I'M Not Your Girl

I'M Not Your Girl
Episode 10 : Terms



“Hai.” Sapa Felix dan Vincent membuat Clara dan Stella berhenti mendadak dan hampir menabrak kedua pemuda yang ada dihadapan mereka.


“Astaga, dua orang pria ini, bisa tidak kalau muncul itu tidak usah tiba-tiba begini?” Clara berujar


kesal.


“Iya, apakah kalian itu tidak bisa memberi sinyal jika memang ingin berhenti disini? Untung saja kami tidak menabrak kalian.” Sambung Stella.


“Oh iya, justru jika kalian ingin menabrak kami, kalian akan beruntung karena kami belum pernah memeluk gadis manapun.” Kedua gadis dihadapan Felix dan Vincent kini merona padam mendengar ucapan Felix dan Vincent.


“Cih, aku ingin tahu gadis mana yang mau sama kalian berdua.” Clara melipat kedua tangannya di depan dada lalu memalingkan wajahnya ke arah samping.


“Tentu saja kalian berdua.” Clara dan Stella mendelik mendengar ucapan Vincent.


“Apa? Apakah aku salah berucap?” Felix mengusap-usap bahu Vincent.


“Sudahlah Vincent, kau sudah tertular dari Marcello dan itu tidak cocok untukmu. Kau bisa membuat kedua gadis ini mati terserang penyakit jantung. Oh iya, teman kalian yang bernama Luna itu ada di ruang rahasia kami. Sebaiknya kalian ikut kami karena kami ingin memberikan kejutan kepada kalian.”


“Hah, awas saja jika kalian menipu kami, akan kupotong leher kalian berdua. Jalan!” Perintah Clara dengan ketus.


“Iya, iya, cerewet. Wanita memang merepotkan, hanya karena pembully kalian sudah keluar dari sekolah ini, kalian menjadi galak sekali. Apakah seperti ini sikap asli kalian? Tidak sopan sekali.” Stella mendelik mendengar ucapan Felix.


“Iya, sikap asli kami memang seperti ini. Kami memang tidak pernah menjunjung tinggi tata krama, lagipula, apa urusannya dengan kalian? Memangnya kalian siapa?!” Ujar Stella ketus.


“Masih perlu bertanya kami siapa? Kami adalah seseorang yang akan menjadi masa depan kalian nantinya.” Vincent mengangkat-ngangkat alisnya untuk menggoda Stella.


“Astaga, siapapun, bisakah mengambilkan ember untukku? Aku ingin muntah mendengarnya.” Clara menghela napas dan menepuk bahu Stella.


“Sudahlah, tahan emosimu, sebaiknya kita ikut mereka dan memastikan jika Luna baik-baik saja tidak dimakan oleh para laki-laki cabul dihadapan kita ini. Bahkan teman mereka yang satunya itu lebih berbahaya sepertinya. Kita tidak boleh membiarkan Luna terjerumus olehnya.” Stella mengangguk lalu menatap kedua laki-laki yang


memasang tampang bodohnya.


“Cepat tunjukkan jalannya jika tidak ingin kuhancurkan masa depan kalian!” Kedua laki-laki itu hanya tersenyum namun didalam hati, mereka bergidik ngeri membayangkan masa depan mereka.


”Baiklah tanpa banyak bicara sekarang ikut kami!” Felix dan Vincent menggenggam tangan Clara dan Stella lalu berjalan mengantar mereka menuju ke ruangan rahasia mereka.


Clara dan Stella hanya bisa pasrah saat tangan mereka digenggam ke suatu tempat.


“Clara, entah kenapa firasatku mengatakan kita akan terkena masalah hari ini.” Stella berbisik kepada Clara.


“Semoga saja firasatmu kali ini melenceng dari sasaran Stella.” Jawab Clara yang juga tidak kalah berbisik.


Sementara itu di mansion besar terdengar suara pria paruh baya marah-marah kepada anaknya.


“Kamu benar-benar membuat papa malu hari ini. Kamu berani-beraninya memfitnah saudaramu sendiri disaat kamu yang membuat kesalahan itu?! Benar-benar keterlaluan, siapa yang mengajarimu seperti ini hah?!” Bentak Ayah Claire kepada Claire yang sedang menunduk tersebut.


“Maaf pa, Claire tidak bermaksud seperti itu, tapi Claire benar-benar kesal dengan Clara Pa, dia selalu saja membuat kita malu dan bahkan dia mengatakan jika keluarga ini sangat cacat dan berlumur dosa, jadi aku tidak tahan dan menyiksanya setiap hari.” Claire berucap sambil menangis.


“Oh, bahkan setelah diusir anak itu masih berulah, benar-benar kurang ajar sekali dia, seharusnya kubunuh saja dia.” Claire menyeringai mendengarnya dan kemudian ia kembali memasang wajah sedihnya.


“Jangan pa, walau dia jahat atau bagaimana pun juga, Clara itu tetap saudaraku pa, aku tidak ingin dia kenapa-napa, Claire mohon, jangan bunuh Clara, papa pasti akan menyesal bila itu terjadi.” Ayah Claire terdiam, ia berpikir betapa baiknya putrinya satu ini dibandingkan Clara yang telah ia usir itu. Sejak dulu Clara merupakan aib baginya karena selalu mencari masalah dimanapun dan kapanpun.


“Ya sudah, kalau begitu, papa akan beri kamu kesempatan lagi dan pastikan tidak ada masalah seperti ini lagi. Papa pastikan seminggu lagi kamu akan masuk sekolah.” Claire berbinar.


“Yang benar pa?” Beliau mengangguk sambil meredam emosinya.


“Terima kasih pa, aku sayang sama papa, muach.” Claire memeluk ayahnya dan mengecup wajah ayahnya lalu pergi menuju ke kamarnya.


“Anak itu selalu saja kamu manjakan, kapan dia beranjak dewasanya?” Ayah Claire berbalik menatap sang istri.


“Aku memanjakannya karena dia anak yang baik dan berbakti kepada orang tuanya tidak seperti saudaranya. Anak itu sampai sekarang mencari masalah dan selalu saja memusuhi Claire, apa kamu tidak kasihan ma?” Ibu Claire pun menghela napas berat.


“Entahlah, aku merasa keputusan untuk mengusir Clara sejak dulu itu salah.” Ayah Claire mendelik.


“Oh, jadi kamu memihak kepada anak kurang ajar itu?” Ibu Claire kembali menghela napas.


“Kita makan siang saja ya pa, untuk merilekskan pikiran.” Ibu Claire mengusap bahu sang suami lalu merangkul sang suami menuju ke ruang makan.


“Jadi, video tadi, kalian yang menyebarnya? Kenapa?” Tanya Clara.


“Biar kutebak, dengan menyebarkan video seperti ini, kau pasti ingin meminta imbalan, bukan? Kutebak lagi Luna teman kami sudah pasrah dan menerima persyaratan kalian.”


“Wow.” Felix bertepuk tangan.


“Kau hebat sekali bisa menebak isi pikiran kami. Mungkin ada baiknya kau bekerja saja dengan perusahaan kami. Kau tentu tahu perusahaan kami kekurangan pegawai untuk memata-matai seseorang.” Clara menatap malas kepada Felix.


“Terima kasih, lebih baik aku membuka kedai, restoran, atau kafe yang biasa dikunjungi banyak orang untuk menghilangkan penat mereka. Tapi, tawaranmu akan kupertimbangkan.” Felix tersenyum mendengarnya.


“Ayolah Felix, aku tahu kau memang ingin bekerja bersama dengan Clara, bukan? Agar bisa bermesraan berdua dan menjadikannya pasanganmu di masa depan nanti.” Felix melotot mendengar ucapan Vincent yang terdengar frontal dan menggiurkan tersebut.


“Seperti kau tidak saja.” Felix menjawabnya dengan santai.


“Tentunya akan dengan cara yang berbeda darimu. Stella, kau punya perusahaan, bukan? Jadikan aku pegawaimu, ah tidak, jadikan aku sekretaris pribadimu agar aku bisa melindungimu dari pria berhidung belang Aww.” Vincent mengaduh kesakitan karena kepalanya yang dijitak maut oleh Stella.


“Ucapanmu itu membuatku ingin muntah saja. Sana bermimpi, tapi tawaranmu akan kupertimbangkan juga.” Vincent tersenyum.


“Hanya untuk menyiksamu.” Vincent menatap datar kepada Stella.


“Kau memang anarkis sekali.” Stella membuang wajahnya setelah mendengar hal itu.


“Wah kalian semua manis sekali, tapi tidak semanis kami berdua.” Ucap Marcello yang baru saja keluar dari dapur bersama dengan Luna yang baru keluar dari ruang CCTV. Ruangan mereka memang lebih mirip dengan rumah.


“Luna, kau tidak di apa-apakan oleh pemuda sinting ini kan?” Tanya Stella dengan gaya rempongnya itu.


"Tidak kok, kalian tenang saja, tapi rasanya entah kenapa aku merasa kesal dengan pemuda sinting itu?" Ujar Luna kesal.


“Siapa yang kalian bilang sinting nona? Aku hanya meminta hadiah darinya saja, lagipula, kami semua akan


melihat penampilan asli kalian yang lebih normal dibandingkan sekarang.” Stella memberi deathglare kepada Marcello.


“Kenapa? Bukankah Felix dan Vincent juga berencana untuk mengatakannya kepada kalian setelah para pembully itu dikeluarkan dan diskors dari sekolah ini.” Vincent dan Felix menyeringai.


“Iya itu benar. Kami ingin meminta bayaran kepada kalian atas jasa kami yang sukses menyingkirkan para hama di sekolah ini.” Felix mendekatkan wajahnya kepada Clara dan itu sukses membuat Clara sedikit merona meskipun samar-samar.


“Bisakah kau singkirkan wajahmu jika kau tidak ingin kehilangan wajah tampanmu itu?” Clara menyatukan tangannya dan terdengarlah bunyi tulang yang dilemaskan.


“Bisa lebih dekat lagi, akan kuberikan ciuman pertamaku kepadamu menggunakan ini.” Clara memukul wajah Felix hingga membuat sang empu mengaduh kesakitan. Pelan memang namun terasa bertenaga, untungnya tidak menciptakan lebam di wajah tampan Felix.


“Clara memang berbeda sekali ya.” Ujar Marcello.


“Tentu saja. Dia itu sudah seperti Alpha di rumah kami. Dia sangat menakutkan, dan bahkan setiap pagi kami selalu diancam menggunakan pisau dapur jika tidak bangun.” Ketiga pemuda itu mengangguk-nganggukkan kepala mereka dengan memasang tampang bodoh mereka mendengar ucapan Stella.


“Baiklah, soal penampilan, kami akan mempertimbangkannya kembali besok. Sampai jumpa kawan.” Luna merangkul kedua sahabatnya dan berpamitan kepada ketiga pemuda tersebut menuju ke kelas karena merasa malu dengan kejadian tadi.


“Felix, sepertinya kau harus berhati-hati jika ingin mencuri ciumannya. Gadis itu benar-benar jelmaan singa betina yang ganas.” Bisik Marcello.


“Tenang saja, aku sudah punya cara untuk menjinakkannya. Tatapannya itu mengatakan jika ia sangat tertarik kepadaku. Hanya perlu menyadarkannya saja dan perlu kesabaran. Jadi, Marcello, apa yang aku lewatkan selama aku tidak ada?” Tanya Felix.


“Ehm, itu, hehe.” Marcello menggaruk kepalanya gatal. Telinganya mulai merah ketika mengingat aksinya kepada Luna tadi.


“Dia sudah mendapatkan ciuman pertamanya.” Marcello mendelik kepada Vincent.


“Benarkah? Kalau begitu, kami tidak akan kalah darimu, kau memang ahlinya jika mengenai cinta.” Ini pertama kalinya Felix memuji orang.


“Wow, pertama kalinya kau memuji orang selain Clara Felix. Kau membuatku merinding. Kalau begitu berusahalah kawan, yang pasti aku sudah selangkah maju dari kalian karena aku juga sudah menyatakan perasaanku kepada Luna.” Felix dan Vincent melongo.


“Hei kawan, kau sudah benar-benar yakin jika Luna milikmu? Kurasa kau harus berpikir 2 kali sebelum menyatakan perasaanmu kepadanya.” Ujar Vincent.


“Biarkan saja, yang penting aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya dan aku sudah bersikap layaknya lelaki jantan hari ini.” Vincent dan Felix mendengus. Dalam hati mereka merasa kesal karena merasa tersindir oleh ucapan Marcello.


“Selamat berjuang kawan, sebaiknya kita membolos saja hari ini.” Sambung Marcello.


“Ide yang bagus.” Jawab Felix. Mereka pun akhirnya merebahkan diri di sofa ruangan markas mereka dan tidak mengikuti pelajaran sampai akhir.


TBC