi keluar ya mau shopping sama teman.” Sang ibu menghela napasnya.
“Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini terus Claire? Bersenang-senang itu memang bagus tapi jangan sampai terlena dengan kesenanganmu itu nak.” Claire mendengus.
“Mama, aku begini juga karena ingin menikmati masa mudaku lho, lagipula sejak aku diskors dari sekolah aku jarang sekali menggunakan kebebasanku karena tugas dari sekolah yang begitu menumpuk. Aku bahkan hanya bisa keluar sehari sebelum aku masuk sekolah untuk menyegarkan diri karena berada di dalam rumah membuatku bosan,” Ucap Claire.
“Kamu diskors juga karena kamu mencari masalah di sekolah, bukan? Terlebih kamu membully saudara kamu sendiri.” Claire menatap tajam ibunya.
“Jadi, mama sekarang lebih membela Clara daripada Claire?” Sang ibu kembali menghela napas berat.
“Mama tidak membela Clara, Claire, mama hanya ingin kamu berubah itu saja dan tidak lagi iri kepada orang yang mungkin mempunyai kelebihan yang tidak kamu sukai. Apalagi caramu melampiaskan iri hatimu itu dengan membully seseorang yang lebih lemah dan berpenampilan tidak menarik namun memiliki kelebihan yang
“Tapi Ma, aku juga tidak akan seperti ini jika bukan karena Clara. Clara selalu saja dipuja-puja oleh guru karena kepintarannya dan papa juga selalu menuntutku untuk belajar lebih keras lagi sejak Clara berhasil melampaui nilaiku Ma,” Ucap Claire.
“Lalu, bagaimana dengan Clara dulu? Kamu juga tidak pernah tahu kalau Clara juga pernah merasakan hal yang
sama seperti yang kamu alami sekarang. Dia juga dulu dituntut oleh papa kamu hanya karena di bawah satu peringkat dari kamu. Tapi dia juga tidak pernah membully kamu sedikitpun meskipun dia iri dengan kepintaran kamu. Mama juga tahu dulu kamu berpura-pura pingsan demi menyingkirkan Clara saudara kamu kan?” Claire
terdiam.
“Dulu mama memang sibuk bekerja sampai-sampai mama tidak tahu apa masalah kamu melakukan itu. Jadi sekarang, mama ingin bertanya sama kamu, kenapa kamu selalu membenci kakakmu?” Claire tidak menjawab pertanyaan sang ibu.
“Kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak apa-apa Mama hanya tidak ingin kamu menyesal dengan semua perbuatan kamu karena mama tahu, kamu baru saja menyakiti hati kedua sahabatmu, bukan?” Claire membelalak lalu menatap sang ibu.
“Apa maksud mama? Memangnya kapan aku menyakiti kedua sahabatku? Kami bahkan masih berkomunikasi dengan mereka dan ingin pergi berbelanja hari ini.” Sang ibu tersenyum sendu.
“Maksud mama teman sekolah kamu yang bernama Raina dan Daisy. Kamu tidak tahu betapa hancurnya mereka?
Mereka dikeluarkan dari sekolah dan bahkan kedua orang tua mereka menyuruh mereka mencari uang sendiri untuk kembali ke sekolah. Kamu beruntung karena papa seorang investor sehingga kepala sekolah tidak berani mengeluarkan kamu dari sekolah, tapi mereka berdua? Mereka harus berhenti mencari ilmu karena mengikuti kemauan kamu.” Claire menajamkan kembali matanya.
“Kenapa mama menyalahkanku jika mereka harus berhenti mencari ilmu? Claire tidak pernah memaksa mereka untuk mengikuti kemauan Claire. Claire bahkan tidak pernah menuntut mereka harus bekerja sama dengan Claire.” Sang ibu menatap datar kepada Claire.
“Kamu memang tidak pernah menuntut, tapi kamu menjanjikan sesuatu yang harusnya tidak kamu janjikan yaitu memberikan semua yang mereka inginkan sebagai imbalan untuk menjadi budak kamu untuk membully Clara dan teman-temannya.” Claire kembali membelalak, namun ia merasa tidak terima jika mamanya memojoknya seperti itu.
“Itu karena mereka yang terlalu mudah untuk tergoda dengan penawaran Claire, jika tidak, maka mereka tidak akan berakhir seperti itu. Jadi, Raina dan Daisy keluar dari sekolah karena keserakahan mereka sendiri bukan karena aku.” Sang ibu menghela napas untuk kesekian kalinya.
“Ya sudah mama pergi dulu, ingat saja perkataan mama kalau penyesalan itu akan selalu ada di belakang.” Claire mendengus dan memandang sang ibu yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.
“Aku tidak akan menyesal karena aku adalah primadona di sekolah dan orang-orang yang mencari masalah dengankulah yang akan menyesal,” Ucap Claire dengan tatapan berapi-api. Ia mengganti pakaiannya lalu pergi tanpa menyapa maid sekalipun mengingat dia merupakan gadis yang sangat arogan.
“Ruang tamu ini sangat rapi, siapa ya yang membersihkan?” Felix beserta ketiga temannya memalingkan wajah mereka karena kesal dengan pertanyaan Clara yang terkesan menghina mereka.
“Sepertinya kami tidak perlu merapikan tempat ini lagi karena kalian sudah merapikannya sendiri. Oh iya, ada apa kalian memanggil kami kemari?” Tanya Stella.
“Kalian lupa? Kalian akan menjadi pelayan kami karena kalian kalah bertaruh dengan kami,” Jawab Vincent.
“Iya maaf kami sudah lupa karena kami sudah tua hahahahaha.” Marcello tertegun melihat Luna tertawa.
“Ekhem, tuan, sepertinya anda terpesona dengan sahabat saya ya sampai-sampai tidak berkedip sedikitpun.” Marcello yang mendengar itu pun gelagapan dan menatap datar kepada Clara.
“Ya jika kau memang suka melihatnya tertawa, maka teruslah membuatnya tertawa, jika tidak, maka aku akan menghancurkan wajah tampanmu itu hingga membuatmu tidak ingin menunjukkan wajahmu ke dunia lagi.” Clara tersenyum layaknya iblis.
“Clara, hentikan wajahmu itu karena itu sangat menyeramkan.” Clara memudarkan senyumannya lalu menatap berbagai macam DVD dan juga stik game yang berserakan disana.
“Bagaimana kalau kita bertaruh lagi Felix?” Felix menatap bingung kepada Clara.
“Balap liar?” Clara menggeleng.
“Tentu saja bukan. Kau suka bermain game?” Felix mengangguk.
“Aku juga suka bermain game. Kalian duduklah dengan tenang dan turuti apa yang diinginkan pemenang karena kita akan membalikkan keadaan melalui game ini.” Felix tersenyum remeh.
“Apa kau yakin bisa melawanku? Jangan menangis jika kau kalah Clara, tapi jika dilihat dari wajahmu kau sepertinya sangat berpengalaman dalam bermain game. Ayo kita main.” Clara menyeringai.
“Baiklah, kita bertaruh lagi. Peraturannya, adalah yang kalah harus menuruti apa keinginan pemenang, bagaimana?” Clara menaik-naikkan alisnya.
“Baiklah setuju. Aku tidak akan kalah. Kalian berdua, duduklah dengan manis dan perhatikan seorang Felix yang hebat ini mengalahkan seorang gadis galak di hadapanku ini.” Vincent dan Marcello bersorak mendukung Clara.
“Kalian tidak ingin mendukung Clara juga?” Tanya Marcello kepada dua orang gadis dihadapan mereka.
“Kami memang mendukung Clara tapi kami tidak akan seheboh kalian,” Ucap Stella dengan senyuman manisnya yang membuat kupu-kupu berterbangan di perut Vincent.
“Baiklah kalau begitu, Clara pasti akan kalah dari Felix.”
“Itu tidak akan terjadi karena Clara dijulukki the queen of gamer.”
“Sepertinya julukan itu akan segera dicabut dari temanmu itu.” Luna berdeham.
“Kita lihat saja nanti apakah julukan itu akan tercabut atau tidak.” Mereka berempat pun duduk di belakang Clara dan Felix yang kini memulai aksi mereka memainkan game balap mobil.
“Clara, semangat, kau pasti bisa mengalahkan Felix!” Ucap Luna heboh.
“Benar, kalahkan si Felix yang sombong itu!” Sambung Stella.
“Cih katanya tidak akan seheboh kami tapi nyatanya kalian seperti berada di pasar.” Mendengar itu Stella dan Luna langsung terdiam dengan wajah mereka yang merona.
2000 tahun kemudian atau 2 menit kemudian....
Clara memenangkan permainan game tersebut sementara Felix pun harus menerima kekalahannya. Vincent dan Marcello hanya bisa membiarkan mulut mereka terbuka lebar karena mereka harus mengabulkan permintaan pemenang.
“Dimanakah rasa percaya dirimu tadi tuan?” Felix langsung pundung mendengar hinaan Clara yang sangat mengesalkan itu.
“Diamlah. Aku akan mengabulkan permintaan kalian jadi katakan saja apa yang kalian inginkan,” Jawab Felix lesu.
“Baiklah, peraturan kemarin yang kalian buat soal menyatakan perasaan kami jika kami kalah akan berbalik kepada kalian, bagaimana?” Felix mendongak.
“Apakah tidak ada yang lain? Seperti menenggelamkan diri kami di kolong buaya?”
“Kalian mau? Silakan saja kalau begitu. Ayo teman-teman, kita antarkan mereka ke kolong buaya sekarang juga.”
“Kau ini memang tidak bisa diajak bercanda sama sekali. Baiklah, aku menyetujui apa keinginanmu, tapi kami akan menyatakan perasaan kami jika kalian sudah benar-benar menyadari perasaan kalian untuk kami.”
“Itu jika kami memiliki perasaan kepada kalian.” Felix tersenyum tipis.
“Kalian memilikinya, tapi kalian belum menyadarinya.” Felix mendekati Clara hingga wajah mereka berjarak satu cm.
“Matamu sangat cantik.” Clara merona mendengar kata-kata itu. Hatinya terasa hangat entah karena apa.
“Ekhem, terima kasih mataku memang sangat cantik sekali. Tapi apakah harus mengatakannya dengan jarak sedekat ini?” Felix menjauhkan wajahnya dari Clara lalu memberikan jus jeruk kepada Clara.
“Dinginkan wajahmu itu lebih dahulu. Wajahmu sudah seperti kepiting rebus.” Clara merebut gelas itu dan meminumnya layaknya orang kesetanan lalu meletakkan gelas itu kembali di meja lalu berdeham.
“Deal?” Clara menyodorkan tangannya.
“Deal.” Felix membalas dan mereka bersalaman.
TBC
Bagaimana teman-teman, apakah kalian gregetan baca cerita ini? Mudah-mudahan gk ya, nanti stres kalo gregetan. Btw maaf ya ceritanya terkesan makin gaje, tapi saya akan usahakan merevisi cerita ini meskipun masih membutuhkan waktu lama karena jika saya tidak langsung upload kapan selesainya cerita ini akibat keraguan saya. Jadi, saya memutuskan untuk menyelesaikan terlebih dahulu merevisinya. Semoga masih ada yang mau menunggu ya. Ayo dong, ramaikan cerita ini dengan komen ya, gpp kok gk di like yg penting ramaiin aja deh sepi soalnya. Oke deh see you in the next chapter.