I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 6. Mafia Dunia Nyata



"Serahkan semua hasil jarahanmu!" teriak Robin sambil menodongkan pistol ke kepala perampok.


Di atas rooftop sebuah perusahaan, semua perampok menunduk sambil berlutut ketakutan melihat Robin. Ke empat perampok terlihat gemetar, mereka takut Robin akan menembak kepala mereka satu persatu. Terburu-buru mereka menaruh satu peti berisi emas dan uang hasil rampokan mereka di depan Robin dan Hyuna.


"Jangan tembak kami, Tuan," ucap salah satu perampok.


Hyuna terlihat senang, dia langsung mengambil emas dan uang-uang tersebut. Mengalungkan beberapa emas ke lehernya. "Ha, ha, kita kaya, Robin. Kita bisa membeli helikopter dan beberapa amunisi lagi," ucap Hyuna yang ada berdiri di belakang Robin.


Kedua pasangan itu tersenyum. Mereka berniat membeli beberapa item senjata, untuk memperkuat skill. Terutama untuk melawan Baron, karakter yang menjadi lawan terkuat bagi Robin dan Hyuna. Beberapa kali Baron kalah, namun dia tak mau menyerah dan terus memperkuat skill dan senjatanya untuk melawan mereka.


Dor!


Terdengar suara tembakan beberapa kali. Dari tempat mereka berdiri, terlihat helikopter mengarah ke arahnya. Dilihat dari bawah, sebuah tangan menyembul keluar. Menembakkan beberapa peluru ke arah Robin dan Hyuna.


"Sial! Kalian ternyata menjebak kami," gerutu Robin.


Refleks keduanya berlari menjauh bersamaan, melompat melewati atap gedung sambil mengarahkan tembakan ke arah Baron.


"Robin," teriak Hyuna.


Tanpa sadar kaki Hyuna terkilir ketika akan melewati gedung satu ke gedung lainnya. Hyuna melepaskan pistol dan berpegang teguh pada sisi gedung.


"Hyuna."


"Tolong aku, Robin," lirih Hyuna ketakutan saat melihat ke bawah gedung, takut jatuh.


Robin berusaha meraih tangan Hyuna menolongnya. Namun, sangat sulit bagi Robin karena Baron terus mengarahkan tembakan ke arah mereka.


"Robiiinnn!"


***


"Robiiin, tolong aku!"


Freya tersadar dari tidur ketika sebuah tangan dengan keras membangunkannya. Gadis yang sedang bermimpi terjatuh itu sangat kaget begitu tahu yang menarik tangan bukanlah Robin, melainkan ayahnya.


"Bangun Freya! Kita harus cepat pergi!"


Baru membuka mata, Freya sudah ditarik turun dari atas ranjang. "Ayah! Di mana Robin?"


"Tidak ada Robin, Frey. Persiapkan dirimu, kita pergi sekarang!"


"Apa?! Apa ayah sudah memenangkan mobilnya?"


"Jangan banyak bertanya! Ikut Ayah sekarang!"


Freya masih terlihat bingung. Dia pikir Soren telah memenangkan sebuah mobil dan akan mengajaknya berjalan-jalan. Masih menggunakan pakaian tidur, gadis yang barusan terjaga itu mau tak mau ikut bersama ayahnya berlari keluar dari dalam rumah.


Gadis cantik itu tiba-tiba mendengar suara gaduh dari luar rumah. Pintu rumahnya digedor dari luar sangat keras, "Ayah, ada yang menggedor rumah kita."


"Jangan pedulikan! Kita harus cepat menghindari mereka. Kalau tidak, kita bisa ditangkap.


Soren terlihat kalang kabut ketakutan, sambil berpikir mencari jalan keluar. Tidak ada pintu keluar selain jendela samping kamar Freya. Karena sebentar lagi orang-orang yang dari tadi sudah ada di depan rumah, hendak masuk dengan cara mendobrak pintu.


"Cepat keluar lewat jendela sini. Ayo Freya, jangan banyak membuang waktu!" Soren mendorong tubuh anaknya agar keluar melalui jendela. Dia tak pedulikan Freya yang kebingungan.


"Jangan lari," teriak salah seorang pria yang berhasil memasuki rumah. Dia melihat Soren sudah berhasil keluar lewat jendela.


Soren menarik tangan anaknya. Mengajaknya terus berlari dan berlari. Merasa penasaran Freya menengok ke belakang. Melihat beberapa pria mengejar dia dan Soren. "Ayah siapa mereka?"


Soren yang sudah jauh di depannya mengabaikan pertanyaan Freya, malah menarik tangan Freya agar berlari lebih cepat lagi, "Sudah kubilang jangan banyak bertanya. Lebih cepat lagi larinya. Lihat mereka sudah sangat dekat!"


Freya yang baru bangun tidur tidak bisa mengimbangi ayahnya berlari. Sudah semakin jauh dari rumahnya mereka berlari menghindari tiga laki-laki itu. Akhirnya sampailah mereka di depan deretan toko pasar yang sudah tutup.


"Kita harus bersembunyi," kata ayahnya.


Keduanya berlari lagi menelusuri deretan kios yang sudah tutup. Hanya ada beberapa cahaya lampu yang dibiarkan hidup, sisanya ada beberapa ruangan yang terlihat sangat gelap.


"Ayah aku sudah tidak kuat ... ah ...! Kenapa kita harus lari?" Freya mengatur napas dalam-dalam, duduk di deretan bangku yang ada di depan salah satu kios.


Baru sebentar duduk, tiga orang itu sudah muncul dari jauh melihat ke arah mereka. Ayahnya langsung menarik tangan Freya agar berlari lagi, "Cepatlah, kita bisa mati kalau masih di sini!."


Freya yang masih mengatur napasnya akhirnya ikut berlari lagi mengikuti ayahnya. Ia berusaha menguatkan kaki agar terus berlari menjauhi tiga pria di belakangnya.


Baru saja bangun dari mimpi dikejar penjahat, dia harus menghadapi penjahat sungguhan di dunia nyata.


Brug!


"Ayah, Aku sudah tidak sanggup lagi."


Freya menjatuhkan dirinya ke tanah. Kakinya sudah tidak bisa berlari lagi. Ditambah kaki kanannya barusan juga tersandung batu.


"Frey!" Lelaki itu berhenti mendekati anaknya yang ambruk ke tanah. Soren mencoba membangunkan anaknya agar berlari lagi. Namun, Freya tetap tak bisa berlari lagi.


Keringat sudah deras mengucur di muka dan tubuhnya. "Frey, bangunlah, Nak!"


Belum sempat membangunkan anaknya, ketiga orang yang mengejarnya sudah ada di hadapan mereka. Bug! Salah satu pria itu menghantam muka Soren dari arah depan.


"Ayah ...." teriak Freya keras.


Namun, lelaki lainnya justru memukuli ayahnya lagi dengan tangannya.


" Jangan ...." Freya kembali berteriak.


Di depan mukanya, ayahnya dipukuli habis-habisan oleh ketiga pria misterius itu. Menghadapi para penjahat di dunia nyata sangat berbeda jauh dengan game yang dimainkannya. Di dunia game, dia sangat kuat. Tetapi tidak di dunia nyata. Jangankan memiliki ilmu beladiri, melawan mereka pun dia tak sanggup.


"Ampun." Soren memohon kepada salah satu pria agar berhenti memukulinya.


Kedua tangan Freya yang hendak menolong malah dikungkung salah satu pria lainnya dengan cepat tangan Freya kini sudah terpasang borgol.


"Lepaskan aku dan ayahku!" teriak Freya keras, "Tolooooong!"


Salah satu pria berhasil membungkam mulut Freya dengan satu lakban agar bisa diam. Freya mencoba melepas borgol pada tangannya. Ia ingin menolong ayahnya yang sudah babak belur dihajar seorang pria lainnya.


Seorang pria menarik rambut ayahnya, "Kalian harus ikut kami!"


"Ampun jangan sakiti kami." Ayahnya kembali memohon.


Freya dan ayahnya lalu ditarik ke dalam mobil yang sudah disiapkan, "Masuk" teriak mereka mendorong tubuh Freya.


Di dalam mobil muka Freya dan ayahnya ditutup dengan kain sehingga mereka tidak tahu mau dibawa ke mana.


***


Setengah jam kemudian Freya dan ayahnya sudah berada di dalam sebuah ruangan yang cukup megah. Ruangan itu begitu sangat mewah dengan aksen emas di setiap benda antik yang ada di ruangan itu.


Freya mengamati setiap sudut ruangan yang dilewatinya. Kedua tangannya terborgol rapat, Ia berjalan di belakang ayahnya yang sama terikat seperti dirinya. Sampai detik ini Freya tidak mengerti kenapa mereka bisa diperlakukan seperti tawanan, seakan dia masih berada di game simulator.


Pandangan mata Freya terhenti ketika melihat ruangan kecil yang terdapat jeruji besi. Di dalamnya terdapat dua orang pria sedang duduk melihat ke arah mereka. Ruangan kecil itu lebih mirip seperti penjara.


Bug! Salah seorang pria mendorong tubuh ayahnya di hadapan seorang yang sedang berdiri membelakangi mereka. Tubuhnya sangat tegap dan tinggi ditutupi pakaian berwarna hitam seperti jubah. Hampir saja kepala ayahnya terbentur kursi berukiran emas yang ada di hadapannya.


Seorang berpakaian serba hitam membalikkan tubuhnya. Dengan sangat angkuh ia duduk di kursi tepat di hadapan kepala ayahnya yang menunduk.


Freya menatap tajam orang berpakaian hitam itu. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena ditutupi topeng berwarna putih. Bahkan Freya tidak tahu orang di depannya seorang pria atau wanita.


Ketiga pria yang membawa mereka menundukkan kepalanya memberi hormat kepada orang bertopeng. Sepertinya orang bertopeng putih adalah ketua mereka.


Orang yang bertopeng putih lalu memberi kode agar salah satu anak buahnya mendekat kepadanya. Pria yang membawa mereka lalu mendekatinya. Kemudian orang bertopeng berbisik di telinga anak buahnya itu.


"Soren! Kamu sudah tahu kan konsekuensi kalau tidak membayar utangmu?" pria itu kembali menarik rambut ayahnya.


Soren mengangguk ketakutan.


"Bagus! Kalau begitu kamu tinggal pilih, kamu atau anakmu yang akan jadi jaminan kepada kami?" pria itu membenturkan kepala Soren ke lantai.


Apa? Mata Freya membulat sempurna. Jadi selama ini ayahnya sudah berhutang uang kepada mereka. Apa mungkin Ayahnya berhutang uang untuk berjudi. Freya terus membatin.


"Tuan! Aku mohon, berikan aku waktu untuk membayar hutangku. Jangan ambil anakku!" sahut Soren memohon.


"Tidak bisa! Kamu sudah sering berjanji. Kalau begitu sebagai ganti ruginya, kami akan menjadikanmu sebagai budak," sahut pria itu.


Pria itu lalu menarik tangan Soren yang akan ia masukan ke dalam penjara yang ada di ruangan itu.


Freya yang melihat ayahnya menatap iba. Bagaimana mungkin ayahnya bisa berhutang uang dengan orang yang kejam seperti mereka. Rupanya, Soren berhutang uang kepada mereka hanya untuk berjudi. Freya mencoba berbicara agar pria yang di sebelahnya membuka penutup mulutnya. Ia menggerakkan sedikit badannya.


Orang bertopeng memberi kode kepada anak buahnya agar melepas lakban di mulut Freya. Dari tadi orang bertopeng itu tidak bersuara sama sekali.


Setelah dibuka barulah Freya berbicara, "Tunggu!"


Semua orang di ruangan itu menatap Freya. Termasuk orang dengan topeng merahnya.


"Jangan ambil ginjal ayahku! Aku akan membayar utangnya. Berapa utang ayahku?" ujar Freya dengan tangan masih ter borgol.


Pria bertopeng lalu berbisik lagi di telinga bawahannya.


"Apa Anda sanggup membayar hutang ayah Anda senilai dua ratus juta?" tanya pria itu.


Freya menelan ludahnya ketika mendengar nominal uang yang diucapkannya. Jangankan memilikinya, memegang pun dia tak pernah.


"Ba-baiklah, Aku akan mem-membayarnya tapi tidak sekarang, beri aku waktu!" ucap Freya terbata.


Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Batin Freya.


Pria bertopeng kembali berbisik.


"Tidak bisa! Ketua kami bilang, Kalau Anda belum bisa membayar uang itu sekarang. Maka ayah Anda akan tetap kami kurung sebagai jaminan. Ketua kami memberi Anda waktu tiga bulan untuk mencari uangnya. Kalau dalam waktu tiga bulan Anda tidak bisa membayarnya. Kami tidak bisa menjamin keselamatan ayah Anda," jelas pria itu detail.


"Tidak ini sebuah kejahatan!" teriak Freya.


"Dan satu lagi, Nona. Anda dilarang keras melapor kepada polisi. Kalau sampai Anda melakukannya, Kami tidak segan-segan mengambil seluruh organ tubuh ayah Anda," jelas pria itu lagi.


Mata Freya melotot sempurna.


"Bagaimana, Nona? Apa Anda menyetujuinya?"