
"Kenapa terkejut seperti itu, kalian berdua?" tanya Clara dingin. Tidak disangka, ia bertemu dengan orang yang pernah menyiksanya saat kecil di kedainya.
"Bukankah, kau CEO terkenal itu? Kalau tidak salah, namamu Lydia Alcander?" Clara memutar bola matanya bosan. Ia menatap serpihan gelas yang pecah tak jauh darinya.
"Saya tidak seterkenal itu Nyonya, dan kau Nona. Berani sekali kau memecahkan properti yang ada di kedai ini?" Calista menatap tajam pada Clara. Entah kenapa, ia tidak suka melihat wajah Clara/Lydia di hadapannya ini.
"Gelas murahan seperti itu kau permasalahkan. Gelas seperti itu bisa kudapatkan di mana saja dengan uang milikku." Clara mendengkus.
"Gelas itu tidak akan pernah ditemukan di manapun, Nona. Gelas ini memang khusus dibuat untuk kedai ini. Jadi, kau harus membayar lebih mahal untuk mengganti kerugian gelas milikku ini, Nona." Calista berdecih.
"Kalau begitu, berapa uang yang harus kubayar untuk mengganti rugi gelasmu itu?!" tanya Calista ketus. Clara menyeringai.
"1000 dolar." Calista dan sang ibu membelalak mendengarnya.
"Jangan mengada-ngada. Gelas ini pasti banyak di pasar sana, bukan? Kenapa harganya mahal sekali?" Clara mengedikkan bahunya.
"Bukankah sudah kubilang, gelas ini tidak sembarang dijual. Jika kalian tidak percaya, silakan cari gelas yang serupa dengan milikku dan aku akan menunggu barangnya besok. Permisi." Calista menghentak-hentak kakinya kesal karena ulah polisi dan Clara.
"Kurang ajar sekali gadis itu. Lihat saja, aku pasti akan menemukan benda yang serupa dengan itu." Sang ibu mengusap bahu Calista untuk menenangkan sang anak.
"Sudah sayang, tidak ada gunanya kau marah-marah. Yang terpenting, kita pulang sekarang dan tunggu Papa pulang ke rumah." Calista mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana jika Papa tidak pulang nanti, Ma? Calista akan malu dengan teman-teman jika Papa di penjara untuk waktu yang lama." Sang ibu mengusap rambut Calista.
"Tenang saja, Papa pasti akan pulang. Kau tahu, tidak akan ada yang bisa memenjarakan Papa." Calista pun mengangguk dan mengikuti sang ibu keluar dari Kedai Lotus.
"Tuan Alvin Helbert. Anda tahu, kenapa anda bisa ada di sini?" Alvin menatap datar polisi di hadapannya.
"Entahlah, aku sendiri pun terkejut." Polisi itu tersenyum miring.
"Terjadi pembunuhan di apartemen anda terhadap pria dan wanita. Saya juga mendapatkan bukti rekaman yang merekam kejadian tersebut di apartemen anda." Alvin menatap bingung pada polisi di hadapannya.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Saya ingin bertanya sebelumnya, di mana anda saat tadi siang saat terjadi pembunuhan di apartemen anda?" Alvin menyandarkan tubuhnya di kursi dan melipat tangannya.
"Aku melakukan perjalanan bisnis. Kenapa memangnya." Polisi itu mengangguk beberapa kali.
"Kalau begitu, kenapa anda bisa ada di rekaman ini?" Alvin mengernyitkan dahinya. Ia pun melihat video di mana dirinya membunuh dua orang di apartemennya sendiri.
'Bagaimana bisa rekaman itu ada di tangan polisi? Apakah sekretarisku berkhianat? Sial, dia akan kubunuh setelah bebas dari sini.' Alvin menatap polisi itu dan bersikap tenang, seolah-olah bukan dirinya yang ada di rekaman tersebut.
"Kau menangkapku hanya dengan video ini? Kau tidak tahu, jika rekaman CCTV bisa dimanipulasi di zaman yang maju ini. Aku kecewa dengan kinerja kalian semua." Sang polisi hanya diam tidak menanggapi ucapan Alvin karena memang benar, jika kinerja mereka mengecewakan. Namun, bukti rekaman ini tidak bisa disia-siakan begitu saja.
"Sekarang, aku ingin bertanya. Dari mana kau mendapat video ini?" Polisi itu terdiam karena ia tidak tahu pasti siapa yang mengirimkannya. Ia hanya menjalankan tugas sebagai polisi.
Brakkk....
"Hah ... hah ... saya minta maaf atas kesalahan yang dilakukan bawahan saya, Pak Alvin. Saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi. Saya mohon, jangan menuntut kami. Sejujurnya, bawahan saya ini masih pemula sehingga tidak berpikir dulu sebelum bertindak." Polisi muda yang bernama Rendy itu pun beranjak dan menatap heran pada Kepala Polisi itu.
"Pak, bukankah anda yang menyuruh saya menangkap Tuan Alvin? Kenapa anda meminta maaf? Padahal, kita hanya perlu mendapatkan pengakuan darinya. Itu saja." Kepala Kepolisian itu menatap tajam pada Rendy.
"Diam kau! Memangnya, kapan aku memerintahkanmu untuk menangkap Tuan Alvin?! Bukankah kau yang mengambil keputusan sendiri berdasarkan bukti yang tidak jelas! Mulai hari ini, kau aku pecat!" Rendy membelalak mendengarnya. Padahal, jelas-jelas Kepala Kepolisian ini yang memerintahkan dirinya setelah mendapat rekaman tersebut. Tapi lihatlah, dia bertingkah seolah tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Karirnya benar-benar tamat sekarang, ia tidak tahu harus mencari kerja di mana lagi sekarang. Keluarga kecilnya bergantung pada dirinya untuk memberi nafkah.
"Anda tidak bisa begitu, Pak! Saya hanya menjalankan perintah yang anda berikan dan saya selalu menghormati anda! Tidak seharusnya anda memecat saya di saat saya sudah melakukan pekerjaan yang benar!" bentak Rendy.
"Tutup mulutmu! Aku tidak menerima bantahan lagi! Silakan buat surat pengunduran dirimu, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Hancur sudah harapan Rendy untuk mendapat jabatan tinggi di kepolisian. Ia menunduk menatap lantai dengan tangan mengepal kuat, giginya yang bergemelatuk menahan amarah. Alvin yang melihat itu pun tertawa puas di dalam hatinya.
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan Alvin. Sebagai permintaan maaf, saya akan meminta anggota saya untuk mengantar anda pulang. Dan kau! Pergi dari sini!" Kepala Kepolisian itu menunjuk tegas ke arah Rendy yang menunduk itu.
Alvin mengambil ponselnya dan meninggalkan jam tangan di kotak kecil itu.
"Ambil saja jam tangan itu, aku tidak suka barangku disentuh orang lain. Permisi." Alvin keluar dari ruangan interogasi disusul oleh Kepala Kepolisian di belakangnya, meninggalkan Rendy yang duduk di kursinya.
"Si Alvin itu dibebaskan dari penjara. Bahkan, diantarkan pulang oleh mereka. Kurasa dia menyuap polisi itu, Clara." Tatapan Clara mengikuti mobil polisi yang mengantar Alvin pulang ke rumah.
"Tidak heran juga. Dia adalah ketua mafia, tidak mungkin tertangkap semudah itu. Kita biarkan saja dulu. Oh iya, kudengar, kau punya teman di sini. Kenapa tidak suruh dia bekerja sama saja dengan kita?" David menatap malas pada Clara.
"Haruskah? Aku tidak yakin dia mau bekerja sama dengan kita." Clara menjitak kepala David.
"Awww!!! Ini sakit! Tenagamu seperti monster, Clara!" ringis David.
"Kau itu terkenal jenius tapi, kalau soal ini bodoh sekali. Kita culik saja dia dan mengancamnya agar mau bergabung dengan kita." David menepuk jidatnya.
"Baiklah, kau harus menaikkan gajiku kali ini. Menyusup di kantor polisi adalah pekerjaan merepotkan," keluh David.
"Kau tidak perlu repot menyusup, dia sudah keluar dari kantor polisi." David menatap Rendy yang dikenal sahabatnya.
"Tapi tetap saja, kau harus menaikkan gajiku kali ini." David memakai penyamaran yang sempurna dan memastikan tidak ada orang yang berlalu lalang. Ia pun keluar dari mobil dan memukul tengkuk Rendy hingga pingsan. Ia pun membopong tubuh Rendy dan memasukkannya ke dalam mobil belakang, sementara dirinya duduk di sebelah Clara.
"Dia seorang polisi tapi, refleksnya tumpul sekali." David tertawa mendengarnya.
"Entahlah, biasanya dia tidak seperti itu. Mungkin saja, dia sedang ada masalah." Clara mengangguk paham.
"Jalan, Pak!" perintah Clara pada supirnya.
TBC....