
"Bawa dia pulang ke rumahnya sekarang," perintah Siena kepada polisi bawahannya.
Saat itu kondisi Freya masih setengah sadar. Dia tak ingat kalau Siena adalah teman sebangkunya. Di dalam pikiran Freya saat ini, wanita di depan seperti salah satu lawan di permainan game-nya.
"Haruka, kau kah itu? Ha, ha, senang sekali aku bisa bertemu denganmu di dunia nyata," ucap Freya sambil mencubit pipi Siena sangat gemas.
Siena hanya tersenyum sambil membuka sepatu yang dikenakan Freya. Kini gadis itu sudah dia baringkan di ranjang. Siena membiarkan Freya meracau dengan halusinasinya.
"Kau boleh mengatakan apa pun, aku akan mendengarkannya di sini," ucap Siena.
Freya kembali tertawa, kemudian tiba-tiba menangis. Entah perasaannya kali ini sedang bercampur aduk, bahkan bicaranya pun sedikit ngawur. Siena mendengarkan dengan saksama, mendengarkan Freya menceritakan masa kecilnya tanpa seorang ibu, pembullyan yang dilakukan teman-teman di sekolah dan juga pacar dunia mayanya.
"Nasibku selalu sial. Kata ayah, ibuku meninggal saat melahirkanku. Gara-gara aku bersekolah di GIS juga ayah sampai mati-matian mencari uang dan terlibat judi."
"Benarkah? Di mana ayahmu sekarang?" tanya Siena.
"Aku tak tahu, aku tak mengingatnya.Yang aku ingat, saat ayah menyuruhku bersekolah di situ agar aku bisa mendapatkan jodoh dari kalangan atas yang bisa merubah hidupku agar tak menderita lagi kelak. Kata ayah juga, aku beruntung karena bisa bersekolah di situ tanpa biaya. Ayah mengatakan aku sangat cantik pasti banyak cowok yang mau berpacaran denganku nanti. Tapi apa, aku cuman mendapatkan bullyan tiap hari. Jangankan ada cowok yang tertarik, mau menjadi pacarku. Menjadi seorang teman pun rasanya enggan mendekatiku, huaa ... hiks. Mereka semua menghinaku karena aku miskin dan tidak pintar. Padahal mereka tak tahu kalau aku sangat kuat di dunia game, ha, ha."
Freya tiba-tiba menangis histeris kemudian tertawa lagi. Siena berusaha menjadi pendengar yang baik. Dari ucapan yang dilontarkan Freya, dia tahu kalau Freya adalah gadis yang baik dan lugu. Freya selalu menutupi dirinya dengan keceriaan dan kebahagiaan di depan ayahnya. Freya juga tak pernah mengeluhkan tentang pembullyan dari teman-temannya kepada Soren.
Dia itu gadis yang baik, sayang sekali nasibnya tidak beruntung. GIS sepertinya bukan tempat yang tepat untuk Freya, gumam Siena.
Di saat bersamaan ponsel Freya berdering. Terdengar lagu pembuka kartun yang tokoh utamanya berwarna kuning. Di kontak nama tertera nama ayahnya. Jangankan mengangkat telepon Soren, menyadari Siena pun Freya tak bisa.
"Suara apa itu? Kenapa suara deringnya jelek sekali. Sangat kekanakan! Telingaku bisa sakit kalau begini," teriak Freya kembali meracau.
"Dia benar-benar random, dering sendiri saja dia bilang bisa sakit telinga," kata Siena menggelengkan kepala pelan.
"Perutku sakit! Aku ingin buang air besar dulu," jawab Siena asal.
"Kenapa pergi? Bukankah kita sedang berada di toilet?" Freya kembali meracau.
...Efek ekstasi sudah berkerja maksimal di otaknya, dia harus cepat beristirahat sekarang, batin Siena....
Telepon dari Soren kembali berdering. Guna mendapatkan hasil penyelidikan, Siena sengaja menjauhkan diri untuk mengangkat telepon tersebut. Setelah menyuruh salah satu bawahannya untuk menemani Freya.
"Berikan dia air putih, biarkan dia meracau semaunya sekarang. Temani dia, sebentar lagi dia pasti lelah dan akan tertidur," perintah Siena sambil memasukkan ponsel Freya. Menyitanya dan akan dijadikan barang bukti.
***
Sementara di tempat lain di kamar Drago. Elard mengetuk pintu kamarnya, meminta agar masuk dan ingin berbicara empat mata dengan Drago.
"Rion, bolehkah aku masuk," kata El setelah mengetuk pintu.
Seperti biasa, Drago masih terjaga. Dia sedang membuat beberapa konten untuk dia taruh di media sosial.
"Masuk saja El," jawab Drago setengah berteriak.
Elard masuk dan langsung mendudukkan diri di sofa dekat Drago bekerja. "Tadi Cali banyak bercerita tentang hubungan kalian."
Mendengar itu Drago langsung menghentikan aktifitasnya dan menoleh melihat ke arah El. "Apa yang dia katakan?"
El menarik napas sejenak sambil melihat hasil kerja Drago di laptop. "Aku tahu kamu sangat sibuk. Tapi apa salahnya menyempatkan waktu sedikit untuk Cali."