
Elard menatap lekat wajah gadis di depannya, "Pantas aku pernah melihatmu," ucapnya sambil tersenyum, "apa kamu perlu bantuan untuk membawa koper itu?"
Freya menggeleng. "Terima kasih, sepertinya tidak usah. Ini adalah tugasku. Aku bisa membawanya sendiri!"
Jelas Elard tidak tinggal diam ketika Freya menggotong koper itu dengan susah payah. "Pakai ini, Nona." El mengambil troli dari dalam ruangan dan memberikannya kepada Freya.
Gadis di depannya begitu sangat terkesima dengan sikap Elard, tidak hanya tampan dia adalah lelaki yang sangat sopan saat berbicara dengan pembantunya. Elard tidak berani menanyakan kenapa Freya bekerja di rumahnya. Mereka lalu berdua berjalan menuju kamar Drago berkenalan sambil berbincang santai. Walaupun sikap El ramah, Freya menjaga jarak. Masih merasa canggung menyadari kalau dirinya hanyalah asisten rumah tangga di rumah itu.
Hari pertama bekerja, benar-benar membuat Freya terkesan dengan kepribadian El.
Cewek itu, bukankah yang aku lihat kemarin di bandara, batin El.
***
Pagi itu Freya berlari kecil melewati gang-gang sempit menuju sekolahnya. Karena lembur semalam di mansion, Freya sampai bangun kesiangan. Kebetulan jarak sekolah dari rumahnya tidak terlalu jauh bisa dilalui dengan berjalan kaki. Sayangnya waktu menunjukkan sepuluh menit lagi jam masuk sekolah, Freya harus mempercepat gerakan kakinya agar tidak terlambat.
Sekarang kakinya sudah sampai di pinggir jalan menuju sekolahnya. Karena akhir-akhir ini sering hujan saat malam hari. Jalanan terlihat banyak genangan air yang menutupi lubang jalanan. Kakinya harus bisa lincah menghindari setiap lubang yang akan membuat basah sepatunya.
Freya gadis itu mempercepat langkahnya. Sambil membenahi poni rambut yang belum sempat ia rapikan. Baju seragamnya yang barusan di setrika terlihat pas di tubuhnya yang mungil. Gadis dengan tinggi seratus lima puluh lima dan berat 45 kilogram itu berjalan sangat cepat. Rambut pendeknya ia biarkan tergerai.
Saat Freya asik berjalan, sebuah motor dari belakang yang berjalan searah dengannya tak sengaja melaju tepat di genangan air yang ada di sebelahnya.
Byur! Freya begitu kaget saat air genangan itu tiba-tiba mengenai baju seragamnya. Bahkan poni yang baru ia rapikan terlihat lepek, beberapa tetes air jatuh dari rambutnya. Matanya membulat sempurna, terlebih saat motor itu tetap melaju tidak memperdulikan Freya sama sekali.
"Haish! Bajuku!" gerutu Freya melihat bajunya yang sudah basah karena air genangan, "Hai! Beraninya kamu pergi begitu saja tanpa meminta maaf!" teriak Freya kepada pengguna sepeda motor yang terus melaju. Freya mencoba mengejar motor itu, namun sayang motor yang sedang dikejarnya melaju sangat cepat.
“Berhenti!” teriak Freya sambil berlari.
Motor yang dikendarainya adalah motor khas pembalap di arena. Dengan helm full race yang memenuhi seluruh kepalanya. Sang pengendara menengok sebentar ke arah Freya lalu melaju lagi tanpa rasa bersalah.
“Lihat saja aku akan membalasmu!” Freya menggerutu sembari membersihkan bajunya yang kotor.
Freya membaca sekilas nomor plat motor orang yang membuat dirinya basah kuyup tersebut. Freya hanya melihat jaket yang dikenakannya dan celana yang dipakai sama dengan siswa di sekolahnya.
"Sepertinya dia bersekolah di GIS. Tunggu saja aku akan mencarimu untuk memberi perhitungan!" Freya mendengus kesal, mendapati dirinya sekarang yang basah dan kotor. Pasti dia akan menjadi bahan candaan teman-temannya lagi.
Lima menit kemudian, sekarang Freya sudah sampai di dalam kelas. Betul yang Freya pikirkan. Teman-temanya terlihat tertawa, meledak bahkan mengatai kata-kata jahat saat melihat pakaian basah dan kotor yang dipakainya.
"Dasar gembel, tak tahu malu! Bisa-bisanya kamu bersekolah dengan pakaian kotor seperti itu."
"Lihat mukanya, dengan baju seperti itu dia terlihat seperti sampah. Ha, ha ..."
Freya adalah siswi termiskin di sekolah. Para murid memandang remeh dirinya. Tentunya keberuntungan adalah hal pertama yang membuatnya masuk di sekolah itu. Kepala sekolah mengenal Soren dengan baik. Ia memberikan beasiswa percuma kepada Freya agar bisa bersekolah di Ganesha School. Sekolah favorit di kota itu.
Bel sekolah berbunyi, Semua murid sudah duduk di tempat masing-masing. Termasuk Freya, ia duduk di bangku paling terakhir. Karena miskin, Freya diasingkan teman sekelasnya. Tidak ada yang menarik dari seorang Freya di mata mereka. Padahal wajahnya cantik, namun karena ia tak bisa merawat diri Freya terlihat biasa saja.
Hari ini di kelas mereka kedatangan dua murid baru pindahan dari luar negeri. Para siswi begitu antusias ketika mengetahui kalau murid baru itu adalah seorang perempuan dan seorang lelaki.
Freya masih fokus dengan pekerjaan rumah yang belum ia selesaikan. Tidak hanya miskin, Freya juga bukan murid yang pintar di sekolah itu. Murid yang jauh dari kata sempurna. Freya tak memiliki keahlian khusus. Selain bekerja paruh waktu dan sekolah, dia habiskan waktunya untuk bermain game dan membaca komik di mangatoon.
Gadis dengan wajah imut itu tidak terlalu memperdulikan kabar terbaru di kelasnya, termasuk anak yang cuek dan dinilai cupu.
Dari ambang pintu, seorang siswa baru memasuki kelas bersama Elard dan Remon . Terlihat beberapa wajah yang mengarah kepadanya menatap takjub. Namun, dia tak peduli sama sekali.
"Di situ ada bangku kosong. Kamu duduk di situ saja, Rion," ucap El sambil menunjuk bangku kosong di depan Freya.
"Sempurna!" ucap salah seorang siswi yang hampir meneteskan liurnya saat melihat Drago.
Orion Drago, nama siswa baru itu. Wajahnya mendekati sempurna. Terlihat putih dan mulus tanpa bekas luka sedikit pun. Tatapannya begitu tajam dan dingin, terus berjalan ke bangku kosong yang ada di depan Freya. Tentunya Hanya bangku itu yang masih kosong. Drago masuk ke kelas sebelum guru memperkenalkan dirinya. Lelaki itu tak suka berbasa-basi.
Drago mendudukkan diri, duduk tenang tak menoleh ke arah mana pun tak pedulikan apa pun. Padahal semua mata sedang mengarah ke arahnya. Kecuali Freya, dia masih fokus dengan pekerjaan rumahnya.
Bangku macam apa ini? Kenapa sangat sempit sekali? batin Drago merasa tidak nyaman.
Drago yang merasa bangkunya sempit, bergerak memundurkan kursinya ke belakang, Ia tidak tahu kalau gerakannya itu membuat Freya yang sedang menulis di meja belakangnya menjadi terganggu.
"Haish, bisakah kamu tidak memundurkan kursinya!" teriak Freya kepada lelaki di depannya. Ia tidak melihat muka Drago menggerutu karena pekerjaannya terganggu, yang Freya lihat hanya rambutnya yang hitam. Baru sebentar di tegur, Drago kembali memundurkan kursinya.
Srek! Sekali lagi Freya mendengus kesal, tangannya dengan refleks memukul kepala Drago menggunakan bolpoin dari belakang.
"Sudah aku bilang jangan memundurkan kursinya. Kenapa kamu masih keras kepala! Kamu membuat pekerjaanku menjadi terganggu."
Drago menoleh ke belakang, melihat siapa orang yang berani memukulnya dengan bolpoin, "Beraninya kamu memukulku!" ketus Drago menoleh begitu marah.
Freya balik melihat. Matanya membulat sempurna. Sangat kaget begitu tahu kalau lelaki yang ada di depannya itu, adalah lelaki yang dia cium di bandara kemarin.
Hah! Kenapa dia ada di sini? Bukankah dia cowok yang aku cium kemarin? batin Freya.
"Sekali lagi kamu memukulku. Aku akan patahkan benda itu menjadi dua."
'Bukankah gadis ini adalah ....' batin Drago. Dia tersenyum mengingat lagi kejadian tadi pagi. Ya, yang membuat Freya basah kuyup adalah dirinya.