
"Saya mohon ... jangan bunuh saya, Tuan. Saya berjanji, akan membayar hutang saya bulan depan." Pria paruh baya bernama David itu berlutut memohon kepada pria tampan di hadapannya.
"Ini waktunya kau menepati janjimu, Tua Bangka. Kau harus membayar hutangmu sampai lunas padaku sekarang. Jika tidak, kau akan mati di tanganku." Pria paruh baya itu gemetar ketakutan mendengar ancaman sang pria bernama Felix tersebut. Akibat kalah bermain judi, ia harus berhutang kepada ketua mafia tersebut.
"Ampuni saya, Tuan. Saya akan memberikan apapun pada anda untuk melunasi hutang saya asalkan anda tidak membunuh saya. Bahkan, saya rela memberikan anak saya sebagai jaminan hutang saya pada anda." Felix tertawa mendengar ucapan David.
"Ayah macam apa yang menjadikan anaknya jaminan untuk membayar hutangnya, huh? Aku berani bertaruh, jika putrimu akan membencimu selamanya jika ia mendengarnya langsung dari mulutmu." David hanya terdiam. Yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatannya. Tidak peduli mengenai apapun yang terpenting, nyawanya selamat.
"Ada apa ini?!" Suara sang gadis dari luar menyapa pendengaran Felix. Felix menatap gadis tersebut dari atas dan bawah hingga membuatnya berucap satu kata,
"Cantik," gumamnya. Namun, dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi dingin.
"Apakah dia putrimu, Tuan David?" tanya Felix.
"Iya, Tuan. Dia adalah putri saya. Anda boleh mengambilnya asalkan, jangan membunuh saya." Putri David yang bernama Clara itu mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu, Ayah? Ada apa ini sebenarnya? Adakah yang bisa menjelaskan, apa yang terjadi?" tanya Clara kebingungan.
"Malang sekali nasibmu, cantik. Kau harus tinggal bersama pria brengsek yang menjadikanmu jaminan untuk melunasi hutangnya." Clara menatap tajam pada Felix.
"Bisa kau jelaskan maksudmu, Tuan?" tanya Clara penuh penekanan. Entah kenapa, ia merasa kesal melihat pria tak dikenal ada di rumahnya.
"Ayahmu berhutang banyak padaku, Nona. Dia selalu berjanji akan melunasinya namun nyatanya? Dia mengingkari janjinya. Aku sudah bersabar untuk tidak membunuh ayahmu ini, Nona. Tapi, kesabaranku ada batasnya." Clara yang mendengarnya pun menatap tajam sang ayah.
"Apa benar yang dikatakan pria ini, Ayah? Ayah berhutang banyak padanya dan belum membayarnya sampai sekarang?" Sang ayah hanya diam tidak menjawab.
"Lalu, Ayah kemanakan uang yang kuberikan selama ini? Bukankah Ayah bilang ingin membayar hutang Ayah? Karena itulah aku bekerja keras untuk mengumpulkan semua uang itu tapi apa? Tega sekali Ayah padaku." Clara menatap kecewa pada sang ayah.
"Dengar Clara, Ayah melakukan ini juga karena kau! Jika bukan karena anak pembawa sial sepertimu, aku tidak akan bangkrut dan berjudi untuk mendapatkan uang!" bentak David membuat sang anak terkejut.
"Jadi, Ayah menganggapku pembawa sial? Karena itulah Ayah selalu memukul dan memakiku?" tanya Clara dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, memangnya kenapa? Pokoknya, kau harus menjadi jaminan untukku melunasi seluruh hutangku. Bukankah kau ingin menjadi anak baik?" Clara menatap tidak percaya sang ayah.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak membunuhku saja, Ayah?! Kenapa?!!!" Clara membentak sang ayah, menyalurkan rasa kecewanya pada sang ayah.
"Karena aku berpikir, kau akan menjadi anak yang berguna untukku. Tapi apa? Kau selalu membuatku susah, dasar anak tidak berguna." Pernyataan itu menohok hati Clara. Felix menguap menyaksikan drama ayah dan anak yang ditayangkan secara live.
"Sudah selesai dramanya?" tanya Felix.
"Jujur saja, drama kalian membosankan sekali. Kau gadis cantik, ikutlah denganku sekarang juga." Clara menatap tajam pada Felix. Felix terkejut ketika mendapati air mata mengalir dari mata Clara.
"Bunuh saja aku!!!" teriak Clara.
Felix menatap dingin pada Clara, "Tidak semudah itu, Nona. Jika kau mati, ayahmu juga akan mati." Clara membolakan matanya.
"Turuti perintahku danĀ kau akan selamat. Atau, jika kau bisa membayar hutangmu maka, aku tidak akan membawamu dan ayahmu ~~~~selamat."
"Berapa nominalnya?" tanya Clara ragu.
"Katakan saja berapa nominalnya. Aku akan mencoba menyicilnya." Felix menggeleng.
"Kau harus membayar secara cash, Nona. Jika tidak, ayahmu tidak akan selamat." Clara terdiam tidak menanggapi. Suasana rumah minimalis itu menjadi suram di tengah malam.
Felix menghela napasnya, "Lima ratus juta rupiah dan itu baru bunganya." Clara membelalak mendengarnya. Uang sebanyak itu harus ia cari ke mana?
"Kau bercanda?!" Dengan nada tinggi, Clara bertanya.
"Apakah wajahku terlihat bercanda?" Clara kembali terdiam.
"Jika kau memang mampu, kau tidak akan menjadi jaminan ayahmu untuk melunasi hutangnya. Karena itulah, kau harus ikut denganku." Clara menghela napas dan menatap sang ayah yang memalingkan wajahnya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi ada syaratnya," Clara menghentikan ucapannya membuat Felix mengerutkan dahinya.
"Katakan!" Clara kembali melanjutkan,
"Sediakan beberapa bodyguardmu dan awasi ayahku kemanapun beliau pergi. Jika beliau masih bermain judi, lakukan apapun yang kau inginkan." David yang mendengar itu pun menatap tajam pada Clara.
"Anak kurang ajar! Apa maksudmu berkata seperti itu, hah?!" David mendekat dan hendak menampar Clara namun, tangannya ditahan oleh Felix.
"Sentuh dia seujung jari maka, bersiaplah untuk mati agar hutangmu lunas." David menghempas tangan Felix dan membuang wajahnya ke samping.
"Aku melakukan ini agar Ayah tidak lagi berjudi. Ayah harus hidup dengan baik setelah aku pergi." David tersenyum miring.
"Karena aku tidak ingin menjadi jaminanmu untuk kedua kalinya, Ayah." Senyuman miring menghilang dari wajah David, tergantikan amarah di wajahnya.
"Anak kurang ajar kau! Mulai sekarang, kau bukan lagi anakku! Ah, aku lupa! Kau hanyalah anak yang aku pungut di tempat sampah dan berakhir membawa kesialan dalam hidupku! Pergilah kau sejauh mungkin, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Clara keluar dari rumahnya dan diikuti oleh Felix.
"Kalian, datanglah ke alamat yang kukirimkan. Jaga orang tua sialan itu, pastikan dia tidak keluar kemanapun. Jika selangkah saja dia keluar dari rumah, aku akan menghabisi kalian. Paham?" Felix langsung mematikan ponselnya setelah menghubungi seseorang namun, Clara terlihat tidak peduli. Ia menatap keluar kaca mobil sementara Felix menatap Clara sambil menyetir.
"Sayang sekali, kau tidak beruntung." Clara menatap Felix dengan dahi mengerut.
"Memangnya kenapa?" tanya Clara dengan dahi mengernyit.
"Ayahmu hidup berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukkan di saat kau berusaha memenuhi kebutuhan kalian." Clara mengedikkan bahunya.
"Mungkin takdirlah yang membuatku hidup dengannya. Jujur saja, dia bukan ayah kandungku." Felix mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Felix. Entah kenapa, ia merasa penasaran dengan kehidupan Clara.
"Dia bilang, aku dibuang oleh orang tua kandungku dan dia menemukanku di depan rumahnya." Setelah itu, tidak ada lagi percakapan.
'Gadis ini berhasil membuatku penasaran. Aku harus cari tahu siapa orang tua kandungnya,' ujar Felix dalam hati.
TBC