I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Bab 1 : Nightmare



DOR ... DOR....


Clara kecil terbangun dari tidur dan membuka pintu kamarnya untuk mengetahui yang sedang terjadi. Kegaduhan yang luar biasa keras, dengan teriakkan yang terdengar membuatnya penasaran dan ketakutan untuk membenarkan dugaan-dugaan yang ada di kepalanya. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit dan membolakan matanya. Air mata mengalir dari mata hitamnya, melihat kematian kedua orang tuanya. Ia menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya jika kejadian itu hanyalah mimpi.


"Ini mimpi hiks ... ini hanya mimpi ... ini tidak nyata, aku harus menyadarkan diriku ... aku tidak boleh begini, aku mohon Clara, sadarlah dari mimpi buruk ini...." Clara memukul-mukul wajahnya dan kepalanya sendiri


sambil terisak. Gambaran kedua orang tuanya tergeletak bersimbah darah masih terlintas dalam pikirannya.


"Hiks ... tidak, kumohon ... bangunkan aku dari mimpi buruk ini hiks ... ini hanya mimpi hiks...." Tiba-tiba, terdengar langkah menuju kamarnya. Ia pun bersembunyi di ranjang bawah untuk menghindari orang jahat


itu.


"Hiks ... Ayah, Ibu hiks ... jangan tinggalkan aku sendirian ... aku takut sekali hiks...," isak Clara kecil. Ia tersentak ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Ia menutup mulutnya, berusaha untuk tidak bersuara


sedikitpun.


"Periksa seluruh ruangan ini!" Mendengar suara berat itu, Clara semakin gemetar. Ia menahan isakannya agar tidak terdengar oleh para penjahat tersebut.


Bugh ... Bugh....


Para penjahat itu pun kehilangan kesadaran, setelah seseorang memukul tengkuk mereka.


Clara memejamkan matanya rapat dan tidak ingin melihat ke arah manapun. Tanpa sadar, seseorang menutup mulutnya hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan tidak tahu siapa yang mengangkat tubuhnya.


Clara membuka matanya paksa dan tersengal-sengal. Ia meneguk air putih terburu-buru hingga tersedak dan meletakkan gelas itu di nakas dengan kasar.


"Sial ... kenapa mimpi buruk itu harus muncul lagi?" Clara berdecak kesal mengingat mimpi buruk yang menimpanya.


Clara menuju meja kerjanya dan membuka laptopnya. Ia ingin bersantai sambil bermain game di laptopnya karena seluruh laporan telah selesai ia kerjakan.


Sayang seribu sayang, beberapa laporan mengantri untuk diperiksa oleh Clara. Clara membuka isi laporan itu dan membaca dengan teliti.


"Khe ... ada yang bermain-main denganku rupanya ... sayang sekali, kau tidak akan selamat kali ini, tikus brengsek...." Clara menyeringai. Clara membuka obrolan grupnya dan mengetik beberapa kalimat di sana.


Cari tahu siapa tikus yang mencari masalah denganku!


Baiklah, baiklah ... nanti siang akan kuhubungi kau jika sudah kubawa ke tempat biasa.


Clara tersenyum jahat saat membaca obrolan group di laptopnya. Mempekerjakan rekan terbaik bersamanya adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan.


"Kira-kira, apa kalian akan mengabaikan peringatanku kali ini?" Clara mematikan laptopnya dan membersihkan dirinya.


Tidak perlu waktu lama untuk bersiap, Clara telah berpenampilan rapi. Wanita berkarir memang tidak layak untuk diragukan. Penampilan kali ini sangat berbeda dari biasanya, ia memakai lensa kontak berwarna blue safire dan wig berwarna biru laut.


"Kau sangat cantik, Clara." Percaya diri akan kecantikan adalah bagian dari wanita tangguh. Itulah yang selalu diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Ia keluar kamar dan melihat seorang maid meletakkan sebuah hidangan di meja makan. Tidak lupa dengan teh lavender kesukaannya.


"Nona Lydia, anda sudah bangun?" Clara mengangguk malas. Baik di dalam maupun luar rumah, Clara memakai nama samaran, yaitu Lydia. Menjadi seorang CEO tentu memiliki banyak musuh atau saingan di luar sana, yang ingin menjatuhkan dirinya. Selain banyak musuh, Clara juga memiliki masa lalu yang kelam, dimana kedua orang tuanya terbunuh secara tidak adil oleh seseorang yang amat ia benci. Ia tahu, keberadaannya saat ini dicari oleh sang pembunuh yang menginginkan nyawanya. Untuk itu, memakai nama samaran adalah yang paling tepat untuk melawan semua musuhnya.


"Jika aku belum bangun, kenapa aku ada di sini?" Maid itu menunduk malu karena menanyakan hal tidak berguna. Ia bermaksud untuk berbasa-basi pada nona mudanya ini namun, Clara tidak suka berbasa-basi.


Clara menyerahkan amplop berisi uang pada Maid di hadapannya.


"Apa ini Nona?" tanya Maid tersebut.


"Gajimu...." Maid itu menatap bingung dengan amplop berisi uang tersebut.


"Tapi Nona, bukankah aku baru bekerja di sini? Kenapa kau memberikannya padaku?"


"Baru? Kau lupa, jika kau sudah 1 bulan berada di sini? Apa kau tidak menginginkannya? Aku ambil kembali kalau begitu." Clara hendak menyimpan kembali sejumlah uang itu namun, tangan Maid itu menahannya.


"Hm...," gumam Clara.


"Terima kasih Nona, saya permisi dulu." Clara mengangguk dan memakan makanannya.


Drrt ... Drrttt....


Suara getaran ponsel mengganggu aktivitas makan Clara yang hampir selesai. Ia membuka ponselnya dan menyeringai jahat pada ponselnya.


"Cantik sekali. Tapi sayang, kau tidak akan selamat." Clara meletakkan ponselnya dalam tas dan berangkat ke kantornya.


Setibanya di kantor, Clara di sapa hangat oleh para karyawannya namun, Clara tidak menghiraukan sama sekali.


"Cih, sombong sekali dia," ucap karyawan 1, dengan pakaian kurang bahan.


"Sudahlah, jangan mencari masalah dengannya jika masih ingin bekerja di sini. Jarang-jarang kita mendapat gaji tinggi di perusahaan ini," ujar karyawan 2.


"Ekhem...." Suara dehaman mengganggu pendengaran kedua karyawan berpakaian kurang bahan itu.


"Eh ... Nona Lydia, tumben sekali?" Kedua karyawan itu berkeringat dingin saat tatapan intens Clara seakan menguliti mereka.


"Jika aku mendapati kalian berpakaian tidak sopan, silakan angkat kaki dari sini!" Ucapan Clara berhasil membuat kedua karyawan wanita itu ketakutan dan kembali ke tempat mereka masing-masing.


Clara berdecih....


"Untung saja aku waras. Jika tidak, kalian akan mati di tanganku," gumam Clara.


Ia melangkah ke lift dan mengeluarkan kartu dari tasnya. Ia mendekatkan kartu tersebut ke bawah tombol-tombol berisi angka di sana.


Lift itu membawa Clara ke lantai bawah kantor, tepatnya ruang rahasia yang tidak diketahui semua orang.


Kedatangan Clara di lantai paling bawah, disambut oleh kedua bodyguard setia di hadapannya.


"Selamat datang, Nona Clara." Clara mengangguk.


"Terima kasih." Clara pun masuk ke ruang rahasia itu dengan elegan.


"Yo, Clara," sapa seorang pemuda. Terlihat imut namun, mematikan.


"Yo, David. Kerja bagus, ini bonusmu." Clara melemparkan amplop tebal berisi uang pada David.


"Terima kasih Clara, kau memang baik sekali." Clara menjawab dengan gumaman.


“Tidak perlu berterima kasih. Aku selalu memberi bonus karena kinerja kalian sangat memuaskan.” David bersipu malu mendengar pujian dari Clara.


“Jangan terlalu memuji begitu Clara, aku jadi malu....” Clara tertawa mendengarnya.


“Hahahaha ... dasar!”


TBC


Chapter 1 sudah update setelah sekian lama karena kesibukan yang


melanda. Untuk beberapa minggu karena harus melaksanakan UAS. Setelah UAS, saya


akan mengistirahatkan tubuh dan pikiran, agar dapat melanjutkan cerita ini


dengan santai dan fresh. See you next few weeks guys.