I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 2 : Trouble



Setelah tiba di sekolah, ketiga gadis culun ini pun mendapat tatapan cemooh dari beberapa teman


sekelasnya itu.


“Lihatlah ketiga gadis culun itu, benar-benar tidak menarik sekali.” Suara seorang gadis terdengar di telinga ketiga gadis tersebut, namun ketiga gadis itu tidak menghiraukannya sama sekali.


“Heh, mereka terlihat seperti kembar. Sama-sama membawa buku layaknya kutu buku. Dasar, mereka pasti hanya ingin mencari muka saja dihadapan guru-guru agar menyayangi mereka.” Ucap gadis yang satunya lagi.


“Sudahlah, tidak ada gunanya mengurus para culun seperti mereka. Mereka tidak akan pernah sebanding dengan kita. Kita masuk ke sekolah ini karena kekayaan kita sementara mereka? Hanya dengan beasiswa dan itu bukanlah apa-apanya.” Ucap seorang gadis bersurai pink. Wajahnya pun terlihat mirip dengan Clara.


“Bukan begitu Clara?” Ia menatap remeh kepada Clara. Clara menatap datar kepada gadis tersebut.


‘Cih, bisa apa dia tanpa kekayaan yang berasal dari orang tua?’ Ucap Clara dalam hatinya. Ia terus berjalan bersama kedua sahabatnya itu menuju ke kelas mereka masing-masing.


“Tidakkah kau ingin menyapa saudara kembarmu ini Clara?” Clara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke orang yang diduga merupakan saudara kembarnya itu.


“Kalian duluan saja, biar aku selesaikan ini.” Stella dan Luna pun mengangguk dan melanjutkan langkah mereka ke kelas mereka masing-masing.


“Ekhem, maaf, apakah sebelumnya kita benar-benar mengenal diri kita masing-masing sehingga bisa memanggil namaku dengan seenaknya, Claire?” Semua orang terkejut ketika kedua gadis yang mempunyai wajah yang sama ini saling mengenal.


“Kau mengenalinya, Claire?” Tanya seorang gadis bersurai merah maroon yang bernama Alexa.


“Yah, dia adalah saudara yang aku ceritakan. Aib bagi keluarga kami.” Claire menyeringai sambil menatap Clara yang menatapnya datar.


“Aib? Jika sampai mereka tahu siapa yang sebenarnya aib, maka, ucapkanlah selamat tinggal kepada kehidupanmu yang sekarang dan jadilah seorang pengemis dijalanan.” Claire mendengus mendengar ucapan Clara yang amat menghina baginya tersebut.


“Benarkah? Tapi sayangnya mereka tidak akan tahu itu dan mereka pastinya lebih mempercayaiku dibandingkanmu.” Claire mencoba memprovokasi Clara, namun sepertinya itu tidak berhasil.


“Entahlah.” Clara pun berbalik dan memasukki kelasnya.


KRIIIIIIINGGGG


Bel berbunyi menandakan pelajaran pertama akan dimulai. Para siswa dan siswi duduk di tempat mereka masing-masing sementara Clara sudah duduk manis dibelakang begitu juga dengan kedua sahabatnya yang berada di kelas lain.


Suara dihadapan mereka membuat Stella, Luna, dan juga Clara di masing-masing kelas merasa risih membuat mereka kesal sendiri karena para gadis yang terlihat heboh terhadap para badboys yang sangat populer di kelas mereka masing-masing.


‘Tidak bisakah sehari saja mereka tidak usah berisik?’ Batin ketiganya.


“Felix, terimalah hadiah dariku.” Ucap salah satu orang gadis.


“Tidak, tidak, terima hadiahku saja, hadiahnya sangat jelek.” Ucap seorang gadis yang satunya lagi.


“Menyingkirlah kalian dari hadapanku atau akan kubuat kalian menyesal seumur hidup.” Ancaman dari laki-laki yang bernama Felix itu pun membuat para gadis dihadapannya menciut dan langsung duduk di tempat mereka masing-masing.~~~~


“Selamat pagi semuanya?” Ucap seorang guru wanita berkacamata bernama Karin.


“Pagi bu.” Jawab para murid serentak kecuali Marcello.


“Hari ini kerjakan tugas halaman 5 dan kumpulkan besok.” Mendengar itu sontak membuat para murid menatap malas kepada Ibu Guru Karin.


“Kenapa wajah kalian seperti itu? Ini masih pagi dan kalian harus semangat ya. Nah, supaya kalian semangat, ibu akan menuliskan soal didepan dan ibu akan memanggil kalian satu persatu agar kalian semangat mengerjakan soal yang ibu tulis.” Ucapan itu tidak membuat para murid itu semangat justru mereka semakin lesu.


“Bu, saya ingin ke toilet sebentar bu.” Ucap seorang murid laki-laki.


“Jangan mengada-ngada kamu. Ibu tahu kamu tidak mau mengikuti pelajaran ibu dan beralasan ingin ke toilet. Ibu bisa melihatnya dari wajah kamu. Tidak ada yang boleh keluar selama pelajaran ibu kecuali jam istirahat. Oh iya, sebelum ibu menuliskan soal, kalian harus mempelajari dulu di buku rumusnya setelah itu, kalian akan ibu tes


“Ehhhhh?!!!!” Para murid berteriak mendengar itu. Pelajaran matematika adalah pelajaran yang membuat


mereka lebih malas lagi.


“Jangan berteriak seperti di pasar. Belajarlah dengan baik jangan sampai ulangan kalian dapat 0.” Para murid sontak memajukan bibirnya menandakan mereka kesal dengan pelajaran hari ini.


Kelas pun menjadi hening beberapa saat hingga suara seorang gadis yang memecahkan keheningan kelas itu.


“Bu, Clara melempar saya dengan kertas dari tadi bu.” Adu Claire.


“Belajar dengan tenang dan kamu Clara, keluar dari kelas saya sekarang juga.” Clara hanya menatap datar kepada Claire


“Saya dari tadi diam saja bu, bahkan saya melihat Claire sedari tadi meremas-remas kertas itu lalu membuangnya ke lantai.” Clara berucap sambil menunjuk Claire dengan jari telunjuknya.


“Tidak bu, Clara bohong, dia terus-terusan melempar saya.” Claire memasang wajah kesal yang dibuat-buat.


“Clara, karena kamu mengganggu teman sekelas kamu, silakan keluar dan berjemur di lapangan sana. Kebetulan ini masih pagi dan kalian harus rajin-rajin berjemur agar sehat. Sana keluar!” Clara menghembuskan napasnya kasar dan keluar dari kelas menuju ke lapangan upacara.


‘Dasar gadis manja sialan!’ Rutuk Clara dalam hatinya. Ia mendecih.


Setibanya di lapangan upacara, ia melihat kedua sahabatnya juga sedang duduk di lapangan upacara.


“Kita memang selalu kompak kapanpun dan dimanapun.” Ucap Stella membuat Clara mendengus.


“Cih, gadis manja sialan itu mengarang cerita kepada guru dan membuatku dihukum, sialan sekali mereka, rasanya ingin sekali aku membuat rambutnya rontok hingga botak dan menangis darah karena kecantikan mereka menghilang untuk selama-lamanya.” Umpat Clara.


“Wow, baru pertama kali aku melihatmu mengumpat seperti ini. Sepertinya para gadis-gadis itu tidak akan kapok jika kita tidak bertindak, bukan?”


“Aku punya ide. Mendekatlah kalian kepadaku.” Clara dan Luna mendekat ke arah Stella dan kemudian mereka menyeringai mendengar bisikan dari Stella.


“Setuju.”


“Kakiku pegal sekali, hah dihukum seperti ini tidak enak sama sekali. Kau bilang firasatmu akan bagus hari ini, tapi apakah kita harus dihukum seperti ini dulu baru mendapatkan sesuatu yang bagus?” Stella mengerucutkan bibirnya setelah bertanya sambil menatap Luna yang tertawa geli kepada Stella.


“Sudahlah, bukankah orang sukses sekalipun tidak ada yang tidak pernah merasakan sakit, lelah, dan pegal, jadi terima saja. Lagipula rencana ini yang akan mengantarkan kita kepada sesuatu yang menyenangkan itu.” Ucap Luna.


“Kalaupun aku bisa meminta sesuatu yang menyenangkan, maka aku ingin semua orang tahu bahwa keluarga kami itu sangatlah memalukan.” Ucap Clara.


“Itu pasti akan terjadi Clara, tenang saja, lagipula mereka akan menyesal karena telah mengusir anak yang sangat baik dan berbakti dibandingkan saudaranya. Apa jangan-jangan mereka tidak bisa membedakan anak kembar mereka sendiri?” Clara hanya mengedikkan bahunya.


“Entahlah, mungkin karena sibuknya mereka tidak bisa membedakan kami.” Stella tertawa renyah.


“Hahaha, jika seperti itu, mungkin image mereka sendiri akan buruk dimata orang jika sampai orang-orang tahu mereka tidak bisa membedakan anak-anak mereka sendiri, padahal biasanya orang tualah yang tahu bagaimana anak-anak mereka.” Ucap Stella.


“Itulah yang kuinginkan, karma pasti akan berlaku kepada siapapun yang bertingkah seolah-olah mereka adalah orang yang baik, namun aslinya tidak sama sekali.” Ucap Clara santai.


“Ya, itu benar, aku juga berharap demikian.” Stella menatap langit yang sangat biru dikelilingi awan tersebut.


“Tenang saja teman-teman, karma itu sangatlah nyata dan mengerikan, mereka pasti akan merasakannya, karena kita sudah merasakannya terlebih dahulu. Setidaknya kita sudah mengalami sakit terlebih dahulu baru bersenang-senang di kemudian hari, sedangkan mereka? Mereka akan mengalami rasa sakit yang akan sangat susah diobati.” Ucap Luna dijawab anggukan kepala oleh Clara dan Stella.


“Termasuk pembunuh dari keluargaku. Aku mengharapkan ia menderita akan rasa bersalah yang panjang.” Luna menghela napasnya pelan dan tersenyum kepada kedua sahabatnya. Mereka bertiga adalah sahabat dengan masa lalu yang amat kelam, namun kuat dalam menghadapi setiap percobaan yang diberikan.


TBC