
Di rumah tempat Soren ditahan. Pria yang memilliki postur badan tidak terlalu tinggi itu, berjalan gontai memasuki sebuah ruangan cukup megah. Di sana sudah duduk seseorang yang mengenakan topeng membelakanginya.
Orang tersebut lalu berbisik kepada pria berbaju formal untuk mengatakan perintahnya kepada Soren.
"Soren, kamu ingin bebas, bukan?" tanya pria berbaju formal.
Soren yang duduk setengah duduk, langsung mengangguk cepat. "Iya, Ketua. Aku ingin cepat bebas! Aku sangat rindu dengan anakku," ucap Soren memelas.
Orang yang mengenakan topeng kembali berbisik. Pria berbaju formal pun mengangguk dan memberitahukan apa yang diucapkan tadi, "Ada tugas untukmu sekarang."
Soren mendongakkan wajahnya menatap lekat pria berbaju formal. "Tugas apa, Tuan?"
Pria berbaju formal mengambil beberapa kotak berukuran dus sepatu. Kotak tersebut sudah dibalut kantong hitam, berisi tulisan alamat yang ditempel di atasnya.
"Kau hanya perlu mengantar beberapa paket ini ke pengirimnya selama sebulan," kata pria berbaju formal, "tapi ingat! Kau harus mengirimkannya secara sembunyi-sembunyi. Jangan sampai ada orang yang mengetahui, termasuk anakmu sendiri."
Mata Soren menatap lekat kotak paket tersebut. Mengamati dari jauh kira-kira apa isinya. Mungkinkah obat terlarang yang sering dia dengar dari teman-teman satu tawanannya?
"Baik, Tuan. Tapi ... apa boleh aku tahu dulu apa isinya?" tanya Soren, pria tersebut semakin penasaran.
Orang bertopeng yang sedang duduk menghentakkan tongkat yang dia pegang ke lantai. Seakan memberi peringatan kepada Soren kalau dia tak menyukai ucapan Soren barusan.
"Nanti saat pengiriman berlangsung, ada seseorang yang akan mengawasimu dari jauh. Jangan coba-coba kabur sebelum kamu menyelesaikan tugasmu dalam sebulan. Orang yang mengawasimu membawa senjata api, jadi bisa saja sewaktu-waktu menembakmu dari jauh," kata pria berpakaian formal menakut-nakuti, "dan satu lagi. Jangan coba-coba membuka isi paket itu. Kalau iya, kamu tanggung sendiri akibatnya nanti. Aku bisa saja membunuhmu!"
Soren menelan ludahnya. Dia sudah yakin isi paket tersebut pasti obat terlarang. Para tawanan sudah memperingatkan hal tersebut kepada Soren. Sebelumnya tawanan ada empat di rumah itu. Salah satu dari mereka mendapatkan tugas dari sang ketua untuk mengantarkan paket tersebut ke luar negeri atas nama salah satu toko online. Sayangnya, karena dia melanggar perintah ketua, orang tersebut malah tak kembali lagi. Beredar kabar, orang itu mati ditembak salah satu ajudan ketua.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sudah paham?" bentak pria berbaju formal.
Soren langsung mengangguk cepat. Sebaliknya dia malah menanyakan tentang piutangnya dan meminta bertemu dengan Freya.
"Kau pikir dengan sudah memberikan tugas ini, kau akan dilepaskan dan bertemu anakmu? Tidak seperti itu Soren! Kau boleh kembali dan hidup normal lagi setelah tugasmu selesai dalam waktu sebulan," kata pria berbaju formal lagi.
Soren mendadak gemetar lagi. Dia benar-benar sangat rindu sekaligus khawatir dengan anak gadisnya. "Apa tidak ada pilihan lain, Tuan?" tanya Soren. Dia tak mau suatu saat nanti tertangkap polisi saat terciduk mengirimkan barang haram itu.
Untuk ke dua kalinya orang bertopeng menghentakkan tongkatnya lagi. Kali ini lebih keras dan membantingnya ke lantai. Tidak lama, dia mengambil pistol dengan tangan kiri dan menembaknya ke sebuah papan sasaran. Tembakan orang bertopeng benar-benar tepat ke tengah-tengah. Dor!
"Kami akan mengirimmu ke negara tetangga hari ini juga!"
***
Sementara di tempat lain di GIS. Freya sedang bersuka cita, bersenandung ria berjalan menuju halte bus hendak menuju ke rumah Drago untuk bekerja lagi. Freya nampak senang dengan wajah berbinar-binar, memeluk tubuhnya sendiri dengan ke dua tangan. Freya sangat senang menerima pemberian jaket dari El.
"Eum, jaket ini benar-benar sangat lembut dan wangi. Kalau jaket ini kotor, aku tak mau mencucinya agar bau parfumnya tidak hilang," gumam Freya sambil terus berjalan.
Di saat Freya sedang fokus berjalan, dari belakang Drago datang menghampirinya dengan mengendarai sepeda motor.
"Arghttt!" teriak Freya.
Freya tersentak kaget ketika penutup kepala di belakang jaketnya, ditarik seseorang dari arah belakang. Freya langsung menoleh, memastikan siapa yang menariknya.
"Tuan!"
"Waktunya bekerja, ikut aku sekarang," kata Drago.
Freya membenarkan posisi jaketnya yang berantakan, tak mau lusuh seakan jaket tersebut adalah barang berharga miliknya.
"Iya, aku tahu. Makanya aku sedang berjalan ke arah halte bis menuju rumah Nyonya Niki sekarang," jawab Freya.
Setelah menjawab, Freya berbalik badan lagi dan berjalan. Dia pikir jawabannya sudah cukup bagi Drago.
"Apa kamu tak mendengarku tadi!"
Freya kembali menoleh. "Yah, aku dengar!"
Drago kembali menarik lagi jaket Freya dari belakang. "Naik ke motorku sekarang!" perintah Drago.
"Apa?!"