
Clara, Luna, dan Stella
dibawa di tempat terpisah bersama tiga orang laki-laki populer yang konon
katanya sangat sulit untuk didekati oleh para gadis manapun. Hari ini adalah
hari yang tidak disangka-sangka oleh para gadis manapun yang mengagumi ketiga
pemuda populer itu karena mereka terang-terangan menggenggam tangan tiga orang
gadis yang seorang goodgirl tersebut dan penampilan mereka yang amat
membosankan bagi siapa saja yang mengenal mereka sebatas penampilan mereka.
Felix membawa Clara ke atap
sekolah sambil menggenggam tangan Clara. Clara menatap heran kepada Felix yang
membawanya ke atap.
“Kenapa kau membawaku
disini?” Tanya Clara heran.
“Tidak apa-apa, aku hanya
ingin tidur saja disini.” Jawab Felix. Ia kini berbaring di kursi sementara di
sebelah kepalanya ada Clara.
“Kau membawaku kemari
hanya untuk duduk saja begitu? Cih yang benar saja.” Clara pun hendak bangkit
namun tangannya ditahan oleh Felix. Felix pun membaringkan kepalanya di
pangkuan Clara.
“Hei tuan, bisakah kau
singkirkan kepalamu dari kakiku? Atau aku akan mematahkan kepalamu.” Felix
terbangun seketika karena mendengar ancaman Clara.
Ia menatap mata Clara
yang membuat Clara merona karena wajah mereka berdua berjarak 5 cm.
“Ke-kenapa?” Tanya Clara
gugup.
“Ucapan itu, sepertinya
aku pernah mendengarnya. Siapa kau?” Tanya Felix.
“Apa? Ucapan yang mana?
Memangnya kau pernah mendengarnya dari mana?” Tanya Clara sambil memiringkan
kepalanya membuatnya terlihat menggemaskan.
“Kalau tidak salah, aku
sering bertaruh bersama seorang gadis cantik ketika malam hari saat mengikuti
balap liar, dia pernah mengatakan ingin mematahkan kepalaku.” Clara pun
tersadar dan wajahnya semakin memerah.
‘Gawat, aku keceplosan.’
Batin Clara.
“Apakah jangan-jangan
kau...” Felix tidak menyelesaikan ucapannya dan menatap intens Clara. Clara
yang ditatapi seperti itu pun langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
“Tidakkah tatapanmu itu
seperti pria yang ingin menelanjangiku?” Felix pun tersentak dan mengembalikan
tatapannya seperti semula dan kembali berbaring di kursi tersebut.
“Pergilah aku ingin
tidur.” Usir Felix yang sudah menutup matanya.
“Dasar pria gila, kau
yang mengajakku kesini tapi kau yang mengusirku. Baiklah aku akan pergi dan
selamat datang ke neraka.” Clara pergi dengan menghentak-hentak kakinya dari
atap tersebut. Felix yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Clara
yang menggemaskan baginya.
‘Gadis itu benar-benar
membuatku semakin penasaran akan dirinya yang sebenarnya.’ Ucap Felix dalam
hati.
‘Seenaknya saja dia
membuatku kesal. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman saat ia membaringkan
kepalanya di pangkuanku?’ Tanya Clara dalam hatinya.
“Obati dulu luka di bibirmu.”
Vincent memberikan salep di UKS tersebut ke Stella dengan wajahnya yang
terlihat cuek itu.
“Cih, kau ini tulus atau
tidak sih sebenarnya?” Stella bertanya dengan wajah kesalnya namun tidak
ditanggapi oleh Vincent.
“Hn.” Jawab Vincent
dengan gumaman membuat Stella semakin kesal. Bibirnya pun maju 1 cm membuat
Vincent terkekeh kecil tanpa disadari.
“Kenapa kau membuat
wajahmu seperti itu, tidakkah kau sudah dewasa? Jangan bertingkah seperti anak
kecil.” Ucap Vincent datar sambil menahan gugup.
“Cih, sudah sana pergi,
lagipula aku baik-baik saja dan tidak memerlukan obat seperti ini.” Ujar Stella
sambil membuang obat tersebut di lantai.
“Benarkah? Heh,
sepertinya aku sudah membuang waktuku hanya untuk mengajakmu kesini. Menyebalkan.
Tapi tetap saja, kau harus mengobati wajahmu itu.” Vincent mengambil obat yang
dibuang oleh Stella tersebut dan mengoleskan obat itu di wajah Stella yang
membuat Stella tersentak. Ia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya
karena perlakuan yang diberikan oleh Vincent tersebut.
Wajahnya merona membuatnya
menepis tangan Vincent pelan.
“Wajahmu memerah. Apakah kau
terpesona dengan wajahku yang tampan ini?” Vincent mencoba menggoda Stella.
“Si-siapa yang terpesona
“Benarkah? Kau yakin
tidak terpesona dengan wajahku seperti gadis pada umumnya? Kau benar-benar
tidak normal.” Stella menatap datar kepada Vincent.
“Kau pikir aku seperti
mereka? Heh, maaf saja, aku tidak sama seperti mereka. Aku juga punya standarku
sendiri untuk menentukan tipe pria yang kusukai.” Stella keluar dari UKS sambil
menghentakkan kakinya.
Vincent menyeringai.
“Lihat saja, kupastikan
kau akan jatuh kedalam pesonaku Stella. Kau menarik sekali.” Vincent menatap
punggung Stella yang semakin lama semakin menghilang.
“Kau mau membawaku
kemana, hah? Bukankah ini jam sekolah? Aku sudah cukup lelah hari ini dihukum
atas kesalahan yang tidak kuperbuat, sekarang kau ingin membuatku dihukum lagi
karena bolos mata pelajaran? Yang benar saja.” Luna berceloteh panjang membuat
Marcello merasakan telinganya berdengung.
‘Ya Tuhan, ternyata dia tidak
sediam kelihatannya. Ternyata benar kata pepatah, kita tidak boleh menilai buku
hanya dari sampulnya saja.’ Batin Marcello. Ia menatap Luna dan memberikan senyuman
mautnya tersebut membuat Luna tertegun.
‘Apakah senyuman itu yang
membuat orang-orang menjulukkinya dengan ‘death smile’?’ Tanya Luna dalam hatinya.
Bohong jika dirinya tidak terpesona dengan senyuman itu mengingat ia adalah
seorang gadis normal, namun ia tidak akan bereaksi berlebihan seperti para
gadis pada umumnya.
“Hoho, kau terpesona
dengan senyumanku?” Luna meneguk ludahnya dan kemudian memalingkan wajahnya ke
arah jalan raya.
“Ayolah, tidak akan ada
orang yang tidak jatuh kedalam pesonaku. Termasuk kau?” Luna menatap tajam
kepada Marcello. Entah kenapa ia merasa ia diperlakukan seperti gadis murahan.
“Maaf tuan, apakah kau
sedang menyamakanku dengan gadis murahan?” Marcello menanggapinya hanya dengan
tersenyum sambil fokus menyetir mobilnya.
“Apakah aku mengatakan kau
sama dengan gadis murahan?” Wajah polos Marcello membuat Luna semakin kesal
seketika.
“Kau baru saja menyamankanku
dengan gadis murahan yang bertingkah berlebihan karena melihat ketampanan
kalian. Tapi maaf saja, aku tidak akan seperti itu. Mungkin saja kau yang akan
jatuh kedalam pesonaku.” Luna menyeringai menatap Marcello.
“Benarkah? Kalau begitu,
mari kita bertaruh siapa yang akan terjatuh lebih dulu?” Ujar Marcello dengan penuh
percaya diri.
“Baik, kupastikan kau
duluan yang akan terjatuh.” Ucap Luna yang tidak kalah percaya dirinya.
“Baiklah, kita sudah
sampai. Sebaiknya rambutmu itu harus dibersihkan dari tangan-tangan kotor para
gadis murahan tadi.” Ucap Marcello menekan kata murahan.
“Itu tidak perlu. Aku tidak
memerlukannya.” Luna hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Marcello.
“Maaf saja, aku tidak
menerima penolakan. Aku sudah terlanjur mengantarmu kesini sebaiknya kau masuk
saja dan aku akan membayar creambathnya.” Marcello menggenggam tangan Luna dan
membawanya masuk kedalam salon.
“Sial, memangnya aku
pernah memintamu untuk mengantarku kesini? Lagipula tidak ada gunanya aku
melakukan sesuatu yang feminin seperti itu.” Marcello tertegun mendengar ucapan
Luna.
“Sepertinya aku tidak
asing dengan ucapanmu tadi.” Luna menatap bingung kepada Marcello.
“Maksudmu?” Tanya Luna, namun
tidak dijawab oleh Marcello.
“Oh Marcello, apa yang
kau lakukan disini? Tumben sekali kau mau datang ke salon ibumu ini?” Marcello
tersenyum kepada sang ibu.
“Ah iya, bu, aku perlu
gadis ini di creambath untuk membersihkan rambutnya dari tangan para gadis
murahan yang baru saja menjambaknya.” Sang ibu mendengus.
“Kau memang tidak pernah
berubah. Selain suka tersenyum palsu, kau juga suka sekali berucap kasar ya?”
Ucap sang ibu.
“Baiklah, maafkan putra
ibu ini ya, nona. Mari ikut ibu.” Luna hanya mengangguk canggung dan menatap
tajam kepada Marcello, ia menunjuk Marcello kemudian mengarahkan jarinya
seolah-olah ingin memotong leher membuat Marcello meneguk ludahnya.
‘Gadis itu memang
menarik, aku penasaran sekali dengannya dan keinginanku untuk membuatnya jatuh
semakin besar.’ Marcello tersenyum.
TBC