
Di pinggir lapangan basket, para siswi yang bergerombol tadi mendekati Freya. Mereka tidak suka dengan gadis itu dan berniat menjahilinya.
"Teriakanmu membuat telingaku sakit," kata salah satu siswi teman sekelas Freya.
"Yah, benar. Bahkan gonggongan anjing lebih merdu dari suaramu," balas teman satunya terlalu hiperbola.
Seketika Freya berhenti berteriak, dia menoleh menatap sinis keempat siswi tersebut. Mereka berempat adalah team cheerleader yang populer di sekolah itu. Selain populer, mereka pun suka membully Freya, tepatnya ketika Freya berhenti bergabung dengan tim mereka.
Dulu berbulan-bulan Freya menuruti kemauan mereka, asalkan bisa masuk ke dalam tim bisa menjadi anggota cheerleader. Namun, bukannya menjadi cheerleader, mereka malah menjadikan Freya sebagai pembantu. Sering menyuruh dia membelikan makanan, menyuruhnya menjaga barang-barang di tengah lapangan yang terik, bahkan membersihkan sepatu anggota lain yang kotor. Mereka menganggap, Freya tak pantas masuk ke dalam team karena bukan dari keluarga kaya.
Akan tetapi, lambat laun Freya mulai sadar sudah dimanfaatkan, dan memutuskan untuk berhenti menjadi anggota cheerleader. Sejak saat itu mereka mulai memusuhi dan membully Freya.
"Teriakanmu mengganggu konsentrasi kami berlatih. Kalau sudah begini, moodku mulai hancur apalagi melihat wajahmu yang kampungan itu," ucap salah satu dari mereka lagi.
Freya tak peduli. Dia malah membuang mukanya berpura-pura tak mendengar. Menurut Freya, lebih baik menghiraukan daripada meladeni mereka.
"Lihat tampangnya begitu memuakkan sekali! Harusnya dia sudah dikeluarkan dari sekolah ini. Memalukan sekali, sekolah se-elit ini masih menerima siswi dengan tampilan cupu seperti dia."
Lagi-lagi Freya tak peduli malah kembali berteriak mendukung El. "Ayo, El, semangat!"
"Dia benar-benar menantang kita, sebaiknya kita beri pelajaran agar dia bisa menghargai kita di sini." Salah satu dari team cheerleader tersebut mendekati Freya, menyumpal mulut Freya dengan sepotong Roti.
Sontak Freya langsung terperanjat dan membuang balik roti tersebut ke mulut sang pelaku. Freya memang suka dibully, tetapi dia tak hanya tinggal diam.
"Kurang ajar! Kamu uda mulai berani ya!" Salah seorang dari mereka menarik rambut Freya dan membuatnya langsung tersungkur ke lantai.
Beberapa teman lainnya tak tinggal diam, melempari Freya dengan makanan yang mereka bawa. Ada yang melempar spaghetti, mengambil saus dan kecap dari kantin dan membuangnya ke baju seragam Freya.
"Aku sudah tak punya urusan lagi dengan kalian! Kenapa masih saja menggangguku?" teriak Freya kencang.
"Saat masuk ke dalam team kamu sudah menandatangani kontrak. Kamu tak bisa keluar dengan mudah, kecuali membayar uang pinalti. Bukankah kamu sudah tahu aturannya?" Ketua team menarik kerah baju Freya, hendak membukanya satu persatu. Jelas mereka ingin membuka baju Freya dan mempermalukannya di tengah lapangan.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" teriak Freya sambil menahan tangan ketua cheerleader. Sayangnya karena mereka royokan, kekuatan Freya yang tak seberapa tak bisa menahannya.
Teriakan Freya membuat para pemain basket menoleh, termasuk El langsung menghentikan permainannya. Semua pemain tercengang tepatnya ketika para team cheerleader berhasil membuka baju seragam Freya, hanya menyisakan tanktop-nya saja. Seketika, Freya langsung menutupi tubuh bagian depannya dengan ke dua tangan.
"Waaahhh!" Satu kata keluar dari mulut masing-masing lelaki di sana.
Sekolah memang sudah sepi, karena sore itu para murid sudah pulang hanya menyisakan sebagian yang mengikuti ekstrakurikuler. Namun, tetap saja Freya malu karena menjadi tontonan publik dengan pakaian terbuka seperti sekarang.
"Bajumu sudah kotor! Aku hanya melepasnya agar tidak basah, ha ... ha."
"Jangan munafik, buka saja! Bukankah kamu juga sering bersama sugar daddy dengan pakaian terbuka seperti ini!"
Para pembully terus saja memojokkan Freya. Gadis itu berusaha meraih bajunya, namun begitu sulit karena postur dia yang lebih pendek dari mereka.
"Tidak, itu tidak benar! Aku dijebak saat itu! Berikan bajuku sekarang!" teriak Freya kencang.
Akan tetapi, mereka semakin senang mempermainkan Freya. Terus menjahili lagi dan lagi, mereka melempar baju Freya, mengopernya dari satu tangan ke tangan lainnya. "Ambil kalau bisa!"
Tetapi tidak dengan Elard. Melihat Freya dilecehkan, dia tak tinggal diam. El bergerak maju, berjalan cepat dan mengambil paksa seragam Freya dari siswi pembully.
"Kalian hanya berani dengan orang yang lemah! Aku tidak menyangka sekolah ini masih menerima murid-murid berperilaku kotor seperti kalian!" ucap El dengan nada tinggi, "pergi! Atau aku laporkan kalian!"
Semua siswi pembully tercengang dan langsung membubarkan diri bersamaan. Mereka tahu siapa Elard. Meskipun mereka rata-rata anak pejabat dan konglomerat, tetap saja takut kalau nanti El melapor dan mengeluarkan mereka dari sekolah itu. Yah, mereka tahu El sangat dekat dengan Calista.
El tahu seragam Freya sudah kotor, tak mungkin gadis itu memakainya lagi. Saat itu juga dia berbalik berjalan menuju tas miliknya yang dia taruh di pinggir, mengambil sebuah jaket miliknya dari dalam tas.
"Seragammu sudah kotor. Pakai saja jaket ini," ucap El sambil menyodorkan jaket miliknya kepada Freya yang masih terduduk sambil menutupi dada.
"Hah," ucap Freya tercengang. Bahkan tidak hanya Freya, semua orang yang melihat itu ikut tercengang.
"Pakai saja! Kamu tak perlu mengembalikannya," ucap El lagi.
Freya meraih jaket tersebut dengan mulut ternganga tak bisa berkata-kata. Dia masih tak percaya, bintang basket idolanya menolong dan memberikan jaket untuknya secara percuma. Bagi Freya ini sungguh luar biasa. "Te-terima kasih su-sudah menolongku," balas Freya dengan terbata-bata.
Sebelum pergi, El menyunggingkan senyum kepada Freya sambil mengangguk. Meskipun tubuhnya sudah penuh dengan keringat terkena pantulan cahaya matahari, tak mengurangi ketampanannya sama sekali. Apalagi saat tersenyum. Kedua lesung pipi yang terlihat saat tersenyum menambah kesan manis di wajahnya.
Dia memberikanku jaket lalu tersenyum padaku. Dia benar-benar sangat tampan, batin Freya dengan wajah berbinar tak berkedip.
***
Di tempat lain, di rumah besar tempat penyekapan Soren. Terlihat lalu lalang pria bertubuh tinggi tegap sedang melakukan kegiatan, mereka sedang sibuk memberikan makanan kepada orang-orang yang disekap di sana, termasuk Soren.
Soren berada di ruangan tersebut dengan dua pria tawanan lainnya. Kesalahan mereka sama, berhutang uang dalam jumlah banyak dan tak sanggup membayarnya.
"Selalu saja dengan menu yang sama," ucap salah satu tawanan mengeluh.
"Jangan banyak mengeluh! Masih untung ketua masih mau memberi makan kalian!" bentak pria berpakaian formal, memberi makanan, "setidaknya organ tubuh kalian masih berguna nanti kalau dijual!"
Soren kembali menelan ludah, setiap kali mereka mengancam akan menjual organ dalam milik tawanan. Soren pun sering minta dilepas karena saking rindunya dengan Freya.
"Ketua kami ingin bertemu denganmu sekarang," ucap salah satu pria berpakaian formal kepada Soren.
"Aku?" tanya Soren menunjukkan diri.
"Yah, kamu. Lalu siapa lagi!"
"Apa aku akan dibebaskan?" Soren balik bertanya.
"Jangan mimpi! Kecuali kamu melakukan tugasmu nanti," kata pria tersebut lagi.
Kening Soren mulai mengernyit memikirkan apa tugasnya nanti. Dalam otaknya, mungkinkah ketua menyuruhnya mengirim barang haram itu lagi sebagai syarat kebebasannya?
"Tugas apa?"
Buk! Pria berbaju formal memukul tubuh Soren. "Jangan banyak bertanya, ikut saja denganku!"