I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Bab 3 : Murder



Setelah membakar kotak itu, ia kembali ke kamar dan mendapati wanita yang jauh lebih muda darinya hanya mengenakan handuk.


"Kenapa kau tidak memakai bajumu Jesslyn?" tanya Alvin.


"Sebentar lagi aku akan siap-siap. Lagipula, aku tidak keberatan memakai baju di hadapanmu." Alvin tersenyum.


"Kau benar-benar pandai menggoda, hm. Tidak heran, aku bisa terpikat olehmu. Kau sangat cantik." Jesslyn tersenyum malu dan masuk ke dalam pelukan Alvin.


"Terima kasih atas pujiannya Tuan, aku tidak sabar untuk segera menjadi istrimu."


'Dan mengorek semua hartamu.' Jesslyn menyeringai sedangkan Alvin mengeluarkan senyum psikopatnya.


'Sayang sekali jalang, kau tidak akan bisa menjadi istriku. Selamat datang ke neraka, jalang.' Alvin mengeluarkan belati lipat dari kantong celananya dan....


Jleb....


"Akh!" Jesslyn merintih. Ia tertusuk belati di bagian dadanya dan kehilangan kesadaran untuk selama-lamanya.


"Kau hanya pelampiasanku Jesslyn. Kau tidak lebih sebagai alat pemuas nafsuku. Sayang sekali jalang, kau harus mati di sini." Alvin menatap datar darah yang ada di belati tersebut.


"Cih...." Alvin berdecih melihat darah yang mengotori belati miliknya.


Tok, tok, tok....


"Siapa?!" tanyanya dengan suara tegas.


"I-ini sa-saya Tuan," ujar pria itu ketakutan.


Alvin membuka pintu kamarnya dan langsung menusuk pria itu. Pria yang merupakan suruhannya untuk mencari informasi mengenai Clara. Setelah menusuk, ia menggores dan menebas tubuh pria itu hingga tergeletak tak bernyawa. Darah terciprat kemana-mana dan mengenai wajah serta pakaian Alvin.


"Inilah akibatnya, jika tidak becus dalam bekerja." Alvin menyeringai dan membopong tubuh pria itu ke kamar apartemennya.


Kembali ke tempat Clara, rapat telah selesai dijalankan dengan serangan jantung. Pasalnya, aura Clara saat rapat sangat tidak ramah. Ia memasang wajah dingin dan tegas di saat bersamaan membuat para karyawan takut mengutarakan pendapat mereka. Lebih tepatnya, takut salah berbicara di hadapan Clara. Bahkan, ada satu orang yang pingsan karena menahan napas akibat rasa takut berlebihan yang dideritanya.


"Saya harap, kejadian ini tidak terulang lagi jika masih ingin bekerja di sini. Bukankah sudah saya bilang, jika kalian harus siap mental menghadapi saya?" ucap Clara dingin. Auranya sangatlah pekat sampai-sampai, Lea pun merinding.


"Sekian rapat dari saya, sampai jumpa di rapat selanjutnya. Apakah selanjutnya aku ada jadwal, Lea?" Lea menggeleng. Para pegawai langsung meninggalkan tempat karena tidak ingin berlama-lama bersama Clara.


"Baiklah, terima kasih. Ini bayaranmu." Clara melempar amplop cokelat berisi uang yang membuat Lea bingung.


"Apa ini Nona?" tanya Lea.


"Ini THRmu, gajimu seminggu lagi." Lea menatap Clara berbinar.


"Terima kasih Nona Lydia, meskipun anda dingin dan menakutkan, saya tahu ... anda sangat baik. Sekali lagi terima kasih." Clara mendengkus mendengar itu.


Ponsel Clara berbunyi, dan menampilkan pesan di dalamnya. Clara membuka pesan tersebut dan melihat video yang dikirim padanya. Clara menyeringai dan mengirimkan video tersebut ke polisi. Di dalam video tersebut, terdapat Alvin yang sedang membunuh dua orang di apartemennya.


'Ada baiknya bermain-main sebelum membunuhnya.' Begitulah yang ada di pikiran Clara saat ini.


Malam hari tepat pukul 7, Alvin beserta istri dan putrinya datang ke Kedai Lotus serta memilih duduk di bar. Mereka memesan teh spesial dari menu yang telah disediakan oleh pelayan. Kedai Lotus ini, berada tidak jauh dari kantor Clara karena pemiliknya adalah Clara sendiri. Berbagai macam jenis teh, hasil produksi perusahaan Clara, tersedia di kedai ini. Selain pelayanannya yang luar biasa, teh mereka juga berbeda dibandingkan teh pada umumnya. Oleh karena itu, teh ini selalu dikunjungi banyak orang. Tidak hanya itu, tersedia lilin aromaterapi di setiap tempat duduk pelanggan dan di bar. Desain interior yang terlihat nyaman dan bersih tentu membuat mereka senang bisa mengunjungi Kedai Lotus.


"Selamat malam!" Suara tegas dari polisi mengejutkan para pelanggan dan membuat mereka bertanya.


"Harap tenang semuanya. Saya hanya ingin mencari salah satu tersangka di sini," ujar polisi tersebut.


Mereka pun melanjutkan kembali makannya dengan tenang, kecuali Alvin dan keluarganya. Entah kenapa mereka merasakan firasat buruk.


"Pak Alvin." Alvin menolehkan kepalanya menatap polisi tersebut.


"Anda kami tangkap atas pembunuhan yang anda lakukan." Alvin mengerutkan dahinya.


'Bagaimana mereka bisa tahu?' tanyanya dalam hati.


"Pembunuhan? Apa maksudnya? Anda jangan mengada-ngada, anda bisa saya tuntut atas pencemaran nama baik." Suara bisik para pelanggan mulai terdengar mengingat Alvin sangat terkenal sebagai pengusaha yang ramah pada setiap orang.


"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi dan mohon jangan mempersulit keadaan. Kalian, bawa dia!" Kedua anggota polisi itu mengikat kedua tangan Alvin dengan borgol dan memaksanya untuk beranjak dan masuk ke mobil polisi. Tentunya, hal itu tak dapat diterima oleh istri dan anaknya.


"Pak! Apa-apaan ini?! Kenapa kalian menangkap suami saya?! Memangnya salah apa dia?!" bentak sang istri.


"Iya Pak, anda tidak bisa main hakim sendiri! Polisi macam apa yang menangkap seseorang tanpa bukti?!" bentak Calista, anak dari Alvin.


"Tenanglah Risa, Calista ... aku pasti bebas. Sebagai pengusaha, pasti memiliki banyak musuh. Mereka mungkin iri denganku, karena itulah polisi ini datang menangkapku. Tunggu aku di rumah. Bye." Alvin melambai kepada keluarganya dan berjalan santai mengikuti polisi yang ingin membawanya ke kantor polisi.


"Brengsek!!!" Calista melempar gelas kaca itu hingga membuat para pelanggan menatapnya tajam. Mereka kesal karena tidak bisa menikmati teh dan hidangan dengan tenang.


"Kurang ajar!!! Berani sekali mereka menangkap Papa!!! AKu tidak akan memaafkan mereka!!! Polisi kurang ajar!!! Awas saja jika temanku sampai tahu!!!" Risa, ibu kandung Calista mencoba menenangkan Calista dengan mengusap bahunya.


"Tenang sayang, Papa pasti akan segera bebas dan masalah ini tidak akan tersebar kemanapun. Jika sampai itu terjadi, temanmu akan tamat." Calista menghela napas kesal.


"Yah, kuharap begitu. Jika sampai terjadi, aku akan dikeluarkan dari Universitas Bunga Matahari. Mereka tidak akan mau menampung mahasiswa jika ada catatan kejahatan."


"Ada apa ini?" Suara lembut nan tegas itu menyapa pendengaran ibu dan anak itu. Mereka menoleh kebelakang dan membelalak melihat seseorang yang dikenal olehnya.


"Kau?!" ujar mereka bersamaan.


TBC....


Hai, ada yang kangen gk sama cerita aku yang satu ini? Maaf baru bisa update sekarang soalnya, kesibukan di dunia nyata benar-benar menyita banyak waktuku untuk menulis di sini. Tidak hanya itu, aku juga menulis di *********. Jadi, mohon dimaklumi ya guys. Ditambah lagi mood menulis yang naik turun beberapa hari ini membuatku cukup lama untuk mendapatkan ide yang pas untuk menulis chapter ketiga ini. Semoga cerita ini tidak gagal dan bisa saya selesaikan dengan porsi yang pas. See you guys in the next chapter. Jangan lupa jaga kesehatan, ya.