
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan komputerku?"
Dari arah belakang Drago berkata keras, mengagetkan Freya yang sedang membuka aplikasi game miliknya.
"A-aku, hanya penasaran dengan game yang kamu mainkan," jawab Freya terbata, "maaf, sebaiknya aku pergi saja."
Freya mengambil ancang-ancang hendak berlari keluar. Sayangnya sebelum dia pergi, tangan Drago sudah menahannya terlebih dahulu. "Tunggu di sini. Temani aku makan."
Freya terkejut. Mau tak mau mengiyakan, berdiri di depan Drago, menunggunya sampai selesai makan. Barulah dia bisa pergi.
"Jangan makan gaji buta. Bukankah tugasmu di sini untuk melayaniku?"
Freya tak menjawab. Hanya diam terus berdiri di depan. Menunggu lelaki di depannya selesai makan. Sambil sesekali melirik aplikasi game milik Drago.
"Kamu sering memainkan game ini ya? Berarti kamu pasti tahu Princess Hyuna?" tanya Freya berusaha mencairkan suasana. Dia tak mau terus diam dan hanya memperhatikan Drago makan saja.
Drago diam sejenak. Menghentikan suapan nasi yang akan masuk ke mulutnya. Ada sesuatu yang membuatnya berhenti makan.
"Aku sangat suka karakter Hyuna. Kalau kamu sering memainkannya, pasti tahu princess Hyuna. Dia sangat cantik dan banyak diperebutkan pemain lainnya sebagai pasangan. Selain itu, Hyuna sangat pemberani. Karakter yang kuat, apalagi saat melawan musuh terkuatnya yang bernama Baron. Sangat hebat sekali saat menembak, tak pernah pelurunya meleset." Freya terus mengoceh, memuji karakter fiksi game dirinya sendiri. Dia tak peduli dengan ekspresi wajah Drago yang beralih melihatnya tak berkedip.
"Dari mana kamu tahu tentang Hyuna?"
Freya tertawa sampai gigi gingsulnya terlihat, "Ha, ha, tentu saja aku tahu. Aku melihat video konten permainannya di Yu klub," jawab Freya, "aku juga pernah bermain dengannya."
Freya tak berkata jujur kalau sebenarnya dirinyalah yang memerankan karakter fiksi Hyuna. Sebaliknya dia terus mengunggulkan Hyuna, mengatakan kalau dia tahu banyak tentang karakter itu dan item apa yang akan dibelinya nanti.
"Jadi kamu juga pemain MS?" tanya Drago. Kini lelaki itu berhenti makan. Menangkupkan sendok di atas nasi pertanda dia telah selesai makan.
Freya mengangguk cepat. "Yah, aku sangat dekat dengan Hyuna. Makanya aku penasaran saat kamu juga memainkan game ini. Kalau kamu juga player, apa nama karakter fiksi milikmu?"
"Aku adalah pasangannya," ucap Drago.
"Maksudmu?"
"Robin adalah karakter fiksi game MS milikku."
Freya kembali tertawa. Seakan menganggap ucapan Drago barusan adalah bualan. Tak mungkin Robin adalah Drago. Menurut Freya, sikap keduanya bertolak belakang. Drago sangat keren dan gentleman, tidak seperti Drago yang cerewet.
"Aku sedang tidak bercanda, Tuan muda. Aku memang sangat dekat dengan Hyuna," balas Freya.
"Aku juga tidak bercanda."
Freya langsung terpaku. Tapi dia masih tetap tak percaya. 'Tak mungkin dia orangnya? Dia hanya mengaku sebagai Robin agar bisa dianggap keren olehku? Ha, ha, tetap saja aku tak percaya. Robin sangat romantis tidak menyebalkan seperti dia'. Freya terus membatin, kemudian langsung mengalihkan pembicaraan ke yang lain.
"Yah, ya, aku percaya. Lupakan permainan game itu. Kenapa berhenti makan? Apa kamu sudah selesai makan?" tanya Freya.
Drago mengangguk. Sekarang raut wajahnya berubah lagi, "Buang saja makanan itu ke tempat sampah!"
"Apa? Sayang sekali, padahal belum di makan sesuap pun," kata Freya sambil merapihkan lagi.
Sayang sekali daging sapi lada hitam ini. Pasti sangat lezat, apa sebaiknya aku berikan saja pada kucing jalanan di belakang, batin Freya.
"Freya," panggil Drago sebelum Freya keluar.
Freya menoleh, "Yah. Apa ada lagi yang dibutuhkan?"
"Kalau aku sudah tak tinggal di sini dan berhenti menjadi majikanmu, apa kamu akan tetap bekerja di sini?" tanya Drago.
Freya langsung menjawab dengan cepat. "Yah, tentu saja. Karena aku masih membutuhkan uang banyak. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Baiklah, kamu boleh keluar sekarang," kata Drago.
Freya langsung keluar sambil membawa nampan berisi makanan. Dia tak peduli dengan pertanyaan Drago barusan. Dengan atau tidak ada Drago, selama dia membutuhkan uang. Dia akan tetap bekerja di rumah itu.
Sementara Drago, sepeninggal Freya. Dia terlihat sibuk dengan pemikirannya. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu, dia menutup aplikasi gamenya. Lalu memencet sebuah kontak dan segera menghubungi seseorang.
"Ada tugas untukmu," ucap Drago di telepon.
...***...
Freya berada di halaman belakang. Memanggil beberapa kucing liar di luar hendak memberikan makanan sisa yang dia dapat di dapur, dan tentunya dia juga membawa daging sapi lada hitam yang tidak dimakan Drago tadi.
"Lihat aku bawakan makanan sisa untuk kalian," ucap Freya sambil mengelus salah satu kucing berwarna oranye, yang sedang memakan daging sapi lada hitam pemberiannya.
Tidak ada lima menit, tidak hanya kucing oyen. Kucing lainnya datang menyerbu Freya. Hampir sepuluh kucing mengerumuninya. Freya membagikan ikan sisa dan beberapa tulangnya ke kucing lain.
"Meong, meong."
"Maaf, aku hanya punya satu daging sisa. Kalian makan kepala ikan dan tulang saja ya. Nanti sepulang kerja nanti, aku akan belikan makanan kucing kepada kalian sebagai gantinya," ucap Freya kepada kucing lainnya.
Freya sangat suka berbagi. Dielusnya kucing-kucing itu bergantian sambil terus melihat mereka makan. Semua kucing terlihat kelaparan dan melahap habis makanan pemberiannya dengan cepat.
"Frey," teriak seorang pelayan dari dapur.
Freya menoleh dan langsung masuk ke dalam. Halaman belakang sangat dekat dengan dapur, tak menunggu lama dan berjalan jauh Freya mendekati pelayan yang memanggilnya ke dapur.
"Apa kamu sudah mengantar makanan yang tadi aku siapkan kepada tuan muda Drago?" tanya pelayan tersebut.
Freya mengangguk cepat. "Yah, aku sudah memberikannya. Tapi---"
"Tapi apa?"
"Dia tak habis memakannya," balas Freya.
"Tak habis? Tapi tuan muda memakannya, kan?"
Freya menggeleng. "Aku tak yakin dia memakannya. Mungkin tuan muda sudah kenyang makanya tak habis."
Pelayan menarik Freya ke pinggir dan berbisik pelan di telinganya. "Yang penting tuan muda sudah makan, walaupun sedikit."
Freya hanya mengangguk pelan. Dia tak beritahukan kalau makanan sisa tadi dia berikan kepada kucing di belakang.
"Sekarang kamu boleh pergi lagi. Tugasmu sudah selesai," ucap pelayan lagi.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk, walaupun dia sendiri merasa aneh tidak biasanya pelayan tersebut mengajaknya bicara.
"Kalau tidak ada tugas lagi, aku ingin ke belakang lagi," ucap Freya.
Pelayan tersenyum dan mengangguk cepat. "Pergilah sesukamu. Aku juga ingin meneruskan pekerjaanku lagi."
"Apa ada yang ditanyakan lagi?" tanya Freya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tanya itu saja. Syukurlah kalau dia sudah makan."
Pelayan berumur hampir empat puluh tahun itu berjalan keluar dapur. Dia yang terkenal sinis dari awal terhadap Freya, memberikan senyum manisnya sekarang, tak seperti biasanya.
Ada angin apa sampai dia seramah itu padaku sekarang? Batin Freya sambil melihat punggung pelayan yang semakin menjauh. 'Sudahlah tak usah dipikirkan. Banyak orang aneh di rumah ini.'
Freya membuka pintu belakang, hendak melihat lagi kucing-kucing tadi yang barusan dia beri makan.
Semua makanan yang dia berikan hampir habis semua. Menyisakan sedikit tulang berukuran besar. Hampir semua kucing sudah pergi, hanya menyisakan seekor kucing berwarna oranye sedang menunduk di pojokan.
"Oyen, kenapa kamu diam saja?"
Freya mendekati kucing oyen. Dia sangat kaget ketika melihat keadaan kucing tersebut yang aneh. Lehernya mengejang, matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya sedang menahan sakit. Lidah kucing oyen sesekali keluar seakan ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
"Oyen, kenapa denganmu?"
Freya sangat panik. Apalagi saat tubuh Oyen menggeliat tak beraturan di tanah. Berguling lalu mengejang lagi. Dilihat dari keadaannya, kucing tersebut seperti sedang sekarat.
Apa yang terjadi? Apa oyen keracunan?
Freya ingat Oyen baru saja memakan makanan pemberiannya. Yah, daging sapi lada hitam bekas makanan Drago tadi yang dia berikan pada kucing oyen itu.
Freya langsung membawa kucing itu keluar. Dia berlari mencari air putih. Tak ada obat, dia harus segera membawa kucing itu ke dokter hewan untuk menolongnya. Kalau tidak kucing itu akan mati.
"Bertahanlah, Oyen. Aku akan menolongmu."