
Halo sahabat-sahabat saya yang ada disana, saya kembali lagi hari ini, dan terima kasih atas dukungan kalian selama ini karena kesibukan juga jadi jarang update. Saya juga kemarin-kemarin sibuk dengan menulis cerita di *******. Hari ini saya kembali aktif di mangatoon/noveltoon kembali ya guys setelah mendapatkan kembali ide cerita satu ini. Please Enjoy this story.
Keesokan harinya, mereka bersiap-siap ke sekolah dengan penampilan mereka yang seperti biasanya yaitu dengan kacamata bulat, rambut dikepang dua, dan baju yang kebesaran layaknya gadis culun. Mereka berangkat bersama-sama ke sekolah dengan sepeda mereka ke sekolah. Ketika sampai di sekolah, seperti biasanya juga mereka memarkirkan sepeda mereka ke tempat yang sepi dan jarang terpakai agar terhindar dari tangan orang-orang yang jahil.
“Masih pagi begini, enaknya kita ke atap saja teman-teman.” Mereka bertiga pergi ke atap sekolah untuk menghirup udara segar. Namun sayangnya mereka harus mengurungkan niat mereka karena ada ketiga laki-laki yang kemarin menyelamatkan mereka dari ketiga gadis pengganggu dan juga laki-laki yang semalam bertaruh balap liar dengan mereka.
“Sayang sekali kita tidak bisa menikmati tempat dimanapun, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Akan menyebalkan kita bertemu dengan mereka lagi.” Ucap Clara hendak pergi meninggalkan atap itu bersama kedua sahabatnya, namun sebuah suara menghentikan mereka.
“Kenapa kalian pergi? Ayolah kesini, kami ada urusan dengan kalian.” Felix berujar lalu menyeringai menatap Clara.
“Maaf saja jika urusan kalian itu tidak penting sebaiknya kami pergi saja. Kalian sangat menjijikan.” Ketiga lelaki badboys itu merasa kesal.
“Kalian juga sangat bodoh dan tidak keren.” Ujar Stella yang membuat mereka bertiga sweatdrop.
“Oh iya, cara bicara kalian ini mirip dengan tiga gadis yang semalam lho. Aku yakin kalian mempunyai hubungan yang erat dengan mereka. Atau, bisa jadi kalian adalah ketiga gadis yang semalam.” Clara menatap datar kepada Marcello.
“Maaf ya, aku tidak tahu apa yang kalian maksudkan.” Stella tersenyum sinis.
“Kalian juga menghabiskan waktu kalian hanya untuk sesuatu yang tidak penting. Kami bahkan tidak mengenal gadis-gadis yang kalian maksudkan. Jadi, sebaiknya kami pergi dari sini saja dari pada meladeni ucapan kalian yang tidak masuk akal. Ayo guys, kita pergi sekarang juga dari pada meladeni ucapan mereka yang tidak masuk akal.” Luna merangkul Clara dan Stella untuk pergi dari atap tersebut dan bermaksud menghindari pertanyaan ketiga lelaki badboys tersebut.
“Khe, mereka masih mengelak saja. Padahal sudah jelas mereka adalah ketiga gadis yang semalam. Mereka menutupi penampilan asli mereka dengan berpura-pura menjadi gadis yang sangat baik. Sepertinya ini akan menarik sekali, bagaimana kalau kita memberikan sedikit pelajaran kepada mereka?” Felix dan Marcello menyeringai menanggapi ucapan Vincent.
“Ide yang bagus, kita sudah mengetahui masa lalu mereka, kita juga sudah mengetahui dimana alamat rumah mereka. Akan sangat menyenangkan jika kita juga bisa membuat mereka jatuh cinta kepada kita.” Ketiga lelaki tersebut sepertinya sudah jatuh cinta kepada ketiga gadis fakenerd tersebut.
Flashback...
Felix menghubungi kedua sahabatnya lewat video call menggunakan aplikasi whatsapp di ponselnya. Ia menunggu kedua temannya untuk mengangkat telepon darinya sembari mengetuk-ngetuk jarinya di meja.
“Jadi, apa kau sudah menemukannya Felix?” Tanya Marcello dengan senyuman yang begitu memuakkan bagi Felix.
“Bisakah kau berhenti tersenyum? Senyumanmu sangat menggelikan.” Marcello langsung berhenti tersenyum dan memasang wajah datar. Felix yang melihat itu berusaha menahan tawanya karena wajah Marcello terlihat lucu sekali.
“Vincent, apa kau sudah ada disana? Kenapa wajahmu tidak enak dilihat sama sekali hari ini?” Vincent mendecih mendengar hinaan dari Felix.
“Cih, kau saja yang tidak melihat dengan jernih. Seharusnya kau memakai kacamata tebal atau bulat seperti ketiga gadis cupu itu. Wajah tampan sepertiku kau bilang jelek.” Marcello kembali tersenyum mendengar kedua sahabatnya ini berdebat.
“Sudahlah teman-teman, wajah kalian berdua sangat tidak enak dilihat dan menjijikkan, sebaiknya kita tidak usah basa-basi. Felix, apa kau sudah menemukan jati diri ketiga gadis yang semalam dan juga ketiga gadis cupu di sekolah tadi siang?”
“Khe, jangan remehkan kemampuan intelku. Mereka adalah orang yang sama, lebih tepatnya mereka menutupi kepribadian asli mereka dengan menyamar sebagai murid-murid teladan dan cupu di sekolah. Aslinya, mereka adalah orang kaya dan bahkan salah satu dari mereka yang bernama Stella itu merupakan pewaris perusahaan yang terkenal yaitu, S.T Corporations yang saat ini dikelola oleh pamannya. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Perusahaan yang meneliti, menghasilkan dan bahkan menanam sendiri bibit-bibit teh itu. Lalu, gadis yang bernama Clara itu adalah saudara kembar Claire seperti yang kalian ketahui, dia diusir dari keluarganya karena sebuah kekacauan yang ia perbuat. Lalu, Luna, dia diusir karena tidak pernah diinginkan oleh kedua orang tua mereka. Saat ini mereka tinggal bersama di sebuah apartemen. Aku akan mengirimkan data lengkapnya
sekarang juga pada kalian.”
“Nasib mereka sangat menyedihkan sekali.” Ujar Vincent.
“Jika boleh tahu, apa tujuan mereka menyamar menjadi cupu? Jangan bilang alasannya hanya untuk mencari teman yang tulus yang ingin berteman dengan mereka.” Felix mengedikkan bahunya.
“Bisa jadi begitu, tapi kurasa mereka tidak ingin semua orang mengetahui apa yang terjadi kepada mereka dan berpura-pura menunjukkan rasa simpati mereka kepadanya. Itulah yang dimaksud mencari teman yang benar-benar tulus dan bukan hanya sekedar belas kasihan.” Felix merasa terenyuh mendengar ucapannya sendiri mengenai ketiga gadis itu. Setidaknya mereka beruntung belum pernah merasakan kehilangan dan diusir oleh kedua orang tua mereka sendiri.
“Jika dilihat-lihat sepertiny Felix sedang jatuh cinta ya.” Marcello menangkup dagunya dengan tangan kirinya.
“Entahlah, tapi sepertinya kita bertiga terlihat seperti sedang jatuh cinta. Benar, bukan?” Felix mendengus mendengar ucapan Vincent.
“Sudahlah, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan kepada kalian, aku matikan dulu teleponnya.” Felix langsung mengakhiri video call mereka hari ini karena tidak ingin mendengarkan ucapan menjijikan dari kedua sahabatnya. ia menerawang dan menengadahkan wajahnya ke atas.
“Jatuh cinta ya?” Felix tersenyum.
End Of Flashback...
Bel masuk berbunyi, Clara, Stella, dan Luna pun harus masuk ke kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Felix, Vincent, dan Marcello.
Ketika Clara sampai ke tempat duduknya, ia mendapati mejanya dipenuhi dengan berbagai macam coretan tidak jelas. Bahkan laci mejanya dipenuhi dengan sampah-sampah menggelikan yang pastinya sudah diketahui oleh Clara siapa penyebabnya. Clara menatap Claire datar, ia memakai bahasa isyarat untuk mengumpat dihadapan Claire. Bahasa isyarat itu tentunya tidak dimengerti oleh semua orang kecuali Clara, Claire, dan mungkin Felix. Claire menanggapi bahasa isyarat itu dengan tersenyum remeh. Ia berusaha menahan tawanya agar tidak lepas karena melihat Clara dengan ekspresinya yang geli terhadap sampah-sampah kotor itu.
Felix yang merasa tidak tahan melihatnya pun berjalan mendekati Clara.
“Tidak usah, kulitmu yang putih dan bersih itu akan sensitif jika bersentuhan dengan sampah.” Felix tidak
menanggapi.
“Duduk ditempatku atau kuhancurkan meja ini? Kau tentu akan menjadi orang yang dipersalahkan jika meja ini penuh dengan kotoran. Kau tahu peraturan sekolah ini, kan?” Clara menghela napas kasar.
“Terserah kau saja dan terima kasih. Jika kau yang disalahkan nanti jangan salahkan aku.” Clara berlalu dari tempat duduknya menuju ke tempat duduk Felix. Hal itu sontak membuat Claire merasa kesal dan mencak-mencak sendiri layaknya anak kecil. Clara membersihkan tangannya yang bau itu menggunakan hand sanitizer lalu mengendus tangannya untuk memastikan tangannya tidak bau lagi.
Claire berjalan mendekati Felix dan menghentikan Felix untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di meja
Clara.
“Felix, kenapa harus kau yang membersihkan sampah ini? Bukankah Clara sendiri yang membuat mejanya kotor seperti ini? Seharusnya kau biarkan saja dia yang membersihkannya. Ini sangat kotor dan menjijikan, aku tidak ingin kulitmu menjadi gatal setelah menyentuh sampah ini.” Felix menepis tangan Claire membuat Claire mundur ke arah belakang.
“Benarkah? Kau tidak ingin melihat kulitku gatal setelah memegang sampah ini? Kalau begitu, bagaimana jika kau yang membersihkan sampah ini? Jika kau mau membersihkannya, maka, kau berhasil membuatku takhluk kepadamu.” Ujar Felix dengan gayanya yang cool. Ia menyerahkan seluruh sampah itu ke tangan Claire dan duduk di tempat Claire. Tak lupa juga ia menyingkirkan tas Claire dari tempat duduknya ke lantai. Sama seperti Clara tadi, ia mengeluarkan hand sanitizernya untuk membersihkan tangannya setelah memegang sampah tadi.
Clara yang melihat itu menyeringai. Ia melihat ekspresi Claire yang sama sepertinya tadi dan ingin tertawa lepas
melihatnya.
‘Rasakan itu Claire, karma is real. Bukankah aku sudah memperingatimu tadi?’ Ucap Clara dalam
hatinya.
‘Sabar Claire ini memang menjijikan, tapi demi Felix aku akan membersihkan meja ini. Hoek. Bau sekali sampahnya.’ Claire memasang wajah seperti mau muntah, namun ia berusaha menahannya agar harga dirinya tidak jatuh untuk kedua kalinya.
“Selamat pagi anak-anak.” Suara guru cantik dan muda menginterupsi para murid lain termasuk Claire yang sedang sibuk membersihkan sampah-sampah yang ada di meja Clara.
“Ekhem, Claire, kenapa ada sampah di meja itu? Lho, bukannya disana tempat duduk Clara? Kenapa kau ada disana Claire? Kenapa juga kau pindah di tempat duduknya Felix, Clara? Dan Felix? Aduh ibu menjadi pusing sekarang.” Ucap Ibu guru yang bernama Anna tersebut mengerang Frustasi dan mengundang tawa dari para murid yang ada di kelas kecuali Clara dan Felix.
“Claire, ibu ingin tanya kepadamu? Kenapa ada sampah di meja itu dan siapa yang mengotori meja itu? Bukankah
kau tahu aturan sekolah ini?” Claire menunduk dan bertingkah seolah-olah ia menjadi korban pembullyan di kelas. Membuat beberapa orang menatapnya muak.
“Clara bu. Dia yang mengotori meja ini, bahkan mencoret-coret meja ini lalu menyuruh saya membersihkannya. Dia juga menyuruh Felix untuk pindah ke tempat dudukku lalu dia duduk di tempat Felix.” Clara memutar bola matanya bosan.
“Dia juga bahkan mengumpati saya di kelas dengan bahasa isyarat. Dia pikir saya tidak tahu itu, padahal saya mengetahuinya.”
“Ekhem, maaf bu, saya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh nona Claire yang cantik itu. Tapi saya tidak pernah mengotori meja saya, bahkan ketika saya masuk tadi, meja saya sudah seperti itu.” Clara menatap sinis kepada Claire.
“Itu benar. Lagipula, saya jugalah yang telah menyuruh Clara untuk pindah ke tempat duduk saya. Tadinya saya ingin membersihkan meja itu, tapi Claire menyuruh saya untuk berhenti lalu menggantikan saya. Lagipula, saya yakin dialah yang mengotori meja Clara bu. Jika anda tidak percaya, maka, anda bisa bertanya kepada ketua kelas kita yang paling jujur di kelas ini.” Semua orang terkejut karena untuk pertama kalinya Felix berkata panjang, terlebih membela seorang gadis cupu di kelas mereka.
“Hah, ibu pusing yang mana harus dipercaya ucapannya. Baiklah Dimas, karena kau ketua kelasnya, ibu ingin bertanya, apakah yang dikatakan oleh Clara dan Felix itu benar?” Felix menatap Dimas dengan tatapan tajam membuat Dimas ketakutan. Ia takut kepada Claire tapi ia juga takut kepada Felix. Jika ia jujur, maka ia akan mendapat masalah dari Claire. Jika ia berbohong, ia akan mendapat masalah dari Felix.
“Felix dan Clara benar bu. Clairelah yang melakukannya. Dia yang mengotori meja Clara. Saya sebenarnya tiba terlebih dahulu di sekolah lalu ia tiba selanjutnya dan mengotori meja Clara.” Claire yang melihat itu menatap tajam kepada Dimas.
“Jika ibu tidak percaya, saya mempunyai buktinya.” Dimas mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Ibu Anna selaku guru pelajaran matematika di kelas.
Ibu Anna menerima ponsel yang diserahkan Dimas lalu membuka galeri. Ia membuka video yang baru saja direkam oleh Dimas dan membukanya.
“Oh rupanya kau pelakunya Claire? 25 poin untuk merusak atau mengotori peralatan sekolah. Istirahat nanti, bersihkan semua coretan yang ada di meja itu dan sekarang, buang sampah-sampah itu pada tempatnya.” Claire menatap tidak percaya kepada Ibu Anna. Rencananya gagal total untuk membuat Clara dihukum oleh Ibu Anna. Ia tahu betul maksud dari bahasa isyarat yang dikatakan oleh Clara tadi. Karma is real, dan sekarang bahasa isyarat itu bukanlah hanya isyarat semata melainkan sebuah doa dari Clara yang mendoakan dirinya untuk mengalami apa yang dialami oleh Clara.
‘Ini tidak bisa dibiarkan. Setelah ini kupastikan kau keluar dari sekolah ini Clara. Aku tidak akan membiarkanmu menetap disini, kau hanyalah aib bagi kami semua.’ Claire mengambil semua sampah di laci meja Clara tadi dan membuangnya ke sampah. Air mata terlihat keluar dari matanya menandakan harga dirinya telah jatuh untuk yang
kedua kalinya.
‘Akan kubalas kalian!’ Claire menghapus air matanya dan kembali ke kelas. Ia membersihkan tangannya dengan hand sanitizer lalu mengikuti pelajaran yang diterangkan oleh Ibu Anna seperti biasa.
Clara dengan serius mencatat apa yang diterangkan oleh Ibu Anna di papan tulis sembari menutup mulutnya untuk meredam tawanya.
TBC