I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 21 : Awake



Clara pulang ke rumah menggunakan mobilnya dan disambut oleh kedua sahabatnya yang terlihat khawatir


tersebut.


“Clara!” Clara menatap heran kepada kedua sahabatnya yang memasang ekspresi wajah yang tidak biasa.


“Tumben sekali ekspresi kalian seperti itu?” Stella dan Luna mendengus.


“Kami ini khawatir denganmu tahu. Ponselmu tidak aktif saat kami hubungi, terlebih setelah mendengar kabar kecelakaan ibumu kami sedikit takut.” Clara terkekeh.


“Ya ampun sahabat-sahabatku ini khawatiran sekali ya. Aku dari tadi di rumah sakit menenangkan saudari kembarku yang nakal itu karena shock. Jadi, aku tidak sempat membuka ponsel.” Clara mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mendapati jika baterai ponselnya habis.


“Ponselku juga sepertinya habis karena aku lupa charge.” Stella dan Luna ber oh ria.


“Kalian sudah makan malam?” Stella dan Luna menggelengkan kepala mereka.


“Baiklah kalau begitu, aku masak dulu untuk kalian. Oh iya, nanti jangan lupa jaga rumah ya, aku harus kembali ke rumah sakit. Aku meninggalkan Claire dengan Felix di rumah sakit untuk membawakan bekal makan malam padanya. Jangan lupa kunci pintu ya.” Stella dan Luna menahan tawanya ketika mode ibu rumah tangga Clara terpancar dalam diri Clara.


“Kenapa kalian tertawa? Apakah ada yang lucu?” Stella dan Luna mengembalikan ekspresi mereka seperti semula lalu menggeleng.


“Ya sudah aku masak dulu dan kalian duduklah dengan manis di rumah karena kemungkinan aku akan menginap


di rumah sakit dan akan makan disana nanti.”


“Siap bos.” Clara pun mulai memasak makan malam dengan porsi yang cukup banyak mengingat ia akan membawanya ke rumah sakit hari ini.


“Clara...” wanita paruh baya yang sedang terbaring itu mengigau memanggil nama anaknya membuat sang suami yang tertidur langsung terbangun. Ia melihat mata sang istri terbuka secara perlahan membuatnya memutuskan untuk memanggil dokter dengan menekan tombol bel yang ada di dekat ranjang bagian kepala itu.


“Kamu sudah sadar Ma, syukurlah.” Pria itu mengecup kening istrinya.


“Pa, Clara dan Claire di mana?” Tanya wanita itu.


“Claire ada di depan sedang tidur. Clara, dia mengatakan sedang pulang ke rumah dan menitipkan salamnya sama


kita semua lewat Claire.” Wanita itu mengangguk dan memejamkan matanya sebentar.


“Claire sempat shock pas dengar kamu kecelakaan tadi, dia sudah ditenangkan oleh Clara. Meskipun aku benci mengakuinya, dia pandai sekali menenangkan orang.” Wanita paruh baya itu mendengus.


“Tentu saja, dia pandai menenangkan orang lain dan aku sudah mengetahuinya lebih lama dari kamu. Kamu hanya bisa membanding-bandingkannya dengan Claire, padahal mereka itu saudara, tidak seharusnya mereka bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling bodoh dan paling pintar.”


“Kau tidak mengerti sayang, aku melakukan ini juga demi kebaikan Clara. Banyak orang diluar sana yang menjelekkan Clara karena nilai Clara yang lebih rendah dibandingkan dengan Claire. Aku juga mulai menuntut Claire sekarang karena mendengar nilai Clara lebih meningkat. Aku hanya ingin mereka setara agar tidak dijelek-jelekkan lagi.” Wanita paruh baya itu memutar bola matanya bosan.


“Cih, padahal kau bisa mengabaikan ucapan mereka itu. Semua orang punya kelebihannya masing-masing dan tidak harus disamakan. Kau bahkan tidak tahu betapa seringnya Clara sakit karena belajar terlalu keras. Belakangan ini juga kau menuntut Claire untuk belajar dengan keras, apa kau mau anakmu itu stress dan jadi zombie?” Sang suami pun hanya bisa terdiam dan menghela napas pasrah karena ia tidak punya lagi kata-kata untuk berargumen dengan sang istri.


“Baiklah, kau benar dan aku salah. Aku minta maaf.”


“Minta maaflah kepada kedua anakmu. Kau tidak tahu dengan cara mendidikmu ini, Claire membenci Clara dan bahkan sering membully Clara entah karena Clara bodoh ataupun lebih pintar darinya. Sebaiknya minta maaflah dengan mereka dan berusahalah untuk mengubah perilaku Claire agar tidak lagi membully orang-orang hanya karena rasa iri dan tidak suka di hatinya.” Pria itu meringis mendengar ucapan istrinya.


“Jadi, selama ini Claire seperti itu karena aku dan aku menyalahkan orang lain?” Sang istri mengangguk tegas.


“Baiklah, aku salah dan aku akan minta maaf kepada mereka.” Sang suami pun keluar untuk memanggil Claire.


“Claire, masuklah, mama sudah bangun.” Claire yang mendengar itu langsung bangkit berdiri dan berbinar.


“Benarkah?” Pria itu mengangguk.


“Terima kasih Tuhan, Engkau sudah mengabulkan doaku.” Claire menengadahkan kedua tangannya ke arah langit


“Padahal sejak tadi kerjaannya dia hanya tidur saja,” Ucap Felix berbisik.


“Ayo masuk. Anak muda, terima kasih karena sudah menemani anakku.” Felix mengangguk sambil tersenyum. Ayah dan anak itu pun masuk ke dalam kamar perawatan meninggalkan Felix dalam kesepiannya.


“Hah sepi sekali. Kenapa Clara lama sekali datangnya?” Felix pun mendudukki depan ruangan perawatan sambil menunggu kedatangan Clara.


Bunyi cacing-cacing di perut pun terdengar membuat Felix merona. Ia menolehkan kepalanya kiri dan kanan, untungnya tidak ada orang.


“Memalukan.” Felix melipat tangannya dan menyandarkan punggung tegapnya di kursi rumah sakit itu.


“Apanya yang memalukan?” Felix terkesiap mendengar suara itu. Ia pun mendongakkan kepalanya menatap Clara yang berdiri di hadapannya. Ia melihat kantong plastik dan menduga jika itu adalah makanan.


“Kau lama sekali Clara. Kau tahu, aku sudah kelaparan menunggu kedatanganmu.” Clara melipat tangannya.


“Benarkah? Wah kebetulan sekali aku membawa makanan lebih untuk kita makan hari ini. Oh iya, kemana Claire?” Tanya Clara.


“Di dalam. Ibumu sudah sadar dan sekarang mereka sedang berada di dalam untuk merayakan kebahagiaan mereka.” Clara mengangguk paham.


“Kalau begitu aku masuk saja ke dalam. Aku akan mengantarkan makanan pada mereka. Kau tunggulah disini setelah itu kita akan makan bersama-sama. Hari ini aku masak banyak.” Clara langsung masuk ke ruang perawatan untuk memberikan makan malam kepada ayah, ibu, dan juga saudarinya.


“Permisi.” Suara Clara yang terdengar lembut mengusik pendengaran tiga orang yang sedang berbahagia tersebut.


“Maaf mengganggu hari bahagia kalian, aku hanya ingin memberikan kalian makan malam. Untuk Mama, aku membawakan bubur spesial jadi tentunya tidak akan membosankan.” Clara mengeluarkan satu persatu kotak bekal berisi makan malam tersebut dan memberikannya kepada Claire juga ayahnya.


“Mama juga mau disuapi?” Clara membuka kotak berisi bubur buatannya tersebut.


“Ekhem, biar Papa saja yang suapi Mama. Kamu makan saja bekalmu.” Clara mengangguk.


“Baiklah kalau begitu, aku akan keluar. Temanku Felix pasti kesepian jika dibiarkan sendirian. Permisi.” Clara pun meninggalkan ruang perawatan.


“Kita makan sekarang. Ini untuk pertama kalinya kamu memakan masakanku tanpa bantuan ibumu.”


Felix mengangguk. Mereka pun memakan bekal yang dibuat oleh Clara.


“Ini sangat enak, kau benar-benar pandai memasak. Mulai besok, bawakanlah bekal untukku ya.” Clara menghela napas kasar lalu menatap malas kepada Felix.


“Baiklah,” Ujarnya lesu.


“Aku tidak sabar menunggu hari esok.” Clara mendengus.


“Baiklah kalau begitu tunggulah besok.” Clara menyeringai membuat Felix merinding melihatnya.


“Makanan ini enak sekali,” Ucap Claire.


“Iya Claire, makanan ini sama seperti masakan ibumu rasanya.”


“Tentu saja, Clara menurunkan bakatnya dariku. Aku sering mengajarinya memasak di saat kalian berdua jalan-jalan ke mall. Kalian tentu tahu apa alasanku menolak untuk ikut menghabiskan waktu bersama selama ini.” Claire dan ayahnya terdiam mendengar ucapan ibunya. Ucapan itu seperti menampar mereka dari perbuatan yang selama ini mereka lakukan. Mereka terlalu sering menyakiti Clara dengan sifat mereka.


“Setidaknya suatu hari nanti ajaklah Clara untuk jalan-jalan dan habiskanlah waktu kita berempat bersama disaat ada kesempatan nanti. Clara selalu terkurung di kamar untuk belajar selama ini.” Air mata terlihat menetes dari mata wanita paruh baya itu.


“Bagaimana kalau besok kalian libur lagi, nanti Papa akan memberikan surat keterangan izin kepada sekolah nanti. Kita akan menggunakan hari esok untuk berjalan-jalan. Papa akan berbicara perlahan dengan Clara nanti.”


TBC