I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 29. Pacar Palsu



Pagi hari di sekolah GIS. Gara-gara tadi malam lembur mengurusi pertanyaan pelanggan mengenai barang di usaha online barunya, Freya kembali telat datang untuk membangunkan Drago.


"Maaf, aku terlambat datang lagi," ucap Freya terus menunduk.


Sudah dua kali ini dia terlambat. Sebenarnya Drago sudah siap dari tadi untuk berangkat sekolah. Namun karena tak mau berangkat sendiri, dia sengaja menunggu Freya untuk berangkat bersama.


"Naik lagi," ucap Drago memerintahkan Freya untuk naik ke motornya lagi saat mereka sampai di halaman sekolah.


Freya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat balik siswa siswi lain yang menatap sinis ke arahnya. Freya tahu, mereka pasti memandang aneh dirinya karena berangkat sekolah bersama Drago kali ini.


"Aku tak suka mengulang perintah untuk ke dua kalinya. Cepat naik!" perintah Drago lagi sambil melirik ke arah Freya.


Memangnya siapa kamu? Ah iya aku lupa, aku sedang bekerja dan berpura-pura menjadi pacarmu. Baiklah, hanya pura-pura karena uang Freya. Bersabarlah dan turuti saja makhluk menyebalkan di depanmu ini, batin Freya.


Akhirnya Freya menurut, dia pun kembali naik ke motor Drago sampai ke parkiran sekolah. Entah apa yang ada di pikiran Drago, yang jelas karena Freya membutuhkan uang akhirnya dia pun menurut.


"Nanti pulang sekolah, aku pulang naik bus saja. Tatapan mereka membuatku risih," bisik Freya begitu dia turun dari motor.


"Kamu lupa kalau aku adalah pacarmu. Tak usah pedulikan mereka," balas Drago.


"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Bukankah kamu bilang sudah memiliki pacar di sekolah ini?"


"Itu urusanku! Kamu tak perlu ikut campur."


"Heum, baiklah. Aku tak peduli!"


Freya berjalan cepat seorang diri menuju ke kelasnya. Tahun ke tiga dia bersekolah di GIS, baru kali ini dia berangkat bersama seorang lelaki. Freya tak tahu kalau pacar bohongannya adalah tunangan dari cucu pemilik sekolah.


Semua murid yang melihatnya begitu tercengang. Salah satu dari mereka berlari ke arah kelas Calista. Dia ingin melaporkan kejadian yang barusan dia lihat kepada gadis itu.


"Caly, ada yang ingin kusampaikan. Ini sangat penting." Kemudian dia berbisik pelan di telinga Calista, menceritakan semua yang dia lihat dari awal sampai akhir.


Alis wajah Calista berkerut, wajahnya menunjukkan ketidak sukaan. "Siapa nama cewek itu?"


Siswi yang barusan berbisik menjawab pertanyaan Calista dengan detail. Ekspresi Calista langsung berubah drastis. Pantas saja akhir-akhir ini Drago berubah dan inilah jawabannya, ucap Calista dalam hatinya.


***


Siang harinya saat jam istirahat. Freya memilih istirahat menyendiri di pojokan sekolah sambil membaca novel dan komik yang dia pinjam di perpustakaan. Begitupula Siena, semenjak berkenalan dengan Freya, dia mengikuti jejaknya. Lebih memilih membaca buku daripada bergosip di kantin bersama teman lainnya.


"Aku bawa beberapa potong sandwich, ambil saja kalau kamu mau," ucap Siena menawarkan bekal yang dibawanya kepada Freya.


Sebenarnya Freya memang sangat lapar, hanya saja dia malu mengambilnya. "Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang."


Freya akhirnya mengangguk karena dipaksa. Sebenarnya bukan dipaksa juga, dia pun sebenarnya menginginkannya. Namun, sebelum tangannya menyentuh sepotong sandwich, tiba-tiba saja sebuah tangan menyenggol tepak makan milik Siena hingga terjatuh ke lantai.


Suara kotak plastik yang jatuh terdengar keras, membuat beberapa potongan sandwich berceceran ke lantai. Ke dua mata gadis itu langsung membulat, mereka sangat kaget. Apalagi saat tahu bekal Siena sengaja dijatuhkan oleh seorang siswi.


"Ambil kalau kamu mau!" kata siswi yang menjatuhkan tepak Siena sambil menginjak salah satu sandwich.


Freya mendengkus kesal. Freya tahu siapa orang yang berbuat rese kepadanya. Yah, dia adalah adik kelasnya salah satu model terkenal dan teman dekat Calista. Sementara Siena, dia masih tampak tenang belum terpancing emosi.


"Aku tak ada urusan denganmu. Kenapa kamu membuang sandwichnya?" teriak Freya kencang.


Gadis di depannya tersenyum. "Kamu itu cewek kampungan dan engga pantes berdekatan dengan Drago. Kamu engga tahu siapa dia, Hah!"


"Memangnya kenapa? Wajarlah, dia kan ... pacarku," kata Freya dengan tegas.


Gadis di depannya tertawa keras seakan mengejek Freya. Berbagai macam kata-kata kotor dan umpatan dia ucapkan setelah itu untuk membalas Freya. Siena yang mendengar semuanya hanya bisa menenangkan Freya agar bersabar dan tak terpancing emosi.


"Gadis kampungan! Berani sekali mengambil pacar temanku!" teriak siswi tadi sambil memukuli wajah Freya, "kamu tak tahu kan siapa Drago? Dia adalah--"


"Cukup! Jangan teruskan, Flo!" seru Calista dari arah belakang. Calista berjalan mendekati Freya, "jadi kamu pacar Drago? Sejak kapan?" Menatap Freya tak berkedip.


Freya mundur sejengkal. Dia nampak segan dengan Calista. "Sejak ...."


"Sejak hari ini," kata Drago mendekati Freya lalu menggenggam tangannya, "Maaf, Caly. Aku belum memberitahukan kepadamu kalau dia adalah pacarku mulai sekarang. Ayo kita kembali ke kelas. Bukankah kita sedang mengerjakan tugas bersama?"


Masih kaget atas kedatangan Calista, Freya pun dibuat kaget dengan kedatangan Drago. Apalagi sampai lelaki itu menggengam tangannya dan mengatakan kalau dia adalah pacarnya. Ini gila, Freya tak habis pikir bisa-bisanya Drago bersikap seperti itu. Kenapa harus dengan dia? Bukankah ada perempuan lain yang lebih pantas menjadi pacarnya, yah walaupun hanya sebagai pacar palsu. Freya terus membatin sekaligus masih tercengang sambil berjalan dituntun Drago.


"Rion! Apa maksudmu bersikap seperti ini? Kamu tidak bercanda bukan? Kalau iya, ini tak lucu." Calista berusaha menghentikan Drago dengan memegang bahunya.


Akan tetapi, bukannya berhenti. Drago malah melepaskan tangan Calista dari bahunya. "Aku tidak bercanda. Aku mencintainya. Tidak salah, bukan?"


Mata Calista membulat. Ingin sekali dia menampar lelaki di depannya. Namun setelah berpikir lagi, langsung dia urungkan. "Apa kelebihan dia dari aku? Kalau tidak ada, cepat putuskan saja dia. Aku akan memafkanmu dan masalah ini selesai."


"Kamu mau tahu apa kelebihannya?" Drago balik bertanya, "dia bisa membuatku nyaman. Dan yang paling utama, dia tak sepertimu."


"Rion, sadarlah! Kita sudah bertunangan," ucap Calista sekali lagi.


"Lupakan saja pertunangan kita," balas Drago sambil terus berjalan menggenggam tangan Freya. Menurut Drago keputusannya sangat tepat. Ada hal lain yang membuat Drago harus memutuskan pertunangannya dengan Calista. Bukan karena hubungannya dengan Elard. Tetapi hal lain yang belum bisa dia ungkap sampai sekarang.


Sementara Freya hanya diam seribu bahasa. Dia baru tahu ternyata tunangan Drago adalah Calista. Freya mulai ketakutan, dia takut gara-gara masalah kebohongan ini akan berpengaruh dengan beasiswanya.