I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 4 : Fascinated



Clara, Luna, dan Stella


dibawa di tempat terpisah bersama tiga orang laki-laki populer yang konon


katanya sangat sulit untuk didekati oleh para gadis manapun. Hari ini adalah


hari yang tidak disangka-sangka oleh para gadis manapun yang mengagumi ketiga


pemuda populer itu karena mereka terang-terangan menggenggam tangan tiga orang


gadis yang seorang goodgirl tersebut dan penampilan mereka yang amat


membosankan bagi siapa saja yang mengenal mereka sebatas penampilan mereka.


Felix membawa Clara ke atap


sekolah sambil menggenggam tangan Clara. Clara menatap heran kepada Felix yang


membawanya ke atap.


“Kenapa kau membawaku


disini?” Tanya Clara heran.


“Tidak apa-apa, aku hanya


ingin tidur saja disini.” Jawab Felix. Ia kini berbaring di kursi sementara di


sebelah kepalanya ada Clara.


“Kau membawaku kemari


hanya untuk duduk saja begitu? Cih yang benar saja.” Clara pun hendak bangkit


namun tangannya ditahan oleh Felix. Felix pun membaringkan kepalanya di


pangkuan Clara.


“Hei tuan, bisakah kau


singkirkan kepalamu dari kakiku? Atau aku akan mematahkan kepalamu.” Felix


terbangun seketika karena mendengar ancaman Clara.


Ia menatap mata Clara


yang membuat Clara merona karena wajah mereka berdua berjarak 5 cm.


“Ke-kenapa?” Tanya Clara


gugup.


“Ucapan itu, sepertinya


aku pernah mendengarnya. Siapa kau?” Tanya Felix.


“Apa? Ucapan yang mana?


Memangnya kau pernah mendengarnya dari mana?” Tanya Clara sambil memiringkan


kepalanya membuatnya terlihat menggemaskan.


“Kalau tidak salah, aku


sering bertaruh bersama seorang gadis cantik ketika malam hari saat mengikuti


balap liar, dia pernah mengatakan ingin mematahkan kepalaku.” Clara pun


tersadar dan wajahnya semakin memerah.


‘Gawat, aku keceplosan.’


Batin Clara.


“Apakah jangan-jangan


kau...” Felix tidak menyelesaikan ucapannya dan menatap intens Clara. Clara


yang ditatapi seperti itu pun langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.


“Tidakkah tatapanmu itu


seperti pria yang ingin menelanjangiku?” Felix pun tersentak dan mengembalikan


tatapannya seperti semula dan kembali berbaring di kursi tersebut.


“Pergilah aku ingin


tidur.” Usir Felix yang sudah menutup matanya.


“Dasar pria gila, kau


yang mengajakku kesini tapi kau yang mengusirku. Baiklah aku akan pergi dan


selamat datang ke neraka.” Clara pergi dengan menghentak-hentak kakinya dari


atap tersebut. Felix yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Clara


yang menggemaskan baginya.


‘Gadis itu benar-benar


membuatku semakin penasaran akan dirinya yang sebenarnya.’ Ucap Felix dalam


hati.


‘Seenaknya saja dia


membuatku kesal. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman saat ia membaringkan


kepalanya di pangkuanku?’ Tanya Clara dalam hatinya.


“Obati dulu luka di bibirmu.”


Vincent memberikan salep di UKS tersebut ke Stella dengan wajahnya yang


terlihat cuek itu.


“Cih, kau ini tulus atau


tidak sih sebenarnya?” Stella bertanya dengan wajah kesalnya namun tidak


ditanggapi oleh Vincent.


“Hn.” Jawab Vincent


dengan gumaman membuat Stella semakin kesal. Bibirnya pun maju 1 cm membuat


Vincent terkekeh kecil tanpa disadari.


“Kenapa kau membuat


wajahmu seperti itu, tidakkah kau sudah dewasa? Jangan bertingkah seperti anak


kecil.” Ucap Vincent datar sambil menahan gugup.


“Cih, sudah sana pergi,


lagipula aku baik-baik saja dan tidak memerlukan obat seperti ini.” Ujar Stella


sambil membuang obat tersebut di lantai.


“Benarkah? Heh,


sepertinya aku sudah membuang waktuku hanya untuk mengajakmu kesini. Menyebalkan.


Tapi tetap saja, kau harus mengobati wajahmu itu.” Vincent mengambil obat yang


dibuang oleh Stella tersebut dan mengoleskan obat itu di wajah Stella yang


membuat Stella tersentak. Ia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya


karena perlakuan yang diberikan oleh Vincent tersebut.


Wajahnya merona membuatnya


menepis tangan Vincent pelan.


“Wajahmu memerah. Apakah kau


terpesona dengan wajahku yang tampan ini?” Vincent mencoba menggoda Stella.


“Si-siapa yang terpesona


“Benarkah? Kau yakin


tidak terpesona dengan wajahku seperti gadis pada umumnya? Kau benar-benar


tidak normal.” Stella menatap datar kepada Vincent.


“Kau pikir aku seperti


mereka? Heh, maaf saja, aku tidak sama seperti mereka. Aku juga punya standarku


sendiri untuk menentukan tipe pria yang kusukai.” Stella keluar dari UKS sambil


menghentakkan kakinya.


Vincent menyeringai.


“Lihat saja, kupastikan


kau akan jatuh kedalam pesonaku Stella. Kau menarik sekali.” Vincent menatap


punggung Stella yang semakin lama semakin menghilang.


“Kau mau membawaku


kemana, hah? Bukankah ini jam sekolah? Aku sudah cukup lelah hari ini dihukum


atas kesalahan yang tidak kuperbuat, sekarang kau ingin membuatku dihukum lagi


karena bolos mata pelajaran? Yang benar saja.” Luna berceloteh panjang membuat


Marcello merasakan telinganya berdengung.


‘Ya Tuhan, ternyata dia tidak


sediam kelihatannya. Ternyata benar kata pepatah, kita tidak boleh menilai buku


hanya dari sampulnya saja.’ Batin Marcello. Ia menatap Luna dan memberikan senyuman


mautnya tersebut membuat Luna tertegun.


‘Apakah senyuman itu yang


membuat orang-orang menjulukkinya dengan ‘death smile’?’ Tanya Luna dalam hatinya.


Bohong jika dirinya tidak terpesona dengan senyuman itu mengingat ia adalah


seorang gadis normal, namun ia tidak akan bereaksi berlebihan seperti para


gadis pada umumnya.


“Hoho, kau terpesona


dengan senyumanku?” Luna meneguk ludahnya dan kemudian memalingkan wajahnya ke


arah jalan raya.


“Ayolah, tidak akan ada


orang yang tidak jatuh kedalam pesonaku. Termasuk kau?” Luna menatap tajam


kepada Marcello. Entah kenapa ia merasa ia diperlakukan seperti gadis murahan.


“Maaf tuan, apakah kau


sedang menyamakanku dengan gadis murahan?” Marcello menanggapinya hanya dengan


tersenyum sambil fokus menyetir mobilnya.


“Apakah aku mengatakan kau


sama dengan gadis murahan?” Wajah polos Marcello membuat Luna semakin kesal


seketika.


“Kau baru saja menyamankanku


dengan gadis murahan yang bertingkah berlebihan karena melihat ketampanan


kalian. Tapi maaf saja, aku tidak akan seperti itu. Mungkin saja kau yang akan


jatuh kedalam pesonaku.” Luna menyeringai menatap Marcello.


“Benarkah? Kalau begitu,


mari kita bertaruh siapa yang akan terjatuh lebih dulu?” Ujar Marcello dengan penuh


percaya diri.


“Baik, kupastikan kau


duluan yang akan terjatuh.” Ucap Luna yang tidak kalah percaya dirinya.


“Baiklah, kita sudah


sampai. Sebaiknya rambutmu itu harus dibersihkan dari tangan-tangan kotor para


gadis murahan tadi.” Ucap Marcello menekan kata murahan.


“Itu tidak perlu. Aku tidak


memerlukannya.” Luna hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Marcello.


“Maaf saja, aku tidak


menerima penolakan. Aku sudah terlanjur mengantarmu kesini sebaiknya kau masuk


saja dan aku akan membayar creambathnya.” Marcello menggenggam tangan Luna dan


membawanya masuk kedalam salon.


“Sial, memangnya aku


pernah memintamu untuk mengantarku kesini? Lagipula tidak ada gunanya aku


melakukan sesuatu yang feminin seperti itu.” Marcello tertegun mendengar ucapan


Luna.


“Sepertinya aku tidak


asing dengan ucapanmu tadi.” Luna menatap bingung kepada Marcello.


“Maksudmu?” Tanya Luna, namun


tidak dijawab oleh Marcello.


“Oh Marcello, apa yang


kau lakukan disini? Tumben sekali kau mau datang ke salon ibumu ini?” Marcello


tersenyum kepada sang ibu.


“Ah iya, bu, aku perlu


gadis ini di creambath untuk membersihkan rambutnya dari tangan para gadis


murahan yang baru saja menjambaknya.” Sang ibu mendengus.


“Kau memang tidak pernah


berubah. Selain suka tersenyum palsu, kau juga suka sekali berucap kasar ya?”


Ucap sang ibu.


“Baiklah, maafkan putra


ibu ini ya, nona. Mari ikut ibu.” Luna hanya mengangguk canggung dan menatap


tajam kepada Marcello, ia menunjuk Marcello kemudian mengarahkan jarinya


seolah-olah ingin memotong leher membuat Marcello meneguk ludahnya.


‘Gadis itu memang


menarik, aku penasaran sekali dengannya dan keinginanku untuk membuatnya jatuh


semakin besar.’ Marcello tersenyum.


TBC